At First Sight

At First Sight
Episode 53



Yuna POV


Ibu Azka telah salah paham dengan maksudku, bagaimana mungkin dia mengira aku hamil.


“Tidak Ibu.. Aku tidak, tidak ada janin didalam perutku”


Dia langsung menatapku saat aku kemudian meraih tangannya..


“Jadi Ibu mengira aku hamil?”


“Ya, tentu saja.. Sejak kemarin kau mengeluhkan pusing dan kau baru saja mengatakan mual dan juga muntah. Apalagi yang bisa kupikirkan jika bukan seperti itu..”


Aneh..


Setelah semua yang terjadi, saat ini aku justru ingin tersenyum padanya. Sedikit geli setelah mengetahui apa yang berada dalam pemikirannya dan melihat kecemasan yang menggurat diwajahnya karna hal itu..


“Jika hal itu yang sedang Ibu khawatirkan, itu salah.. Tidak ada janin didalam perutku”


“Tapi kau.. Bagaiamana kau tahu? Aku pernah mengandung Azka dan seperti itu lah apa yang dulu kurasakan. Aku bahkan masih mengingatnya. Pusing, mual dan muntah di pagi hari..”


Aku benar-benar tersenyum sekarang..


“Tidak Ibu..”


“Bagaimana kau bisa yakin?”


“Aku.. Aku sedang berada dalam siklus bulanan saat ini. Itu jelas membuktikan jika aku tidak hamil kan.. Dan juga..”


Tidak ada seorang pria yang pernah meniduriku.


Aku meneruskan kalimat itu didalam hatiku..


Satu-satu nya pria yang pernah menyentuhku adalah Azka. Dan keintiman yang pernah dilakukannya padaku hanya sebatas pada ciuman bibir. Dan hal itu tidak mungkin membuatku hamil kan..


Tidak..


Aku memang tidak sedang hamil.


Wanita itu benar-benar lucu ketika berpikir seperti itu. Sudah cukup dia berpikir aku pernah tidur dengan putranya, dan untuk sekarang dia tidak boleh berpikir sejauh itu.


“Oh Tuhan, syukurlah..”


Aku melihatnya menghembuskan napas lega sesaat sebelum kemudian dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya.


“Dengarkan aku Yuna..”


Aku hanya bisa mengangguk..


“Kau tidak boleh hamil.. Maksudku tidak saat ini. Tidak sekarang sebelum kau menikah secara resmi..”


Aku mengangguk..


Ya..


Tentu saja tidak. Tidak akan terjadi hal seperti itu. Aku akan benar-benar menjaga diriku.


“Jika kau hamil sekarang, itu hanya akan mengacaukan segalanya... Bagaimana aku harus menyebutnya? Aku tak ingin menganggap memiliki janin akan mengacaukan segalanya.. Hanya saja..”


Aku mengerutkan dahi, masih tak mengerti dengan apa yang menjadi maksud ucapannya.


“Jika itu terjadi sekarang, waktunya masih tidak tepat.. Banyak hal yang sedang aku rencanakan untuk mempersiapkanmu sebagai istri dari putraku”


Istri dari putranya..


Ya Tuhan..


Aku tak percaya dia baru saja mengatakan hal itu.


“Salah satunya yang baru aku bicarakan dengan suamiku adalah mendaftarkanmu masuk ke perguruan tinggi..”


Tuhan..


Dia juga memikirkan hal itu.


“Kau bisa memilih perguruan tinggi mana yang kau inginkan untuk dijadikan tempat berkuliah, kita bisa membahas hal itu nanti. Aku juga telah memiliki beberapa saran untukmu.. Karna itu aku tidak mengharapkanmu untuk hamil saat ini..”


Bagaimana bisa kata-katanya kembali menyentuh hatiku. Aku bahkan merasakan mataku yang kembali berair. Dia mengingingkanku untuk masuk dalam perguruan tinggi. Bagaimana bisa aku tidak senang mendengarnya. Itu apa yang selama ini ku inginkan.


“Jangan berpikir aku telah merestui kalian.. Tidak, sama sekali belum. Kau harus lebih dulu mendaftar ke perguruan tinggi, menyelesaikan pendidikanmu dan mendapatkan gelar sarjana dibelakang namamu, maka dengan itu kau akan sepenuhnya mendapatkan restu dariku.. Kau mengerti, Yuna..?”


Aku tak tahu bagaimana aku harus menjawab. Azka mengetahui semuanya dan dia telah mengusirku. Aku akan pergi. Aku tidak akan berada disini untuk melakukan semua itu. Jadi apa yang bisa kukatakan sekarang?


