
“Doni..”
Baru saja Doni berniat untuk mencari keberadaan Ibu Azka, Ny.Dania justru lebih dulu memanggilnya.
Sangat kebetulan..
“Doni.. Apa kau melihat Azka? Aku mencarinya sejak tadi.. Kita akan memulai acara nya..”
“Oh, Nyonya.. Azka sepertinya mendadak kurang enak badan. Dia mengatakan hal itu padaku..”
“Apa yang terjadi dengannya? Apa dia baik-baik saja..?”
“Aku sudah meminta seseorang untuk mengantarkan obat. Azka sedang beristirahat didalam ruangannya. Anda ingin saya mengantar untuk melihatnya?”
“Ya.. Ayo cepat antarkan aku keruangannya..”
Ny. Dania mulai terlihat khawatir..
“Ibu, ada apa? Dimana Azka..?”
“Oh, Jessy.. Azka mengatakan kurang enak badan. Dia sedang beristirahat diruangannya.. Aku akan kesana untuk melihatnya..”
“Oh Tuhan.. Aku juga akan ikut untuk melihatnya..”
“mari nyonya.. Saya akan mengantar anda..”
***
Sementara didepan ruangan Azka, Yuna justru terlihat ragu-ragu untuk masuk kedalamnya. Namun kemudian Ia memberanikan diri, tanpa terlebih dulu mengetuk pintu dihadapannya Yuna melangkah masuk dan melihat Azka yang sedang terbaring ditengah sofa yang berada ditengah ruangannya. Ia terbaring dengan beberapa kancing kemeja yang terbuka dan Jas berwarna coklat yang tadi dikenakannya, kini berada dilantai dibawahnya.
“Pak Azka.. ”
Yuna bergerak mendekat..
“pak.. Saya membawakan obat untuk anda..”
Azka mengangkat kepalanya, dan melihat Yuna berdiri disana dengan sebuah nampan berisi obat dan segelas air putih diatasnya.
“Oh, Kau rupanya.. Kenapa kau membawakan ku obat? Aku tidak sedang sakit.. Aku baik-baik saja..”
Azka kemudian beranjak bangun dan melangkah untuk kemudian berdiri dihadapan Yuna.
“Pak Doni yang meminta saya untuk membawakan ini untuk anda..”
“Oh ya.. Kenapa dia perlu membawakanku obat? Bukankah dia yang melakukan ini padaku..?”
Azka makin merapat kearahnya..
Yuna tak cukup bisa mencerna apa yang Azka ucapkan, ketika kemudian Ia mendengar suara langkah kaki dari luar. Buru-buru Ia menjatuhkan nampan ditangannya yang kemudian terdengar suara gelas yang pecah berkeping.
Selanjutnya Yuna menggunakan tangannya untuk merangkul leher Azka dan menutup kedua matanya ketika Ia berjinjit untuk meraih bibir Azka. Berharap pada saat itu Ia melakukannya diwaktu yang tepat, agar wanita calon tunangan Azka itu melihatnya seperti yang direncanakan Doni sebelumnya.
Namun yang terjadi kemudian, Ia justru merasakan Azka merenggut pinggangnya dan kemudian menjatuhkannya ditengah sofa, juga dengan cepat **** tubuhnya.
“Kita akan lakukan ini dengan benar, Yuna..”
Yuna membelalak ketika Azka berbisik ditelinganya dan dengan cepat menempatkan bibirnya untuk menuruni lehernya. Merasakan sengatan dari sebuah gigitan disana yang kemudian membuatnya memekik..
Tapi bukan..
Bukan dirinya yang memekik. Melainkan suara wanita lain yang berdiri diambang pintu dengan mata terbelalak melihatnya..
“YA TUHAN.. AZKA.. !! APA YANG KALIAN LAKUKAN..!!”
*****
Azka POV
Aku sudah menduga sejak merasakan tegukan wine pemberian Doni dan kepalaku yang mendadak bereaksi lain, hal itu adalah bagian dari ulahnya.
Maka untuk memuaskan hatinya, Aku tak ragu menghabiskan segelas penuh wine dari gelasku. Walau setelahnya aku harus menahan dentaman yang makin kuat dikepaku, hanya untuk memastikan Doni menjalankan rencana berikutnya yang kuyakini akan melibatkan gadis itu, setelah kudengar dia menyebutkan namanya.
Benar saja gadis itu, Yuna masuk kedalam ruanganku tak lama setelahnya. Matanya yang selalu berkilat-kilat marah saat menatapku kini berubah menjadi penuh kegelisahan.
Aku memutuskan untuk mendekatinya, dan sedikit memberikan intimidasi melalui tatapan mataku. Ketika kemudian dia menjatuhkan nampan berisi obat yang dibawanya dan dengan ragu-ragu mencium bibirku sambil menutup kedua matanya, dan kusadari pada saat itu akan ada orang-orang yang memergoki kami, salah satunya aku menduga Jessica orangnya.
Aku mengerti inilah rencananya. Rencana Doni untuk menggagalkan pertunanganku, yang memang masih tidak kuinginkan. Aku hanya tak menyangka dia akan menggunakan cara yang kuno dan murahan seperti ini.
Mereka berdua sedang menjebakku..
