At First Sight

At First Sight
Episode 38



Setelah menyelesaikan sarapan pagi itu, Azka lebih dulu pergi dari rumah untuk berangkat ke kantor. Dan kini telah berada di dalam ruangannya. Memeriksa beberapa berkas yang telah berada diatas meja nya, ia kembali menerima beberapa laporan mengenai kinerja Doni yang kian berantakan dan berpotensi merugikan perusahan.


Ia sudah mencoba memanggil Doni agar menemuinya, bukan untuk mengkonfirmasi, karna Azka memastikan pria itu pasti akan mengelak. Ia hanya ingin mengetahui sejauh mana Doni akan mengatakan kebohongan terhadapnya.


Namun niatan Azka sepertinya belum akan terlaksana hari itu, karna Doni mengatakan masih belum sampai di kantor dan beralasan memiliki janji penting yang sudah dijadwalkan terjadi diluar kantor, hingga membuatnya mungkin tak bisa datang setidaknya setelah jam makan siang.


Azka menggeram sambil meremas lembaran kertas diatas mejanya. Bila dirinya mau, sangat mudah sebenarnya untuk menyingkirkan Doni. Ia cukup dengan melakukan pemecatan terhadapnya. Namun entahlah, hal itu justru tak termasuk dalam daftar rencananya.


Azka justru lebih tertarik dengan motivasi Doni yang sangat ingin menghancurkannya. Pastilah pria itu memiliki alasan yang lebih kuat mengapa sampai harus melakukan hal setega itu setelah kebaikan yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Ataukah alasan kuat itu hanyalah karna kondisi Yuri semata. Azka tak habis pikir bila seperti itu lah kebenarannya..


Pintu ruangannya diketuk, sebelum kemudian seseorang meminta ijin untuk masuk ke dalam ruangannya. Seseorang yang telah Ia sewa untuk melakukan beberapa penyelidikan, kini melenggang masuk ke dalam ruangannya.


“Maaf tidak menghubungi anda sebelumnya, Tuan..”


“Tidak masalah.. Hal penting apa yang membuatmu sampai perlu datang menemuiku? Biasanya kau cukup mengirimkan hasil penyelidikanmu melalui email padaku..”


“Saya merasa perlu datang, karna anda perlu untuk melihat secara langsung apa yang telah saya temukan”


Pria itu kemudian menyodorkan sebuah benda kecil ke hadapan Azka.


“Itu adalah beberapa potongan dari rekaman CCTV”


“Maksudmu?”


“Saya mengambil semua rekaman dari kamera CCTV disepanjang jalan yang memiliki kemungkinan dilewati oleh nona Yuri pada malam yang anda sebutkan sebelum nona Yuri menghilang dan akhirnya sempat kita temukan berada dirumah sakit jiwa..”


Pria itu menjelaskan secara gamblang. Mengatakan Ia menyisir beberapa jalan yang terpasang kamera pengawas, dan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan hasil rekamannya.


Azka benar-benar menghargai dan memastikan akan membayar mahal bila rekaman yang didapatkan pria itu akan mampu untuk menguak apa yang terjadi pada Yuri dimalam itu, setelah dirinya menolak pernyataan cinta yang diucapkannya.


“Putar untukku sekarang..”


Dengan memasukkan benda kecil itu pada sebuah laptop, pria itu kemudian menunjukkan beberapa gambar yang memperlihatkan Yuri didalamnya.


Namun Azka yang merasa tak puas dan tak terlalu yakin dengan hanya melihat dari layar laptop, kemudian menghubungkan rekaman itu pada layar yang cukup besar yang berada didalam ruangannya. yang biasa dipergunakannya untuk melihat hasil rancangan bisnis.


Dengan itu ia cukup dapat melihat dengan jelas gambaran Yuri disana. Yuri yang berjalan gontai dengan beberapa kali menyeka airmatanya..


“Anda dapat membenarkan bahwa wanita itu adalah nona Yuri?”


“Ya.. Dia memang Yuri”


Azka masih merasakan terkesiap, menyadari betapa malam itu Ia telah menyakiti hati Yuri dengan penolakan yang dilakukannya. Seharusnya ia mengerti perasaan seorang wanita yang rapuh.


Yuri jelas tak dapat menerima penolakan terang-terangan yang diucapkannya. Meski Ia tak memiliki maksud menyakitinya dan hanya bermaksud untuk mempertegas hubungan profesional kerja yang diharapkannya tak tercemari oleh perasaan pribadi, namun setelah melihat dari wajahnya, Azka benar-benar tak menyangka jika Yuri sampai sesedih itu setelah dia berlari pergi meninggalkannya.


