At First Sight

At First Sight
Episode 77



Pada keesokan harinya, setelah pada pagi hari mengantar dan menemani Yuri untuk melakukan sesi terapi kejiwaannya bersama dengan Sulis, dan kemudian menjalani terapi berjalan dengan Fariz pada menjelang siang hari, Yuna baru membawa Yuri kembali pulang kerumah Azka pada sekitar pukul dua siang..


“Apa sekarang kau akan membiarkan adikmu untuk bekerja?”


Tak disangka oleh Yuna, bahwa Ny.Dania yang pada saat itu terlihat serius menyimak siaran televisi dihadapannya, ternyata sedang menunggu kedatangannya.


Wanita itu memang telah beberapa kali menelponnya dan menanyakan keberadaannya selama ia masih berada dirumah sakit tadi..


“Aku sudah merelakan jam kerjanya lebih dari setengah hari untuk hanya mengurusmu.. Bukankah aku seseorang yang sangat baik hati untuk ukuran pekerja seperti adikmu itu..?”


Ucapannya terdengar sinis, baik Yuri ataupun Yuna sadar, ucapan itu jelas tertuju untuk Yuri.


“Maafkan saya, nyonya.. Tapi saya akan..”


Yuri meraih tangan Yuna dan meremasnya, menghentikan Yuna untuk berbicara.


“Maafkan saya, Nyonya.. Saya yang bersalah. Tolong jangan menyulitkan Yuna..”


Ny.Dania melebarkan mata mendengarnya..


“Oh, yang benar saja.. menyulitkannya? aku lebih tahu apa yang harus kulakukan pada pekerja seperti adikmu..”


Meraih tas tangannya yang berada diatas meja, Ny.Dania juga lantas meraih dan menarik tangan Yuna dari sana..


“Ikut denganku sekarang.. banyak tugas yang harus kau kerjakan. Kau tak perlu ikut denganku Jena.. hanya pastikan kau menjaga kakaknya dengan baik.”


Jena mengangguk mengerti. Sedangkan Yuri masih terus menatap pada Yuna yang sudah berjalan melewati pintu depan, mengikuti Ny.Dania yang masih menarik tangannya.


“Mari nona, saya akan mengantar anda kekamar?”


“Bagaimana dengan, Yuna? Apa dia akan baik-baik saja? Apa yang akan dilakukan ibu Azka padanya?”


“Anda tidak perlu cemas, nona. Tidak akan terjadi apa-apa pada nona Yuna. Dia hanya akan melakukan pekerjaannya, menemani Nyonya kemanapun beliau pergi. Saya yakin, Nyonya hanya akan meminta nona Yuna untuk menemaninya berbelanja..”


Tepat seperti apa yang dikatakan Jena pada Yuri, Ny.Dania memang sudah merencanakan akan memuaskan dahaganya untuk berbelanja, yang nyaris tak pernah dilakukannya setelah Yuna berhari-hari berada dirumah sakit.


Ny.Dania telah lebih dulu menghubungi beberapa butik yang ingin ia datangi, dan meminta agar menyiapkan koleksi-koleksi terbaru yang mereka punya. Hasilnya, dari ketiga butik yang mereka datangi selama kurun waktu sekitar tiga jam, Yuna membawa setidaknya lima paper bag ditangannya. Dan hal itu benar-benar membuatnya kewalahan menghadapi sikap Ny.Dania yang jelas terlihat gila-gilaan saat membelanjakan uang nya.


“Aku ingin kau memakai semua itu dalam acara-acara yang akan kita hadiri minggu depan..”


Ny.Dania menghitung setidaknya telah ada tiga undangan dari teman-temannya, dua undangan pesta ulang tahun, acara amal dan kegiatan sosial lainnya.


Dan Yuna tak menunjukkan reaksi lain, kecuali menganggukkan kepalanya.


Setelah mendatangi ketiga butik tadi, Ny.Dania kemudian membawa Yuna kesebuah salon. Meminta pekerja salon untuk mengurusnya, sementara ia juga melakukan beberapa treatmen untuk perawatan tubuhnya.


Setelah kekesalan yang sebelumnya sempat dirasakannya, Ny.Dania cukup merasakan kesenangan karna setelah berhari-hari ia merasa kesepian, Yuna kembali bersama dengannya.


Gadis itu menjadi miliknya sendiri saat berada diluar rumahnya seperti ini. Tidak bisa dipungkiri, semenjak munculnya sang kakak, Yuri dan bahkan baru sehari berada dirumahnya, Ny.Dania mulai merasa kehilangan gadis itu. Yuna tidak lagi terfokus padanya, tapi gadis itu harus membagi perhatiannya terhadap sang kakak dan sesekali juga pada Bibi Lia. Dan hal itu membuat Ny.Dania merasa kehilangan banyak waktunya yang seharusnya bisa ia lewatkan bersama dengan Yuna.


“Yuna..”


“Iya, Ibu..”


