
Ada alasan tersendiri mengapa Yuna mengambil alih pekerjaan Bibi Lia membuat kopi untuk Azka.
Ia bukan memasukkan sesendok kremer itu kedalam cangkir kopi dihadapannya, melainkan menggantinya dengan memasukkan lebih dari tiga sendok garam kedalamnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan bibi Lia yang sudah sibuk dengan apa yang dikerjakannya sendiri.
Dalam hati Ia sudah tertawa terbahak, membayangkan akan seperti apa Azka bereaksi ketika meminum kopi buatannya..
“Dia pantas menerimanya..”
Gumamnya dengan senyum membingkai wajahnya ketika kemudian mengatakan pada Bibi Lia, ia akan membawakan kopi itu untuk Azka.
Meninggalkan dapur itu untuk selanjutnya kembali berjalan menuju ruang kerja Azka, yunat tidak perlu mengetuk pada pintu ruang kerja Azka yang saat itu sudah terbuka..
“Pak..”
“Oh, Kau sudah membawa kopinya..?”
“Anda sudah dapat melihatnya bukan?”
“Kenapa sih kau tidak bisa berkata dan bersikap manis pada tunanganmu sendiri? Apa pria yang menjadi selingkuhanmu jauh lebih tampan dariku..? Apa kau menjadi bisa bermanis-manis saat bersamanya? Apa Kau merindukannya saat sementara kau terkurung didalam rumahku?”
“Apa yang anda tanyakan tidak harus saya tanggapi..”
Yuna mendekat untuk menyerahkan secangkir kopi ditangannya dan ingin sesegera mungkin mendapatkan kembali ponsel milik Bibi Lia, dan terutama mengetahui akan seperti apa saat Azka meminum kopi buatannya..
“Dimana ponsel itu?”
Azka mengambilnya dari atas meja kerjanya, dan kemudian saling bertukar dengan Yuna. Secangkir kopi yang diulurkan oleh Yuna ditukar dengan ponsel yang kemudian diserahkan oleh Azka.
Keduanya menerima dan memindahkan ketangan mereka secara bersamaan, dan pada saat itu Azka bisa melihat senyum tersembunyi diwajah Yuna.
Senyum yang mungkin sebagai tanda jika gadis itu akan dapat menghubungi Doni setelah mendapatkan kembali ponsel itu darinya..
“Apa Kau akan menghubungi pria itu lagi?”
“Emm.. Bukan sesuatu yang bisa anda ketahui Pak.. Saya akan meninggalkan anda untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan pekerjaan, dan selamat menikmati kopinya..”
Jika tadi Ia memberengut ketika keluar dari ruang kerja Azka, kali ini senyum terkembang dibibirnya, senyum kejahilan yang membingkai diwajahnya..
“YUNA..! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KOPI BUATANMU..!!”
Yuna meledakkan tawanya mendengar teriakan Azka dari ruang kerjanya, dan segera Ia berjalan cepat kearah tangga untuk bersembunyi didalam kamarnya. Namun baru pada anak tangga pertama melangkah, Ia sudah merasakan tarikan pada pergelangan tangannya..
“Kau mencoba kabur setelah apa yang kau lakukan padaku..!”
Sial..
Yuna menggigit bibir bawahnya ketika kemudian Ia membalik tubuhnya menjadi berhadapan dengan Azka, dan mendapati pria itu memberikan seringai diwajahnya..
“Awhh..”
Tersentak ketika Azka menarik pinggangnya, membuat dadanya berbenturan dengan kerasnya dada bidang Azka.
Yuna menunduk memperhatikan, mendadak teringat pada apa yang Ny.Dania katakan tentang bagian dadanya. Semburat malu langsung merayapi wajahnya ketika Azka juga kemudian meraih dagu dan mendongakkan wajahnya..
“Kau harus mengganti rasa asin dari kopi buatanmu dengan rasa manis dari bibirmu..”
Oh dear..
Benar-benar sial…
***
Azka POV
Aku telah sedikit menelan sebelum kemudian memuntahkan kopi yang memiliki rasa tak karuan dimulutku saat aku berteriak kesal pada yuna.
Gadis itu benar-benar memiliki niat dalam kepala kecilnya untuk menjahiliku ketika dengan jelas terdengar suara tawa darinya segera setelah teriakanku.
“Gadis nakal..”
Tak ingin membiarkannya merasa puas dan berhasil, aku menggeser kursi yang ku duduki, dan dengan langkah lebar keluar dari ruangan untuk kemudian mengejarnya.
Aku masih mendengar tawa terkikik darinya pada saat meraih pergelangan tangannya untuk menghentikan dan kemudian menarik pinggangnya, membuat tubuhnya merapat padaku.
Dada kami bersentuhan, dan aku sedikit menangkap perasaan malu dari raut wajahnya yang kemudian tertunduk.
