At First Sight

At First Sight
Episode 69



Apa yang kemudian bisa dilakukan oleh Yuna ketika melihat Azka telah berdiri disana, berada tak jauh darinya dengan sebelah tangannya yang menempatkan ponsel menempel ditelinga, dan tatapannya yang mengarah padanya.


Ya Tuhan..


Ia tak lagi bisa berbuat apa-apa.


Yuna hanya terbengong.


Mengagumi keindahan raga dari sosok pria yang kini dalam langkah menghampirinya.


Jantungnya seakan terlonjak..


Yuna mendadak merasakan gugup. Kekesalannya yang entah oleh sebab apa terhadap Azka, padahal nyata-nyata pria itu mengirimkan pesan kerinduan terhadapnya, kini menghilang tanpa jejak.


Pria itu mempesonanya dengan tampilan sempurna yang dimilikinya..


“Hei..”


Azka seakan tak perduli dengan keterpakuan Yuna pada saat itu. Ia dengan santai menarik bagian pinggangnya merapat pada dirinya sebelum kemudian mendaratkan kecupan pada pipinya.


“Ada masalah denganmu pagi ini?”


Yuna mengerjap, ketika kemudian merasakan Azka menggunakan jemari besarnya untuk menyentuh pada pipinya.


“Euh, Aku.. Aku sudah katakan tidak perlu datang..”


Yuna bergerak risih, menyingkirkan lengan Azka yang melingkari pinggangnya. Ia lantas mengarahkan pandangan matanya kesekeliling, dan dapat memastikan pada saat itu Jena melihatnya. Mungkin bukan hanya Jena saja yang melihat apa yang dilakukan Azka terhadapnya..


“Tapi kenapa?”


Yuna kembali mengarahkan pandangannya pada Azka begitu mendengar pertanyaannya.


“Tidak perlu ya tidak perlu..”


Yuna beralih, merasa tak mampu melawan tatapan mata Azka saat itu.


“Jadi kau tidak punya alasan mengapa aku tidak perlu datang?”


“Aku punya..”


“Apa? Katakan padaku..”


“Aku sudah mengatakannya melalui pesan yang kukirim tadi..”


Yuna menyempatkan diri untuk menyesap teh pemberian Jena tadi. Sebagai pengalihan, pengalihan rasa gugup yang masih terus dirasakannya sampai saat itu.


“Aku tak dapat menerima alasanmu..”


Azka mengambil alih cangkir teh dari Yuna, dan kemudian menyesap untuk dirinya, menjadikan Yuna mendengus kearahnya.


“Kak Yuri baik-baik saja, kupikir aku tak ingin merepotkanmu..”


Ucap Yuna kemudian..


“Begitukah?”


Yuna mengangguk..


Meski tidak seperti itu yang sebenarnya menjadi alasannya. Ia sedang merasa sedikit kesal..


“Aku senang mendengar Yuri baik-baik saja. Tapi yang kulihat justru kau yang nampak tidak baik-baik saja, Yuna.. Mungkin kau butuh sebuah pelukan..”


Yuna hanya sempat sesaat memutar mata dan tak dapat bereaksi lebih karna Azka benar-benar memeluknya.


“Pak..”


Yuna berusaha melepaskan, namun Azka justru semakin mendekapnya erat.


“Bagaimana sekarang? Merasa lebih baik..?”


“Aku kesulitan bernapas..”


Azka sesaat tergelak mendengar jawaban darinya, namun tetap tak melepaskan pelukannya dan hanya melonggarkannya.


“Bagaimana dengan yang sekarang?”


“Hm..”


“Kau bisa bernapas..?”


Yuna mengangguk..


“Merasa lebih baik?”


Yuna kembali mengangguk dan disertai dengan senyum dibibirnya.


Ya..


Berada dalam pelukan pria itu, bersandar pada dadanya, merasakan hangat tubuhnya, serta menghirup aroma dari parfum yang digunakannya, memang dapat dengan sekejap membuat Yuna merasakan perasaan tenang. Perasaan nyaman juga didapatkannya saat bersama dengan Azka..


Beberapa saat setelahnya, suara berdeham dari Jena lah yang kemudian membuat keduanya saling melepaskan pelukan itu. Apa yang dilakukan Jena pada saat itu sebenarnya sebagai tanda karna Sulis telah melangkah keluar dari dalam kamar Yuri.


