At First Sight

At First Sight
Episode 105



Ketegangan tak cuma menjadi milik Azka dan Yuna, yang menerima langsung amukan kemarahan dari Yuri. Ketegangan itu juga dirasakan oleh Ny.Dania yang segera keluar dari dalam kamarnya begitu mendengar suara keras dari teriakan Yuri tadi dan langsung menyaksikan tak jauh dari sana ketika Yuri melontarkan rentetan kalimat kemarahannya terhadap Yuna.


Ny.Dania merasakan tercekat pada tenggorokannya melihat Yuna, gadis belia itu menangis mengiba maaf dari kakaknya. Sementara Yuri justru menyebutnya sebagai pengkhianat dan bahkan mengatakan sesuatu yang mengejutkan dengan menyebut Yuna bukan sebagai adiknya.


Jadi Yuna bukanlah adiknya?


Mereka tak memiliki darah persaudaraan yang sama ditubuh mereka?


Benarkah?


Ny.Dania terus bergelung dengan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul memenuhi pikirannya.


Sementara Bibi Lia yang turut menyaksikan kesalahpahaman dua gadis yang juga disayanginya, yang berbuah menjadi pertengkaran hebat diantara keduanya, hanya bisa merasakan ngilu dihatinya, gemetar ditubuhnya dan sekaligus lelehan airmata yang membanjiri wajahnya manakala Yuri berteriak menyebut Yuna bukan sebagai adiknya.


Ya Tuhan..


Itu bukan sesuatu yang diketahui olehnya, dan permohonannya pada Tuhan, Yuri tidak sedang mengatakan kebenaran. Kalimat itu terucap semata hanya karna emosinya yang memuncak.


Selama ini ia mengenal Yuri dan Yuna sebagai dua karib bersaudara yang selalu terlihat akur dimana-mana. Yuri yang dikenalnya juga bukanlah pribadi yang pemarah. Gadis itu penuh kasih terhadap Yuna. Lemah lembut persis seperti mendiang ibunya. Tapi tak bisa ia pungkiri, semenjak Yuri berada dirumah itu, Bibi Lia memang merasa tak lagi mengenal kepribadian Yuri yang seperti sebelumnya. Gadis itu berubah kaku, penuh waspada dikedua matanya dan bahkan cenderung bersikap dingin terhadapnya.


Apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan gadis itu, masih tak diketahui olehnya?


Yang ia ketahui hanyalah Yuri mengalami trauma paska kecelakaan yang dialaminya bersama Doni, putranya. Dan Yuna yang tengah berusaha keras menyembuhkannya, hingga melakukan kebohongan demi menjaga agar sang kakak tidak semakin terguncang. Tapi yang justru terjadi didepan matanya, buah dari kebohongan yang dilakukan Yuna, sungguhlah membuatnya nelangsa.


Tuhan..


Kuatkanlah kedua gadis itu. Tidakkah Engkau mengetahui niat baik gadis itu demi untuk menjaga kakaknya.


Sudah selayaknya Kau memberikan jalan keluar yang terbaik bagi mereka. Tidak dengan memecah ikatan persaudaraan keduanya seperti sekarang.


Bibi Lia terus menerus menggumam doa permohonan dalam hatinya, menyertai tetes demi tetes airmata yang bersumber dari kedua mata tuanya. Mengapa diusia senja nya ia justru banyak menumpahkan airmata untuk orang-orang yang teramat dikasihinya..


Seakan tak cukup hanya dengan menjerit-jerit dan memanggil sang kakak yang berlari meninggalkannya, Yuna bangkit dari duduknya yang bersimpuh dilantai, untuk kemudian mencoba berlari mengejar kakaknya. Ia nyaris ambruk andai tak mendapat rengkuhan kuat dari lengan Azka yang menahannya. Tapi kedua kakinya yang lemas dan seakan tidak lagi bertulang, tak sedikitpun menyurutkan niatannya untuk mengejar Kakak nya.


Ia menyentak lengan Azka dari tubuhnya, yang coba menahannya untuk berlari.


Ia tak boleh diam saja, sementara kakak nya marah dan terluka oleh karena dirinya, dan sekarang pergi meninggalkannya.


Ia harus mengejarnya, ia harus mengetahui dimana keberadaan kakaknya. Sang kakak haruslah mendengar dulu penjelasannya, barulah ia akan menerima kemarahan apapun darinya.


Yuna berlari keluar dari rumah itu, melewati pagar kokoh yang membatasi dengan jalanan umum. Kemudian menyusuri dengan berjalan disepanjang pinggiran jalan itu dengan bibirnya yang tak putus memanggil-manggil nama kakak nya.


“Kakak.. Kak Yuri..!”


Kemana Kakak nya berlari?


Dimana dia sekarang?


Dadanya sesak luar biasa, hatinya perih tiada terkira, sekujur tubuhnya bergetar ngilu ketika kemudian terngiang kembali pada kata-kata kemarahan Yuri terhadapnya.


Sang kakak menyebutnya pelacur..


Seorang pengkhianat..


Dan bahkan tidak menganggap dirinya sebagai seorang adik.