Pria itu kembali menunjukkan rekaman gambar yang lain, dan Azka terus mengawasi dengan teliti ketika ia melihat Yuri yang terus berjalan dan tak memperhatikan pada siapa yang berada disekitarnya. Gadis itu beberapa kali hampir tersandung dan bahkan menabrak pejalan kaki yang lain, hingga beberapa orang sepertinya meneriakkan umpatan kasar padanya, namun Yuri terlihat tak mempedulikan.


Dalam rekaman selanjutnya Yuri kemudian menghilang masuk disebuah gang kecil, dan sang pria yang menunjukkan itu pada Azka mengatakan tak menemukan terdapat kamera pengawas yang terpasang disana hingga tadinya dirinya tak mengetahui kemana gadis itu pergi. Namun setelah menyelidiki lagi, ternyata lokasi jalanan itu berada dekat dengan rumah Doni, dan gang kecil yang dimasuki oleh Yuri mengarah kesana.


“Jadi malam itu Yuri berada dirumah Doni..?”


Pria itu menunjukkan gambaran dari Yuri yang berlari tanpa alas kaki dan memanggil sebuah taksi yang kemudian membawanya. Dari sang pengemudi taksi yang berhasil ditemuinya, sang pria mengatakan jika Yuri langsung menuju rumahnya.


“Itu berarti dalam rentan waktu setelah Yuri meninggalkanku malam itu, dia menghabiskan waktu dirumah Doni?”


Sang pria mengangguk..


Azka meremas frustasi rambut dikepalanya.


“Lalu apa yang terjadi disana..? Dan bagaimana kemudian dia sampai harus berada dirumah sakit jiwa..!!”


Sayangnya rekaman itu masih belum juga menguak apa yang terjadi..


“Maaf Tuan.. Itu juga pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya”


Sang pria kemudian juga mengatakan pada Azka jika tak terdapat kamera pengawas disekitar lokasi rumah Yuri. Hingga ia masih belum mengetahui kapan tepatnya Yuri dibawa ke rumah sakit jiwa.


Azka mondar-mandir didalam ruangannya. Berpikir keras untuk dapat mengaitkan apa yang terjadi antara Doni dan Yuri malam itu. Doni jelas mengetahui segalanya..


“Jika kau bisa mendapatkan rekaman CCTV dimalam itu, Kau juga seharusnya bisa menemukan kemana Yuri dibawa dihari menghilangnya dia dari rumah sakit jiwa itu. Mobil Doni.. Kau bisa melacak melalui mobil Doni. Aku yakin hari itu dia yang membawa Yuri dari sana..”


“Itu juga sudah saya lakukan Tuan.. Namun sayangnya, Tuan Doni tak menggunakan mobil miliknya. Saya menduga dia sengaja menyewa mobil yang lain. Itu menyulitkan saya untuk menyisir rekaman CCTV nya..”


“Sialan..!”


Azka menggertakkan gigi ketika kemudian melempar beberapa berkas dari atas mejanya. Ternyata bukan hal yang mudah untuk nya mengetahui apa yang telah terjadi dimalam itu.


“Saya harap Tuan sedikit bersabar.. Saya sedang mencoba mengorek informasi dari seorang dokter wanita yang menangani nona Yuri saat itu. Dia jelas mengetahui bagaimana kondisi pasti dari nona Yuri..”


“Apa yang akan kau lakukan? Kau tidak mungkin akan berperan menjadi seseorang yang juga mengidap ‘kegilaan’ bukan?”


Pria itu hanya memasang senyum misterius diwajahnya.


“Saya seorang agen Tuan.. Saya dapat melakukan cara apapun dalam melakukan penyelidikan. Saya dibayar untuk hal itu.. Maka anda bisa menunggu informasi lanjutan yang sesegera mungkin akan saya kabarkan..”


Azka menghela napasnya dengan berat.


“Baiklah.. Aku menunggu secepatnya. Nanti aku akan mentransfer sejumlah uang ke dalam rekeningmu”


“Saya menghargai itu.. Terimakasih Tuan..”


Azka menekan pelipisnya ketika pria itu kemudian keluar dari dalam ruangannya, tak berapa lama setelahnya seorang staf mengetuk pintu dan menyampaikan sesuatu padanya.


“Anda telah dijadwalkan berada di Cina malam ini Pak.. Penerbangan pada siang nanti telah disiapkan”


Azka mengerang. Ia tak seharusnya melupakan jadwal kerjanya hari itu.


***


To be continued