“Aku ingin kau mengganti warna rambutmu, mungkin kita bisa menggunakan warna yang sama. Bagaimana menurutmu dengan yang sama. Bagaimana menurutmu dengan yang ini?”


Yuna langsung menggelengkan kepalanya..


“Aku tidak bisa melakukannya..”


“Kenapa? Bukankah ini warna yang bagus?”


“Aku tidak ingin terlihat mencolok didepan Kak Yuri. Dia akan mencurigaiku..”


Ny.Dania mendengus mendengar alasannya..


“Sepertinya kakakmu benar-benar menjadi penghalang. Baiklah, kita tidak akan melakukannya kalau kau tak mengiginkannya”


Yuna tersenyum mendengarnya..


“Terimakasih Ibu..”


“Tapi setelah semua ini selesai, kau harus berada dikelas kepribadian dan sebagai ganti penolakanmu untuk mengganti warna rambut, aku akan meminta penambahan waktu dua kali lipat pada jam belajarmu. Aku sudah mengatur jadwal, hanya perlu menghubungi guru pengajarmu. Dan aku akan segera melakukannya..”


Yuna memberengut mengetahui Ny.Dania tak main-main untuk hal itu, karna wanita itu benar-benar menghubungi guru pengajarnya dan berbicara beberapa lama dengannya. Sampai kemudian Ny.Dania kembali menghampirinya. Dan kemudian selesai dari salon itu, Ny.Dania justru terlebih dulu mengajaknya kesebuah restoran cepat saji, menikmati makan bersama, sedikit bersantai dengan melakukan obrolan yang didomonasi oleh suara Ny.Dania yang menceritakan teman-temannya.


Untung saja mood Ny.Dania tak berlanjut menjadi buruk karna penolakan yang tadi sempat dilakukan oleh Yuna, dan hal itu terlihat dari seringnya wanita itu menunjukkan senyumnya disela-sela ceritanya. Hal itu juga diyakini Yuna karna ia akan mengganti penolakan itu dengan mengikuti kelas kepribadian selama lebih dari dua jam seperti yang diinginkan Ny.Dania untuk dilakukannya.


Oh..


Sungguh kelas yang membosankan menurutnya.


“Baiklah Yuna, aku akan meninggalkanmu.. Aku tak bisa menungguimu karna aku memiliki janji untuk menemani ayah Azka bertemu dengan teman lamanya. Supir yang akan menjemputmu nanti. Bersenang-senanglah..”


Yuna memaksa menunjukkan senyum diwajahnya, meski setelah mobil yang ditumpangi Ny.Dania melaju meninggalkannya, Ia justru menekuk wajahnya.


Bersenang-senang seperti apa maksudnya?


Kelas itu jelaslah bukan kelas yang menyenangkan untuknya..


Yuna hanya bisa mendengus dan menyeret kakinya masuk kedalam kelas yang segera akan diikuti olehnya.


***


Beberapa jam setelah menyelesaikan kelas yang dianggapnya membosankan, Yuna akhirnya bisa keluar dari dalam ruang kelas itu dengan perasaan lega dan langkah ringan seakan puluhan beban dipundaknya telah terangkat.


Namun kemudian sesuatu yang berbunyi dari dalam tas selempang yang dikenakannya, sejenak menghentikan langkahnya. Satu pesan masuk kedalam inbox ponselnya dan Yuna dengan segera membukanya, tahu bahwa itu adalah pesan yang berasal dari Azka. Seharian pria itu tidak menghubunginya, begitupun sebaliknya. Dan baru saat itu Azka mengirimkan pesan padanya.


‘Aku begitu sibuk hari ini. Dan lelah dan merindukanmu 😊’


Yuna tersenyum melihat beberapa emoticon yang menyertainya. Jemarinya baru saja ingin bergerak diatas layar ponselnya untuk membalas pesan itu, tapi satu pesan lagi dari Azka mendahuluinya..


'Tidak perlu membalas pesanku. Hanya cepatlah katakan pada Paman untuk membawamu pulang. Lakukanlah sekarang, Ini perintah!!'


Yuna mendengus membaca kalimat terakhir itu, tapi tanpa sadar ia dengan cepat kembali memasukkan ponsel miliknya kedalam tas, dan berlari kedepan gedung untuk menghampiri seorang supir yang telah berada disana untuk menjemputnya.


“Paman..!”


“Iya.. Ayo cepat kita pulang, Paman..”


Yuna benar-benar melakukan apa yang Azka perintahkan dalam pesannya. Sang Paman sopir itu mengangguk sambil membukakan pintu untuk Yuna.


Baru sekitar pukul sepuluh malam itu, setelah sang supir menghentikan laju mobilnya, Yuna kembali menginjakkan kakinya didalam rumah Azka. Keadaan rumah sepi. Ayah dan Ibu Azka pasti belum pulang saat itu. Maka kemudian Yuna bergegas untuk mencari keberadaan Azka saat itu.


“Pak ..”


Yuna memanggilnya lirih, Ia memeriksa kedalam ruang kerjanya namun Azka tak terlihat berada didalamnya.


