At First Sight

At First Sight
Episode 6



Keluar dari dalam kamar Kak Yuri,


Aku melihat Mas Doni yang


berdiri tak jauh dariku.


“Mas..”


Aku memanggilnya dan kami sedikit


berbicara ketika kemudian berjalan


keluar dari rumah sakit.


“Dokter mengatakan belum ada


perubahan pada Yuri..”


“Aku bisa melihat itu, mas..”


“Aku ingin memindahkan Yuri


ketempat yang lebih baik dan dengan


dokter yang juga lebih baik daripada


disini.. Kau setuju kan?”


“mas..”


“Aku ingin melihat Yuri kembali


seperti sebelumnya. Aku akan


mengusahakan apapun untuk


kesembuhannya..”


Ya..


Kau memang begitu baik mas.


“Aku ingin melihat gadisku, Yuri ku


yang kucintai tersenyum padaku. Aku


merindukan senyumnya”


Ya..


Aku juga menginginkan hal yang


sama.


Dan Kau sangat beruntung Kak.


Mas Doni memang begitu


mencintaimu.


Aku masih heran mengapa kau tak


menjatuhkan hatimu untuk pria sebaik


mas Doni dan justru memilih pria


bajingan itu.


“Aku setuju mas.. Aku ingin kak Yuri segera sembuh”


“Baiklah..Jika kau menyetujuinya.


Aku akan mengurus untuk


memindahkan Yuri secepatnya”


“terimakasih untuk bantuanmu,


Mas..”


Mencapai depan rumah sakit, mas Doni mengatakan tak bisa mengantarku pulang karna ada sesuatu yang harus dia kerjakan.


Maka aku membiarkannya melajukan


mobilnya, sementara aku memilih


untuk menunggu bis.


***


Pada pagi hari Aku terbangun, Aku


segera merasakan kekacauan.


Akibat telat bangun dan terlambat


mengejar bis yang bisa membawaku


sampai kekantor, Aku harus menunggu


bis berikutnya dan berlarian menuju


pintu masuk gedung setelahnya.


Aku tak ingin terlambat meski aku


tahu aku sudah terlambat datang.


Dan seketika bertambah buruk ketika


aku tak memperhatikan


kesekelilingku dan hampir membuat


diriku tertabrak sebuah mobil.


Aku memang hampir tertabrak tapi


aku sudah terjatuh..


“Awhh..”


perih menyerang lututku..


“Kau baik-baik saja nona?”


Oh dear..


benar-benar Sial..


Mendengar suara bajingan itu…


>>>


Azka POV


Pagi hari ketika alarm jam


diatas meja berbunyi, Aku mengerang dalam kefrustasian.


Jet lag dan lelah karna jam dua dini


hari tadi aku bahkan baru pulang


setelah berkutat dengan beberapa


urusan pekerjaan yang kukerjakan


selama seminggu di Tokyo.


Kini setumpuk pekerjaan lain menantiku


dikantor. Dan sekali lagi Aku akan


menyalahkan


Papa yang benar-benar keterlaluan.


Dia telah membebankan semua


urusan bisnisnya diatas tanganku.


Aku akan bersumpah tak jadi masalah


jika tak mendapatkan warisan apapun


darinya.


Demi Tuhan..


Aku sungguh merasakan ini


melelahkan.


Tapi kemana lagi Papa akan


mewariskan hartanya.


Aku adalah


satu-satunya putra yang dimilikinya.


Pewaris tunggal segala bisnis yang


dibangunnya.


Tak seharusnya aku menyalahkan


Papa.


Aku justru sebaiknya berterimakasih


dengan kemewahan yang


diberikannya.


“Azka.. Jam berapa ini? Bangun..”


Ya Tuhan..


Mama.. Tak bisakah memberikan


waktu untukku beristirahat lebih lama.


Dia sama saja seperti papa.


Sungguh pasangan yang klik..


“cepat Azka.. Bangunlah, sebelum


Papamu menyeretmu turun dari tempat tidur..”


Astaga..


Aku pria dewasa, dua puluh delapan


tahun dan aku masih diperlakukan


seperti seorang bayi.


Ini lebih dari sekedar Menyebalkan..


“Aku sudah bangun Ma..”


mengerang, aku menyingkap selimut


dari atas tubuhku.


“baguslah.. Segeralah bersiap,


Mama menunggumu dimeja makan”


Setelah menggunakan sepuluh menit


waktuku untuk mandi, aku bisa


melihat setelan jas yang sudah berada


diatas tempat tidurku.


Benarkan, aku memang seorang bayi..


Mama bahkan masih terus


menyiapkan pakaian untukku.


Kurasa dia juga akan memakaikan


pakaian yang telah disiapkannya jika


aku seorang anak perempuan.


Sayang sekali Mama, itu satu-


satunya hal yang tak bisa Kau lakukan diusiaku sekarang..


