
Arkhan menyayangkan betapa kemalangan Yuri terjadi setelah ia meninggalkannya.
Yuri yang kehilangan orangtua nya..
Yuri yang harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan juga seorang adik yang dimilikinya..
Hingga Yuri yang menerima perlakuan bejat dari pria yang mengatakan cinta dan sudah seharusnya melindungi, bukan justru merusaknya. Membuat Arkhan merasa nelangsa hingga sampai menjatuhkan airmatanya.
Ia sudah akan bertindak sendiri pada saat Azka menolak untuk menerima informasi darinya. Dan untunglah tak lama saat itu Azka kembali menghubunginya, dan mencegahnya dari niatan membunuh yang sudah terbersit didalam pikirannya. Hingga yang terjadi, kecelakaanlah yang justru membunuh pria yang sangat ingin dibunuhnya. Namun penyesalannya, kecelakaan itu juga membuat Yuri kian terluka.
Selama Yuri dirawat dirumah sakit, Arkhan tak pernah absen untuk melihatnya dan mencari tahu perkembangan kondisinya. Hal itu yang kemudian disadari, bahwa..
Cinta nya masih ada..
Cinta nya pada Yuri yang disangkanya telah mati lantaran terkubur sekian lama, nyatanya akarnya masihlah tertanam dengan kuat. Hingga sampai memunculkan lagi tunas yang semakin lama semakin bertumbuh.
Tak perduli dengan keadaan Yuri saat ini. Tak perduli dia mengenalinya atau tidak. Tak perduli dengan siapa pria yang diinginkan Yuri untuk bersama dengannya. Arkhan bertahan dengan cintanya pada gadis itu. Cintanya pada Yuri rasanya tidak akan bisa mati meski gadis itu tidak membalasnya.
Ia tulus dengan perasaannya..
Ia ingin melihatnya sembuh..
Maka kemudian, melalui Jena, ia mulai dengan mengirim buket-buket bunga serta menuliskan kalimat-kalimat penyemangat untuknya, yang perlahan-lahan membuat Yuri menunjukkan senyum diwajahnya. Meski Arkhan sempat pula merasa kecewa lantaran Yuri salah menafsir tentang siapa pengirim bunga itu yang selalu dianggapnya Azka, namun nuraninya yang telah tergerak kemudian mencoba untuk tidak memperdulikan itu. Yang terpenting adalah ia bisa melihat senyum itu diwajah Yuri.
“Jadi sebenarnya kau sudah mengenal Yuri? Dan kau.. Kau adalah pewaris perusahaan jaringan keamanan yang dimiliki ayahmu?”
Arkhan sesaat menghela napas dan kemudian mengangguk menanggapi pertanyaan dari Azka, setelah ia menyelesaikan ceritanya pada pria itu.
“Kau jelas bukan agen biasa, Arkhan.. Kenapa kau membiarkanku bersikap keras padamu saat itu? Kenapa kau tidak mengatakan semua ini sebelumnya? Atau sebenarnya kau tidak akan mengatakannya jika aku tidak memergokimu tadi?”
Arkhan tersenyum mendengarnya..
“Mungkin akan seperti itu, Azka... Dan aku menyukai caramu bersikap padaku. Aku ingin kinerjaku dinilai dengan benar.. Kau bisa marah saat aku melakukan kesalahan, dan itu menjadi koreksi tersendiri bagiku.”
“Jadi apa yang bisa kubantu sekarang?”
Pertanyaan dari Azka tadi membuat Arkhan mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan maksudnya.
“Atau kau akan terus seperti ini? Tidak inginkah kau menunjukkan dirimu secara langsung didepannya? Mungkin Yuri akan bisa mengenalimu nantinya”
“Aku ingin melakukannya, tapi aku masih belum menemukan cara yang tepat untuk memulainya..”
“Ayo, ikut denganku.. Aku akan membantumu”
Azka sudah berdiri dari duduknya ketika kemudian Arkhan menahannya.
“Kau bisa kerumahku.. Aku akan memperkanalkanmu sebagai temanku..”
Arkhan kembali menunjukkan senyum mendengarnya.
“Terimakasih Azka.. Kurasa tidak bisa sekarang. Ini sudah terlalu malam. Yuri juga sudah tertidur. Aku tak ingin mengganggunya”
Azka menyeringai mengetahuinya..