Hanya tinggal menunggu waktu sampai Azka membuka mulut dan menceritakan semuanya, Ibunya juga pasti akan langsung mengusirku dari dalam rumahnya. Dia akan membenciku..


Tuhan..


Aku merasakan itu akan sangat menyedihkan dan aku mungkin tidak akan bisa mengatasi kemarahannya padaku. Aku harus secepatnya pergi..


“Kau mengerti apa yang aku katakan padamu, Yuna?”


Dia mengguncang bahuku, mungkin aku telah cukup lama terdiam dan tak menjawab pertanyaannya.


Aku menatapnya dan kemudiandengan perlahan mengangguk..


“Iya, aku ingin melakukannya..”


Aku ingin tapi aku takkan bisa melakukannya.


Itu apa yang sesungguhnya ingin aku katakan padanya.


“Baiklah.. Itu akan kita bicarakan lagi nanti bersama dengan suamiku. Sekarang aku perlu membantumu bersiap. Kau akan pergi mengikuti kelas hari ini kan? Kau tidak pusing?”


Aku mengangguk..


“Tidak lagi.. Aku bisa pergi sekarang..”


Pergi dari rumah ini..


Aku memaksakan senyum di bibirku ketika ibu Azka kemudian bergerak untuk mengambil pakaian yang telah dipilihkannya.


Setelah selesai dengan pakaianku, aku mengikutinya untuk duduk didepan meja rias. Dia terlebih dulu memberikan sedikit riasan diwajahku sebelum kemudian menyisir rambutku.


Ini akan menjadi yang terakhir kali..


Dan sekarang aku merasa perlu untuk menikmatinya.


“Jadi apa yang terjadi hingga kau merasa mual dan muntah?”


Dia bertanya ketika tengah memulai mengatur tatanan rambutku.


“um, mungkin.. Aku memakan sesuatu yang salah saat berada dijamuan makan malam itu”


“Oh, apa yang kau makan?”


“Em, sesuatu yang.. Tapi aku tak tahu apa namanya”


Aku tak tahu apa yang membuatku mual dan menjadi muntah, aku hanya mengira memang makanan yang ku makan itu yang menjadi penyebabnya. Ataukah hal itu sebenarnya pengaruh dari cemas, panik dan bercampur dengan perasaan takut yang kurasakan.


Aku tidak tahu..


Mendengar alasanku dan ketidak tauanku mengenai apa yang ku makan, dari cermin meja rias yang berada dihadapanku, aku mengetahui pada saat itu Ibu Azka langsung memutar mata kearahku. Dia menghela napasnya sebelum bersuara..


“Itu hanya menambah daftar yang harus kau pelajari..”


Dia meneruskan menata rambutku dan kami tak lagi saling berbicara setelahnya. Aku hanya terus memperhatikan apa yang dilakukannya dari cermin meja rias dan sampai kemudian Ibu Azka mengarahkan tatapannya padaku. Dia tersenyum ketika tatapan kami bertemu..


“Sudah selesai.. Ayo turun. Sebaiknya kau sarapan terlebih dulu dan aku akan memastikan kau meminum obat. Aku juga perlu memberimu vitamin. Yang ku lihat adalah daya tahan tubuhmu mungkin menurun. Seperti yang sudah ku katakan, aku tak ingin kau benar-benar sakit..”


Mengapa dia harus bersikap baik padaku..


Aku merasa tidak pantas menerima perhatian darinya. Dan pasti akan terasa lebih baik jika dia tetap bersikap keras padaku.


“Ayo Yuna..”


Dia meraih tanganku..


“Iya..”


Aku mengangguk dan mengikutinya keluar dari dalam kamar. Turun ke lantai bawah dan langsung menuju ruang makan, jantungku berdebar mengantisipasi kehadiran Azka disana.


Tapi tidak..


Dia tidak berada disana.


“Oh, Pa.. Dimana Azka?”


Aku memperhatikan Tn.Rian yang mengangkat kedua bahunya sebagai tanda ketidak tahuannya.


“Apa dia belum bangun? Astaga.. Azka..!”


Aku merasakan tubuhku kembali gemetar saat wanita itu bergerak melangkah menuju kamarnya. Seakan aku akan segera diadili begitu pria itu muncul.


“Azka.. Kau tidak.. Oh, Pa.. Apakah Azka sudah berangkat? Dia tidak ada dikamarnya?”


Aku melihat Ibu Azka kembali ke ruang makan.


