
Melangkah cepat saat berada dikoridor rumah sakit menuju ruang terapi Yuri, Yuna sempat sejenak menghentikan langkahnya saat seorang pria terlihat berdiri didepan pintu ruang terapi, dan sepertinya tengah mengintip kegiatan yang berada didalamnya.
Siapa dia?
“Dimana Jena? Apa aku sudah terlambat datang..?”
Gumam Yuna sambil kemudian meneruskan langkahnya. Mengira mungkin bukan sang kakak yang saat ini berada diruang terapi itu.
“ehmm..”
Suara berdeham dari Yuna sepertinya mampu mengejutkan pria itu..
“Maaf Tuan, apa yang anda lakukan disini?”
Yuna sedikit melirik kedalam ruangan, dan melihat Yuri yang pada saat itu masih sedang melakukan terapinya bersama dengan sang dokter.
“Ah, maaf.. Saya hanya ingin berbicara dengan dokter itu. Tapi sepertinya dia sedang menangani pasien. Saya akan menunggu saja..”
Ucap pria itu yang kemudian berlalu dari hadapan Yuna, membuat Yuna mengerutkan dahi melihatnya.
“Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi dimana? Apa wajahnya saja yang mirip? Tapi mirip dengan siapa..?”
Yuna menggumam sendiri, dan kemudian dibuat terkejut saat Jena menyentuh bahunya.
“Nona Yuna..”
“Astaga, Jena.. Kau mengagetkanku..”
“Oh, maafkan saya nona.. Saya tidak bermaksud seperti itu”
“Aku kira Kak Yuri sudah selesai melakukan terapi karna aku tak melihatmu tadi..”
“Ah, sepertinya sebentar lagi..”
Jena melihat pada jam dipergelangan tangannya.
“Dan darimana kau tadi?”
“Oh, saya membeli ini sebentar..”
Jena menunjukkan sekaleng minuman bersoda ditangannya.
“Apa anda mengingkannya nona?”
“hm, boleh.. Dan tolong untuk Kak Yuri juga..”
Jena mengangguk dan segera beranjak dari hadapannya.
Yuna lantas mengetuk pintu dan masuk kedalam ruang terapi itu.
“Kakak, Dokter Ahmad, selamat siang..”
Yuna tersenyum membawa langkahnya mendekat pada Yuri dan sang dokter. Ia mungkin tak menyadari sang kakak pada saat itu hampir-hampir tak mengenalinya. Jika bukan karna senyum diwajahnya, Yuri takkan mengenali Yuna sebagai adiknya, adik kecilnya.
Tampilan Yuna sangatlah berbeda. Dengan bibir berwarna merah, rambut kecoklatannya yang ditata menjadi sedikit ikal membingkai wajahnya dengan sempurna.
Ditambah dengan setelan yang dikenakannya, sepasang anting yang menghiasi kedua telinganya dan juga sebuah liontin dari kalung yang dikenakannya, yang mengintip dibalik scraf yang melilit lehernya, nampak menunjukkan kilaunya yang indah.
“Yuna..”
Yuri menggumam, sekedar untuk memastikan gadis itu benar adalah Yuna, adiknya.
“Kakak.. Apa terapinya sudah selesai?”
Yuri hanya mengangguk, masih tak lepas memperhatikannya.
“Yuna..”
“hm?”
“Kau sangat cantik, Yuna. Ya Tuhan.. Aku hampir tak mengenalimu. Siapa yang membuatmu terlihat begitu mempesona seperti ini?”
Yuri mengulurkan tangan untuk meraihnya. Rasanya Ia belum pernah melihat Yuna seperti itu.
Selama beberapa hari ini, Yuri memang belum sekalipun memergoki Yuna dalam tampilannya yang sudah didandani oleh Ny.Dania. Ia selalu lebih dulu pergi kerumah sakit untuk jadwal terapinya. Atau jika Ia berada dirumah dan tidak memiliki jadwal terapi itu, Ny.Dania lah yang mengambil inisiatif dengan terlebih dulu membawa Yuna ke salon, sebelum keduanya pergi keberbagai acara yang dikehendaki oleh Ibu Azka itu.
