At First Sight

At First Sight
Episode 70



Tepat seperti yang diperkirakannya, Azka menemukan keberadaan Yuna disana. Berdiri terdiam diarea balkon rumah sakit, dengan kedua tangan berpegang pada pagar pembatas dan mata terpejam, Yuna seakan tengah menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya dan membelai ringan rambutnya. Sedikit menerbangkan helaiannya.


“Kupikir kau mengatakan akan mendapatkan sarapan pagimu, mengapa sekarang kau justru berada disini, Yuna?”


Mendadak Yuna merasakan tubuhnya menegang akibat dari suara Azka yang baru didengarnya.


Ia menghembuskan napas sejenak, sebelum berbalik dan melihat Azka yang melangkah semakin dekat kearahnya.


“Kau disini? Kau belum pergi?”


“Jadi kau akan membiarkanku pergi tanpa terlebih dulu melihatmu..”


Kerlingan mata Azka justru membuat Yuna dengan cepat membalikkan tubuhnya.


Azka tertawa kecil dalam hati pada apa yang dilakukannya..


“Hm, udara disini sangat segar. Berbeda dengan didalam, sepertinya semua ruangan disana berbau obat..”


Yang kemudian dirasakan oleh Yuna adalah kedua tangan Azka yang menelusup, melingkari pinggangnya dan dagu Azka yang bertumpu diatas bahunya.


“Hm, kau juga berbau segar..”


Refleks Yuna menyikut perut Azka dengan lengannya akibat terkejut karna pria itu yang mula-mula mengendus namun kemudian mencium pada lehernya.


“Awhh..”


Melepas tangannya yang melingkar ditubuh Yuna, Azka lantas bergerak mundur dan merintih sambil memegang pada perutnya.


“Pak..”


“Apa yang kau lakukan, Yuna? Kau menyakitiku..”


Yuna dibuat panik ketika Azka terus memegangi perutnya.


Apakah ia terlalu keras tadi?


“Pak, maaf.. Aku, aku tak bermaksud..”


Yuna mendekat untuk memastikan apakah pria itu baik-baik saja, namun Azka justru tak membiarkan dirinya untuk mendekatinya.


“Pak..”


“Aku tak percaya setelah semua yang kulakukan untukmu, kau malah menyakitiku seperti ini”


“Aku sudah meminta maaf.. Tapi itu bukan sepenuhnya salahku. Aku bereaksi seperti itu karna terkejut kau tiba-tiba menciumku. Seharusnya kau mengatakan dulu padaku jika ingin menciumku disana.. Aku, Aku merasa geli tadi..”


Kini Yuna merasa ada lebih banyak aliran darah yang naik kewajahnya. Wajahnya pasti telah menjadi semerah ceri. Sementara Azka justru bersusah payah menahan tawa akibat dari apa yang baru saja dikatakan oleh Yuna.


Ia berdeham singkat, sebelum akhirnya kembali mendekati Yuna yang sedang menundukkan wajahnya. Menyembunyikan semburat malu yang dirasakannya.


Azka tersenyum dan mengusap rambutnya..


“Aku pergi ke kantor ya.. Aku akan datang sore atau mungkin pada malam nanti. setelah urusan pekerjaan selesai..”


Ketika kemudian Yuna mendongakkan wajahnya, Azka memanfaatkan hal itu untuk mencium pada keningnya.


Yuna mendengus dalam hati..


Betapa pria itu sangat suka mencium. Namun perasaan hangat yang kemudian dirasakannya, membuat Yuna menarik senyum disudut bibirnya.


“Kau tidak marah padaku?”


“Kenapa aku harus marah padamu?”


“Kau bilang aku menyakitimu tadi..”


“Oh, kau benar-benar gadis belia yang lucu..”


Azka tersenyum, sambil tangannya mengacak pelan rambut Yuna, kemudian beralih untuk meraih tangannya..


“Tangan kurus seperti ini bagaimana bisa menyakitiku..”


