At First Sight

At First Sight
Episode 73



Kesunyian didalam mobil itu kian kentara, tatkala Jena mematikan music R&B yang sebelumnya diputarnya, dengan maksud agar dua wanita muda yang duduk dikursi belakang, tak hanya diam seribu bahasa.


Yuna justu lebih memilih bergelung dengan pemikirannya daripada memperhatikan Yuri yang saat itu berada disampingnya. Ia masih berusaha memikirkan alasan apa yang sekiranya cukup masuk akal yang nanti akan dikatakannya pada sang kakak ketika mereka tiba dirumah Azka. Alasan itu haruslah dapat diterima oleh sang kakak tanpa memunculkan rasa curiga nantinya.


Tapi apa?


Alasan seperti apa itu?


Yuna masih tak mendapatkan ide..


Mungkin karna itulah ia tak menyadari ketegangan dalam raut wajah Yuri.


Yuri yang masih diselimuti perasaan bingung pada kejadian seorang pria yang tak dikenalinya dirumah sakit tadi, yang tiba-tiba muncul dan membisikkan kalimat yang terus terngiang-ngiang ditelinganya bahkan sampai saat itu, juga hanya terdiam dan tidak berusaha membuka suaranya untuk mengatakan kejadian itu pada Yuna.


Yuri hanya terus memegang tangan Yuna dengan eratnya..


“Kita sudah sampai nona..”


Sampai kemudian suara Jena lah yang menyadarkan Yuna jika mobil yang membawanya telah memasuki pagar dan perlahan sang supir menghentikan lajunya dihalaman rumah Azka.


Yuna menoleh pada Yuri yang seakan tak bergeming, sang kakak juga pastilah masih tak menyadari dimana keberadaan mereka saat itu.


“Kakak.. Kak Yuri, kita sudah sampai Kak..”


Yuna sedikit meremas tangan Yuri untuk menyadarkannya. Dan berhasil saat kemudian Yuri menoleh padanya.


“Kita sudah sampai, Kak.. Ayo turun..”


Jena yang telah lebih dulu mengambil kursi roda, kemudian membukakan pintu, dan Yuna menarik tangan Yuri agar sang kakak mengikutinya keluar dari dalam mobil itu.


Barulah ketika Yuri turun dengan bantuan Yuna dan Jena, dan berada diluar duduk diatas kursi rodanya, matanya seakan menatap dengan awas pada apa yang saat itu dilihatnya.


Halaman yang sangat luas, yang menghijau oleh rumput taman yang tumbuh dan terawat. Beberapa mobil yang terlihat berjejer digarasi dan terutama bangunan bak sebuah istana yang berdiri kokoh dihadapannya, sangatlah mampu untuk membuat Yuri melebarkan mata. Merasakan ketercengangan terhadap apa yang pada saat itu dilihatnya..


“Yuna.. Kenapa kita ada disini? Untuk apa kita berada disini? Bukankah kau akan membawaku pulang? Ayo kita pulang, Yuna.. Ayo kita kembali ke rumah kita..”


Tanyanya beruntun dengan tangan Yuri yang mencoba menarik-narik tangan Yuna, namun Yuna justru tersenyum tenang kearahnya.


“Kakak.. Untuk sementara kita akan berada disini. Kita tinggal disini..”


“Tidak.. Bagaimana bisa? Kita tidak akan diijinkan, Yuna. Bagaimana mungkin mereka memperbolehkan kita tinggal didalam sana. Kita pulang saja kerumah kita, ayo..”


Yuna mengusap-usap pada lengan Yuri..


“Aku sudah mendapatkan ijin, Kak. Ayo..”


Dengan Jena yang berada dibelakang kursi roda, mendorongnya, dan Yuna yang memegang tangan Yuri, mereka membawanya melintasi area halaman luas itu dan pada saat itu pintu dari rumah Azka terbuka lebar. Memperlihatkan Tuan dan juga Ny.Dania yang melangkah keluar dari dalamnya..


“Yuna..”


