At First Sight

At First Sight
Episode 65



Author POV


Nyatanya bukan hal yang mudah bagi Yuna untuk kemudian mendapatkan persetujuan dari kedua orangtua Azka.


Tn.Rian dan Ny.Dania berkeberatan dengan niatannya. Mereka menilai apa yang dikatakan Yuna bukanlah solusi bagi kesembuhan kakaknya.


Bahkan ayah Azka, Tn.Rian yang selalu dapat menilai dengan bijak dan biasanya berada dipihak Yuna, kini sepaham dengan istrinya. Tak menyetujui kebohongan yang diinginkan oleh Yuna.


“Apa kau sudah memikirkan hal itu lebih jauh, Yuna? Kebohongan pada akhirnya tidaklah berakibat baik. Bagaimana nantinya? Bagaimana dengan kedepannya? Pertunangan kalian tak mungkin terus disembunyikan dari kakakmu. Memangnya kau dan Azka akan terus seperti ini. Kalian tentu berkeinginan menikah bukan? Walau bagaimanapun Kakakmu harus diberitahu. Jika hal itu terlambat diberitahukan, yang menjadi kekhawatiranku adalah, dia justru akan lebih terlukai oleh karna kebohongan yang kau inginkan..”


Tn.Rian mencoba memberikan gambaran dari pemikirannya..


“Hanya sampai keadaan Kakak ku lebih baik,Tuan.. euh, Bapak..”


“Tapi menurutku akan lebih baik jika kenyataan itu terbuka sejak dari sekarang, Yuna..”


“Tapi keadaan Kak Yuri, dengan trauma yang sedang dialami olehnya, tidaklah memungkinkan untuk mengatakan hal itu padanya sekarang.. Itu hanya akan semakin menghancurkannya..”


Meski Azka bersama dengannya pada saat itu, namun pria itu tak banyak berbicara. Ia seakan membiarkan Yuna untuk berusaha sendiri meyakinkan kedua orangtua nya.


“Aku tak ingin melihatnya seperti itu.. Aku tak ingin menjadi penyebab semakin hancurnya perasaan Kakak ku..”


Ketika Yuna menundukkan wajah dan kembali menyeka airmatanya, Tn.Rian hanya bisa menghela napas sebelum kemudian mengarahkan tatapannya pada sang istri.


“Kau tahu kakakmu mencintai Azka. Kau tahu bila bersama dengan Azka dapat melukai kakakmu, lalu mengapa kau masih mendekatinya? Apa motivasimu, Yuna? Apa sesungguhnya kau memiliki rencana untuk membalas penolakan yang dilakukan Azka terhadap kakakmu..?”


Yuna terkesiap..


Wanita itu..


Bagaimana bisa..


Darimana ibu Azka mendapatkan pemikiran seperti itu?


Itu nyaris tepat..


“Tidak, Ibu.. Tidak seperti itu. Aku.. Aku hanya..”


“Keinginanmu yang meminta Azka untuk berpura-pura mencintai kakakmu jelas menunjukkan bahwa kau tidaklah mencintai Azka dengan sungguh-sungguh. Sejak awal Aku telah menduga sebenarnya kau hanya menginginkan kemewahan yang selama ini tidak pernah kau rasakan..”


Airmata semakin deras membanjiri wajah Yuna..


Mengapa ibu Azka menilainya sampai seperti itu.


Sebelumnya ia telah merasa wanita itu dapat bersikap baik padanya. Yuna bahkan merasakan kasih sayang dan sisi ke-ibuan yang diperlihatkan Ny.dania padanya. Tapi melihat tatapannya yang tajam dan mendengar kalimatnya yang begitu kejam dirasa olehnya. Yuna tak bisa memungkiri, dirinya merasa terlukai oleh karenanya.


“Kau terlalu keras, Ma..”


Pada akhirnya Tn.Rian menarik sang istri ke sisinya.


“Bukan saatnya mengomentari ku, Pa..”


Ny.Dania menyingkirkan lengan sang suami dan ketika Ia ingin kembali bersuara, ia melihat Yuna yang terus berusaha menyeka airmata yang membanjiri wajahnya. Maka kemudian, dengan sedikit mendecak ia beralih pada Azka.


