
“Kak Yuri ..!”
Yuna terus memanggil-manggil Yuri setelah masuk kedalam villa milik Arkhan itu dengan Azka yang hanya bisa mengikuti dibelakangnya.
Yuna kemudian mendapati Jena yang telah berada didalamnya..
“Nona Yuna..”
“Dimana kakak ku?”
Tepat saat itu, matanya kemudian melihat pada Arkhan yang berjalan kearah mereka.
“Kurasa aku bahkan belum menelponmu, Azka?”
Azka hanya mengangkat bahu untuk menanggapi apa yang dikatakan Arkhan saat itu. Kedua matanya memberikan isarat menunjuk pada Yuna yang dengan tatapannya sedang mencari-cari keberadaan kakak nya.
“Dimana kakak ku? Kak Yuri..! Kakak..!!”
“Yuri masih berada dikamar. Dia sudah sadar, dan aku telah menjelaskan padanya apa yang terjadi, dari sisi apa yang kuketahui”
Yuna langsung mengarahkan perhatiannya pada Arkhan. Sedikit banyak ia telah mendengar perihal siapa pria itu, dari apa yang dikatakan Azka ketika diperjalanan tadi.
Jadi pria itu mencintai kakak nya?
Bahkan sejak dulu..?
“Sepertinya Yuri bisa menerima penjelasanku..”
Azka menarik napas lega mendengarnya, tapi tidak dengan Yuna. Tak ada yang bisa membuatnya lega kecuali bertatap muka langsung dengan Yuri dan melihat bagaimana keadaannya.
Apakah kakak nya masih marah?
Apakah kakak nya akan membencinya?
Tidak..
Ia tidak akan sanggup menerima bila dibenci oleh kakak nya..
“Katakan dimana kakak ku sekarang?”
Arkhan menunjuk pada salah satu pintu yang tertutup, yang segera diikuti langkah cepat Yuna untuk mencapainya.
“Kakak..Kak Yuri, ini aku..”
Yuna beberapa kali mengetuk, namun tak mendapat sahutan.
“Kakak, apakah tidak apa-apa jika aku masuk? Aku ingin bertemu denganmu Kak..”
Yuna mencoba menekan gagang pintu, dan hatinya serasa mencelos seketika mendapati pintu itu yang terkunci dari dalam. Airmata dengan segera berlelehan diwajahnya..
“Kakak.. Buka pintunya, Kak.. Biarkan aku masuk. Biarkan aku bicara padamu. Kakak maaf.. maafkan aku kak..”
Melihat Yuna yang terus menerus mengetuk maupun menekan-nekan knop pintu, membuat Azka dan juga Arkhan kemudian bergegas menghampirinya..
“Kakak mengunci pintunya.. Kakak tidak ingin aku menemuinya..”
Azka lantas merangkul tubuh Yuna, sementara Arkhan kemudian ikut mengetuk pintu kamarnya.
“Yuri.. Yuri ah, kau mendengarku? Yuri..”
Tak ada sahutan, membuat airmata Yuna makin deras membanjiri wajahnya.
“Kakak.. Aku mohon, biarkan aku melihatmu. Kita perlu bicara, Kak..”
Dengan bibir bergetar, Yuna mengucapkan lagi permohonannya agar sang kakak yang berada didalam sana mau membuka pintu dan bertemu dengannya.
“Ku mohon kak, biarkan aku masuk.. Jangan seperti ini Kak, aku takut. Aku takut bila kau membenciku..”
Azka sudah akan ikut bersuara, namun terhenti ketika niatannya itu lebih didahului oleh suara kuncian pintu yang kemudian sedikit terbuka. Memperlihatkan Yuri yang berada dibaliknya.
“Kakak..”
“Masuklah, Yuna..”
“Kakak..”
“Masuklah..”
Yuri lantas mengarahkan tatapannya pada Arkhan dan hanya sekilas melihat kearah Azka.
“Aku hanya ingin berbicara dengan Azka..”
“Yuri..”
Azka mencoba untuk berbicara dengan Yuri, namun Yuri menghiraukannya dengan menarik pergelangan tangan Yuna, membawanya masuk kedalam kamar dan menutup rapat pintu dibelakangnya.