Apa yang dikatakan mama pada bagian tubuhnya itu pasti telah mempengaruhinya..
Matanya mengerjap dengan penuh keterkejutan saat aku meraih dagunya dan mendongakkan wajahnya untuk menatapku.
Hal itu yang lantas membuat deretan gigi putihnya terlihat saat dia menggigit bibir bawahnya, mulai gelisah.
Namun sesaat aku justru terfokus pada sewarna merah jambu dari bibirnya yang mungil, aku pernah merasakannya setidaknya dua kali dan masih tak merasakan apapun pada saat itu.
Tapi saat ini..
Hanya dengan memperhatikan deretan gigi putihnya yang sedang menggigit itu, aku merasakan iri dan menginginkan untuk menggantikan menggigit dan merasakan bibir itu didalam mulutku.
Ini tidak layak..
Mengapa dia harus menggigit bibirnya seperti itu dan menggugah sesuatu dalam diriku menjadi benar menginginkan untuk melumatnya didalam mulutku..
Tuhan..
Apa yang terjadi padaku?
Aku terkesiap saat merasakan sesuatu yang seakan tengah menyengat tubuhku dan debaran kencang dari jantungku yang berdenyut, membuatku kemudian melepaskan tubuhnya dan mundur.
Tak ingin membuatnya menyadari jantungku yang mungkin sedang bersiap melompat dari tempatnya.
Aneh..
Salah tingkah dengan apa yang kusadari telah kuucapkan padanya untuk menggantikan rasa asin dari kopi buatannya dengan menciumnya, aku mengalihkannya dengan sebuah pertanyaan..
“Euh.. Apa yang kau lakukan pada kopi buatanmu..?”
Itu terdengar bodoh untuk dikatakan saat aku telah mengatahui apa yang sudah dia lakukan dengan mencoba menjahiliku..
“Maaf Pak.. Aku hanya kesal..”
“Kau kesal setelah aku mengetahui kau telah berselingkuh dengan menghubungi pria lain tanpa sepengetahuanku..”
“Baik saya maupun anda.. sama-sama mengetahui kata ‘berselingkuh’ itu tidaklah tepat untuk digunakan diantara kita..”
“Kita? apa kau tadi menyebut aku dan dirimu sebagai kita..?”
Dia mendecak dengan kesal namun tak mengeluarkan bantahan dari bibirnya.
Bibir..
Bibir..
Bibir..
Mengapa aku terus terfokus pada bibirnya.
Dia hanya menganguk dengan wajah memberengut dan bibirnya..
Sial..
Aku baru saja memperhatikan lagi bibirnya yang bergerak menggumamkan sesuatu. Aku harus segera beralih..
“Cepat Yuna.. Atau aku akan mengadukan perbuatanmu pada mama dan membiarkannya mengajarimu bagaimana cara bersikap layak pada tunanganmu..”
“Anda sangat suka memberikan ancaman dengan mengatas namakan ibu anda..”
“Aku tidak sedang mengancam.. aku hanya memberitaumu apa yang akan aku lakukan. semua tergantung pada apa yang kau lakukan..”
“Ck..! Oke.. baiklah Tuan muda, Saya akan melakukannya..”
Dia masih memberengut dan dengan sedikit menghentakkan kakinya saat beranjak dari hadapanku untuk kemudian mengarah kedapur. Aku akan menunggunya diruang kerjaku.
Sementara menunggu Yuna membuatkan lagi kopi untukku, Aku tak bisa hanya dengan duduk sambil sesekali membuka file berisi pekerjaan yang harus diselesaikan.
Aku justru berdiri, berjalan mondar-mandir didalam ruang kerjaku. Aku tak tahu, aku tak berkonsentrasi lagi untuk mengerjakan pekerjaanku..
Dan kemana gadis itu membuat kopi? hingga lebih dari sepuluh menit aku masih belum mendapatkannya berada diruang kerjaku..
Aku sudah hampir berteriak ketika terdengar ketukan pada pintu..
“Bapak Azka..”
Suaranya terdengar dari luar, dan aku segera menempati kursi dibelakang meja kerja dan dengan serius membuka asal salah satu map diatasnya..
“Masuklah..”
Aku mendengar knop yang ditekan, dan pintu yang terbuka setelahnya. Langkah kakinya terdengar kecil dan samar mengarah padaku.
“Saya sudah membuatkan yang baru..”
Dia menempatkan sebuah cangkir diujung meja, aku masih menghindari untuk memperhatikannya. Aku sedikit mempertanyakan pada diriku sendiri, mungkinkah aku akan kembali hanya terfokus pada bibir merah jambu miliknya bila kemudian aku mendongak untuk melihatnya..
“Silahkan mencicipinya, Pak..”
“Kau yakin kali ini tidak menambahkan garam seperti yang tadi?”
