
Berbekal informasi yang didapatkannya dari Jena melalui sambungan telponnya, Arkhan bergerak cepat untuk dapat menemukan Yuri. Ia turut meminta beberapa karyawan ayahnya untuk membantunya melakukan pencarian. Dengan pula menggunakan kemampuannya dalam melakukan penyelidikan.
Arkhan telah menyisir disepanjang jalan menuju rumah Yuri, ia telah pula mendatangi rumah Yuri, namun mendapati pintu rumah itu masih dalam keadaan terpasang gembok. Ia bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat kemudian juga mendatangi tempat-tempat yang berkemungkinan didatangi oleh Yuri.
Dari mulai sekolah lama mereka, ataupun gedung universitas. Dan bahkan dengan konyolnya ia menggedor-gedor rumah Doni persis seperti orang gila, tapi tak satupun dari semua tempat itu menunjukkan keberadaan Yuri disana.
Arkhan yang telah merasakan kecemasan yang luar biasa, dengan segera berubah panik. Was-was juga takut Yuri melakukan perbuatan nekat seperti apa yang diketahuinya pada saat sebelumnya melakukan penyelidikan, Yuri nyaris membunuh dirinya sendiri.
Tak ingin berputus asa, Arkhan kemudian kembali menghubungi Jena, menanyakan kemungkinan dia telah menemukan keberadaan Yuri. Namun Jena pun masih belum menemukannya..
“Bagaimana dengan Azka dan juga adiknya? Tidakkah mereka juga mencarinya?”
“Saya sempat kembali kerumah sebentar dan mengetahui nona Yuna mengalami pingsan setelah tak berhasil mengejar nona Yuri.. Dia telah ditangani dokter. Tuan Azka sepertinya masih lebih mencemaskan keadaan nona Yuna. Dia memang tak kalah terguncang..”
“Ya Tuhan..”
Arkhan mendesah panjang sebelum kemudian hanya bisa bergumam lirih pada Jena..
“Aku akan menghubungi Azka, tolong teruskan pencarianmu, Jena..”
“Tentu saja.. Aku akan menghubungimu begitu aku menemukan nona Yuri..”
Arkhan memutus sambungan dan langsung melakukan panggilan pada nomor ponsel Azka. Pada panggilan pertama tak ada jawaban. Namun yang kedua kalinya, Azka menjawab ponselnya..
“Arkhan, aku baru saja akan menghubungimu..”
“Aku sudah tahu semuanya..”
“Ya Tuhan.. Aku benar-benar tak menduga akan menjadi seperti ini. Kumohon bantu aku menemukan dimana Yuri..”
“Kau tak seharusnya memohon padaku.. Aku sedang melakukan pencarian, aku ingin menanyakan dimana saja tempat yang pernah kau dan Yuri datangi berdua. Mungkin dia pergi kesana..”
Arkhan menarik napas dalam, menanyakan hal semacam itu sesungguhnya membuat perasaan dan hatinya sama sekali tidak nyaman. Namun ia dengan segera menepiskan rasa semacam itu. Bukan waktunya untuk mengurusi perasaan dirinya bila ia menginginkan agar Yuri secepatnya ditemukan.
“Aku tidak yakin Yuri akan berada disana, tapi aku akan mengatakan ada beberapa tempat..”
Apa yang disebutkan Azka, lantas dengan cepat dicatat oleh Arkhan. Meski Azka sendiri memang benar-benar tak merasa yakin Yuri akan berlari ketempat-tempat itu, karena beberapa tempat yang disebutkannya, yang pernah didatanginya bersama Yuri bukanlah tempat yang akan menjadi spesial bila mengingat tempat-tempat itu hanyalah tempat yang mereka datangi untuk bernegosiasi bisnis.
“Baiklah aku sudah mencatat semuanya..”
“Hubungi aku jika kau sudah menemukannya..”
“Tidakkah kau juga berniat membantuku mencarinya, Azka?”
Entah mengapa yang dirasakan oleh Arkhan adalah rasa tidak adil untuk Yuri ketika Azka justru hanya berdiam dirumah menunggui Yuna. Meski Jena mengatakan Yuna juga sangat terguncang, dan ia percaya hal itu. Namun setidaknya gadis itu aman dirumah Azka. Sedangkan Yuri..
Ya Tuhan..
Segala kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa gadis itu, kembali memenuhi pikirannya.