“Semua akan baik-baik saja, percayalah. Yuri tak mungkin menyakiti adiknya..”
Arkhan lah yang kemudian menepuk bahu Azka dan mengajaknya beralih dari depan pintu kamar itu.
***
“Aku sangat senang Kakak sudah bisa kembali berjalan..”
Yuna langsung memeluk Yuri dan menangis haru melihat sang kakak yang tak lagi berada diatas kursi roda. Kemarin ia terlalu tegang untuk dapat mensyukuri kesembuhan Yuri.
Yuna lantas menggumamkan permintaan maafnya berkali-kali namun sang kakak masih saja diam, tak jua meresponnya. Yuna juga merasakan Yuri yang bahkan tak membalas pelukannya. Tubuh kakaknya serasa kaku, seperti enggan menerima pelukannya. Hal yang semakin menambah kesedihan dihatinya.
“Kakak maafkan aku, semua itu terjadi karna aku.. aku..”
“Aku sudah mendengar semuanya, kau tak perlu menjelaskannya lagi padaku..”
Yuri melepaskan pelukan Yuna dari tubuhnya..
“Kakak..”
“Yang ingin kubicarakan denganmu sekarang adalah, bagaimana kita menjalani kehidupan kita selanjutnya..”
“Kakak, benarkah aku.. Apa aku bukan..”
Yuri merasakan gemetar ditubuhnya. Yuna pastilah ingin mengetahui kebenaran akan apa yang telah dikatakannya..
“Kau adikku, Yuna. Sekalipun aku sangat marah, terluka dan kecewa padamu, pada kebohongan yang kau lakukan padaku. Itu takkan menghapus persaudaraan diantara kita. Kau tetaplah adikku sekalipun kau terlahir bukan dari rahim Ibu, tapi kau bertumbuh dari ketulusan hati Ibu dan Ayah..”
Yuna mengangguk sambil menyeka airmatanya, dadanya sesak luar biasa.
Jadi benar..?
Dia bukanlah adik kandung kakak nya?
Oh Tuhan ku..
Ia mengira akan kuat menerima hal itu, namun nyatanya ia tak sekuat yang diperkirakannya. Yuna jatuh lunglai merosot kelantai, dengan isak tangis yang menjadi tak bisa dikendalikan..
Sementara Yuri justru melengos. Hatinya serasa diremas melihat airmata adiknya dan serta kesedihan diwajahnya. Ia kemudian juga bersusah payah menahan genangan airmatanya agar tak terjatuh..
“Kenapa kak.. kenapa aku bukan adikmu.. kenapa aku bukan adikmu kak..”
Yuri luar biasa tercekat mendengarnya. Mendengar Yuna yang terus menggumamkan tanya itu, ia kemudian mensejajarkan tubuhnya untuk menangkup wajah Yuna dengan kedua tangannya..
“Dengarkan aku Yuna. Kau adikku. Satu-satunya adikku yang ku punya. Sekalipun kau tak terlahir dari rahim Ibu, Kau tentu bisa merasakan betapa Ibu dan Ayah yang sangat menyayangimu. Begitu juga denganku. Jadi jangan pernah memikirkan hal itu.. Sampai kapanpun, kau adalah adikku. Tak ada sesuatupun yang bisa mengubah itu..”
Yuri tak kuasa menahan airmatanya sekalipun ia telah dengan keras menahannya agar tak terjatuh. Ini kesalahannya yang kemudian membuatnya harus berusaha keras meyakinkan Yuna bahwa dia bukanlah sekedar bocah kecil yang dipungut dari pinggir jalan. Bocah kecil yang telah menjadi begitu bernilai baginya dan juga kedua orangtua nya..
Yuri lantas meraih tubuh Yuna, memeluknya dan menangis bersamanya..
“Tuhan, ampuni aku.. maafkan aku Yuna.. Aku seharusnya menjagamu. Maafkan ketidak mampuanku untuk melakukannya..”
Yuna tak bisa bersuara, ia hanya mengangguk-angguk disela isakan tangisnya..
Hingga beberapa lama, keduanya masih terus saling berpeluk. Yuri bahkan tak berhenti mengusap-usap rambut dan juga bahu Yuna. Menenangkan sang adik dari tangisnya..