Ny.Dania jelas tahu, jika gadis itu tak mungkin mau didandani ketika sang kakak bisa melihatnya. Tak ingin menimbulkan kecurigaan sang kakak, begitu alasan yang selalu diucapkannya. Yuna juga menyiasati dengan terlebih dulu menghapus riasan wajahnya, dan bila perlu mengganti pakaiannya, sebelum ia kembali pulang kerumah Azka.
Namun tadi, Yuna bahkan tak terpikir dengan semua itu. Ia terlalu senang saat Ny.Dania mengijinkannya untuk menyusul Yuri, hingga melupakan tampilannya yang pasti terlihat mencolok bagi sang kakak pada saat itu.
“Yuna..”
Yuri meremas tangan Yuna untuk menyadarkannya yang hanya terdiam tak menjawab apa yang ditanyakannya.
“Ah, Iya Kak..”
“Apa kau baru saja menghadiri suatu acara?”
“Iya, Nyonya memiliki acara yang harus dihadiri dan dia memintaku untuk menemaninya.. Aku, Aku hanya..”
“Kau terlihat cantik seperti ini..”
Yuri mengulurkan tangan untuk menyentuh scraf dileher Yuna. Merasakan kelembutan dari bahan yang digunakannya, dan jelas sebuah scraf itu tidak berharga murah. Apalagi dengan yang lain, yang pada saat itu melekat ditubuh Yuna.
“Nyonya yang meminjamkannya padaku, Ini bukan milikku, Kak..”
Nada suaranya terdengar gugup, saat kemudian Yuna melepas scraf itu dari lehernya, namun tidak menyadari ia justru kemudian memperlihatkan keseluruhan kilauan kalung yang mempercantik leher jenjangnya.
“Kau tidak perlu melepasnya, Yuna. Kau cantik mengenakan itu..”
Yuri tersenyum, namun tersimpan banyak keheranan yang melintas dibenaknya.
Ia bahkan kadang merasa tertekan dengan sikap ketus Ny.Dania. Jadi bagaimana mungkin wanita itu bisa sedemikian baik terhadap Yuna, jika sang adik hanyalah pekerja biasa?
“Dokter Ahmad, bagaimana dengan terapi Kakak ku hari ini?”
Suara Yuna yang kemudian berbicara dengan sang dokter, yang lantas mengalihkan perhatian Yuri dari apa yang pada saat itu berada dalam pemikirannya.
“Sejauh ini semakin baik dan malah sangat baik..”
Fariz menanggapi pertanyaan Yuna pada saat itu dengan senyum terkembang diwajahnya.
“Senang melihatmu lagi, Yuna..”
“Ah, iya dokter..”
Yuna dibuat merona oleh karna pernyataan tiba-tiba dari sang dokter pada saat itu.
Ketika kemudian Ia berniat akan menanyakan lebih jauh mengenai terapi Yuri, suara ketukan yang terdengar pada pintu ruangan itu sudah lebih dulu menghentikannya.
“Ny.Ahmad mengirim makan siang anda dokter..”
Seorang suster membawakan beberapa kotak bekal yang kemudian diletakkannya diatas meja.
“Terimakasih suster..”
Setelahnya, Fariz kembali mengarahkan pandangannya pada Yuna dan Yuri yang terlihat memperhatikan suster tadi yang membawakan kiriman makan siang untuknya.
“Anda memiliki istri yang begitu perhatian, dokter..”
Yuna berkomentar, sementara Fariz hanya tersenyum mendengarnya.
“Dia mengirim dan pasti memasak sendiri makan siang untuk anda, Istri anda pasti sangat mencintai anda, dokter”
“Bukan istri, tapi ibuku..”
“Apa?”
“Ibuku yang selalu mengirim makan siang kemari”
“Jadi anda belum menikah?”
“Kenapa? Kau berminat menikah denganku.. Menjadi istriku dan menggantikan ibuku memasak dan mengirim makan siang untukku?”