“Kemana anak itu? Dia tidak berada dikamarnya..”


Dia baru menarik kursi untuk duduk ketika kemudian Bibi Lia datang..


“Nyonya, saya melihat Tuan muda berada di gudang penyimpan anggur”


“APA?”


“Azka sepertinya tertidur disana, Nyonya..”


“Astaga.. Yang benar saja. Pa.. Apa yang terjadi dengan Azka? Dia pasti meminum banyak anggur dan mabuk.. Anak itu benar-benar..”


Ibu Azka pasti akan langsung menemui putranya dan menanyakan apa yang terjadi dengannya. Dan Azka..


Dia mungkin akan langsung menceritakan kejadian semalam kepada kedua orangtua nya.


Tuhan..


Apa yang harus aku lakukan. Azka sudah memperingatkanku untuk pergi sebelum dia menceritakan semua itu pada mereka. Tapi sekarang, aku justru masih berada didalam rumahnya..


“Aku akan menemukannya..”


“Tetaplah disana Ma, aku masih baik-baik saja..”


Aku rasa tubuhku menjadi menggigil ketika mendengar suaranya. Aku seharusnya tidak melihatnya, tapi aku sadar dia sedang menatap padaku. Rambutnya kusut acak-acakan, matanya memerah semakin tajam saat menatap padaku.


Dengan itu, dia membuat sekujur tubuhku terasa dingin..


“Apa yang kau lakukan? Kau mabuk..?”


Wanita itu jelas tak menghiraukan apa yang di ucapkan putranya. Dia langsung mendekati Azka..


“Apa yang terjadi? Kau juga merokok..?”


Aku melihat Azka hanya diam ketika Ibu nya bahkan telah mendorong bahunya.


“Mama bahkan sudah lama tak melihatmu melakukannya. Bukankah kau telah lama berhenti merokok. Jawab Mama, Azka.. apa masalahnya? apa yang terjadi denganmu?”


“SUDAH KU KATAKAN AKU BAIK-BAIK SAJA, MA..!!”


Aku merasakan merinding mendengar nada suaranya yang membentak..


“Azka..”


“Biarkan Aku bersiap Ma, aku harus pergi ke kantor..”


Aku melihatnya ketika melangkah menuju kamarnya. Dia berjalan gontai dan langsung membanting pintu dengan suara keras, sesaat setelah dirinya masuk kedalam kamarnya.


Tubuhku bergidik ngeri menyaksikan hal itu tadi..


Sepertinya bukan hanya aku yang tersentak, tapi juga kedua orangtua nya yang merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Azka saat itu.


“Ya Tuhan.. Apa sih yang sebenarnya terjadi? Azka tidak pernah seperti itu, Pa. Apa sesuatu terjadi semalam pada saat jamuan makan malam itu, Yuna..?”


Wanita itu kini memfokuskan tatapannya padaku. Dan aku hanya bisa menggelengkan kepala padanya.


“Apa kau dan Azka bertengkar, Yuna..?”


Kini Tn.Rian yang mempertanyakan hal itu padaku.


Ya Tuhan..


Apa yang harus aku katakan sekarang..


“Tidak Tuan..”


Bibirku bergetar saat mengucapkannya.


“Kami tidak bertengkar..”


“Biarkan aku yang mengurus ini, Pa..”


Ibu Azka menarik pergelangan tanganku, menjauh dari sang suami.


“Jawab dengan jujur Yuna.. Apa yang terjadi dengan Azka pasti berhubungan denganmu kan?”


“Ibu..”


“Azka jelas telah mabuk.. Apa kalian bertengkar setelah kau mengatakan padanya kau hamil? Kau membohongiku.. Kau benar-benar hamil dan Azka tak bisa menerima itu? dan dia melampiaskannya dengan mabuk.. Kau juga jelas memiliki mata yang membengkak akibat tangis. Jangan kira aku tak memperhatikan itu.. Kalian pasti memiliki pertengkaran semalam. Maka sekarang, katakan dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi?”


Ya..


kami memililiki pertengkaran itu semalam. Azka menunjukkan seperti apa kemarahannya. Dia marah, marah besar padaku. Tapi Aku menggeleng dengan yakin untuk tuduhan konyol mengenai kehamilan..


“Tidak Bu..tidak seperti itu. Aku benar-benar tidak hamil.”


“Kau harus membuktikan itu!”


“Ibu.. Aku sedang mendapatkan siklus bulanan saat ini. Tidakkah Ibu mempercayaiku? perlukah aku memperlihatkannya..?”


Aku menggigit bibir bawahku ketika dia melotot padaku..


