At First Sight

At First Sight
Episode 51



Azka POV


“Aku tahu kau adalah adik Yuri, Doni bahkan yang pertama mengatakannya padaku..”


Aku sedikit bingung, mengapa pada saat itu dia mengatakan padaku bahwa Yuna adalah adik Yuri.


Bukankah jika dia menempatkan Yuna sebagai komplotannya, dia seharusnya menyembunyikan kenyataan itu dariku.


Entahlah karna itu bukan hal yang penting untuk dipikirkan sekarang. Seandainya pun pada saat itu Doni tidak mengatakannya padaku, aku pasti akan mendapatkan itu dari informan yang telah aku sewa. Dan aku masih menunggu hasil penyelidikan selanjutnya yang terus dilakukannya.


“Aku tahu bagaimana keadaan Yuri, aku pernah sekali melihatnya berada dirumah sakit jiwa. Aku hanya tak tahu mengapa wanita sepintar Yuri bisa berada disana.. Aku tidak pernah berpikir Yuri menjadi gila karna…”


“Jangan menyebut Kak Yuri ku seperti itu! Dia sama sekali tidak gila..”


Aku melihat luka dimatanya, dan usahanya pada saat itu hanya untuk dapat berbicara dengan bibirnya dan membela Yuri dari ucapanku. Hal itu yang kemudian membuatku sangat ingin meminta maaf karna telah menyebut Yuri seperti itu. Tapi aku tidak melakukannya.


“Mengapa aku yang kemudian menjadi tertuduh sebagai penyebab Yuri menjadi seperti itu..?”


“Kau pria yang dengan tega menyakitinya..”


“Aku sama sekali tidak menyakitinya, kecuali…”


Aku berhenti saat melihat lagi kilatan itu dimatanya.


“Ini jelas tidak masuk akal, hanya dengan menjadikan Yuri alasan kau..”


“Dia segalanya bagiku..”


Jadi hanya karna Yuri adalah segalanya untuknya, maka dia dengan mudahnya terpengaruh. Menelan mentah-mentah informasi dari Doni tanpa terlebih dulu mencari tahu kebenarannya.


Dan Doni..


Ya Tuhan..


Aku masih tidak percaya dengan apa yang dilakukannya padaku.


Setelah sikap baik kedua orangtua ku, Setelah kupikir aku juga melakukan hal yang baik terhadapnya, dia justru mencoba menikamku dari belakang.


Bukan berarti aku mengungkit, aku hanya tak habis mengerti dengan semua ini.


Dengan rencananya yang mencoba untuk menghancurkanku.


Jenis orang macam apa dia sebenarnya?


Dan apa yang ingin dia capai dengan menghancurkanku..?


Sedangkan Yuna, dia adalah..


“Kau gadis belia yang mudah terpengaruh..”


Ya..


Usianya terhitung belia, delapan belas tahun. Sebagai gadis diusia belasan sepertinya, dia jelas termasuk gadis yang sangat gampang untuk dimanfaatkan. Kelabilan emosinya yang memudahkan bagi seseorang untuk meracuni otak nya.


Itu menjadi satu-satunya alasan kuat mengapa Yuna dengan gampangnya menerima ucapan Doni sebagai satu-satunya kebenaran. Atau kalau tidak, dia mungkin memiliki ketertarikan terhadap Doni, hingga rela melakukan apapun untuk dapat membantunya.


Sial..


Aku marah dan menjadi kesal karna itu. Benar, dia pasti tertarik pada Doni.


Aku pernah memperhatikan bagaimana dia menatap Doni, matanya jelas memancarkan binar-binar kebahagiaan dari seorang gadis yang tertarik dan jatuh cinta. Tatapan yang sama yang kulihat dari Yuri yang ditunjukkannya padaku ketika itu.


“Tidak ada yang ku lakukan pada Yuri selain menolak pernyataan cintanya..”


“Kau menyakitinya karna itu..!”


“Apakah itu masuk akal sebagai penyebabnya mengalami depresi seperti itu?”


Dia tidak menjawab, aku justru melihat kedua tangannya meremas sprai tempat tidurku.


“Kau seharusnya mengenal kakak mu dengan lebih baik. Dia tidak mungkin terguncang hanya karna ditolak..”


Aku bahkan masih meyakini Yuri cukup pintar, sangat pintar. Dia bukanlah tipe wanita yang akan jatuh secara mental hanya karna hal semacam itu.


“Kau salah mempercayai seseorang, Yuna..”