Oh dear..
Yuna terbengong, sementara Yuri justru sedikit tertawa mendengarnya dan melihat betapa memerah wajah Yuna saat itu.
“Saya hanya mengira jika pria seperti anda pasti sudah menikah..”
“Belum.. Jadi kau bisa memikirkan tawaranku tadi..”
“Apa?”
Yuna menunjukkan dahinya yang berkerut-kerut mendengarnya.
“Anda membuat adik saya malu, dokter..”
Ucap Yuri menengahi, yang kemudian ditanggapi dengan senyuman dari Fariz.
“Aku sudah selesai, Yuna.. Ayo kita pulang”
Ajak Yuri kemudian yang dirasa Yuna menyelamatkannya dari candaan sang dokter, yang memang telah membuatnya merasa malu untuk menanggapinya.
“Baiklah.. Sampai berjumpa lagi dengan kalian, emm.. lusa. Kau memiliki jadwal lagi denganku lusa kan?”
Yuri mengangguk mengiyakan..
“Terimakasih dokter..”
Yuna berucap sambil kemudian mendorong kursi roda yang telah diduduki Yuri keluar dari ruang terapi itu.
“Dimana Jena?”
“Tadi aku memintanya untuk membelikanku minuman, aku akan menghubunginya nanti..”
Yuna mendorong kursi roda itu makin menjauh dari ruang terapi, melewati koridor-koridor disana, dan kemudian masuk kedalam lift yang akan membawanya turun sampai ke lobi rumah sakit.
“Sebentar Kak, aku akan menghubungi Jena..”
“Azka..”
Yuna mendengar gumaman Yuri saat itu, dan melupakan niatnya untuk menghubungi Jena. Ia dibuat terkejut ketika kemudian melihat langkah Azka yang tiba-tiba muncul dilobi rumah sakit itu, bergerak kearahnya yang sedang mendorong kursi roda Yuri.
“Yuna..”
Dan secara kebetulan bertepatan dengan itu, sebuah suara terdengar dari belakang tubuhnya. Saat kemudian Yuna menghentikan langkahnya, berbalik untuk mencari tahu siapa yang pada saat itu memanggilnya, Yuna menemukan sang dokter, Fariz lah yang melakukan hal itu. Dokter itu sedikit berlari mendekatinya..
“Kau meninggalkan ini diruang terapi tadi..”
Fariz mengulurkan sebuah scraf berwarna biru muda ditangannya..
“Oh..”
Yuna meraba lehernya, menyadari benda itu memang sempat ia lepas dan pasti tak sadar telah terjatuh diruang terapi tadi. Ia pun lantas menerima scraf itu dari tangan sang dokter..
“Iya, terimakasih dokter..”
Fariz tersenyum menyambut dan membalas ucapan terimakasih dan senyuman yang sama dari Yuna. Namun kemudian suara berdeham dari seorang pria yang berjarak tak jauh darinya yang kemudian membuat Fariz mengalihkan perhatiannya dari terus memperhatikan senyum dibibir Yuna saat itu.
Begitupun dengan Yuna yang kemudian membalikkan tubuhnya dan menemukan Azka telah berdiri dihadapannya. Dihadapan kursi roda yang diduduki Yuri tepatnya. Yang kemudian mengingatkanya jika sebelum Fariz memanggilnya, kemunculan Azka disana telah lebih dulu mengejutkannya.
“Azka..”
Yuri jelas nampak berbinar melihatnya, berbeda dengan Yuna yang entah karna apa justru merasa tegang dengan keberadaan pria itu disana.
Untuk alasan apa Azka tiba-tiba muncul?
Yuna hanya bisa mempertanyakan hal itu didalam hatinya, sementara bibirnya menggumam lirih..
“Tuan muda..”
“Hai..”
Azka menarik senyum saat kemudian lebih dulu memberikan sapaan pada Yuri, dan mengabaikan gumaman Yuna yang masih jelas didengar olehnya.
“Azka, kau datang..”
“Aku baru menyelesaikan pertemuan disekitar sini dan teringat pada jadwal terapimu, apa kau sudah selesai dengan terapi hari ini?”