“Aku akan melakukannya.. Aku sudah berada dimobil sekarang”
Arkhan telah memutus sambungan ponselnya dengan Azka ketika kemudian ia berniat melajukan mobilnya kesalah satu tempat yang disebutkan Azka tadi. Namun bunyi ponselnya sesaat membuatnya sedikit mengurangi kecepatan..
“Bagaimana?”
“Saya menemukan jejak nona Yuri dari seorang supir taksi yang terus menyumpah..”
“Katakan padaku dimana dia?”
Arkhan dengan cepat kembali memutus sambungan ponselnya, kali ini dengan sedikit bernapas lega begitu salah satu agen yang bekerja pada ayahnya dan juga rekan yang telah banyak membantunya pada saat menyelidiki Doni tempo hari, mengatakan sebuah kawasan dimana agen itu sedang berada.
Tuhan..
Betapa bodoh dirinya karna tak terpikir jika Yuri berada dimakam kedua orangtua nya.
Dengan cepat ia pun lantas menambah kecepatan mobilnya, melaju membelah padatnya lalu lintas malam itu. Mengabaikan tak sedikit pengendara lain yang nyaring membunyikan klakson untuk memperingatkannya. Arkhan bahkan yakin para pengemudi itu telah dan sedang menyumpah serapah padanya.
Tak kurang dari empat puluh menit waktu yang dibutuhkannya untuk mencapai lokasi keberadaan sang agen. Arkhan dengan cepat keluar dari dalam mobilnya. Ia melempar kunci kearah sang agen dengan tanpa mengatakan apa-apa, hanya dengan menggunakan isarat mata namun sang agen nampaknya telah mengerti yang dimaksud Arkhan agar dia segera bersiap, sementara Arkhan sendiri kemudian berlari mencari keberadaan makam kedua orangtua Yuri yang letaknya diatas tanah perbukitan.
“Yuri..! Yuri..”
Arkhan memutar tubuhnya kesegala penjuru area pemakaman itu. Gelapnya malam dan hanya mengandalkan penerangan dari layar ponsel miliknya yang sangat minim memberinya cahaya saat itu cukup menyulitkannya untuk menemukan keberadaan Yuri disana. Arkhan bahkan beberapa kali tersandung. Namun untungnya sang rekan agennya menyusul dengan membawa sebuah senter sebagai penerangnya..
“Yuri..! Yuri..”
Setidak-tidaknya ia sangat menginginkan Yuri menyahuti panggilannya..
“Yuri..!”
“Disana Tuan..”
Samar-samar, mata Arkhan tertumbuk pada sesosok tubuh yang terlihat sedang meringkuk dipinggir sebuah makam..
Arkhan berlari..
Secepat kilat untuk kemudian mendapati tubuh Yuri yang menggigil hebat akibat rintik hujan saat itu yang membuat udara malam kian terasa dingin.
Maka Ia dengan segera merengkuh tubuh itu kedalam dekapannya. Berharap dapat memberikan kehangatan untuknya..
“Ya Tuhan.. Yuri..!”
Arkhan menepuk-nepuk wajah Yuri untuk menyadarkannya..
“Yuri..”
“A-yah.. A-yah..”
Gumaman itu serasa mengiris-iris hati Arkhan. Betapa memilukan keadaan gadis yang dicintainya sekarang..
“Kau tidak apa-apa Yuri..”
Bisiknya sambil mendekap tubuhnya erat. Namun hanya beberapa detik berselang, Yuri telah sepenuhnya kehilangan kesadarannya..
“Yuri.. Yuri..”
Dengan terlebih dulu melepaskan sebuah jacket yang dikenakannya, Arkhan menggunakannya untuk menutupi tubuh Yuri sebelum kemudian membopongnya. Bersama dengan sang rekan agen, ia melangkah dengan cepat membawa Yuri kedalam mobilnya untuk selanjutnya membawanya pergi dari area pemakaman itu.
***
Tergesa-gesa dengan tubuh Yuri dalam gendongannya, Arkhan memasuki ruang kamarnya dan langsung membaringkan tubuh Yuri diatas tempat tidur yang berada didalamnya.
Ia tidak mungkin membawa Yuri pulang kerumahnya, karna ayahnya dan terutama ibunya pasti akan menanyakan beribu pertanyaan padanya. Dan ia sedang dalam keadaan yang belum ingin memberikan penjelasan. Arkhan pun tak mungkin membawa Yuri pulang kerumah yang sebelumnya ditempati Yuri dan adiknya. Terlalu jauh dan lagipula rumah yang telah lama tidak ditempati itu, pastilah akan membutuhkan waktu untuk terlebih dulu membersihkannya. Dan kondisi Yuri jelas tidak memungkinkan untuk menunggu. Pilihannya kemudian, membawa Yuri ke sebuah villa milik keluarganya. Yang hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai kesana.