“Kakak..”
“Aku menyayangimu..”
“A-ku ju-ga me-nyayangi Kakak..”
Suaranya tersendat oleh isak tangisan..
“Aku ingin terus bersamamu..”
Yuna mengeratkan pelukannya..
“Aku ingin hubunganku denganmu membaik, Yuna. Seperti dulu. Kita tak boleh saling menyakiti satu sama lain. Kau mengerti dengan maksudku kan?”
Yuna mengangguk..
“Aku juga ingin terus bersama dengan kakak. Tak ada yang lebih berharga selain bersama dengan Kak.. Aku juga akan memperbaiki kesalahanku yang telah menyakiti Kakak. Maaf Kak..”
“Tapi…”
Yuri melepaskan pelukannya dan kemudian beralih dari hadapan Yuna. Berdiri membelakanginya, kemudian meneruskan kalimatnya..
“… akan menjadi tak nyaman jika kau masih bersama dengan Azka..”
deg..
Yuna kembali merasakan hantaman yang mengenai bagian dadanya.
“Aku mengerti, Kak..”
Untuk beberapa lama setelahnya, hening diantara keduanya. Sampai kemudian tatapan Yuna tertumbuk pada dua mangkuk yang berisi nasi dan sup, yang terlihat tak lagi mengundang selera untuk menyantapnya.
“Kakak masih belum makan?”
Yuri menggeleng..
“Apa yang kakak inginkan? Aku akan membuatkannya untuk kakak..”
Yuna sudah akan beranjak, namun kemudian Yuri meraih pergelangan tangannya.
“Kau berhak memilih bersamanya, Yuna.. ”
“Apa yang kakak bicarakan. Aku akan keluar dan mencari makanan untukmu. Tunggulah..”
Yuri menatap pada pergerakan Yuna yang mulai berjalan keluar dari dalam kamar. Ia kemudian mendesah ketika Yuna benar-benar telah keluar dan membuatnya hanya bisa menatap pada pintu yang kembali menutup..
“Kau satu-satunya yang tersisa dan teramat berharga, Yuna. Biarkan Aku untuk melindungimu..”
***
Keluar dari dalam kamar itu, Yuna menundukkan wajah, sesekali memejamkan kedua matanya. Terngiang-ngiang dengan apa yang tadi dikatakan Yuri padanya.
Tak ada yang salah dari apa yang dikatakan kakak nya, tinggal dirinya saja yang harus memutuskan..
“Kalian sudah selesai berbicara?”
Yuna terkesiap mendengarnya..
Ia hampir-hampir menubruk pada dada Azka. Pria itu telah berdiri dekat dihadapannya..
“Arkhan mengatakan dia sudah menjelaskan semuanya. Jadi bagaimana? Yuri bisa mengerti kondisi yang memaksamu membohonginya?”
Yuna mengangguk..
Azka tersenyum melihatnya. Ia telah mengulurkan tangan untuk meraih tubuh Yuna kedalam pelukannya, namun gadis itu justru mundur darinya..
“Pak.. Aku, ada yang ingin.. Ada yang ingin aku katakan padamu..”
Azka sesaat mengerutkan dahi mendengarnya..
“Apa.. Katakanlah?”
“Aku.. Aku..”
Yuna kembali menunduk, memejamkan kedua matanya, kemudian menarik napas dalam-dalam..
“Aku.. Aku ingin mengakhiri hubunganku denganmu. Pak, aku tak bisa lagi.. Aku…”
Kalimat yang diucapkan Yuna terputus ketika kemudian Azka merenggut kedua bahunya, lalu kemudian mengguncangnya seolah tak yakin dengan apa yang baru saja diucapkan gadis dihadapannya itu.
“Apa yang kau katakan tadi, Yuna..? Cepat ulangi apa yang kau katakan, kurasa aku tak mendengarmu tadi..”
Yuna merasakan sekujur tubuhnya gemetaran, namun kemudian ia memberanikan diri untuk mendongak dan menatap pada Azka walau hanya sesaat sebelum akhirnya ia kembali memalingkan wajahnya.
“Pak, aku ingin mengakhiri hubunganku denganmu.. Aku, aku akan..”