Dia menatap setelah apa yang kukatakan. Pada saat itu aku kembali mendapati dia menjatuhkan airmatanya. Seberapa besar kemarahan ku sekarang, Aku masih merasakan ada dorongan dalam hatiku untuk menyeka airmata itu dari wajahnya.


Namun dorongan yang lebih kuat justru datang dari sisi gelap dalam diriku, yang kembali muncul untuk mengingatkan jika sebaiknya aku menghukum gadis itu, menghukumnya diatas tempat tidurku sebagai pelajaran untuknya.


Dia perlu diberi pelajaran..


Pelajaran yang lebih dari sebuah ciuman kasar..


Pelajaran yang tidak akan dia lupakan..


Aku menggeleng, tepatkah memberinya pelajaran seperti itu?


Aku mungki bisa menampar wajahnya dengan keras saat ini.


Tapi aku bahkan tidak melakukannya.


Jadi bagaimana mungkin aku bisa berbuat bejat kepadanya?


Tidak..


Aku masihlah seorang pria bermoral.


aku seharusnya tidak kalah untuk yang kedua kali dengan suara yang datang dari kegelapan dalam diriku.


“Aku telah mengetahui semuanya, maka permainan berakhir sekarang.”


Beranjak dari hadapannya, aku mengambil dokumen yang telah dijatuhkannya dilantai kamarku.


Aku masih belum mendengar lagi suaranya. Saat seperti ini aku harap dia menggunakan mulut pintarnya untuk berbicara denganku. Itu yang sudah sering dilakukannya. Dan yang aku inginkan dia juga melakukan itu sekarang.


Kenyataan bahwa aku tidak menyukai dia yang diam dan hanya sesekali bersuara, itupun dengan nada bergetar menahan tangis. Aku tidak suka melihat airmatanya. Aku juga tidak menyukai ekspresi ketakutan diwajahnya. Hal itu yang kemudian membuatku merasa perlu untuk menjauh sekarang. Aku harus menjauh sebelum aku membiarkan sisi gelap dalam diriku memiliki kemenangan mutlak dan mengacaukan segalanya.


Aku suka dia banyak berbicara dan melawanku. Aku pun lebih menyukai wajahnya yang merona. Aku suka ekspresi kesal yang seringkaliditunjukkannya padaku. Tapi Aku benci saat melihat ketidak berdayaan dalam tatapan matanya. Dan Aku akan lebih membenci diriku yang telah membuatnya takut dengan kemarahanku.


“Aku bukanlah orang yang telah membuat Yuri menjadi seperti itu, hanya itu yang bisa ku katakan padamu..”


Aku melihatnya berdiri setelah beberapa saat terduduk dipinggir tempat tidurku. Tatapan mata kami saling beradu.


“Tapi itulah yang terjadi.. Kak Yuri ku terluka dengan sangat dalam. Dia tak bisa mengatasi sakit hatinya atas penolakan cinta yang anda katakan. Kakak ku bahkan menjadi seperti menganggap dirinya tidak layak untuk diinginkan. Dia benar-benar jatuh karna anda..”


Dia menggunakan mulut pintar nya sekarang..


“Itu tidak mungkin.. Aku tidak percaya Yuri menjadi seperti itu karna aku”


“Anda mungkin bisa menyangkal dan menganggap itu tidak masuk akal, tapi anda tidak mengetahui betapa mengerikannya efek yang diakibatkan dari perasaan luka dihati seseorang. Kebenarannya adalah Kakak ku mengalami depresi dan itu adalah karna anda telah melukai perasaan dihatinya. Anda tidak akan pernah tahu sampai anda memiliki perasaan itu didalam diri anda..”


Apa dia sedang mencoba mengatakan aku tidak memiliki perasaan?


“Aku menganggap itu hanyalah asumsi dalam dirimu atau bagian dari apa yang Doni katakan padamu.. Benarkan?”


Dia kembali diam dan tak berkedip menatapku.


“Kurasa kau juga lebih mempercayai pria itu dari pada kakakmu. Sudahkah kau tanyakan pada Yuri tentang kebenarannya? Apakah dia memang mengiyakan depresinya disebabkan oleh karna aku? penolakanku? Itu tidak kau lakukan bukan..?”


“Kakak bahkan tidak mau berbicara padaku..”


“Jadi karna itu Kau mencari pembenaran sendiri dengan menelan mentah-mentah apapun yang dikatakan Doni padamu! Kau mempercayai semua ucapannya..! Kau hanyalah gadis belia bodoh, Yuna..”


Sialan..