Melihatnya, dengan segera Yuna lantas menghampirinya..


“Bagaimana dokter?”


Sulis menarik senyum dari bibirnya..


“Baru tahap awal, Yuna.. Aku masih akan terus datang.”


Yuna menatap pada Azka yang telah berada disampingnya dan merengkuh bahunya. Membuat sang dokter untuk sesaat memperhatikan pada keduanya.


Sulis memang tidak terlalu mengikuti berbagai pemberitaan di media, namun ia mengetahui satu pemberitaan mengenai pria itu. Sang penguasaha yang melakukan pertunangan dengan seorang gadis biasa, dengan Yuna. Ia hanya masih belum mengetahui dengan apa yang kemudian terjadi diantara pria itu dan Yuri. Mengapa Yuri kemudian menjadi tergantung dengan kehadiran pria itu.


Ia jelas perlu menanyakan hal itu, setidaknya pada Yuna.


“Apa yang kakak ku katakan, dokter?”


Pertanyaan Yuna memecah apa yang pada saat itu Sulis pikirkan.


“Yuri masih belum banyak bercerita. Tapi aku senang melihat dia menunjukkan senyum diwajahnya..”


Yuna mengangguk mengerti, dan kemudian membiarkan Sulis pergi dari sana.


Setelahnya Ia dan Azka masuk kedalam kamar rawat Yuri, dan Yuna dapat dengan cepat menangkap raut kebahagiaan diwajah sang kakak, begitu melihat kehadiran Azka disana.


“Azka.. Kau datang?”


Azka tersenyum dan mengangguk..


“Bagaimana dengan keadaanmu, Yuri?”


“Aku merasa lebih baik”


“Senang mendengarnya..”


Yuna menyaksikan bagaimana Azka yang pada saat itu menunjukkan kepeduliannya pada sang kakak. Selain menanyakan kondisi, Azka juga mengatakan pada Yuri agar terus memotivasi dirinya untuk sembuh. Dan mungkin nanti membantunya lagi menangani segudang pekerjaannya mengurusi perusahaan.


Azka mengeluhkan betapa dirinya kewalahan dalam beberapa bulan terakhir akibat dari ketidak beradaan Yuri dalam membantunya.


Yuna kembali memperhatikan buket bunga yang tak lagi berada dalam dekapan Yuri, melainkan kini telah berpindah keatas meja disamping ranjang tidurnya, dan sekaligus melihat Azka yang juga tak segan untuk menggenggam tangan Yuri disela pembicaraan mereka, dan menjadikan wajah sang kakak yang nampak berseri-seri, membuat Yuna kemudian bergerak mundur dengan perlahan.


Keluesan yang ditunjukan Azka dalam menarik obrolan bersama dengan Yuri, telah membuat Yuna menyadari adanya riwayat kedekatan yang sebelumnya terjalin diantara keduanya. Entah kedekatan semacam apa, Yuna memerintah, mengontrol dan akhirnya melarang keras dirinya untuk tidak terlalu jauh memikirkannya.


Maka ia memutuskan untuk keluar dari dalam kamar Yuri. Namun setelah menekan pada knop pintu untuk membukanya, suara Azka lah yang kemudian terdengar dan menghentikannya..


“Kau mau kemana, Yuna?”


Sesaat merasakan darahnya yang mendesir, Yuna berbalik dan mendapati tatapan mata Azka lurus kearahnya..


“Saya hanya akan berada diluar, Pak..”


“Untuk apa?”


Pertanyaan Azka yang tersirat penuh dengan selidik, membuat Yuri menatap pada keduanya secara bergantian. Dan Yuna mengetahui hal itu..


“Untuk.. untuk..”


Yuna merasa kebingungan memberikan jawabannya..


“Yuna..”


Satu suara dengan Azka, Yuri juga seakan mempertanyakan apa yang akan dilakukannya..


Sekilas Yuna menunjukan senyum diwajahnya..


“kakak tidak akan keberatan kan aku meninggalkanmu sebentar?”


Yuri mengangguk..


“Tapi jangan keluar terlalu jauh, Yuna..”


“Iya Kak, aku mengerti..”