Arkhan bahkan telah menghubungi dokter keluarganya untuk datang. Namun tak sabar menunggu hingga sang dokter datang dan melihat wajah Yuri yang semakin pucat, Arkhan dengan segera berlarian keluar dari kamar itu untuk selanjutnya memasuki kamar lainnya. Sebuah kamar yang biasa ditempati kedua orangtuanya bila mereka menginap.
Arkhan bergerak membuka lemari pakaian ibunya dan mengambil sebuah pakaian dari dalamnya beserta sweter hangat milik ibunya. Dan dengan cepat kembali memasuki kamarnya setelah terlebih dulu meneriaki sang rekan agen untuk membantunya mengambil alat pengompres.
Arkhan lantas mencoba membuka pakaian Yuri yang telah basah dan kotor oleh cipratan-cipratan tanah, sesaat menghentikan tangannya dan menggumamkan permintaan maaf karna melakukan hal itu tanpa seijin Yuri. Tapi keadaan saat itu darurat, jika ia tak segera mengganti pakaian yang saat itu dikenakannya, ia takut Yuri akan terserang demam.
Sebenarnya ada seorang wanita yang biasa datang untuk membersihkan villa, namun di malam hari, wanita itu telah pulang. Hingga tak ada yang bisa Arkhan mintai tolong untuk melakukannya.
Kembali menggerakkan kedua tangannya untuk membuka kancing-kancing pakaian yang dikenakan Yuri, Arkhan melucuti semuanya kecuali pakaian dalam, dan lantas menukar dengan memakaian pakaian milik ibunya dan melapisinya dengan sweter cukup tebal untuk menghangatkan tubuh Yuri yang memiliki permukaan kulit sedingin es pada saat ia menyentuhnya.
Arkhan juga kemudian kembali memberikan tatapan miris pada kedua bagian kaki Yuri..
Ia senang mengetahui Yuri yang akhirnya benar-benar dapat kembali berjalan. Namun miris dirasakannya ketika melihat pergelangan kaki itu yang mengalami lecet- lecet. Begitupun dengan telapak kakinya yang memerah, nyaris bengkak akibat dari berlarian tanpa menggunakan alas kaki. Arkhan sesaat mendesah panjang. Yuri tak seharusnya menjadi seperti ini..
Maka yang kemudian dilakukannya adalah mengelap dan membersihkannya dengan perlahan-lahan agar tidak menyakitinya.
Hanya berselang beberapa menit setelah ia selesai membersihkan kaki Yuri, sang dokter yang dihubunginya datang dan langsung melakukan pemeriksaan.
Arkhan tak sedikitpun beranjak dari sisi tempat tidurnya, menatap pada Yuri dengan gelisah saat sang dokter memeriksanya..
Usai sang dokter melakukan pemeriksaan, memberikan suntikan obat dan mengatakan bila setidaknya Yuri akan tertidur dalam beberapa jam, Arkhan mulai kembali merasakan sedikit kelegaan.
Ya..
Hanya sedikit..
Sebelum Yuri membuka kedua matanya, ia takkan bisa benar-benar lega.
Ya Tuhan..
Wajah pucat dihadapannya..
Mata yang terpejam rapat tak membalas tatapannya. Membuatnya merasakan kesedihan luar biasa seakan jantungnya diremas, sesak tiada terkira.
Teringat akan betapa wajah itu dulu berseri penuh warna. Mata indah itupun berpendaran dan membuatnya terpesona. Yuri diwaktu remaja adalah gadis nan cantik hingga mampu membuatnya menyatakan cinta.
Tapi melihatnya yang sekarang tergolek diatas tempat tidurnya dan sedang terluka, membuat Arkhan merasakan puluhan atau bahkan ratusan jarum menusuk-nusuk hatinya. Ia benar-benar nelangsa melihatnya..
“Aku tidak akan pernah lagi meninggalkanmu, Yuri.. Sekalipun kau tidak menginginkanku untuk berada didekatmu, aku tidak akan pergi darimu..”
Tekadnya yang terucap kuat, sambil tubuhnya bergerak condong untuk memberikan kecupan didahi Yuri..
Arkhan kemudian meninggalkanya, keluar dari dalam kamar itu untuk selanjutnya menggunakan ponselnya dan melakukan panggilan..
“Azka.. Aku sudah menemukannya..”
***
tbc