Tuhan..


Sungguh, meski sangat menyakitkan, ia akan sanggup menerima bila sang kakak benar-benar menganggapnya sebagai pelacur. Ia juga akan menerima tuduhan sebagai seorang pengkhianat. Ia memang pantas menerimanya.


Tapi tidak dengan apa yang terakhir dikatakan kakaknya, yang telah seperti setajam belati menikam dan mengoyak, melukai dirinya. Sang kakak tidak lagi menyebutnya sebagai seorang adik, sungguh apa yang tadi dengan jelas didengarnya telah membuat Yuna seakan kehilangan arah. Terbayang didalam benaknya, bila apa yang dikatakan sang kakak adalah benar, kenyataan itu akan menghancurkannya.


Tidak..


Ia tidak akan pernah sanggup menerima yang satu itu.


Apa yang bisa dilakukannya, bagaimana ia bisa hidup bila dirinya bukanlah seorang adik bagi kakak nya.


Pemikiran itu membuatnya limbung. Kedua kakinya yang telah sejak tadi terasa lemas kian tak bisa menopang langkahnya. Tersaruk-saruk Yuna menyeret kakinya, memaksa untuk terus menemukan keberadaan kakak nya. Namun apalah daya, raganya tak sekuat jiwa nya yang juga telah digerogoti kerapuhan, namun masih menyisakan satu tekad kuat untuk memberi penjelasan pada kakak nya. Langkahnya yang sempoyongan membuat Yuna tersandung, dan akhirnya tubuh lemah itu terjerembab jatuh lunglai ditengah-tengah trotoar jalan.


Perasaan bersalah tengah membelitnya dengan begitu kuat. Menyesali kebohongan yang dilakukannya justru terbuka kehadapan kakak nya dalam waktu yang tidak tepat, membuat Yuna hanya bisa terisak pilu dengan bibir bergetar menggumam permintaan maafnya berulang-ulang kali. Berharap sang kakak mendengar dan mengetahui penyesalannya. Juga mau mendengar penjelasannya.


“Maafkan aku Kak.. Maaf.. Kumohon dengarkan aku.. Jangan pergi.. Kakak.. Jangan meninggalkanku..”


Sebuah tangan kuat yang kemudian merengkuh tubuhnya, menjadi hal terakhir yang bisa dirasakannya, sebelum akhirnya kegelapan menyergap kedua matanya..


Yuna kehilangan kesadarannya..


“Yuna.. Yuna..!!”


Azka yang memang mengikuti Yuna dibelakangnya, langsung berlari merengkuh tubuh gadis itu begitu melihatnya ambruk tanpa daya. Miris ia melihatnya dalam keadaan terguncang seperti saat itu.


Ini salahnya..


Salahnya yang tak bisa menahan diri. Hingga satu kecerobohannya yang bersumber dari kerinduan yang dirasanya begitu menggelegak pada Yuna, justru yang kemudian mengacaukan semuanya.


Seharusnya ia mendengar ucapan ibunya yang seringkali mengingatkannya untuk menjaga sikap.


Seharusnya ia berpikir terlebih dulu sebelum menarik Yuna dan menciumnya seperti tadi. Seharusnya..


Seharusnya ia memikirkan jika begitu besar kemungkinan apa yang dilakukannya bisa terpergok oleh Yuri.


Dan terbukti telah terjadi..


Yuri melihatnya berciuman dengan Yuna dan menjadi murka karna perasaan dikhianati.


Ya Tuhan..


“Maafkan aku, Yuna.. Maaf membuatmu seperti ini..”


Azka sempat mendekap tubuh Yuna sebelum akhirnya membopongnya kembali menuju rumahnya. Dan langsung disambut oleh wajah-wajah yang masih menyisakan tegang, cemas bercampur dengan panik yang ditunjukkan oleh sang ibu dan juga Bibi Lia ketika melihat Yuna berada dalam gendongannya dengan keadaan pingsan tak berdaya.


“Ya Tuhan.. Yuna..”


“Dia pingsan, cepat hubungi dokter, Ma.. Aku akan membawanya ke kamarku..”


“Mama akan melakukannya..”


Sementara kecemasan akan keadaan Yuna terjadi didalam rumah itu, diluar sana, Jena yang telah berlari lebih dulu sebelum Yuna untuk mengejar Yuri, justru kehilangan jejaknya.


Secepat itukah langkahnya?


Jena tak menemukan keberadaan Yuri bahkan setelah berkali-kali memutar mengelilingi area perumahan Azka.


Jena memang sempat terkesiap saat tadi, setelah bersusah payah membujuk Yuri dan akhirnya berhasil membawa Yuri keluar dari kamar menggunakan kursi rodanya, dengan tujuan membantu Arkhan yang memintanya agar membawa Yuri keluar dari dalam rumah dan bertemu dengannya. Tapi malah sesuatu yang tak terduga, turut pula disaksikan oleh kedua matanya.


