At First Sight

At First Sight
Episode 118



“Tidak akan berterimakasih karna aku sudah menyelamatkanmu?”


“Aku.. A a-pa yang kau lakukan disini?”


“Ini jalanan umum, siapapun bebas berada disini”


“Kau mengikutiku?”


“Kau pikir seperti itu?”


Aishh..


“Aku yang lebih dulu bertanya..”


Dengusnya yang kembali membuat Azka tersenyum..


Lihat, betapa gadis itu dapat dengan mudah membuatnya menggonta-ganti perasaan hatinya..


Terkadang kesal, marah, menjadi senang, hingga luluh tanpa daya..


“Kau yang mencoba kabur dariku kan..”


Yuna melengos, kali ini ia berhasil menyingkirkan lengan Azka dan kembali berbalik membelakanginya dan meneruskan langkahnya..


“Hei, tadi kau datang bersama kedua temanmu itu kan? Kau ingin menemuiku? Apa ada yang ingin kau katakan padaku?”


“Tidak jadi..”


Yuna mempercepat langkahnya mengetahui Azka yang terus mengikuti dibelakangnya..


“Kau melihat Jessica tadi?”


Yuna berhenti..


“Ah, benar kau melihatnya ternyata. Sebenarnya tadi dia…”


Azka mungkin tak menyadari tengah berdiri disebuah halte, pada saat sebuah bis berhenti, secara mengejutkan Yuna mencoba masuk kedalamnya, menghiraukannya yang masih ingin berbicara. Namun Azka berhasil mencegahnya dengan menarik pergelangan tangannya..


“Pak Azka..!”


Yuna memekik terkejut saat pergelangan tangannya ditarik secara tiba-tiba.


“Tidak pernah diajarkan sopan santun ya..? Aku masih bicara, kau mau kemana?”


“Pulang.. Kau pikir aku mau mendengarmu menceritakan tentang wanita itu? Sama sekali tidak..”


“Oh, jadi seperti ini rasanya melihat pasangan kita mengalami kecemburuan. Rasanya tidak terlalu buruk.. Ayo..”


“Tunggu.. Mau kemana?”


“Pulang kan? Aku akan mengantarmu. Atau kau mau kita berkencan hari ini? Seperti waktu itu..”


Azka mengedip..


Membuat Yuna merasaan debar-debar didadanya tak lagi bisa ia kendalikan kala melihatnya. Buru-buru ia kemudian beralih dari tatapan pria itu..


“Aku mau pulang..”


Yuna mendahului masuk kedalam bis dan membuat Azka terkejut melihatnya, namun terpaksa ia harus mengikutinya.


“Kenapa naik bis? Aku sudah bilang akan mengantarmu.. Setidaknya kita bisa menghentikan sebuah taksi atau aku akan menelpon supir”


Protes Azka pada Yuna yang malah menghiraukannya dengan lebih memilih duduk pada salah satu dari cukup banyak kursi kosong saat itu.


Azka bahkan terlihat enggan untuk mendudukinya. Namun melihat gelagat seorang penumpang pria yang baru saja masuk, yang sepertinya mengincar duduk disebelahnya membuatnya dengan segera menempati kursi kosong itu.


“Aku tak pernah naik kendaraan seperti ini..”


Ucapnya dengan tangan bersedekap didepan dada, yang lantas menarik perhatian Yuna untuk menoleh kesebelahnya.


“Pak Azka..”


Suara Yuna terdengar ragu-ragu, namun begitu, Azka sudah langsung menoleh menatapnya, membuat gadis itu gugup, lalu memalingkan muka..


“Apa..? Kau memanggilku lalu berpaling seperti ini”


Azka meraih dagu Yuna, memutar wajahnya, memaksa gadis itu untuk menatap kepadanya.


“Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?”


“Eh.. Kalau tidak suka naik bis, turun saja..”


Ucap Yuna cepat, kemudian menggigit bibir bawahnya.


Bukan itu yang sebenarnya ingin dikatakannya..


“Aku bukan mengatakan tidak suka. Aku hanya belum pernah naik kendaraan umum seperti ini. Dan tidak ada salahnya mencoba bukan? Selalu ada yang pertama untuk sesuatu hal. Pertama kali aku naik kendaraan umum dan itu denganmu.. Hm, tidak terlalu buruk. Aku akan senang melakukannya lagi bila itu denganmu. Termasuk kencan konyol kita waktu itu, aku juga menyukainya”


“itu bukan kencan konyol namanya. Itu kencan yang ku impikan”


Yuna menunjukkan wajah memberengutnya..


“Kalau begitu, ayo kita ulangi lagi..”


Azka meraih pergelangan tangannya, namun dengan segera Yuna menariknya..


“Ck! Jangan coba mencari kesempatan. Kita sudah putus..”


Raut wajah pria itu berubah, menjadikan Yuna tak enak hati setelahnya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Azka nampak tenang dengan hanya menatap kedepan, sementara Yuna justru gelisah karenanya..


“Pak..”


“hm..”


“Untuk pemberitaan itu, Aku.. Aku minta maaf.. Aku pasti sudah membuatmu merasakan ketidaknyamanan. Kau tidak marah kan?”


“Kupikir kau tadi mengatakan kita sudah putus? Jadi kau masih perduli dengan perasaanku..?”