“Ya Tuhan.. Lalu apa? Jadi apa sebabnya? Aku tahu putraku dengan baik. Azka tidak mungkin bertingkah seperti itu tanpa sebab..”


Aku melihat wajahnya yang begitu khawatir.


“Jika bukan karna terjadi pertengkaran diantara kalian, itu pasti karna urusan perusahaan. Dia mungkin merasa stres apalagi setelah terjadi kebakaran itu. Azka mungkin memerlukan minuman untuk sedikit melarikan diri dari itu. Tapi merokok.. seberapa tinggi tingkat stres nya, hingga dia sampai kembali pada kebiasaan buruknya.. Oh putraku yang malang..”


Aku sedikit lega dia menyimpulkannya sendiri. Setidaknya aku tak akan menambah lagi kebohonganku.


“Aku akan berbicara dengan Azka nanti.. Ayo sekarang kau harus mengambil sarapanmu dan berangkat”


Aku mengangguk, mengikutinya kembali ke ruang makan.


“Papa.. ku harap kau tak terlalu menekan Azka dengan urusan perusahaan. Sepertinya dia sedang mengalami stres karna itu..”


“hm, Aku akan bicara dengannya nanti..”


“Tidak.. aku yang akan berbicara lebih dulu dengannya.”


Aku hanya diam ketika ayah dan ibu Azka membahas mengenai dugaan mereka tentang prilaku Azka tadi. Hal itu justru membuatku merasa kesulitan menelan makananku.


Aku menyudahi sarapanku dan mengatakan aku harus pergi dan seperti yang dikatakannya sebelumnya, Ibu Azka kemudian mengambilkan beberapa obat dan mengawasiku sampai aku memasukkan nya kedalam mulutku dan menelannya.


Setelah terlebih dulu berpamitan pada ayah Azka, aku sejenak terpaku saat dia meraih tanganku dan mengatakan aku tidak seharusnya pergi mengikuti kelas hari ini jika keadaan tubuhku sedang tidak baik. Dia menyarankanku untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Selalu, sampai saat ini aku menilai ayah Azka adalah seorang pria yang penuh perhatian dan membuatku tersentuh. Bahkan sekarang aku merasa berdosa padanya..


Aku mengatakan padanya bahwa aku akan tetap pergi. aku harus pergi. aku baik-baik saja dan dia tidak perlu mengkhawatirkanku.


Melangkah untuk keluar aku tahu ibu Azka mengikutiku. Mengantarku sampai di pintu depan dan menahanku disana..


“Benar kau merasa baik-baik saja?”


Aku mengangguk..


“Kalau begitu, pastikan kau tidak akan lagi meninggalkan kelas sebelum waktunya berakhir.. Aku akan mengurus Azka terlebih dulu sebelum berada disana untuk menjemputmu nanti. Setelahnya kita akan pergi ke acara lelang untuk amal. Aku juga akan mengajakmu menghadiri pameran..”


Aku hanya mengangguk dengan serentetan rencana yang dikatakannya.


“Aku harus pergi, Ibu..”


Aku benar-benar harus pergi. Keluar dari rumah ini dan meninggalkan kemewahan dibelakangku.


Aku tidak akan pernah kembali lagi..


“Hm, baiklah.. Aku juga akan membawakan pakaian ganti untukmu nanti..”


Aku berusaha keras untuk tersenyum meski sebenarnya aku sangat ingin menangis pada saat itu.


Aneh..


Mengapa aku merasakan langkahku seakan terasa berat. Seorang supir dan mobil telah menungguku. Aku seharusnya dengan cepat masuk ke dalamnya, namun yang ku lakukan justru terdiam menatap pada wanita yang berada dihadapanku. Dia kembali menunjukkan senyumnya padaku dan entah sesuatu semacam apa yang kemudian mendorongku untuk bergerak dan memeluk tubuhnya. Aku benar-benar memeluknya dan dia tidak menolak..


“Oh..”


Dia pasti terkejut..


“Aku mungkin akan merindukanmu, Bu..”


Maafkan aku. Jika suatu hari kau mengetahui apa yang sebenarnya telah ku lakukan, aku sangat berharap kau dapat memaafkan ku.


“Yuna..”


Aku merasakan tangannya mengusap pada punggungku.


“Aku akan pergi, maafkan aku..”


Aku beranjak tanpa berani menatapnya. Aku merasakan tatapannya yang tertuju padaku tapi aku tak berani untuk menoleh dan melihatnya.


Mataku memanas dan aku menangis ketika telah berada didalam mobil dengan seorang supir yang melajukannya.