Dan Azka pun mengecup pada punggung tangannya, menjadikan wajah Yuna semakin merona karenanya.


Setidaknya selalu ada waktu meski hanya sebentar bagi keduanya untuk saling berbicara santai tiap kali bertemu. Itu yang terjadi dalam beberapa hari setelahnya.


Azka masih selalu datang dipagi sebelum dirinya berada dikantor, dan malam sebelum ia pulang ke rumah.


Begitupun dengan Ny.Dania yang sesekali datang untuk melihat dan memastikan gadis belia yang menjadi tunangan putranya dalam keadaan baik-baik saja. Yuna memang belum sekalipun pulang, dan berkeras untuk terus berada dirumah sakit, selama Yuri juga masih berada disana.


Seminggu telah berlalu, dan keadaan Yuri cenderung stabil bahkan berangsur-angsur membaik. Sulis yang menangani kondisi kejiwaan Yuri, juga terus datang dalam setiap harinya. Meskipun Yuri masih mengalami mimpi buruk, namun hal itu sudah tak terlalu sering terjadi. Setidaknya dalam semalam, Yuri hanya sekali dua kali terjaga, malah pernah Ia dapat tertidur nyenyak semalaman. Juga rencananya diminggu ini, Ia sudah akan mulai menjalani terapi berjalan.


Seorang dokter telah direkomendasikan oleh pihak rumah sakit, dan Yuna cukup senang dengan kabar bahwa Ia dapat membawa sang kakak pulang. Sang dokter terapis juga mengatakan Yuri dapat berobat jalan, dan hanya datang kerumah sakit bila ia memiliki jadwal untuk terapi.


Sulis juga bersedia datang kerumahnya bila Yuri memang sudah tak lagi berada dirumah sakit itu.


“Kak..”


Yuna masuk kedalam kamar rawat Yuri dengan wajah berseri setelah tadi berbicara dengan ketiga dokter berbeda yang sudah dan akan menangani Yuri dalam kedepannya untuk sepenuhnya mendapatkan kesembuhannya.


“Oh, Yuna.. Kemarilah..”


Yuri tersenyum menyambutnya, dengan sebuah rangkaian bunga indah yang berada ditangannya..


Satu yang terlewatkan, sejak buket bunga pertama yang dikirimkan pada pagi itu, Yuri memang tak pernah absen selalu mendapatkan kiriman bunga disetiap harinya. Bukan hanya sekali, tapi dipagi dan sore hari akan selalu ada rangkaian bunga-bunga indah yang menghiasi kamar rawatnya.


Bukan hanya itu, dalam setiap rangkaian bunga yang dikirim, selalu terselip kalimat-kalimat indah yang dituliskan oleh sang pengirim, yang sangat mampu membuat Yuri tersenyum ketika melihat dan membacanya. Meskipun itu hanya sebaris kalimat saja..


“Lihatlah, bahkan setelah beberapa banyak kalimat indah yang dituliskannya, aku masih tak dapat mempercayai bila Azka benar-benar pandai menulis. Kau bisa melihat apa yang dituliskannya disana..”


Yuri menyerahkan sebuah kartu ucapan kecil pada Yuna agar ia ikut membacanya..


‘Aku akan menjadi malaikat tanpa sayap yang akan terus melindungimu~


Yuna tersenyum tanggung dan kembali menyerahkan kartu itu pada Yuri agar sang kakak dapat menyimpannya, seperti hal nya kartu-kartu ucapan lain yang telah memenuhi laci meja kecil yang berada disamping tempat tidurnya.


Sampai saat itu pun, sama hal nya dengan Yuri, Yuna juga meyakini jika Azka lah sang pengirim bunga-bunga indah itu. Meski ia belum pernah sekalipun menanyakan langsung mengenai hal itu.