“Dan kau juga tau apa yang Yuna minta untuk kulakukan?”
Arkhan menganguk..
“Aku tidak akan terkejut, kau benar-benar tahu segalanya, Arkhan..”
“Tidak segalanya Tuan.. sebagian aku mendengarnya dari Jena..”
Balas Arkhan sambil mengikuti Azka yang telah lebih dulu berdiri dari duduknya.
“Ya Jena.. Jadi selama ini dia yang membantumu?”
“Dia memang banyak membantuku..”
“Siapa lagi orang-orang yang berada dibelakangmu? Apa semua pengawal yang disewa ayahku dari perusahaan ayahmu, untuk bekerja dirumahku juga termasuk diantaranya?”
“Tidak.. Aku tidak memanfaatkan mereka, Azka.. Hanya Jena yang melakukannya”
“Baiklah jika seperti itu.. Kurasa sudah cukup penjelasan darimu..”
“Terimakasih untuk mau mendengar ceritaku.. Dan aku akan menunggu tawaranmu dilain waktu”
Keduanya akhirnya mengakhiri pembicaraan itu dengan keluar dari dalam kafe itu dan kembali kedalam mobil. Arkhan terlebih dulu mengantar Azka hingga depan pagar rumahnya, sebelum kemudian ia pergi melaju dengan mobilnya.
***
Yuna tersentak dari tidurnya ketika mendengar suara teriakan dari Yuri yang berada disebelahnya. Sang kakak tengah terduduk, dengan tatapan nyalang yang entah mengarah pada siapa. Juga wajah yang berkeringat dan napas yang terengah-engah..
“Kakak..”
Yuna seketika dihinggapi kecemasan melihatnya. Ia lantas beringsut untuk memeluknya dan merasakan betapa tubuh Yuri menegang penuh kewaspadaan.
“Azka.. Azka.. Dimana Azka? Dimana Azka..?”
“Kakak.. ada apa kak?”
“Dimana Azka..? Katakan dimana Azka..”
“Kakak..”
Yuna menjatuhkan airmatanya ketika kemudian Yuri menyentakkan lengannya, dan malah mencoba turun dari atas tempat tidur.
Yuna sempat mencegahnya dengan meraih tangan Yuri, namun Yuri kembali menyentakkannya..
“Azka.. Dimana Azka..?”
Yuri semakin terlihat panik, Ia lantas turun dari atas tempat tidur. Tak sadar dengan kondisi kakinya yang masih belum mampu menopang tubuhnya, yang kemudian membuatnya terjatuh disisi tempat tidur..
“Kakak..Kak Yuri!!”
Yuna menjerit melihatnya, Ia dengan segera melompat turun dari atas tempat tidur, meski nyeri pada kakinya yang terkilir masih terasa sakit saat ia melakukannya. Namun Yuna jelas mengabaikan itu demi untuk menenangkan Yuri.
Keadaan Yuri yang stabil dalam beberapa hari belakangan, dan cenderung semakin baik dalam setiap harinya, membuat Yuna mengira bahwa sang kakak sudah tidak akan mengalami mimpi buruk lagi. Lalu apa yang kemudian membuat Yuri terlihat terguncang saat ini?
“Nona ada apa?”
Yuna masih berusaha mendekap tubuh Yuri, saat kemudian Jena membuka pintu, disusul dengan Azka yang menunjukkan raut wajah cemas melihatnya.
“Apa yang terjadi?”
Azka mempertanyakan ketika ia telah mendekat, dan Yuna hanya bisa menggeleng dan terisak.
“Yuri..”
Azka lantas menyentuh bahu Yuri untuk menyadarkannya. Yuri dengan segera merespon, menatapnya dan kemudian menghambur kedalam pelukan Azka.
“Apa yang terjadi Yuri..?”
“Aku takut.. Azka aku takut..”
“Tidak ada yang perlu kau takutkan, tenanglah..”
“Tapi mereka datang untuk menyakitiku”
“Siapa mereka? Tidak ada seorangpun yang akan menyakitimu, Yuri.. Tenanglah, kau hanya bermimpi. Kembalilah tidur..”
Yuri menggeleng dan makin memeluk Azka dengan erat..
“Aku takut..”
“sst.. Apa kau tidak mendengarku? Kau hanya bermimpi. Tidurlah, aku akan disini menjagamu..”