Ny.Dania nampak tersenyum dan selanjutnya justru Melangkah lebih dulu menghampiri Yuna. Dan tanpa Yuna bisa menduga sebelumnya, Ny.Dania memeluknya..


“Yuna, kau pulang.. Aku begitu kesepian tanpamu. Tak ada yang menarik yang bisa kukerjakan tanpamu.”


Yuna tidak tahu apakah pada saat itu Ny.Dania tak melihat, meski nyata-nyata sang kakak berada dikursi roda disebelahnya, atau wanita itu memang sengaja mengabaikan kehadiran Yuri disana?


Entahlah..


“Nyonya.. Aku, Aku..”


Mendengar bagaimana Yuna memanggilnya saat itu, seketika membuat Ny.Dania melepaskan pelukannya dan menatap Yuna dengan dahi berkerut samar, menunjukkan keheranannya..


“Maaf..”


Gumam Yuna lirih, sadar akan ketidak sukaan yang pada saat itu diperlihatkan Ny.Dania padanya.


“Yuna..”


Yuri menggerakkan lengan Yuna agar sang adik melihat kearahnya.


“Iya Kak..”


“Mereka.. Mereka..? Bukankah mereka..?”


Yuna tersenyum kaku, sadar bila saat itu Yuri mungkin telah dapat mengenali keberadaan Tn.Rian dan Ny.Dania.


“Ya Kak.. Mereka Tn.Rian dan Ny.Dania, ayah dan ibu dari Pak Azka”


Tn.Rian dan Ny.Dania hanya bisa saling bertatapan mendengar apa yang Yuna ucapkan.


“Mereka mengijinkan aku tinggal disini, begitupun dengan Kakak..”


“Aku.. Aku bekerja disini. Aku bekerja pada Nyonya..”


Meski ragu, namun itulah satu-satunya alasan yang Yuna temukan, yang ia rasa cukup masuk akal untuk ia katakan pada Yuri mengenai ijin tinggal yang didapatkannya dirumah itu.


Yuna lantas menunduk, tak mengetahui pada saat itu Ny.Dania yang langsung melebarkan mata mendengarnya.


“Yuna, kau.. kau bekerja?”


Yuna mengangguk untuk pertanyaan yang diucapkan oleh Yuri.


“Maafkan aku karna tak mengatakan ini pada Kakak. Tapi kita tak bisa pulang.. Aku masih harus berada disini Kakak, aku harus bekerja pada nyonya..”


Sesaat Yuna memberanikan diri untuk menatap pada Ny.Dania, dan menemukan ibu Azka itu menggelengkan kepala dan mendecakkan lidahnya.


Ny.Dania sudah pasti tidak menyetujui kebohongannya.


Tapi apa yang bisa dilakukannya, Ia mau tak mau memang sudah memutuskan akan mengikuti ide gila gadis itu, yang menurutnya demi kebaikan kakaknya.


“Kakak, tidak apa-apakan?”


Setelah terlebih dulu memberikan tatapan permohonannya pada Ny.Dania, Yuna kembali beralih pada Yuri.


“Jadi kau benar-benar bekerja?”


Yuri seakan ingin memastikan apa yang dengan jelas telah didengarnya. Sementara Yuna hanya mengangguk mengiyakan..


“Bagaimana dengan rumah kita, Yuna? Apa kau menjualnya? Apa kita telah kehilangan rumah itu, untuk membiayai perawatanku? Ya kau pasti melakukannya.. Maafkan aku, Yuna. Seharusnya kita tidak kehilangan rumah kita. Seharusnya aku tidak membiarkanmu bekerja. Ya Tuhan, kau adik kecilku. Usiamu masih terlalu belia untuk dapat bekerja, Yuna. Kau seharusnya meneruskan sekolahmu. Aku memang bukan kakak yang baik. Seharusnya aku bisa bertahan untukmu.. Seharusnya aku.. Seharusnya aku bisa..”


Yuri tersedak oleh karna airmatanya sendiri, dan tak dapat lagi meneruskan kalimatnya.