Setelahnya Yuri kembali mengalihkan perhatiannya pada Azka dan Yuna membiarkan saat kemudian Azka menjelaskan pada Yuri, bahwa dirinya akan berada dikantor hari itu untuk mengurus beberapa pekerjaan dan akan kembali datang setelah menyelesaikan semuanya.


“Azka, terimakasih untuk bunga pemberianmu. Aku sangat menyukainya..”


Sekali lagi langkahnya untuk keluar dari kamar itu kembali tertahan, Yuna terpaku sesaat, namun dengan cepat tersadar dan memutuskan ia tak ingin mendengar apa yang nanti akan dikatakan Azka sebagai respon ucapan terimakasih dari Yuri setelah mengirimkan buket bunga itu padanya.


Maka yang selanjutnya Ia lakukan adalah, membuka lebar pintu dihadapannya dan memerintahkan kedua kakinya untuk membawa tubuhnya keluar dari dalam kamar rawat itu.


Yuna menghela napas nya begitu kembali menutup rapat pintu dibelakangnya dan membuatnya tak lagi dapat mendengar apa yang selanjutnya dibicarakan oleh sang kakak bersama dengan Azka didalamnya.


Sekali lagi helaan napas yang dilakukan Yuna serta langkah dari kedua kakinya yang seakan diseret, menarik perhatian Jena yang berdiri tak jauh darinya untuk kemudian mendekati Yuna..


“Adakah yang anda perlukan, nona?”


“euh..”


Yuna tak langsung meresponnya, sekilas justru terlihat kebingungan diwajahnya untuk menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Jena kepadanya.


“Nona..”


Jena mengikuti ketika Yuna lebih memilih untuk menghampiri kursi tunggu dan mendudukkan tubuhnya disana.


Ia baru ingin mengucap sesuatu pada Jena, namun dering pada ponsel miliknya lebih mendahuluinya dan akhirnya membuatnya mendahulukan untuk menjawab panggilan dalam ponselnya..


“Halo Ibu..”


“Kau sudah makan?”


Mendengar pertanyaan itu, membuat Yuna langsung menggigit bibir bawahnya. Menyadari tak ada kalimat basa-basi yang saat itu diucapkan Ny.Dania padanya.


“Yuna, kau mendengarku?”


“Oh, Ya Bu.. Aku, aku.. Belum..”


“Sudah kuduga..”


Terdengar suara mendecak dari Ny.Dania yang seakan telah dapat mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Yuna, meski gadis itu tak sampai menyelesaikan kalimatnya.


“Maaf..”


Ucap Yuna kemudian, walau pada saat itu Ia masih tak dapat mengerti apakah hal itu menjadi suatu kesalahan dimata Ibu Azka. Namun mendengar respon yang selanjutnya dikatakan oleh Ny.Dania, jelas memang melupakan waktu makan paginya, itu menjadi suatu kesalahan untuknya..


“Masih dalam hitungan hari kau berada dirumah sakit itu, tapi aku bisa pastikan kau segera akan terlihat seperti seorang gadis kekurangan gizi jika kau terus seperti itu. Mengerikan, kau akan mempermalukan ku, Yuna..”


Kekurangan gizi?


Astaga..


Apa Ia baru saja mendengar Ibu Azka mengatakan itu padanya?


Tega sekali dia..


Yuna sedikit memberengut mendengarnya..


“Jangan mengabaikan apa yang menjadi kebutuhan tubuhmu Yuna, dan terutama kesehatanmu. Aku tak ingin melihat putraku berada diantara dua gadis yang sedang sakit..”


Yuna masih memberengut, benar-benar tak bisa membalas apa yang terus diucapkan Ny.Dania pada saat itu.


“Katakan padaku kau akan makan. Jika tidak, aku takkan mengijinkanmu seharian berada dirumah sakit. Aku akan memerintahkan Jena untuk membawamu pulang. Dan aku sendiri yang akan memastikan kau duduk dimeja makan, dan menungguimu menghabiskan apa yang berada disana”


Yuna mengangguk, tak sadar Ny.Dania yang tak akan mengetahui respon yang diberikan olehnya.


Yuna sudah bergidik ngeri membayangkan kalimat yang diucapkan Ny.Dania, meski sesuatu yang didengarnya tadi tak cukup untuk disebut sebagai ancaman.