“Dan kau Azka.. Lihat akibat dari kelakuanmu. Kau terjerumus oleh karna gadis belia itu sekarang..”


Oh,


Ibunya..


Ibunya kembali sedang menunjukkan taringnya yang ber-bisa.


Dan pemilihan kata ‘terjerumus’ yang baru saja dikatakannya, benar-benar terdengar kejam.


Maka kemudian, Azka bergerak untuk semakin dekat padanya..


“Mama..”


“Kau telah menolak kakaknya, kau tahu Yuna adalah adiknya. Lalu bagaimana bisa kau justru mengencani Yuna, bersama dengannya dan mengatakan mencintainya..”


“Tak ada seorangpun yang bisa mencegah perasaan semacam itu, Ma.. Begitupun denganku.”


Azka terlihat lebih tenang. Berbeda hal nya dengan sang ibu yang merasakan kewalahan menghadapi kisah cinta sang putra dengan dua gadis yang nyatanya bersaudara.


“Tapi Kau jelas tak berpikir dengan akibatnya bila kau terlibat dengan dua gadis yang memiliki ikatan persaudaraan..”


“Ya, Mama benar.. aku tahu Yuna adik Yuri, gadis yang aku tolak. Aku melihat Yuna saat itu, aku tertarik padanya, aku terpikat olehnya dan aku jatuh cinta. Semua itu apa yang kurasakan, dan aku tak pernah berpikir akan seperti ini, serumit ini jadinya. Jika aku tahu, aku pasti akan berusaha keras untuk tak akan jatuh cinta padanya. Mengertilah Ma.. Cinta butuh untuk dirasakan, bukan dipikirkan..”


“Wah.. wah, Pa.. Kau dengar? Darimana putramu mendapatkan kalimat seperti itu..”


Azka menggaruk tengkuknya, sedikit geli dengan apa yang telah diucapkannya.


Apakah tadi terdengar sebagai kalimat yang puitis..?


Oh,


Tapi sang ibu justru mendorong pada bahunya..


“Terserah dengan apa yang akan kalian lakukan. Aku tak ingin menjadi pihak yang dipersalahkan oleh karna mendukung kebohongan yang kau inginkan, Yuna..”


Dengan kalimat itu, Ny.Dania kemudian meninggalkan Azka dan Yuna juga sang suami disana.


“Bicaralah dengannya, aku akan menyusul ibumu..”


Ucap Tn.Rian kemudian..


“Aku tahu kecemasan yang dirasakan Yuna pada kondisi kakaknya. Dan apapun yang menjadi keputusan kalian, Aku harap telah benar-benar dipikirkan..”


Azka mengangguk saat sang ayah menepuk pada bahunya, seakan-akan menaruh kepercayaan disana, sebelum kemudian pergi menyusul langkah ibunya.


Kembali mengarahkan perhatiannya pada Yuna, Azka melihatnya terduduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Gadis itu sedang terisak, membuat Azka untuk sesaat hanya menghela napasnya sebelum kemudian mengambil tempat dan duduk disampingnya..


“Mama memang memiliki reaksi yang luar biasa saat sedang terkejut. Bahkan terkadang aku masih merasa tercengang dengan apa yang diucapkannya. Seperti tadi, kau bisa memaklumi kekasarannya kan?”


Mendengar itu, Yuna lantas menyingkirkan telapak tangan yang menutupi wajahnya, mendongak dan kembali menyeka airmatanya, dan kemudian menoleh pada Azka yang berada disebelahnya.


Azka sedikit menarik senyum, jelas terlihat sedang berusaha menghibur atau setidaknya membuat Yuna sedikit merasa lebih baik setelah apa yang diucapkan sang ibu tadi.


“Terimakasih untuk mengatakannya, Ya.. Sepertinya Aku mulai terbiasa dengan itu..”


Yang kemudian dilakukan Azka adalah berdiri dari duduknya dan lantas meraih tangan Yuna agar mengikutinya..


“Ikut denganku?”


“kemana?”


“Ikut saja.. Ayo..”


Yuna menggeleng..


“Aku tidak bisa meninggalkan Kak Yuri..”


“Dia masih akan tertidur..”


“Tapi kakak juga bisa sewaktu-waktu terbangun..”