Meski yang benar adalah ketika tadi ia menelpon ibunya untuk menanyakan keberadaan Yuna, yang memiliki kebiasaan tidak menjawab ponselnya, ibunya malah memberitahukan padanya bahwa Yuna menyusul Yuri kerumah sakit.
Maka sudah pasti Yuna akhirnya bertemu dengan dokter terapi Yuri, yang lantas membuat Azka tak perlu berpikir lagi untuk meninggalkan kantornya..
Yuri kemudian mengangguk untuk menjawab pertanyaan Azka tadi..
“Apa yang kau rasakan pada kakimu sekarang?”
“Aku merasa kakiku lebih ringan untuk digerakkan..”
“Kedengarannya bagus..”
“Nona Yuri mengalami perkembangan yang signifikan, Tuan..”
Azka mengalihkan perhatiannya dari Yuri, ketika mendengar suara Fariz yang menyahuti. Tak ingin sebenarnya melakukan pembicaraan dengan dokter itu. Apalagi setelah yang dilihatnya beberapa saat lalu antara sang dokter dan Yuna.
“Bahkan saya dapat mengatakan perkembangannya cukup pesat..”
“Oh, anda dokter Ahmad itu kan?”
“Ya, saya orangnya..”
“Anda pasti merasa senang, setelah lelah bekerja dirumah sakit dan tiba saatnya anda pulang, dirumah sudah ada istri yang menunggu..”
Azka menyadari kedua mata Yuna yang langsung membelalak mendengarnya, namun Ia mengabaikannya. Azka juga mengabaikan kerutan pada dahi sang dokter ketika itu, Ia bahkan tak perduli dengan apa yang diucapkannya yang telah melenceng dari topik yang dibicarakan sebelumnya dan malah keluar dari jalur.
“Sayangnya saya masih belum merasakan kesenangan yang semacam itu. Dirumah, saya tidak memiliki istri yang menunggu”
Fariz, menanggapi..
“Bukankah anda sudah menikah?”
“Tidak, saya belum menikah.. Sepertinya anda salah menerima informasi, Tuan..”
“Sepertinya memang begitu.. Seseorang pasti telah mengatakan kebohongan padaku..”
Oh dear..
Yuna merasa ingin ada seseorang yang memberinya mantra sulap atau lebih baik seseorang itu yang melakukan magic terhadap dirinya, apa sajalah agar bisa membuatnya menghilang pada saat itu, dengan sangat cepat.
Mengetahui seringai diwajah Azka ketika kemudian pria itu menatapnya, membuat Yuna seketika memejamkan mata, dan menggigit kuat bibir bawahnya.
Oh, mati sajalah aku..
Rutuknya kemudian, laksana ingin mengubur dirinya sendiri pada saat itu.
“Tapi mendengar anda mengatakan hal seperti itu, membuat saya ingin segera mendapatkan istri yang seperti itu..”
Tatapan mata Fariz yang disertai dengan senyum diwajahnya yang mengarah pada Yuna, seketika membuat Azka mengumpat didalam hatinya.
Sialan..
Bukankah firasatnya terbukti benar?
Dokter itu mengincar gadisnya..
Kedua tangan disisi tubuhnya mengepal, sangat ingin rasanya meninju dokter itu tapi setelah terlebih dulu ia menarik tubuh Yuna dan mengklaim gadis itu sebagai miliknya.
Tapi Azka hanya bisa memberikan tatapan keras memperingatkan, yang entah dapat ditangkap atau tidak oleh sang dokter pada saat itu.
Karna amarah yang dirasakannya jelas takkan bisa tersalurkan pada saat itu.
Bisa..
Tapi kekacauanlah yang kemudian pasti ditimbulkannya. Maka sebagai seorang pria, ia sadar telah menjadi pria dewasa. Ia memutuskan untuk menahan diri..
“Kalau begitu saya permisi.. saya masih memiliki pasien”
Fariz tersenyum sebelum kemudian melangkah pergi..