“Kemarilah Azka.. Bibi Lia


menyiapkan sarapan paling enak


untukmu”


kamar, aku langsung menghampiri


mereka dimeja makan.


“Kapan Mama yang akan memasak


untukku?”


“Tanyakan saja pada papamu, bukan aku tak mau.. Tapi papamu yang tak membiarkanku berada didapur. Menurutnya Api didapur bisa membakarku..”


Mama tersenyum dan melirik kearah


Papa yang segera mengalihkan


fokusnya pada koran yang sedang dia


baca untuk sekedar membalas


senyum dengan kedikan mata kearah


Mama.


Menggelikan..


Tapi Itulah yang aku suka dari kedua


orangtuaku. Diusia mereka sekarang,


cinta mereka tak sedikitpun memudar.


Tuhan benar-benar bermurah hati


menyatukan mereka dan


menempatkan aku diantaranya.


Betapa gerutuanku tadi sirna dan


berubah menjadi kebanggaan karna


mereka..


“Aku tak bisa sarapan.. Aku akan


memimpin rapat pagi ini”


Setidaknya aku tak melupakan aturan


untuk mencium Mama sebelum aku pergi.


***


Setelah menempuh beberapa menit


perjalan menuju kantor, aku


melangkah turun dari dalam mobil


untuk selanjutnya memasuki kantor.


Aku sudah terbiasa menerima


penghormatan ketika aku datang, tapi


ada hal yang berbeda kali ini.


Disaat semuanya membungkuk


kearahku, seseorang dengan


beraninya menaikkan dagunya


kearahku.


Dan pandangan pertamaku langsung


terfokus padanya.


Lancang..


Selama ini tak ada yang berani


melakukan hal semacam kebodohan


seperti itu dihadapanku.


Wanita muda itu bahkan berani


menatapku dengan mata berkilat-kilat


seperti kemarahan.


Marah..


Apakah dia marah?


Tapi siapa dia?


Jelas bila dilihat dari seragam


resepsionis yang dikenakannya, dia


bagian dari karyawan disini.


Maka tak


seharusnya dia memberiku tatapan


tak layak seperti itu.


“Apa yang sedang Kau perhatikan


nona?”


Mengerjap, dan seakan baru


menyadari kekeliruan yang


dilakukannya, dia langsung menunduk


menyembunyikan wajahnya yang


bersemu merah.


Lucu..


Setelah sebelumnya dengan tatapan


matanya yang terarah padaku, ia


seperti seekor serigala yang siap


menelanku, kini ia justru berubah


menjadi seekor rusa jinak dengan


wajahnya yang merona.


“Dia karyawan baru.. Dia pasti belum


mengerti apa yang harus dia lakukan


ketika anda datang..”


“Pastikan dia bekerja dengan benar.


Jika tidak, kau boleh memecatnya..”


Bagaimana nona?


Apa kau sudah salah memberikan


tatapan itu padaku?


Ataukah aku yang salah mengartikan


tatapan matamu?


Kau bukan marah, melainkan telah


salah mengekspresikan


kekagumanmu saat melihatku..


“Saya akan melakukan apa yang anda


katakan.. Tapi sebaiknya anda tak


berlama-lama disini. Ada rapat yang


harus anda pimpin..”


Kembali melangkah dan melewati


gadis bodoh itu aku lansung menuju


ruang rapat dengan beberapa direksi


yang sudah berada disana.


Ketika setumpuk pekerjaan masih


harus kukerjakan, ponsel yang berada


diatas mejaku berbunyi..


“Saya sudah menemukan wanita itu


Tuan..”


Kabar yang kuterima dari seseorang


yang selama ini kusewa cukup


mengagetkanku..


“dimana? Aku akan kesana


menyusulmu..”


Akhirnya aku menemukanmu Yuri..


Aku benar-benar menyesal telah


melakukan hal itu padamu.


Kau tak seharusnya pergi dariku


setelah malam itu..


Maafkan aku..


Aku baru saja akan menyingkirkan


tumpukan kertas-kertas diatas


mejaku dan meninggalkannya untuk


mendatangi Yuri, saat kemudian


seseorang itu kembali bersuara..


“Sebaiknya tidak sekarang Tuan..


Saya baru saja bertemu dengan gadis


muda yang mengaku sebagai


adiknya..”


“adiknya?”


“Ya.. Dia sedang berada disini”


“baiklah kalau begitu.. Tapi pastikan


kau tetap mengawasinya, dan segera


beritahu aku waktu yang tepat untuk


menemuinya”


Menghela napas dengan berat, aku


kembali menyesalkan kekeliruan


sikapku malam itu.


Andai aku tak melakukannya, Yuri


mungkin takkan pergi begitu saja


dariku.


Yuri pasti telah tersakiti karna itu..


To be continued