Oh..


bukankah pria itu mengatakan lelah, tadi?


Maka tak mungkin ia berada diruang kerjanya.


Yuna lantas mengintip kedalam kamarnya, mencarinya diruang makan hingga ke halaman belakang rumah, tapi Azka masih belum terlihat.


“Dimana sebenarnya pria itu? menyusahkan sekali. Pak Azka..”


Yuna menggerutu dan akhirnya memutuskan untuk memeriksa keadaan Yuri didalam kamarnya.


Namun apa yang kemudian dilihatnya pada saat itu, diluar dari dugaannya. Azka sedang berada didalamnya, membopong tubuh Yuri dari kursi roda untuk kemudian membaringkannya diatas tempat tidur.


“Azka.. Bisakah kau disini dan menemaniku sampai aku tertidur?”


Yuna melihat dengan tanpa keraguan Azka mengangguk mengiyakan keinginan Yuri. Bahkan kemudian Azka menarik sebuah kursi dari depan sebuah meja rias yang berada didalam kamar itu, dan menggunakannya untuk duduk disamping tempat tidur Yuri.


“Tidurlah, aku akan berada disini dan menjagamu..”


Azka juga mengusap rambutnya dan bahkan menggenggam tangan Yuri.


Melihatnya, Yuna mendadak merasakan dadanya yang terasa nyeri dan kedua matanya memanas. Ia tak tahu apa yang kemudian akan terjadi pada dirinya sendiri, andai ia memaksakan diri untuk tetap berdiri disana dan melihat bagaimana Azka memperlakukan kakaknya.


Maka dengan kesadaran penuh Yuna bergegas beralih. Ia sedikit berlari ketika meninggalkan depan pintu kamar Yuri, hingga tanpa sadar bertubrukan dengan Jena.


“Oh, nona.. Anda sudah pulang.. Ada apa? Anda terlihat tergesa-gesa?”


“Aku ingin pergi. Katakan pada Kak Yuri jika dia bertanya padamu, katakan aku.. Aku masih memiliki pekerjaan dari Nyonya yang harus kuselesaikan.”


“Tapi nona.. nona Yuna..!”


Yuna tak hirau dengan suara Jena, ia malah berlari lebih cepat keluar dari dalam rumah Azka. Meminta seorang security untuk membukakan pagar, dan selanjutnya Yuna sudah berjalan menyusuri sepanjang trotoar.


Entah akan kemana ia, yang dirasakannya hanya ingin menjauh. Menjauhi apa yang tadi dilihatnya dan anehnya terasa menyesakkan dadanya.


Ya Tuhan..


Ada apa sebenarnya dengan dirinya?


Terlalu sensitifkah ia saat itu?


“Husna..”


Yuna terpikir untuk menelpon temannya, dan Husna lah yang kemudian dihubungi olehnya.


“Oh, Yuna? Kaukah itu..?”


Yuna tersenyum mendengarnya..


“Iya, ini aku. Bagaimana kabarmu?”


“Aku baik.. Tapi hari ini benar-benar lelah. Setelah menjadi resepsionis dikantor tunanganmu yang tampan dan kaya itu, Aku mengambil tambahan kerja ditempat lain selama tiga jam penuh..”


“Benarkah?”


“Hm, seperti itukah keadaanku. Tapi tunggu, ada apa tiba-tiba kau menghubungiku?”


“Bagaimana dengan Siska?”


Yuna mengalihkan pertanyaan Husna dan masih sambil menyusuri pinggiran jalan yang mulai sepi.


“Dia mencoba melakukan hal yang sama sepertiku.. Kebetulan dia sedang menginap ditempatku, dia terlalu lelah untuk dapat menyeret kakinya sampai didepan rumahnya. Dan sekarang dia sudah tidur.. Yuna, ada apa?”


“Em, Tidak.. Aku hanya membutuhkan teman”


“Selarut ini? Kenapa?”


“Kupikir aku bisa mengajak kalian untuk minum Kopi.. Tapi..”


“Astaga, apa kau sedang memiliki masalah? Apa yang terjadi, Yuna? Kau bertengkar dengan tuan muda?”


Yuna menggigit bibir bawahnya sebelum kembali bersuara.


“Tidak.. Bukan seperti itu. Aku hanya merasa tiba-tiba.. Tiba-tiba aku merindukan kalian”


“Oh, Yuna.. Kami juga merindukanmu. Kau bisa datang kesini jika kau mau..”


“Kau lebih baik beristirahat. Kita bisa pergi lain waktu. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Sampaikan salamku pada Siska..”


“Kau serius tidak terjadi apa-apa?”


“hm, istirahatlah..”


“Baiklah..”


Yuna tidak mungkin akan mengganggu temannya yang kelelahan dan membutuhkan beristirahat. Jadi akan kemana dirinya?


Pulang kerumahnya menjadi satu-satunya pilihan..


Maka kemudian ia menghentikan sebuah taksi untuk mengantarkannya kealamat rumahnya.


***


to be continue