Pernah sekali ketika suatu perasaan aneh bergejolak didalam hatinya, Ia berniat untuk menanyakannya, namun akhirnya kembali diurungkannya karna tak ingin membuat Azka merasa tidak nyaman ketika ia mempertanyakan perhatian yang diberikan pada kakaknya.


Bukankah ia yang meminta Azka melakukan hal seperti itu?


Untuk peduli pada kakak nya..


Bahkan berpura-pura untuk mencintainya..


Lalu mengapa Ia harus perlu menanyakan perhatian yang kemudian diberikan Azka pada Yuri..


Yuna menertawakan dirinya sendiri jika sampai benar-benar melakukan hal itu..


“Yuri ya..”


“Hmm..”


“Dokter mengatakan bila hari ini kau bisa memulai melakukan terapi berjalan..”


Yuri langsung terdiam ketika mendengarnya, dan kemudian mengarahkan tatapan matanya pada kedua kakinya.


“Apakah aku masih akan bisa menggunakan kaki ku, Yuna..?”


Oh Tuhan..


Pertanyaan itu seakan langsung membuat Yuna merasakan sayatan dihatinya.


“Kakak.. Apa yang kau katakan? Tentu saja kau bisa.. Kakak akan sembuh..”


Yuna meraih tangan Yuri, lalu kemudian menggenggamnya..


“Bagaimana jika sebaliknya.. Kakiku terjepit pada saat itu, aku mungkin akan lumpuh..”


“Tidak Kak.. Tidak.. Bahkan dokter telah mengatakan kau akan dapat kembali berjalan dengan sempurna. pasti dia tahu tidak separah itu. Kakak hanya perlu mengikuti beberapa kali terapi..”


Bening airmata menetes membasahi wajah Yuri, dan Yuna juga kembali dapat melihat raut ketakutan diwajahnya. Dua hal yang dalam beberapa hari sebelumnya telah menghilang dalam diri sang kakak.


Ketika Yuna masih terus berusaha untuk meyakinkan Yuri, dua orang suster masuk kedalam kamar dengan membawa serta sebuah kursi roda..


“Dokter menginginkan kami membawa anda keruang terapi, nona. Apakah anda sudah siap?”


Yuri langsung menggenggam erat tangan Yuna, dan Yuna merespon dengan anggukan kepalanya dan tersenyum meyakinkan.


“Aku akan bersama kakak..”


“Bagaimana dengan Azka? Apa dia akan datang?”


Yuna sedikit mengerutkan dahi mendengarnya..


“Jangan biarkan dia melihatku, Yuna.. Jangan biarkan dia melihat saat aku menjalani terapi. Kumohon, jangan biarkan dia melihatku.. Aku tak mau dia melihatku. Aku tak ingin begitu terlihat menyedihkan dimatanya.”


Yuna meremas tangan Yuri begitu mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya, ia pun mengangguk mengerti, dan bersusah payah untuk tidak menjatuhkan airmatanya saat itu.


Hingga kemudian dua orang suster tadi membantunya, untuk memindahkan tubuh Yuri menempati kursi roda, dan Yuna lah yang kemudian berada dibelakangnya. Mendorong kursi roda itu mengikuti dua orang suster yang mengarahkan menuju ruang khusus untuk melakukan terapi pada Yuri.


Didalam ruangan itu, telah menunggu seorang dokter terapis pria yang beberapa saat lalu telah melakukan pembicaraan dengan Yuna bersama dengan Sulis dan seorang dokter lainnya.


“Selamat siang, nona-nona..”


Sapanya ramah sambil tersenyum pada keduanya. Namun hanya Yuna lah yang kemudian membalas senyuman itu, sedangkah Yuri masih terdiam dengan tangannya yang tak lepas menggenggam tangan Yuna.


“Selamat siang, dokter..”


Yuna balas menyapa sambil mendorong kursi roda itu agar lebih dekat kearah sang dokter.


“Jadi inikah pasienku hari ini?”