“Baiklah jika sudah selesai, kita bisa pergi sekarang kan? Oh, Jena..”
Ucap Azka yang bersamaan dengan kemunculan Jena yang sedikit berlari menghampiri mereka.
Jena memberi salam disertai dengan tubuhnya yang membungkuk hormat padanya.
Namun belum sempat Azka memerintahkannya untuk membawa Yuri dan juga Yuna tentunya, pergi dari sana, Azka lebih dulu mendengar suara ponselnya yang berdering.
Merogoh dari dalam saku kemejanya, Azka melihat salah satu nama dewan direksi dikantornya yang pada saat itu menelpon.
Dengan cepat ia justru terpikir untuk memanfaatkan hal itu..
“Oh, Iya Ma..”
Azka tak perduli disebrang sambungan sana seseorang itu pasti tengah kebingungan menanggapinya.
“Apa.. Mama tidak bisa menghubungi Yuna? Gadis itu tidak menjawab ponselnya? Bukankah itu sudah menjadi kebiasaannya. Tidak perlu heran. Oh.. Iya..”
Azka diam seolah mendengarkan..
“Jadi Mama membutuhkannya? ya.. Aku akan mengatasinya. Tidak perlu marah-marah seperti itu, aku melihatnya sekarang. Aku akan menyuruhnya untuk menyusul Mama secepatnya.. Baiklah..”
Azka memutus sambungan telponnya dan kembali mengarahkan perhatiannya pada Yuna. Gadis itu terlihat gelisah dan benar-benar memiliki gurat kecemasan diwajahnya.
“Azka, apa ibumu mencari Yuna?”
Azka mengangguk..
“Dia memiliki kesalahan dan harus mempertanggung jawabkannya..”
“Tapi Nyonya sendiri yang tadi mengijinkanku untuk menemani Kak Yuri..”
“Mungkin karna ibuku baru melihat kesalahanmu..”
Yuna lantas kembali menggigiti bibir bawahnya begitu Azka kembali melihat kearahnya, masih dengan seringai diwajahnya.
“Tapi kesalahan apa yang dilakukan Yuna? Dan apa yang akan dilakukan ibumu terhadapnya..?”
“Tenanglah Yuri, ibuku bukanlah monster yang akan memangsanya. Yuna hanya harus menjelaskan dan mungkin memperbaiki kesalahannya”
“Kalau begitu ayo cepat kita pulang agar Yuna bisa memperbaiki kesalahannya..”
“Ibuku sedang tidak berada dirumah, dia meminta Yuna untuk menyusulnya..”
Azka kemudian meminta dengan hati-hati agar Yuri pulang lebih dulu dengan Jena, sementara Yuna akan ikut dengannya. Azka mengatakan ia akan kembali kekantor, tapi terlebih dulu akan menurunkan Yuna ditempat ibunya berada.
“Yuna, apa kau tidak akan apa-apa?”
Yuri menanyakan dengan meraih tangan Yuna, lalu menggenggamnya.
“Tidak Kak.. Aku tidak apa-apa..”
Yuna berusaha menunjukkan senyum meski sebenarnya ia sendiri bingung dan masih merasa tak yakin dengan apa yang nanti akan terjadi.
“Kakak pulanglah bersama Jena, aku akan baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkanku..”
Yuri mengangguk, kemudian melepaskan tangan Yuna dan beralih pada Azka..
“Azka, jika ibumu marah pada adikku, tolong katakan padanya bila Yuna tidak sengaja melakukan kesalahannya”
Azka nampak ragu memberikan jawaban. karna ia tiba-tiba merasa bersalah telah membuat Yuri menjadi terlihat khawatir. Tapi kemudian ia mengangguk sebagai jawaban.
Setelahnya, Jena yang mengambil alih kursi roda itu dari Yuna, untuk kemudian membawa Yuri menuju mobil. Azka dan juga Yuna bergerak mengikuti sampai mereka masuk kedalam mobil dan kemudian menyaksikan mobil itu melaju pergi dari depan gedung rumah sakit itu.
***
to be continue