Yuna ingin menolak pemikiran Yuri, namun mungkin dengan begitu sang kakak tidak akan mempertanyakan atau malah mencurigai keberadaannya dirumah Azka itu.


Ya..


Bekerja, menjadi satu-satunya alasan yang dapat menjelaskan dengan masuk akal mengenai keberadaannya yang kemudian membawa Yuri tinggal dirumah itu.


“Tidak apa-apa Kak.. Aku tidak apa-apa. Aku bukan lagi gadis kecil. Aku sudah dewasa dan mampu untuk bekerja. Kakak jangan berkata seperti itu. Kau tahu, kaulah segalanya bagiku. Kakak satu-satunya yang kumiliki. Aku akan melakukan apapun demi kesembuhan kakak. Aku rela menukar apapun untuk kakak. Aku tahu kakak juga akan melakukan hal yang sama untukku..”


Yuna sedikit merendahkan tubuhnya untuk menghapus airmata Yuri, dan kemudian meremas, menggenggam tangannya erat untuk meyakinkannya bahwa dirinya tidak apa-apa melakukan semua itu.


“Aku tidak apa-apa, Kak. Percayalah padaku. Aku tidak apa-apa. Aku menyayangi Kakak..”


Tn.Rian dan Ny.Dania saling bertatapan menyaksikan ikatan persaudaraan yang begitu terlihat kuat diantara kedua gadis itu. Tn.Rian kemudian mengangguk, seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh sang istri pada saat itu, dan seolah memintanya untuk menyetujui apa yang pada saat itu telah dikatakan Yuna pada Yuri mengenai alasan keberadaannya disana.


Ny.Dania menghela napasnya, mendesah dan kemudian berbicara..


“Ya, Yuna masih harus berada dirumah ini dan bekerja untukku. Dua puluh empat jam penuh, jika aku membutuhkannya dia harus selalu ada untukku. Karna itu aku mengijinkannya membawamu. Aku tidak akan membiarkannya menggunakan alasan kesehatanmu untuk dia mengabaikan tugas-tugasnya. Kau tahu berapa besar biaya perawatanmu? Dan jelas adikmu yang masih belia itu harus bekerja dan mengumpulkan uang untuk mengganti biaya pengobatanmu, dan juga..”


“Mama.. Hentikan, cukup..”


Tn.Rian memperingatkan, tahu bila sang istri pasti akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan terdengar lebih menyakitkan lagi daripada apa yang telah dikatakannya.


Ny.Dania mendengus kemudian berbalik, dan melangkah pergi dari sana. Wajahnya terlihat kesal saat masuk kedalam rumah mewahnya.


Yuna merasakan remasan dari tangan Yuri di tangannya begitu mendengar apa yang tadi dikatakan Ny.Dania dan melihat langkahnya yang terkesan begitu angkuh ketika wanita itu masuk kedalam rumahnya.


“Yuna, bawalah kakakmu masuk. Dia pasti ingin beristirahat. Bibi Lia telah menyiapkan kamar untuknya..”


Tn.Rian tersenyum, dan Yuna sangat berterimakasih melihat sikap hangat yang diperlihatkan ayah Azka pada saat itu.


“Terimakasih.. terimakasih Tuan..”


Tn.Rian mengangguk dan kembali tersenyum sebelum akhirnya menyusul langkah sang istri.


“Mari nona..”


Yuna mengangguk, kembali meraih tangan Yuri dan mengikuti


Jena yang kemudian mendorong kursi roda itu, memasuki rumah dan selanjutnya membawanya ke sebuah kamar yang pintunya dalam keadaan terbuka, memperlihatkan Bibi Lia yang berada didalamnya, sedang merapikan sprai diatas tempat tidur itu.


“Bibi..”


Yuna memanggilnya, membuat Bibi Lia kemudian menoleh padanya. Sedikit senyum terlihat ditarik dari sudut bibirnya, meski hal itu masih tak mampu untuk menghilangkan gurat kesedihan yang masih terlihat jelas dalam raut wajah tuanya.


***


to be continue