“Tidak setelah dokter tadi menyuntikkan obat penenang padanya. Oh, tapi dia tidak bekerja dirumah sakit ini kan? Siapa yang menghubungi dokter wanita itu tadi untuk memeriksa Yuri?”


Yuna menggeleng..


“Aku tidak tahu, dokter Sulis tiba-tiba datang tak lama setelah Nyonya dan Tuan datang, sebelum Kak Yuri terbangun dan berteriak ketakutan.. Mungkin dia telah mengetahui kecelakaan itu.”


Dokter wanita itu bahkan telah datang pada saat prosesi pemakaman, dengan mendung diwajahnya..


Azka ingin mengatakan itu, namun kemudian mengurungkannya dan menggantinya dengan..


“Kupikir kau telah mengubah caramu memanggil Mama dan Papa..”


“Apa?”


Azka hanya tersenyum..


“Ayo, ini sudah mendekati jam makan siang. Akan menjadi ramai jika kita berada disana pada waktu seperti itu..”


“Berada dimana?”


Yuna mengerutkan dahi, masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Azka.


“Kita pergi makan, kau membutuhkannya Yuna..”


“Tidak, aku tidak lapar..”


“Tapi tubuhmu yang kurus itu setidaknya membutuhkan semangkuk nasi dan sup..”


Azka kembali menarik tangan Yuna..


“Oahh..”


Dan ketika akhirnya Yuna juga berdiri dari duduknya, Ia mengalami limbung hingga Azka perlu melingkarkan lengan pada pinggangnya untuk menahan tubuhnya agar tak terjatuh..


“Aku sudah katakan kan, Kau membutuhkan makan. Jangan berkeras dan mengabaikan kesehatanmu, Yuna.. Jika kau ingin terus berada disini dan menjaga Yuri, sebaiknya kau juga memperhatikan itu”


Yuna mengangguk dan pada akhirnya menurut pada Azka yang membawanya ke sebuah rumah makan yang berada disebrang rumah sakit itu.


Mulanya Azka ingin menggunakan mobil dan mencari tempat makan yang lain, namun jelas Yuna tak menyetujuinya. Akan memakan waktu lama bila hal itu dilakukan.


Maka di rumah makan tak terlalu besar itu, yang menyediakan menu nasi dan sup, keduanya saat ini berada..


“Kau ingin aku menyuapimu..?”


Azka mengatakan itu ketika melihat Yuna hanya mengaduk-aduk makanan didalam mangkuknya. Gadis itu terlihat tak tenang dan terus memandang pada gedung rumah sakit. Jelas yang saat itu dipikirkannya adalah Yuri. Rasanya benar-benar tak mengenakkan ketika meninggalkan kakaknya seperti saat itu.


“Aku sudah selesai, bisakah kita kembali kerumah sakit sekarang..”


Azka memelototinya sambil menarik mangkuk itu dari hadapan Yuna.


“Tidak sebelum kau menghabiskan makananmu..”


Dengan semangkuk nasi yang masih utuh, Azka memesan lagi sup hangat yang kemudian mencampurnya menjadi satu. Menggunakan sendok ditangannya yang telah terisi makanan itu, Azka membawanya kehadapan Yuna..


“Buka mulutmu..”


Yuna menatap kesekelilingnya pada tak banyak orang yang saat itu juga menikmati makanan disana.


“Pak...”


“Buka mulutmu sekarang, ini perintah..”


Azka terus menyodorkan sendok makanan ditangannya.


“Aku bisa melakukannya sendiri..”


Yuna berusaha meraihnya namun Azka menariknya mundur.


“Hanya buka mulutmu, Yuna.. Lakukan sesuai perintah.”


Yuna kembali mengedarkan pandangannya kesekeliling, sepertinya orang-orang tak memperhatikannya maka kemudian ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Azka.


“Biarkan aku melakukannya sendiri..”


“Aku sudah memberikan kesempatan itu tadi, tapi kau telah menyia-nyiakannya.. Maka sekarang hanya lakukan sesuai dengan yang aku perintah.. Menurutlah..”


“Ck! Bossy sekali..”


Yuna mendengus, namun Azka mengabaikannya. Ia justru tersenyum ketika gadis itu nampak tak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima suapan-suapan itu masuk ke dalam mulutnya.


***


to be continue