“Anda baik-baik saja, nona..?”


“Iya Paman, tidak apa-apa.. Tolong antarkan aku dengan cepat. Kurasa aku akan sedikit terlambat..”


Aku menyeka airmata dengan ujung pakaianku, namun kemudian sang supir memberikan sekotak tisu padaku.


“Saya akan melakukannya, nona..”


Beberapa menit setelahnya, aku telah sampai di tempat dimana aku mengikuti kelas kepribadian. Turun dari mobil, Aku melangkah masuk ke dalamnya karna tahu Paman supir pasti telah di peringatkan untuk mengawasiku dan tidak akan pergi meninggalkanku sebelum aku berada didalam.


Aku tak benar-benar akan mengikuti kelas hari ini. Aku hanya menggunakannya sebagai alasan untuk keluar dari dalam rumah Azka. Dia telah mengusirku..


Dan pergi bukan lagi menjadi pilihan namun suatu keharusan.


Yang akan ku lakukan selanjutnya adalah menemui Mas Doni dan mengatakan padanya bahwa Azka telah mengetahui apa yang menjadi rencananya. Dan bagaimana yang harus kami lakukan selanjutnya.


Maka setelah mengintip dan memastikan mobil yang sebelumnya mengantarku tak lagi berada disana, aku keluar. Aku berjalan dengan cepat, hingga tanpa sengaja menabrak lengan seseorang dan membuat apa yang pada saat itu dibawanya terjatuh. Kertas-kertas itu berserakan dan aku harus menghentikan langkahku untuk membantunya..


“Maafkan aku.. Aku terburu-buru dan tidak sengaja..”


Aku mengumpulkan semuanya kemudian menyerahkan itu padanya. Saat itu, aku mengetahui dia sedang memperhatikanku. menatapku dengan seksama.


“Kau.. Yuna?”


“Iya.. Anda, dari mana anda mengetahui namaku..?”


Dia tersenyum..


“Kau tidak mengenaliku?”


Aku menggeleng, tapi didalam kepalaku aku berusaha untuk mengingat siapa wanita yang saat ini berada dihadapan ku.


Oh Tuhan..


“Anda.. Dokter Sulis..”


Dia mengangguk..


Ya..


Aku mengingatnya.


Dia adalah seorang dokter dirumah sakit yang pernah menangani Kak Yuri sebelum dipindahkan.


“Apa yang dokter lakukan disini?”


“Aku ingin menemui temanku.. Dia menjadi pengajar disini. Dan kau.. Apa yang kau lakukan?”


“Aku mengikuti salah satu kelas disini, dokter..”


Aku merasa Dia semakin awas ketika melihatku.


“Apa kau begitu sibuk, Yuna? Mengapa kau tak pernah lagi mengunjungi Yuri..?”


“Apa..?”


Aku tak mengerti dengan maksudnya.


“Apa maksud dokter?”


“Aku selalu menyempatkan diri untuk datang dan memeriksa keadaan kakakmu, Yuri.. Tapi aku belum sekalipun melihatmu disana..”


Jadi dia mengunjungi Kak Yuri diluar negri…


“Bagaimana dokter.. Bagaimana keadaan Kak Yuri?”


“Mengapa kau tidak datang saja untuk mengunjunginya?”


“Aku tidak bisa..”


“Jadi benar apa yang Doni katakan padaku.. Kau menelantarkan kakak mu demi seorang pria pengusaha itu dan kemewahan yang di berikannya padamu..”


Aku tercekat mendengar kata-kata nya yang diucapkan dengan sinis padaku..


“Tidak.. Dokter, apa yang anda katakan? Aku tidak pernah bermaksud menelantarkan kakak ku.. Tapi Mas Doni lah yang membawanya ke luar negri, dan membuatku berada jauh darinya. Aku ingin tapi aku belum bisa datang menemuinya. Aku bahkan tak tahu kemana Mas Doni menempatkannya. Tapi aku sepenuhnya percaya dia akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Kak Yuri..”


“Luar negri? Maksudnya..?”


Aku sedikit heran melihatnya mengerutkan dahi mendengar ucapanku..


“Iya, dokter.. Bagaiaman keadaan Kak Yuri setelah dia ditangani di luar negri? Bukankah tadi anda mengatakan telah mengunjunginya?”


“Tunggu Yuna.. Sepertinya kita harus bicara. Dan kau perlu tahu, Yuri tidak berada di luar negri..”


“Apa..??”


*


*


*


*


*


*


To Be Continued~