Ia sadar, telah menjadi gadis tak tahu diri saat itu. Azka begitu baik padanya. Hingga melakukan apapun untuknya. Tapi dirinya, justru tak bisa memberikan apapun untuk membalasnya.
“Omong kosong..!”
Yuna merasa sedikit limbung ketika Azka menyentakkan tangan dari bahunya. Pria itu kemudian berbalik membelakanginya..
“Pak maaf, tapi aku ingin bersama dengan kakak ku..”
Mendengarnya, Azka lantas kembali membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Yuna. Dan mulai menunjukkan kilatan kemarahan dimatanya..
“Lalu, kau pikir aku akan menghalangimu? Tentu saja tidak, Yuna..! Kau bisa bersama dengan Yuri. Tentu saja kau boleh melakukannya..”
“Tapi Kakak.. Dia, dia akan menjadi tidak nyaman. Pak, maaf.. Aku benar-benar ingin memperbaiki hubunganku dengan kak Yuri”
“Lakukan sesukamu, tapi jangan menghalangiku untuk melakukan apa yang ingin kulakukan. Aku akan berbicara dengan Yuri..”
“Pak..”
Yuna tahu Azka telah menjadi marah padanya, pria itu juga tak main-main dengan apa yang dikatakannya. Maka sebelum Azka benar-benar beranjak darinya, Yuna telah lebih dulu menarik pergelangan tangannya..
“Maafkan aku Pak.. Kumohon, biarkan aku bersama dengan kak Yuri..”
“Dan dengan kata lain aku juga membiarkan hubungan kita berakhir? Sialan, Yuna! Kau tak bisa memohon hal seperti itu dariku..!!”
Dengan terlebih dulu melepaskan tangannya dari Yuna, dan dengan wajah memerah menahan marah, Azka beranjak dari hadapan gadis itu. Ia mungkin hanya akan semakin marah bila sekali lagi ia mendengar Yuna memohon padanya..
Namun kemudian, Yuna mengejarnya dan kembali menahan pergelangan tangannya.
“Pak Maaf, aku tahu kau marah. Aku tahu, aku adalah gadis paling tak tahu diri. Kau telah banyak membantuku tapi aku.. Aku justru, seperti inilah balasanku padamu. Maafkan aku Pak, tapi aku tak bisa.. Aku tak bisa terus bersamamu dan terus menyakiti kak Yuri..”
Yuna kemudian melepaskan tangan Azka..
“Pak Azka, ini keputusanku.. Maafkan aku..”
“Dengar Yuna, kau telah banyak memutuskan segala sesuatunya sendiri. Dan sekarang, aku takkan membiarkanmu melakukannya. Jangan berpikir aku akan semudah itu mengikuti kemauanmu. Tidak lagi, aku takkan mengikuti kemauanmu yang tak masuk akal..”
Azka meneruskan langkah, namun kembali berhenti ketika mendengar Yuna menggumamkan namanya.
“Aku akan pulang dan menganggap tak pernah mendengar apa yang tadi kau katakan. Kau boleh berada disini hari ini. Aku yang akan memberitahu Mama. Jena akan tetap berada disini untuk menemani kalian..”
Setelah mengucap rentetan kalimat itu, Azka pergi. Meninggalkan Yuna yang merasakan sekujur tubuhnya membeku setelah mendengar apa yang dikatakannya. Airmatanya kemudian berlinang, rasanya tengah ada berton-ton puing-puing reruntuhan bangunan yang menimpanya. Membuatnya terhimpit, dengan dadanya yang tertekan, sesak dan sakit tiada terkira..
Yuna lantas terjatuh lemas dilantai, dan kembali menggumamkan permintaan maaf pada Azka yang beberapa saat lalu telah pergi meninggalkannya..
Yuri bukan tidak mengetahui kejadian itu. Ia telah berada dibalik pintu, sedikit membukanya dan mencuri dengar pembicaraan tadi. Namun ia bungkam dengan terus menyaksikan ketika Azka terlihat beberapa kali menggeram namun masih menahan kemarahannya terhadap Yuna..
“Kau harus benar-benar mencintai adikku, jika ingin bersama dengannya..”
Gumamnya sambil menutup pintu setelah melihat Azka pergi membawa kemarahannya..
***
TBC.....