At First Sight

At First Sight
Episode 121



Yuri duduk termenung ditempat tidurnya, hari ini ia sedang tidak mood untuk mengerjakan apapun atau pergi kemanapun. Suasana hatinya sedang tidak baik, beberapa kali ponselnya berdering namun ia abaikan setelah melirik nama orang yang menghubunginya adalah Azka, pria itu pasti ingin menanyakan Jawaban Yuri tentang ajakannya untuk kembali menjadi sekretaris Azka.


Yuri masih bingung, apa ia akan menerima tawaran Azka atau menolak nya. Apakah lebih baik baginya untuk mencari pekerjaan yang baru, daripada harus menjadi sekretaris Azka lagi?


“Lebih baik aku bertanya pendapat Yuna.” Pikir Yuri kemudian.


Mengingat Yuna membuat perasaan Yuri tak menentu, pasalnya saat ini Yuna menjadi begitu dekat dengan Arkhan. Hal itu tak bisa dipungkiri oleh Yuri, membuat hatinya berdenyut nyeri. Benarkah Yuri cemburu? Yuri selalu berusaha menampiknya, tapi hatinya selalu sakit melihat kebersamaan Arkhan dengan sang adik. Sedangkan dirinya sendiri merasa tidak punya perasaan lagi pada Azka, saat sedang bersama Azka, Yuri sudah tidak lagi merasakan jantungnya berdebar seperti dulu.


Benarkah Yuna mulai membuka hatinya untuk Arkhan, karena Yuri melarangnya untuk berhubungan lagi dengan Azka? Pertanyaan itu tiba-tiba saja bergerilya di kepala Yuri.


“Tidak mungkin, Yuna tidak mungkin punya hubungan dengan Arkhan. Aku tau Yuna masih sangat mencintai Azka, begitupun Azka Sangat mencintai Yuna, aku bisa melihat cinta dimata mereka berdua.”


Yah, Yuna tak menyadari bahwa Yuri sengaja melarang Yuna berhubungan dengan Azka. Semua itu Yuri lakukan untuk melihat seberapa besar cinta Azka untuk adiknya, ia tidak ingin Azka mempermainkan Yuna. Tapi semakin hari, Yuri semakin sadar bahwa Azka adalah pria yang tepat untuk mendampingi adiknya. Di tambah dengan ibu Azka yang begitu menyayangi Yuna, Yuri merasa Yuna sangat beruntung jika memiliki mertua seperti ibu kandung sendiri.


Yuri menyadari telah membuat kesalahan yang membuat Yuna sangat tersiksa, hampir setiap hari Yuri melihat Yuna melamun. Yuna pasti sangat tertekan.


“Aku harus mengatakannya pada Yuna, dia harus kembali pada Azka.”


***


Yuna merapikan buku-buku nya dan memasukkannya kedalam tas. Jam kuliahnya sudah selesai semua, dan saatnya ia pulang kerumah. Yuna melirik jam tangannya, jarum jam menunjukkan pukul tiga sore. Hari ini jam kuliah nya full sampai sore, hingga Yuna terpaksa pulang terlambat.


Yuna teringat akan Yuri, apakah kakaknya itu sudah makan atau belum. Karena biasanya Yuna selalu pulang saat jam makan siang dan mereka makan bersama seadanya dirumah. Yuna merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya, kemudian menghubungi Yuri.


“Halo kak, kakak sudah makan siang? Oh.. bersama kak Arkhan? Hmm.. Yasudah aku akan segera pulang kak.”


Yuna kembali memasukkan ponselnya kedalam tas, Yuna cukup lega karena Yuri ternyata sedang bersama Arkhan, mereka tadi makan siang bersama.


Yuna segera melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang universitas, Yuna ingin segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat Yuna melihat sosok dengan tubuh tinggi, berdiri disamping mobilnya dengan melipat kedua tangannya di dada.


