
Yuna memiliki banyak pemikiran didalam kepalanya. Karnanya ia banyak melamunkan hal itu. Setelah berbicara dengan Doni tadi, ia justru merasakan kegelisahan dan tak bisa santai. Ia bahkan tak berkonsentrasi pada kelas yang diikutinya. Ia meminta ijin keluar dari kelas lebih cepat. Ia mungkin butuh menghirup udara segar. Namun ternyata diluar sana Ny.Dania justru sudah datang untuk menjemputnya. Dia sedang menunggunya.
Yuna menghembuskan napasnya pasrah, ia dalam pengawasan Ny.Dania, maka takkan mungkin bisa meski ia sangat ingin mencuri sedikit waktu untuk sebentar saja berjalan-jalan disekitar tempat itu, dan mencoba untuk menjernihkan pikirannya.
“Oh, Yuna.. Kenapa kau sudah berada diluar? Bukankah kelas belum berakhir? Masih sekitar dua puluh menit lagi kan..?”
Ny.Dania memeriksa jam pada pergelangan tangannya.
Bagus..
Wanita itu bahkan menghapal jadwal nya. Dan Yuna seharusnya tak perlu heran dengan itu.
“Aku.. Aku..”
Ny.Dania menatapnya tajam, sepertinya tahu jika ada sesuatu yang tak beres saat itu.
“Aku.. Aku sedikit merasa bosan, Ibu.. Aku meminta ijin untuk keluar lebih cepat.”
Yuna menggigit bibir bawahnya setelah mengemukakan alasannya. Meski bukan itu yang sebenarnya dirasakan olehnya.
“Bosan?”
Ny.Dania memutar mata, ketika Yuna mengangguk dan langsung mendekat dengan melingkarkan tangan pada lengannya.
“Ini bahkan baru pertemuan kedua, dan kau bilang bosan? Yang benar saja.. Cepat masuk kembali, dan katakan kau akan mengikuti kelas hingga selesai..”
Ny.Dania berusaha untuk menyingkirkan tangan Yuna dari lengannya, namun Yuna kembali meraihnya.
“Ibu..”
Yuna memberengut..
Bisakah ia merajuk saat itu.
“Sepertinya aku sedikit tak enak badan. Aku merasa pusing dikepalaku.. Aku tak bisa berkonsentrasi dalam kelas tadi..”
Yuna menggunakan jari-jari pada tangan kanannya untuk menekan pada pelipis nya, dan apa yang dilakukannya cukup untuk menarik perhatian Ny.Dania saat itu.
“Benarkah?”
Ny.Dania memeriksanya, dengan menempelkan punggung tangannya dikening Yuna. Tak ada yang salah disana. Suhu tubuhnya terasa normal..
“Jangan bohong, Yuna.. Kurasa kau tak kenapa-napa. Suhu tubuhmu masih normal”
“Tentu saja itu karna Aku memang tidak merasa demam.. Aku hanya merasakan pusing dikepalaku. Terasa berdenyut dan ini sedikit sakit..”
Yuna mencoba meyakinkan dengan mengerutkan dahinya dan kembali menekan pada pelipisnya.
“Ya sudah, ayo pulang saja.. Seharusnya kau bisa ikut denganku pada makan siang dengan teman-temanku. Dan kita bisa mengunjungi butik setelahnya. Tapi sepertinya aku harus membatalkannya..”
“Ibu tidak harus membatalkannya, aku bisa pulang dengan taksi..”
“Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukannya? Tidak.. Kita akan pulang bersama. Aku memang berencana tidak datang jika kau tak ikut bersamaku..”
Ny.Dania berjalan lebih dulu menuju mobil dan kemudian diikuti Yuna dibelakangnya.
Kurang dari tiga puluh menit, mereka telah sampai didepan pagar rumah.
Ny.Dania kembali turun lebih dulu, dibelakangnya Yuna mengikuti langkahnya sambil mendengarkan apa yang harus dilakukannya.