Maka pilihannya kemudian adalah aku yang terjebak atau mereka yang tanpa sadar akan masuk kedalam perangkap yang mereka ciptakan sendiri.
Aku bukan orang bodoh yang akan membiarkan cara murahan semacam ini berakhir dengan sama murahannya seperti yang mereka inginkan. Biar ku tunjukkan cara yang benar untuk mengakhiri permainan ini..
Aku sudah merenggut tubuhnya dan menjatuhkannya diatas sofa, sampai kemudian berada diatas gadis itu, menindihnya dan akan menunjukkan pemandangan yang menarik untuk mereka.
“Kita lakukan ini dengan benar, Yuna..”
Aku pastikan dia terbelalak shock, ketika merasakan gigitan yang kulakukan pada lehernya.
“YA TUHAN… AZKA..!! APA YANG KALIAN LAKUKAN..!!”
Tidak..
Tidak..
Aku pasti sudah menduganya, dan tetap melakukannya pada gadis itu.
Yuna mendorong dadaku dengan tatapan panik. Aku berdiri membenarkan kemejaku dan menerima tatapan jijik sekaligus marah dari Jessica.
“Bajingan..!”
Aku mendengarnya menggumamkan makian itu, dan mama langsung menatapku penuh kemurkaan. Seakan aku telah melempar kotoran kewajahnya.
“Jessica.. Dengarkan aku, Aku bisa jelaskan padamu..”
“Aku masih memiliki mata yang berfungsi dengan baik.. Apa yang kulihat sudah menjelaskan kelakuan brengsek mu Azka Rianda..”
“Apa yang kau lihat tidak sepenuhnya benar. Aku hanya..”
sebagai seorang pria sudah seharusnya aku mencoba menjelaskan bukan..
“Sialan..! Ternyata dia sekretarismu itu..”
Jessica mulai mendekati gadis itu..
“Dasar murahan..! Aku tak mengira seleramu serendah ini Azka..”
Aku sedikit kasihan melihat gadis itu yang kini juga menjadi sasaran makian yang diucapkan Jessica untuknya.
Tidak..
Aku seharusnya tak perlu kasihan. Gadis itu sudah merencanakannya.
“Kita akan mengumumkan pertunangan tapi Kau justru berencana meniduri gadis itu..! Brengsek.. Kau benar-benar Bajingan, Azka!”
Jessica berbalik untuk meninggalkan ruanganku, tapi aku mencoba menarik pergelangan tangannya. Dan dia langsung memberikan tamparan diwajah ku..
“Jangan berani menyentuhku setelah Kau menggunakan tangan itu untuk menjamah sekretaris murahan mu..!”
Aku hanya menghela napas. Jessica benar-benar marah sekarang..
“Jessy..”
kini mama yang berusaha menahannya..
“Aku takkan melakukan pertunangan dengan putramu Bu..”
“Jessy ah jangan melakukan itu, Kau belum mendengar penjelasan Azka. Ibu tahu Dia melakukan kesalahan, tapi Ibu mohon Kau bisa memaafkannya”
“Dia mungkin bukan hanya sekali ini melakukan itu Bu. Wanita murahan itu, aku mengetahuinya sebagai seorang sekretaris. Dia berada dekat dengan Azka setiap hari.. Aku yakin ini bukan kali pertama mereka melakukannya”
Jessica kembali memandang jijik padaku dan Yuna..
“Jessy.. Tunggu dulu sayang, Jessica.. Azka, apa yang kau lakukan.. Cepat bujuk dia!”
“Aku tak bisa ma.. Aku tak tahu bagaimana cara membujuk seorang wanita yang sedang marah”
“Kau keterlaluan Azka.. mama tak menyangka memiliki putra sepertimu..”
“mama..”
Aku melihat kekecewaan dimata mama. Dia bahkan menolak saat aku ingin meraih tangannya..
“doni.. Pergi cari suamiku dan bawalah kemari. Dia harus tahu apa yang telah dilakukan putranya..”
Doni mengangguk, sedetik aku dapat melihat kepuasan di raut wajahnya. Dia sedang merasakan kepuasan dengan keberhasilan rencananya. Tapi Yuna, Aku masih melihatnya shock. Dia tak mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.
Aku menarikanya sedikit menjauh dari mama..
“Lihat, apa yang sudah kau lakukan nona..”
“Pak Azka..”
Aku merasakan getaran dalam suaranya.
“Kau harus bertanggung jawab setelah membuat calon tunanganku lari dariku, dan membatalkan pertunangan kami..”
“tapi saya tak melakukan apapun.. Anda yang justru berbuat tak senonoh pada saya.. Calon tunangan anda tidak akan lari meninggalkan anda jika anda tidak bersikap brengsek..!”
“jaga bicaramu Yuna.. Kau tahu apa yang tadi kulakukan berawal darimu..”
Aku meraih dagunya, sedikit menaikkannya dengan tanganku dan mengusap bibir bawahnya dengan ujung jempolku. Dia mencoba memalingkan wajahnya namun aku menahannya dengan kuat..
“Ketika bibirmu tiba-tiba menciumku.. Kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan? Kau telah membuat seorang pria bergairah dengan keberanianmu..”
***
to be continued