“Ck! Aku bertanya kau marah atau tidak?”


“Apa kau benar-benar perduli tentang itu? Kau pasti senang telah menjadi selebriti pencetak skandal sekarang..”


Azka kembali menatap dan tersenyum namun Yuna justru memelototinya..


“Ekspresimu menyeramkan sekali. Aku bercanda..”


“Tidak lucu..”


“Baiklah, Aku tidak marah. Aku pria dewasa yang memiliki pemikiran dewasa tentu saja. Bagaimana?? Kau pasti bangga pada pria sepertiku kan..”


Kedikan matanya langsung mendapat cibiran ketidak percayaan dari Yuna.


Dewasa katanya?


Yuna bahkan sangat yakin pria itu memiliki cukup banyak sisi kekanakan dalam diri pria dewasa yang dia akui dimiliki olehnya.


“Aku hanya kesal. Aku percaya padamu, tapi tidak dengan dokter itu. Aku sangat ingin memelintir atau mematahkan tangannya agar dia tidak bisa seenaknya menyentuhmu dan membuatnya.. Aw awhh..!!”


Azka mengaduh ketika tiba-tiba Yuna memukul lengannya..


“Pemikiran dewasa macam apa itu..”


Dengusnya yang justru membuat Azka kembali merasa geli melihatnya..


“Pemberitaan semacam itu membuatmu sadar kan dengan siapa kau telah bertunangan. Maka jangan lagi bersikap sembarangan..”


Yuna memberengut sementara Azka kemudian kembali meraih tangannya, membawanya keatas pahanya. Kali ini dalam genggaman erat sehingga Yuna kesulitan untuk menariknya.


“Pak Azka..”


“Sudahlah, jangan membahas pemberitaan itu. Mengingatnya justru membuatku ingin melakukan sesuatu pada dokter itu”


“Tapi itu bukan kesalahan dokter Ahmad, dia tidak..”


“Tolong jangan membelanya, atau aku benar-benar akan turun dari sini dan mencarinya kemudian mematahkan tangannya”


“Pak..!”


Yuna kembali memukul lengan Azka menggunakan sebelah tangannya yang tak berada dalam genggaman tangan pria itu..


“Kau mengerikan..”


“Aku terlihat mengerikan karna aku merindukanmu, Yuna. Maka diamlah dan biarkan aku menikmati ini. Atau kau akan melihatku semakin mengerikan daripada ini…”


Azka sesaat memberi jeda, dan kembali meneruskan dengan suara rendah berbisik ditelinga Yuna..


“Aku bisa jadi tidak peduli dengan apa yang berada disekitarku ketika aku benar-benar ingin menciummu..”


Damn..


Apa yang bisa dikatakannya?


Pria itu terlalu pandai mengolah kata dan membuat tubuhnya gemetar hanya karna suara rendah yang dibisikkannya..


“Perhatikan pria yang berdiri itu..”


Ucap Azka masih dengan suara rendah berbisik. Yuna lantas mengikuti apa yang dikatakannya dengan mengarahkan perhatiannya pada seorang pria berkacamata yang menggendong ransel dipunggungnya.


“Menurutmu mengapa dia memilih berdiri dan tidak duduk sementara banyak kursi kosong disini..?”


Sebenarnya Yuna merasa tak mengerti dengan arah dari pertanyaan Azka saat itu..


“Entah.. mungkin dia lebih nyaman berdiri. Jangan menanyakan hal yang tak ku mengerti, Pak. Lagipula aku tak pandai menganalisis seseorang..”


“Apa itu juga alasannya mengapa pada pandangan pertama kau melihatku, kau salah menganalisis ku. Karna kau tak pandai..”


Yuna hanya membeli respon dengan mendengus..


“Terdapat kamera pada kacamata yang dipakainya. Dia ingin mendapatkan gambar. Dia seorang pencari berita..”


Yuna terkejut mendengarnya..


Bagaimana kemudian ia bisa melarikan diri dan menghindari tangkapan kamera pencari berita itu, bila Azka justru berada terlalu dekat dengannya dan bahkan memegangi tangannya..


“Pak, darimana kau tahu?”


“Aku berbeda denganmu.. aku pandai menganalisis seseorang”


Azka menunjukkan senyuman bangga terhadap diri sendiri, sedangkan Yuna justru menjadi gelisah mendengar informasi darinya.


“Jadi bagaimana kalau kita memberinya gambar bagus..”


Yuna berkerut dahi samar, tak terlalu mengerti..


“Maksudmu?”


“Gambar saat aku menciummu.. Ah, tidak.. yang benar, gambar kita berciuman didalam kendaraan umum seperti ini. Kupikir itu akan jadi gambar yang sangat bagus untuknya. Dan segera akan mengganti gambar jelek mu dan dokter sialan itu.. Ayo kita melakukannya..”


Sejurus kemudian Azka justru tergelak saat tangan Yuna mengepal memukul-mukul tubuhnya. Ia benar-benar tak peduli pada beberapa orang yang berada disana, termasuk satu yang dikiranya sebagai pencari berita itu. Yang Azka pedulikan justru wajah memerah dari gadis yang berada disampingnya. Yang benar-benar membuatnya berkeinginan untuk ******* habis bibirnya…


***


tbc