Masuk kedalam rumah, Yuna langsung diminta untuk masuk kedalam kamarnya. Mencuci wajahnya terlebih dulu untuk membersihkan sisa-sisa make up dan kemudian mengganti pakaian dan beristirahat.
Tak berapa lama setelah Yuna menyelesaikan semua itu dan bersiap untuk naik keatas tempat tidur, Ny.Dania mengetuk pintu kamarnya dan kemudian masuk dengan membawa sebuah nampan. Di atasnya ada segelas air putih dan beberapa butir pil.
“Kau bisa meminum obat untuk menghilangkan rasa pusing dikepalamu, terlebih dulu..”
Melihat Ny.Dania yang melangkah mendekatinya, Yuna justru tertegun, tersentuh oleh perhatian yang diberikan wanita itu kepadanya.
“Ibu..”
Ny.Dania meletakkan nampan itu diatas meja kecil disisi tempat tidurnya.
“Pastikan kau meminumnya.. Aku akan meninggalkanmu untuk beristirahat”
Entah apa yang kemudian membuat Yuna menahan lengan Ny.Dania ketika wanita itu ingin beranjak keluar darikamarnya.
“Ada apa?”
“Terimakasih..Terimakasih untuk memperhatikanku”
Ny.Dania menghela napas.
“Aku hanya tidak ingin ada orang yang sakit didalam rumahku. Terlebih kau.. Suamiku dan apalagi Azka mungkin akan berpikir aku melakukan sesuatu yang kasar terhadapmu. Dan Aku tak ingin terjadi seperti itu..”
“Apapun alasannya aku tetap berterimakasih..”
Ny.Dania mengangguk, setelah Yuna melepaskan tangannya, ia baru keluar dari dalam kamar itu dan membiarkan Yuna untuk beristirahat.
Sepeninggal Ny.Dania, Yuna masih hanya memandangi nampan yang berisi obat itu. Ia tak benar-benar pusing dalam arti memerlukan obat untuk meredakannya. Melainkan, ia pusing karna ada banyak hal yang berputar didalam kepalanya. Dan ia mendadak menjadi tak yakin dengan apa yang harus dilakukannya.
Yuna tidak bisa tertidur, dan entah sudah untuk yang keberapa kalinya ia mendengus. Yang dilakukannya hanyalah berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Mulai dari ujung ke ujung, mencoba untuk menemukan kemantapan hatinya.
Tapi mengapa..
Mengapa Ia menjadi gundah dalam kebimbangan yang dirasakannya.
Apakah itu dipengaruhi oleh apa yang dilakukan Azka dengan membawa kedua temannya untuk bertemu dengannya, dan membuatnya merasa senang. Karna dengan itu ia menjadi menemukan sisi kebaikan dari pria itu?
Apakah itu juga karna sikap baik Tn.Rian?
Dan karna telah mengenal watak Ny.Dania yang dibalik kekerasan sikapnya, nyatanya memiliki kebaikan dan kelembutan hati sebagaimana seorang ibu.
Tidak..
Ia tidak boleh goyah oleh karna semua itu.
Kenyataan bahwa Yuri kakak nya mengalami depresi yang disebabkan oleh seorang Azka Rianda, itulah yang seharusnya menjadi fokus utamanya dan mengembalikan kemantapan hatinya untuk menghancurkan pria itu.
***
Setelah kembali kerumah dipagi hari tadi dan cukup tak menyangka akan mendengar pembicaraan diam-diam antara Doni dan Yuna yang juga sempat membuatnya merasakan amarah namun masih berhasil mengendalikan dirinya, Azka telah memutuskan untuk kembali ke kantor setelahnya dengan terlebih dulu mengambil berkasnya yang tertinggal sesuai dengan niatan awalnya.
Dan setelah beberapa jam dilaluinya dengan berkutat didalam kantornya, kini menjelang malam hari ketika Azka kembali pulang ke rumahnya, Ia melangkah lebar sedikit terburu-buru pada saat masuk ke dalamnya.