Kedua mataku agar terfokus pada apa yang saat ini ada dihadapanku. Tapi dia diam..
Yuna hanya diam dan tidak menjawab apa yang tadi kutanyakan. Jelas-jelas dia masih berdiri didepan mejaku, belum sedikitpun beranjak. Tapi mengapa tak menjawab?
“Kau tidak menambahkan garam, bukan?”
Rasanya aku ingin mengerang. Kediamannya kemudian memaksaku mendongak dan melihatnya hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban atas apa yang kutanyakan. Mengapa dia tidak menjawab dengan mengeluarkan suara dari bibirnya..
Hentikan..
Aku memperingatkan diriku sendiri agar tidak terus- terusan memandang pada bibir itu..
“Aku tidak yakin..”
“Saya benar-benar tidak melakukannya lagi, Pak..”
Dia meyakinkan dengan kesal..
“Buktikan padaku..”
Aku mendorong cangkir itu kearahnya, dan melihatnya memutar mata kearahku.
“Aku tidak akan terjebak untuk yang kedua kali. Sekarang aku perlu untuk diyakinkan terlebih dulu.. Cobalah mencicipinya..”
Dia mendengus namun kemudian meraih cangkirnya dari atas meja, menyesap dengan bibirnya untuk merasakannya. Ekspresinya biasa-biasa saja ketika kemudian dia sedikit menjulurkan lidahnya untuk selanjutnya memutarnya pada bagian bibir bawahnya guna membersihkan sisa-sisa kopi yang menempel diseputaran bibirnya.
Demi Tuhan..
Dia tidak seharusnya melakukan hal semacam itu didepanku. Bagaimana bisa gadis se-belia itu bisa melakukannya.
Itu seksi, tapi jelas-jelas sangat tidak layak untuk dilakukan saat ini. Setelah sebelumnya aku merasakan iri pada deretan gigi putihnya yang dengan bebas dapat menggigiti bibirnya, kini aku merasakan hal yang serupa pada lidahnya. Sekarang Aku ingin mempergunakan lidahku untuk menjilatnya.
Sialan..
Dalam hati aku mengerang. Apa gadis itu telah dengan sengaja menggodaku?
Parahnya dia telah berhasil..
Apa dia juga mengetahui aku sedang berpikiran mesum hanya karna terus membayangkan apa yang bisa kurasakan dari bibir semerah jambu miliknya..
Oh Tuhan..
Aku harus segera menghentikan kekacauan ini dari kepala ku.
“Tidak ada rasa yang menyimpang. Anda harus mempercayainya karna Bibi Lia yang sudah mengajarkan saya bagaimana cara meraciknya..”
dia meletakkan lagi cangkir itu dan sedikit mendorongnya kehadapanku. Menunggu akan reaksiku dengan kembali menggigit bibir bawahnya.
Astaga..
Dia akan segera menjadi sumber ke-gila-an ku. Aku bahkan tak lagi dapat menghitung berapa kali dia telah melakukannya. Sesungguhnya aku memang tak pernah menghitungnya..
“Hm.. Aku percaya..”
Aku tak dapat mempercayai suara ku yang bahkan terdengar bodoh saat ini. Gadis itu akan semakin membuatku merasa bodoh jika lebih lama berada disini..
“Keluarlah.. Aku perlu berkonsentrasi pada pekerjaanku..”
“Anda tidak perlu meminta.. Saya memang akan keluar..”
Dia mendecak, menggumamkan sesuatu yang tak jelas dibibirnya dan berbalik memunggungiku. Tiga langkah kakinya berjalan meninggalkan hadapan meja kerjaku, aku tak mengerti dengan otakku yang memerintahkan diriku hingga bibirku kemudian mengatakan sesuatu yang membuat dia menghentikan langkahnya dan kembali membalik tubuhnya menghadapku.
“Tunggu Yuna..”
Aku telah menghentikan langkahnya dengan memanggilnya tadi. Untuk alasan apa, aku benar-benar tidak mengetahuinya.
Dia menatapku..
Aku menatapnya..
Aku bersumpah, saat itu aku terkunci dalam tatapan bening yang tersorot dari kedua matanya. Untuk sesaat sebelum aku melihatnya kembali menggigit bibir bawahnya. Mengantisipasi apa yang akan kukatakan padanya..
“Jangan lagi menggigit bibirmu dihadapanku.. Atau saat ini aku akan bergerak dengan cepat, mendorong tubuhmu hingga membentur dinding dan menciummu hingga kita sama-sama kehabisan napas..”
Dia terkesiap. Membelalakkan mata mendengar apa yang ku katakan dan aku jauh lebih terkesiap melebihi apa yang dia rasakan mengetahui aku baru saja mengatakan kebodohan.
Benar-benar gila Azka..
Bodoh..
***
to be continue