Azka yang lantas membopong tubuh Yuri untuk kembali berbaring diatas tempat tidur, dan Yuna yang kemudian memasangkan selimut untuknya.
“Kau akan tetap disini kan?”
Mendengarnya, Yuna lantas berniat untuk beranjak dan membiarkan Yuri hanya bersama dengan Azka. Mungkin dengan begitu, sang kakak akan menjadi lebih tenang. Namun tanpa diduga olehnya, Azka justru menyelipkan tangan untuk menahan pergelangan tangannya.
“Kau juga sebaiknya kembali tidur, Yuna.. Aku yakin kakimu masih belum sepenuhnya pulih”
“Aku akan keluar sebentar untuk mengambil air minum untuk Kak Yuri”
Yuna berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Azka, namun pria itu justru makin erat memeganginya.
“Jena bisa melakukannya.. Jena tolong..”
“Saya mengerti Tuan..”
Jena dengan cepat keluar dari dalam kamar itu. Sementara Yuna hanya bisa berdiri kaku dengan sebelah tangannya yang masih dipegang oleh Azka.
Pria itu memang masih terus menatap pada Yuri, namun dibelakang tubuhnya tanpa sepengetahuan Yuri, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Yuri, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Yuna, mencegah agar gadis itu tak beranjak kemana-mana.
“Kembalilah tidur, Yuna.. Maaf, aku membuatmu terbangun”
Ucapan Yuri yang lantas membuat Yuna mengangguk, Azka pun kemudian melepaskan pergelangan tanganya untuk membiarkan Yuna melangkah kebagian sisi tempat tidur yang lain, sebelum kemudian naik dan berbaring diatasnya.
“Azka..”
“Tidurlah.. Aku akan berada disini”
Azka lantas duduk dipinggir tempat tidur, disisi tubuh Yuri.
“Azka..”
“hm..”
“Apakah aku bisa mendengar kau mengatakan sesuatu padaku?”
“Tentu saja, apa yang ingin kau dengar dariku..”
“Katakan jika kau mencintaiku..”
Mendengar hal itu seketika Azka mengarahkan tatapan matanya pada Yuna. Yuna yang kini tengah memposisikan tubuhnya untuk berbaring miring membelakanginya dan juga Yuri, dan menyusut airmata yang tiba-tiba kembali membasahi wajahnya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya yang berkecamuk ketika itu. Sedih dan terkejut. Melihat kondisi Yuri saat itu, menyadarkannya bahwa sang kakak masihlah sangat membutuhkan Azka melebihi apapun.
“Azka.. Apa kau tidak akan mengatakannya? Kau tidak akan mengatakan kau mencintaiku? Aku sangat ingin mendengarmu mengatakan itu padaku..”
Azka masih hanya terdiam. Ia teringat pada Arkhan dan pada kisah masalalu yang diceritakannya. Hingga sampai saat ini, pria itu lah yang mencintai Yuri, dan bukan dirinya.
Namun kemudian, ia teringat akan janjinya pada Yuna. Ia akan melakukan apa yang diinginkan gadis itu, termasuk menyatakan perasaan cinta jika memang itulah apa yang ingin didengar Yuri darinya.
“Kumohon, aku ingin mendengarnya..”
“Dengarkan aku Yuri.. aku peduli padamu. Benar-benar peduli.. aku sangat ingin melihatmu sembuh..”
Yuri menggeleng, mengisaratkan bahwa ia menolak apa yang dikatakan oleh Azka, karna bukan hal semacam itu yang ingin didengarnya..
“Kumohon.. hanya sekali. Aku ingin mendengarnya setidaknya untuk sekali saja..”
Azka kembali melirik pada Yuna sebelum akhirnya bibirnya menggumam..
“Aku.. Aku mencintaimu, Yuri.. Aku mencintaimu..”
Kalimat itu yang kemudian membuat Yuri tersenyum kala mendengarnya, ia menggumamkan kata terimakasih sebelum kemudian memejamkan kedua matanya.
Sementara Yuna justru kembali menyusut airmata dari wajahnya. Airmata dari tangisnya yang tak bersuara.
Apa yang sebenarnya sedang ditangisinya?
Bukankah hal itulah yang diinginkannya dari Azka, demi dan untuk kakak nya..
Tidak..
Ia tidak sedang menangis karna terhimpit perasaan cemburu.
Ini murni airmata kesedihannya terhadap kondisi Yuri saat itu..
***
to be continue