Sadar dirinya membawa Yuri keluar dalam waktu yang mendadak menjadi tidak tepat, Jena sudah ingin memutar kursi roda yang didorongnya, saat mengetahui keberadaan Yuna dan Azka yang berjarak tak jauh dari mereka. Namun Yuri menahannya, dia pun nampaknya juga sudah melihatnya. Dengan kuat, bahkan sampai membuat buku-buku jarinya memutih, Yuri menggunakan kedua tangannya untuk mencengkram, memegangi roda pada kursi rodanya agar Jena tidak menggerakkannya. Dan sepertinya Yuri justru menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi dihadapannya.


Benar saja, tindakan Yuri mengejutkan Jena saat tak lama setelah menyaksikan Azka mencium Yuna, Yuri berdiri dari kursi yang didudukinya dan sempat membuat Jena menahan napas melihat Yuri yang berjalan dengan yakin menghampiri mereka.


Jena yakin sesuatu yang buruk akan terjadi disana. Dan kembali benar, segera setelahnya amuk kemarahan Yuri tak lagi dapat dihentikan olehnya..


Jena menarik rambut pendeknya dengan rasa frustasi, merutuk dirinya sendiri yang dengan tanpa sengaja menjadi perantara kekacauan itu terjadi.


Andai ia membawa Yuri keluar sedikit lebih lambat dari waktu tadi. Yuri tidak akan menyaksikan adegan berciuman itu dan sudah pasti kekacauan itu tidak akan terjadi.


Tapi, ia bahkan tak mengetahui kepulangan Azka yang diketahuinya masih berada diluar negri. Bagaimana bisa ia kemudian memprediksi hal itu akan terjadi.


Oh Tuhan, mengapa Engkau tidak mencegahnya..


Jena kembali menarik rambutnya dan mendesah dengan keras, sebelum kemudian merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang berbunyi didalamnya..


“Oh, Arkhan.. Sesuatu yang buruk telah terjadi.. Nona Yuri pergi..”


***


Yuri yang terus berlari dengan bertelanjang kaki, tak lagi memperdulikan denyut nyeri dari pergelangan kakinya yang semakin terasa sakit. Ia tak lagi peduli dengan rasa sakit yang semacam itu.


Sakit itu masih tak sebanding dengan perasaan sakit yang ada dalam hatinya yang remuk tak berkeping.


Ia telah berlari cukup jauh, merasakan terguncang oleh apa yang terjadi membuatnya tak tahu arah yang bisa dituju. Sampai kemudian ia menghentikan sebuah taksi dan akhirnya mampu menemukan kemana tujuannya pergi.


Namun begitu, Yuri masih tak memperdulikan meski ia menerima makian-makian kasar dari sang sopir taksi yang bahkan menyebutnya sebagai wanita gila karna dirinya yang tak membayar ongkos taksi yang ditumpanginya.


Yuri menulikan kedua telinganya, ia kemudian justru kembali berlari. Merasakan keinginan kuat untuk segera mencapai satu-satunya tempat yang ingin didatanginya.


Maka disanalah ia sekarang..


Berada diatas perbukitan, sedang terduduk lemas didepan dua gundukan tanah yang menjadi makam kedua orangtua nya.


Yuri menangis..


Isakannya pilu, dan mungkin akan sanggup menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Apa yang sebenarnya telah terjadi?


Tubuhnya bergetar hebat, kesunyian disekitarnya menambah sesak luar biasa yang menghimpit dadanya. Teringat pada apa yang dilihatnya. Pada apa yang juga telah dikatakannya pada Yuna.


Bagaimana ia telah menamparnya dan sampai menyebut Yuna sebagai pelacur..


Bagaimana ia telah menyebutnya pengkhianat..


Dan bagaimana ia telah menyebut Yuna bukan sebagai adiknya.


Ya Tuhan..


Airmata itu kian bercucuran membanjiri wajahnya.


Seharusnya ia tidak mengatakannya..


Sekecewa apapun, sesakit hati apapun, seterluka apapun dan semarah apapun dirinya, seharusnya ia tidak sampai menyebut Yuna seperti itu.


Seharusnya kalimat itu tak pernah keluar dari mulutnya.


Seharusnya rahasia itu selamanya hanya akan diketahui oleh dirinya dan terkubur bersama dengan jasad kedua orangtua nya.


Tapi apa yang telah terjadi tadi..


“Ibu ma-af.. maaf a-yah.. Aku telah melanggar janjiku pada kalian. Aku telah.. Aku.. Maafkan aku Ibu.. Maafkan aku Ayah.. Maaf.. Aku telah bersalah pada kalian..”


Penyesalan akan kalimat itu begitu dalam dirasakan olehnya. Ia yang telah berjanji didepan makam orangtua nya tak lama setelah kedua jasad itu dikebumikan, untuk menjaga Yuna, untuk melindungi adiknya, dan takkan pernah mengatakan siapa Yuna sebenarnya, kini justru telah melanggar janjinya sendiri.


Bagaimana ia bisa melakukannya..


Bagaimana ia bisa lupa ketika lima belas tahun yang lalu ibu dan ayahnya membawa pulang seorang bocah kecil bersama dengan mereka. Bocah kecil yang kemudian menambah keceriaan dalam keluarganya.


Tidak..


Ia tidak akan pernah lupa.


***


tbc