Yuna menelan Saliva saat pria itu menebarkan senyum manis kepadanya. Yuna bingung harus merespon seperti apa, jujur saja ia sangat merindukan pria itu, Azka. Tapi Yuna terpaksa harus membunuh perasaannya, daripada harus menyakiti hati kakaknya lagi.


“Hei, kenapa melamun saja disitu?”


Suara bariton itu membuat Yuna tersadar dari lamunannya, jantung Yuna berdegup kencang, banyak kata yang ingin diungkapkan pada pria yang sangat ia cintai tapi terpaksa Yuna menahannya.


“Pak Azka sedang apa disini?” tanya Yuna, berusaha bersikap biasa saja.


“Sedang apa? Sedang apa lagi kalau bukan ingin menjemput calon istriku.” Jawab Azka di sertai senyuman menggoda di wajahnya, membuat Yuna merona mendengarnya, seperti ada ribuan bunga yang bermekaran di hatinya. Sungguh Yuna sangat ingin berhamburan dalam pelukan Azka, tapi sekali lagi Yuna sudah tidak bisa melakukannya.


“Jangan bercanda, kita sudah putus.” Kata Yuna ketus.


“Bagimu, tapi tidak bagiku. Kau tetap calon istriku dan aku akan segera menghalalkanmu.”


Lagi-lagi Azka berhasil membuat detak jantung Yuna semakin kencang, Azka terkikik melihat rona merah di wajah Yuna yang terlihat sangat jelas walaupun gadis itu berusaha menyembunyikannya dengan menunjukkan wajah datarnya.


“Ayo, aku antar pulang.”


Ajak Azka sambil meraih pergelangan tangan Yuna, namun gadis itu segera menepisnya.


“Aku bisa pulang sendiri.” Jawab Yuna ketus.


“Oh ayolah Yuna, kau tidak mau pulang dengan calon suamimu sendiri?”


“Tidak, kau pergi saja dengan kak Yuri. Bukankah kau sering pergi bersamanya.”


Azka tergelak mendengar ucapan Yuna, jelas sekali nada kecemburuan tersemat pada kata yang keluar dari bibir cantiknya. Lihat juga wajahnya yang sedang cemburu, lucu sekali.


“Apa salahnya sesekali aku pergi bersama calon kakak ipar ku. Lagipula Yuri juga akan kembali berkerja menjadi sekretaris ku.”


Yuna hanya diam saja, tidak menyahuti ucapan Azka. Ia tidak ingin terlena dengan kata-kata manis yang di ucapkan Azka, Yuna tidak ingin pada akhirnya ia merasakan sakit yang lebih dalam lagi jika cintanya dan Azka tidak bisa bersatu.


“Sudahlah, tidak perlu cemburu qdpada Kakakmu sendiri Yuna.”


“Benarkah, mulutmu bisa berbohong tapi tidak dengan matamu Yuna. Sudahlah ayo ikut aku, kau ini keras kepala sekali Yuna.”


Azka segera menggiring Yuna masuk kedalam mobilnya, Yuna hanya pasrah tanpa perlawanan. Karena percuma saja ia tidak akan bisa menang jika berdebat dengan pria itu.


***


“Azka memintamu untuk menjadi sekretarisnya lagi?” Tanya Arkhan, Yuri hanya mengangguk sebagai jawaban.


Saat ini Yuri dan Arkhan sedang duduk berhadapan di sebuah restoran, menikmati berbagai hidangan yang mereka pesan.


“Bagaimana menurutmu, aku bingun harus menerima atau menolaknya.” Tanya Yuri kemudian.


“Kalau menurutku terima saja, asalkan kau jangan lagi melibatkan perasaanmu padanya, seperti dulu...”


“Kenapa memangnya?”


Arkhan menarik nafas dalam-dalam, kemudian menatap lekat gadis dihadapannya itu.


“Karena akan banyak hati yang tersakiti, Yuri.”


“Maksudmu? Yuna yang akan tersakiti?”


“Bukan hanya Yuna, tapi juga kau sendiri, Yuri. Azka mencintai Yuna, hanya Yuna. Jika kau terlalu berharap padanya, maka dirimu juga akan tersakiti.”