Sang dokter mencoba untuk menyapa Yuri, namun gadis itu tetap hanya diam dan malah memasang raut waspada diwajahnya.


Yuna yang menyadari tak adanya respon dari sang kakak, kemudian beralih untuk berada dihadapan Yuri..


“kakak, ini dokter yang aku ceritakan tadi. Dia yang akan membantumu melakukan terapi. Namanya dokter Ahmad..”


Yuna tersenyum memperkenalkan sang dokter..


“Ahmad Fariz nama lengkapku.”


Sang dokter menambahi, masih dengan senyum diwajahnya.


“Apa dia.. Dia akan bisa membuatku berjalan?”


Pertanyaan Yuri lebih ditujukan pada Yuna namun Fariz, sang dokter itulah yang kemudian menjawabnya.


“Mari kita bekerja sama, dan melakukannya..”


Mulanya dengan bantuan dua suster tadi, Yuri lebih dulu dipindahkan dari kursi rodanya, untuk selanjutnya dipapah menuju tempat didalam ruangan itu yang akan dipergunakan sebagai tempat dilakukannya terapi. Namun ketika Fariz mulai melakukan pemeriksaan pada kakinya, Yuri merasakan tubuhnya gemetar. Keringat diwajahnya yang berubah pucat, seakan menunjukkan Ia yang sedang menahan sesuatu dalam dirinya. Baru ketika kemudian Fariz bergerak menyentuh pada tangannya untuk membantu Yuri berdiri dan memulai terapi pertamanya, jerit Yuri pecah.


Teriakan Yuri agar sang dokter tidak menyentuhnya, membuat Fariz sedikit mundur sesaat namun kemudian kembali mencoba meraihnya, dan sekali lagi Yuri menjerit. Bukan hanya Fariz yang kemudian menjadi panik tapi juga Yuna yang masih berada disana serta dua suster lainnya.


“Kakak..”


“Tidak.. Jangan.. Jangan sentuh aku!! Pergi.. Jangan sentuh aku..!”


“Nona.. kita hanya akan melakukan terapi. Aku harus terlebih dulu memegangimu..”


Yuri menggeleng dengan keras, kedua tangannya kemudian memeluk tubuhnya sendiri dengan erat.


“Pergi.. Jangan sentuh aku.. Kumohon jangan sentuh aku..”


Yuna menyadari airmatanya telah terjatuh saat melihat Yuri yang kembali menunjukkan trauma dalam dirinya. Ia terlebih dulu menyeka airmata diwajahnya, sebelum kemudian mendekat pada Yuri dan langsung memeluknya.


“Tidak apa-apa Kak.., dokter Ahmad tidak akan menyakitimu.. Dia akan membantumu. Aku ada disini untuk menemanimu..”


“Tidak.. Jangan menyentuhku.. Kumohon jangan menyentuhku..”


Yuri terus menggumamkan kalimat itu. Ia sepertinya benar-benar tak menginginkan seorang pria menyentuhnya. Terbayang dalam benaknya kekasaran yang pernah dilakukan oleh Doni terhadapnya.


“Jangan sentuh aku..”


“kakak..”


Yuna masih terus memeluknya. Kejadian ini sedikitpun tak pernah dibayangkannya.


Seharusnya kakak nya sudah melupakan tindak kekerasan seksual yang pernah dialaminya.


Bukankah bersama dengan Azka, ia baik-baik saja.


Yuri tidak menjerit, tidak berteriak ketika Azka menyentuh atau memegang tangannya.


Bahkan Yuri sendiri yang sering kali memeluknya.


Tapi mengapa dengan dokter itu, justru memunculkan kembali kejadian buruk yang telah dialaminya.


Oh Tuhan..


Yuna tak dapat menutupi kesedihannya.


Ia kembali menjatuhkan airmata dengan mengeratkan pelukannya ditubuh Yuri.


“kakak.. kakak..!!”


Yuna menyadari pada saat itu Yuri telah kehilangan kesadarannya..


***


to be continue