Aku hanya semakin kesal dan marah sekarang. Aku pasti sama bodohnya dengan gadis itu. Sebelumnya aku juga percaya sepenuhnya pada Doni dan tak menyangka dia memiliki rencana busuk dalam dirinya untuk menghancurkanku.


Apa sih yang diinginkannya? Bukankah kehancuranku, kehancuran perusahaan ayahku juga akan berimbas terhadapnya?


Bukankah itu juga akan membuatnya teracam kehilangan pekerjaannya bila perusahaan ayahku benar-benar hancur karenanya.


Ini sungguh membingungkanku..


Sedangkan ibunya, Bibi Lia begitu baik padaku. Dan kurasa Bibi Lia juga tak mengetahui apa yang coba dilakukannya padaku.


Tidak..


Bibi Lia pasti tidak mengetahui hal itu. Dan aku takkan mencoba untuk memberitahunya. Dia pasti akan menangis bila mengetahuinya. Aku tak menginginkan hal seperti itu. Aku menyayangi wanita itu dan tak ingin menghancurkan kepercayaannya pada Doni sebagai putranya, sebagaimana hancurnya kepercayaanku terhadapnya.


Aku hanya perlu untuk berbicara dengan Doni dan menyelesaikan semua ini. Adakah yang salah dengan diriku? Ataukah sedang terjadi kesalah pahaman diantara kami.


Aku kembali memperhatikan Yuna yang sama sekali belum beranjak. Dia mungkin sedang mencerna apa yang kukatakan atau menungguku untuk kembali berbicara. Yang jelas aku masih melihat kegelisahan dikedua matanya yang redup saat menatapku.


“Seperti yang sudah kukatakan. Permainan berakhir karna aku telah mengetahui semuanya. Maka berhenti dengan balas dendam konyol yang coba kau lakukan padaku. Kau salah sasaran, Yuna..”


Ini mungkin menjadi berakhir untuknya, tapi ini akan menjadi awal untukku menggali apa yang Doni inginkan dariku. Aku takkan membuang-buang waktu jika itu dilakukannya padaku untuk balas dendam konyol karna apa yang dialami Yuri. Aku turut prihatin, tapi aku bukanlah orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang dialaminya.


Jika semua ini telah berakhir, ini mungkin juga menjadi bagian akhir dari pertunangan konyol diantara kami. Aku hanya tak tahu apa yang bisa kujelaskan pada Papa dan juga Mama nanti.


Papa jelas terlihat dapat menerima Yuna. Aku bisa mengatakan Papa telah menyukainya pada pandangan pertamadia melihatnya dimalam itu.


Begitupun dengan Mama yang terlihat telah dapat menerimanya. Mulai dari perlakuannya, Aku tak lagi mendengar ataupun melihat Mama berkata kasar padanya. Meskipun aku masih menganggap yang dilakukan Mama hanyalah untuk main-main dan menyenangkannya dengan menjadikan Yuna sebagai bonekanya yang penurut. Tapi aku juga melihat gelagat Mama yang mulai menyukainya. Mama membawa gadis itu kemanapun dia pergi, bahkan Papa mengatakan Mama membatalkan rencananya untuk pergi hanya karna gadis itu mengeluhkan sakit dan tak bisa ikut dengannya.


Karna itu, Aku menarik Yuna masuk kedalam kamarku. Aku tak ingin membuat Papa dan Mama mendengar keributan dari kami. Aku masih ingin merahasiakan ‘permainan’ ini dari mereka. Aku tak ingin mengecewakan mereka, dan yang lebih kupertimbangkan adalah bagaimana bila mereka tahu mengenai apa yang telah direncanakan Doni dan juga Yuna. Aku yakin hal itu hanya akan menumbuhkan rasa sakit hati mereka, seperti hal nya apa yang kurasakan saat ini.


Aku berharap akan bisa menyelesaikan ini dan tetap menjaganya sebagai rahasia..


“Pak Azka...”


Aku mendengar suaranya yang masih saja bergetar, ketika aku telah mencapai pintu kamarku dan bergerak menekan knop pintu untuk membukanya. Menoleh, mataku kembali bertemu dengan tatapan matanya..


“Pak.. Aku…”


“Permainanmu telah berakhir, Yuna.. Maka pergi dari rumahku sebelum aku memberitahukan semua ini pada Papa dan Mama, dan membuat mereka mengusirmu dengan tidak terhormat..”


Itu bukanlah apa yang aku inginkan, dan tidak percaya baru saja aku telah mengatakan mengusirnya dari rumahku..


Aku perlu meminum beberapa botol anggur untuk melupakan ini semua..


****