Tapi tetap saja, Ia tahu Ny.Dania tak akan bermain-main dengan apa yang telah diucapkannya.


“Yuna, kau mengabaikanku?”


“Tidak Bu.. Aku mendengarmu, dan ya.. Aku akan melakukannya”


“Bagus jika seperti itu, sayangnya aku tak bisa datang kesana sekarang dan memastikan kau benar-benar melakukannya. Aku sedang dalam perjalanan untuk menjemput Bibi Lia. Dia menghilang pada pagi hari tadi..”


Yuna jelas terkejut mendengarnya..


“Apa.. Apa yang terjadi dengan Bibi Lia?”


Sesaat ia mendengar helaan napas dari Ny.Dania disebrang sambungan telponnya..


“Ibu..”


“Dia tidak memberitahukan pada siapapun saat pergi. Aku cukup kebingungan mencarinya tadi. Namun telah ada yang memastikan jika Bibi Lia berada dimakam Doni. Maka aku akan kesana untuk menjemputnya”


Yuna tertegun untuk beberapa saat. Bagaimanapun kematian Doni masih terasa sulit untuk dipercayai olehnya. Dan membayangkan perasaan kehilangan putra semata wayang yang dirasakan oleh Bibi Lia, mendadak membuat Yuna merasakan pilu.


“Berikan ponselmu pada Jena, Yuna. Aku ingin berbicara dengannya..”


Yuna hanya menggumamkan satu kata ‘Ya’ pada Ny.Dania, sebelum kemudian menyerahkan ponselnya pada Jena.


Jena yang kemudian membawa ponsel itu menempel pada telinganya, tak berapa lama langsung terlihat mengangguk-anggukkan kepala, mendengar dengan seksama apa yang dikatakan Ny.y melalui sambungan telponnya, sebelum kemudian menyerahkan ponsel itu kembali ketangan Yuna.


“Apa yang anda inginkan, nona? Saya akan pergi untuk membelikannya..”


“Aku akan pergi sendiri untuk mendapatkannya..”


Berdiri dari duduknya, namun Jena menghadang dihadapannya.


“Anda akan tetap berada disini, nona. Saya yang akan keluar untuk mendapatkan sarapan pagi untuk anda..”


“Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau yang tetaplah disini..”


“Tolong, jangan mempersulit saya nona..”


Yuna mendengus mendengarnya dan terpaksa harus kembali mendudukkan tubuhnya.


“Baiklah..”


ucapnya terdengar lesu, karna pada akhirnya Ia memang tak bisa berkeras dan harus mengalah jika tidak ingin mendengar Ibu Azka kembali mengatakan sesuatu yang dirasakannya sedikit kurang enak untuk didengar..


Oh..


Bukankah ia sudah terbiasa dengan kata-kata kejamnya?


Setelah Jena berlalu dari hadapannya, Yuna kembali melongok kedalam kamar Yuri. Dari gerak bibirnya, Azka masihlah terlihat berbicara dengan kakaknya, maka beralih dari sana menjadi hal yang kemudian dilakukan olehnya. Keluar untuk mendapatkan udara pagi yang segar mungkin akan menjadi bagus untuknya. Dan pilihan Yuna jatuh pada balkon rumah sakit, yang entah sejak kapan dirasa menjadi satu-satunya tempat yang disukainya selama ia berada dirumah sakit itu.


Jena kembali pada sekitar lima belas menit setelahnya dan bertepatan dengan itu, Azka keluar dari dalam kamar rawat Yuri.


“Jena, dimana Yuna?”


“Oh, nona..?”


Jena menelusuri dengan matanya pada kesekeliling tempat disekitarnya, merasa jika sebelumnya ia meninggalkan Yuna terduduk disalah satu kursi tunggu, namun sekarang justru tak terlihat disana.


“Nona..”


Jena menggumam sendiri..


“Maaf Tuan, tapi saya meninggalkan nona Yuna disini tadi. Nyonya memerintahkan saya untuk mendapatkan sarapan pagi untuknya. Maaf jika..”


Jena menunduk..


“Saya akan menemukan nona secepatnya..”


“Tidak perlu, tetaplah disini.. Kurasa aku tahu dimana gadis itu sekarang”


Azka lantas bergerak, dengan langkah lebar menuju satu tempat yang diyakini olehnya Yuna sedang berada disana.


***


to be continue