Yuri menghela nafas, dirinya juga tau akan hal itu. Yuri sama sekali sudah tidak mengharapkan Azka lagi, Yuri tidak lagi memiliki perasaan pada Azka. Jikapun Yuna kembali bersama Azka, Yuri sama sekali tidak keberatan asalkan adiknya bahagia.


Arkhan meraih tangan Yuri, menggenggam erat seolah tak ingin tautan itu terlepas.


“Juga hatiku Yuri, hatiku juga akan tersakiti karena sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu.”


Yuri terkejut mendengar pengakuan Arkhan, Yuri menatap Arkhan lekat, menembus kedalam bola mata pria itu. Benarkah Arkhan masih mencintainya, masa itu telat terlewatkan begitu lama, masihkah rasa itu tetap sama. Setelah apa yang Yuri alami, masih adakah laki-laki yang mau menerimanya.


“Arkhan, kau tidak seharusnya menyimpan perasaan padaku begitu lama, harusnya kau sudah mendapatkan gadis yang lebih baik dariku.. aku sama sekali tidak pantas... Aku...”


Yuri terisak, mengingat nasibnya yang begitu memilukan. Sesuatu yang membuatnya trauma seumur hidupnya, merasa dirinya tak pantas mendapatkan cinta siapapun. Arkhan mencoba menenangkan Yuri.


“Yuri, aku tidak peduli. Bagiamana pun dirimu sekarang, aku tetap mencintaimu. Rasanya itu tak pernah berubah sampai kapanpun, Yuri.” Ujar Arkhan yakin.


“Terimakasih Arkhan, Terimakasih sudah mau mencintaiku. Dari dulu hingga sekarang.”


“Yuri, apa kali ini kau mau membalas cintaku?” Tanya Arkhan, pria itu sangat berharap bisa memiliki hati Yuri seutuhnya. Sudah cukup selama ini ia menahan perasaannya, Arkhan sangat ingin membuat Yuri bahagia dan melupakan semua hal buruk yang pernah terjadi padanya.


Sedangkan Yuri, gadis itu bingung harus menjawab apa. Bingung dengan perasaannya sendiri, dulu Arkhan juga pernah menyatakan cinta padanya, namun saat itu Yuri menolak bukan karena ia tak menyukai pria itu. Yuri yang hanya gadis biasa, merasa dirinya tidak pantas menjadi kekasih Arkhan yang bagaikan pangeran.


“Yuri.”


Panggilan Arkhan membuyarkan lamunan Yuri.


“Arkhan, kau tau dulu aku menolakmu bukan karena aku tidak mencintaimu, saat itu aku mencintaimu tapi aku merasa tidak pantas bersamamu. Begitupun sekarang, aku tidak sama lagi seperti gadis lain Arkhan... Aku...”


“Tapi aku tetap mencintaimu, Yuri. Apapun keadaanmu, aku bisa menerimanya. Lagipula dulu kenapa kau menolak aku hanya Karena alasan tidak jelas seperti itu, Yuri sekarang masihkah kau mencintaiku seperti waktu itu?”


Yuri semakin bingung harus bagaimana, perasaannya saat ini. Benarkah rasa yang sempat hilang itu kini kembali bersemi lagi? Jujur saja Yuri merasakan perasaan aneh saat bersam Arkhan, juga perasaan kecewa dan sakit hati saat Arkhan dekat dengan Yuna. Apa itu artinya Yuri cemburu? Jika benar Yuri merasa cemburu, itu artinya Yuri kembali jatuh cinta pada Arkhan kan?


“Arkhan, beri aku waktu untuk memikirkan semua ini. Jujur saja, aku bingung dengan perasaanku saat ini.”


Arkhan mengangguk dan tersenyum, setidaknya gadis itu tidak lagi menolaknya mentah-mentah seperti dulu. Arkhan sangat berharap Yuri, mau membuka hati untuknya lagi.


***


tbc