“Azka.. Apa yang terjadi?”
Ny.Dania yang pada saat itu sedang menemani sang suami yang tengah bersantai dengan secangkir teh dan obrolan-obrolan diantaranya, mencoba menghentikan Azka saat melihat langkah terburu dari sang putra tunggalnya itu.
“Langkahmu seperti sedang dikejar setan..”
“Aku sedang dikejar waktu, tepatnya..”
Ny.Dania mengerutkan dahi dan menatap pada sang suami yang duduk disampingnya, namun Tn.Rian hanya mengangkat kedua bahunya, jelas tak mengetahui apa yang terjadi dengan Azka.
“Ada apa?”
Ny.Dania langsung menghampirinya.
“Apa yang terjadi?”
“Bukan hal yang serius ma.. Aku hanya harus berada dalam jamuan makan malam bisnis beberapa waktu lagi. Maka aku butuh bersiap dengan cepat dan kembali pergi..”
Azka sudah akan beranjak dari hadapan sang ibu, namun Ny.Dania menahan lengannya.
“Tunggu, Dengan siapa kau pergi?”
“Aku sendirian..”
“sendiri..?”
“Hanya jamuan makan malam saja ma, dan aku tidak akan lama berada disana..”
“Ajaklah Yuna untuk menemanimu, mama akan memberitahunya dan sekaligus membantunya bersiap”
Ny.Dania selangkah beranjak dari hadapan Azka, dan kini berganti Azka yang menghentikan langkahnya.
“Tunggu, apa yang mama katakan tadi? Mengajak Yuna? Untuk apa..?”
“Kau ini.. Tentu saja untuk menemanimu. Mama dulu juga sering menemani papamu, jadi jangan kira mama tak tahu dalam acara semacam itu kau jelas memerlukan pasangan. Dan lagi, setelah malam pertunangan itu kalian belum sekalipun pergi kedalam satu acara yang sama. Jangan kira orang-orang diluar sana tidak akan mempertanyakannya.. Kau bisa bersiap dan mama yang akan mempersiapkan Yuna untuk menemanimu”
Ny.Dania beralih dari hadapan Azka.
“Pa.. Aku harus meninggalkanmu sebentar untuk mengurus Yuna..”
“Ya.. Lakukanlah..”
Tn.Rian memberikan senyum dukungannya, sementara Azka masih berdiri disana.
Setelah ia bahkan tak bisa menyela kata-kata yang diucapkan oleh ibunya tadi, bagaimana bisa ia menghentikan ibu nya saat itu. Ia hanya bisa melihat sang ibu yang kemudian bersemangat menaiki puluhan anak tangga untuk mencapai kamar Azka.
Membuka pintu kamar Yuna, Ny.Dania tak menemukan gadis itu berada diatas tempat tidurnya. Ketika Ny.Dania masuk untuk menemukannya, ia justru melihat obat yang seharusnya Yuna minum, masih utuh ditempatnya. Ia sudah akan meneriakinya, namun kemudian melihat Yuna keluar dari dalam kamar mandi.
“Oh, Ibu..”
“Kau tidak meminum obat sakit kepalamu?”
Yuna menggigiti bibir bawahnya, mendengar kalimat yang berindikasi menumbuhkan kemarahan dari Ny.Dania.
“Aku sudah merasa lebih baik.. Aku tak memerlukan obat itu, ibu..”
Ny.Dania menghela napasnya.
“Baiklah.. Kau beruntung aku tak ingin berurusan lebih jauh dengan alasan itu sekarang. Bagus jika kau sudah merasa lebih baik saat ini, karna kau harus cepat bersiap untuk menemani Azka menghadiri jamuan makan malam..”
Yuna masih terbengong didepan pintu kamar mandi, heran dengan begitu cepatnya wanita itu berucap, membuatnya tak memiliki kesempatan untuk membantah.
***
to be continue