
Setengah hari berikutnya, Yuna menghabiskannya dikampus, meski harus mendengar komentar-komentar tajam yang ditujukan padanya, tapi ia mencoba untuk mengabaikannya juga menulikan kedua telinganya. Selesai dikampus ia langsung pulang kerumahnya.
“Kakak..! Kau didalam?
Yuna mengetuk pintu rumahnya hingga beberapa kali namun masih belum ada sahutan.
Apa mungkin kakak nya sedang tidak berada dirumah?
“Kakak..! Kak Yuri..!”
“Yuna..”
Menoleh, Yuna mendapati Yuri yang ternyata berada diluar, kini sedang berjalan cepat kearahnya.
“Yuna, kau sudah pulang?..”
Tersenyum, Yuna lantas mengangguk. Yang kemudian mengejutkan Yuna adalah keberadaan Azka yang berada dibelakang sang kakak.
Apakah keduanya baru saja pergi bersama?
“Apa kau sudah lama?”
“Hm, kakak darimana?”
“Azka datang dan mengajakku keluar..”
Senyum sang kakak terlihat berbeda saat kemudian Yuri menoleh kebelakangnya, kearah Azka yang sudah hampir mencapainya.
“Ayo masuk..”
Sebelum Yuna mengikuti ajakan Yuri, ponselnya lebih dulu berbunyi. Seseorang menghubunginya..
“Halo.. Oh, Kak Arkhan..”
Yuri menghentikan tangannya yang bergerak memegang gagang pintu, membuka kuncian pada pintu rumahnya. Ia menoleh pada Yuna yang sedang menjawab panggilan pada ponselnya..
“Kakak ingin bertemu denganku? Kapan? Sekarang? Oh.. Dimana? Aku dirumah bersama kak Yuri. Kau akan menjemputku? Tapi.. Ohh, baiklah..”
Yuna mengakhiri pembicaraannya dengan Arkhan melalui sambungan ponsel dan mendapati sang kakak yang sedang memperhatikannya..
“Kakak..”
“Eh, apa itu tadi Arkhan?”
“Iya, dia ingin bertemu denganku?”
Yuna sedikit melirik kearah Azka untuk melihat reaksinya, namun sepertinya pria itu tak terpengaruh mendengarnya..
Tidak seperti biasanya bila ia kedapatan berhubungan dengan pria lain, sekalipun hanya melalui sambungan ponsel. Sebelumnya Azka selalu marah ketika dokter Fariz mengirim pesan dan ia membalasnya. Beberapa hari lalu pria itu juga kedapatan masih memutar bola matanya ketika mendengar ia memanggil Arkhan dengan sebutan Kakak. Tapi kini, pria itu justru terlihat berdiri nyaman dengan dua tangannya yang masuk kedalam kantong celananya..
Oh, aneh..
Mengapa sebagian hatinya merasa kesal pria itu tidak bereaksi berlebihan seperti sebelumnya. Setidaknya walaupun kini mereka sudah putus, harusnya Azka masih bersikap protektif kan?
“Dia akan datang kemari?”
Pemikiran Yuna buyar ketika Yuri menanyakan..
“Kak Arkhan bilang seperti itu. Apa dia tidak menghubungi Kakak?”
Yuri menggeleng..
“Aku masih belum memiliki ponsel, bagaimana dia bisa menghubungiku..”
“Ini untukmu Yuri..”
Tiba-tiba saja Azka mengulurkan sebuah paper bag kecil pada Yuri.
“Azka..”
“Ambil lah, ini untukmu”
“Tapi tadi.. tapi tadi kau bilang ponsel itu untuk mengganti ponsel lamamu”
“Tidak, sebenarnya aku membeli ini untukmu. Agar aku lebih mudah menghubungimu.. Aku sudah men-setting nomorku didalamnya. Terimalah.. Kurasa Yuna juga akan lebih mudah menghubungimu. Kalian hanya tinggal bertukar nomor”
Yuri tersenyum, menerimanya dan mengucap terimakasihnya pada Azka. Sementara Yuna hanya bisa diam sambil terus memperhatikan interaksi keduanya.
Betapa Azka sedang memberikan perhatian pada Kakaknya..
Desahnya dalam hati, tapi apa yang tidak disukainya dengan sikap baik pria itu?
“Terimakasih.. Aku akan menggantinya setelah aku mendapatkan pekerjaan”
“Ingat, kau berjanji akan mempertimbangkan tawaranku untuk menjadi sekertarisku lagi kan?”
“Kalau begitu aku akan kembali ke kantor”
Yuri mengangguk..
“Kak Arkhan akan datang. Aku ingin bertemu dengannya. Mungkin kami akan pergi bersama..”
Niatnya adalah untuk memancing reaksi Azka, apakah pria itu masih tetap akan diam saja seperti sebelumnya, namun yang terjadi justru Yuri lah yang memberi respon..
“Kalian akan pergi? Kemana?”
“Aku belum tahu, Kak Arkhan tidak memberitahuku tadi”
Yuna sedikit memperlihatkan senyum diwajahnya..
Azka pamit dan beranjak pergi darisana. Namun yang dilihatnya, pria itu sempat berpapasan dengan Arkhan dan hanya memberi sapaan selayaknya dua pria yang saling mengenal. Setelahnya Azka sama sekali tak menoleh kearah Yuna, justru langsung masuk kedalam mobil dan secepat kilat melajukannya.
Oh, apa yang sebenarnya tengah diharapkannya?
“Hei, kau melamun Yuna..!”
Tanpa disadarinya, Arkhan telah berdiri dihadapannya.
“Oh, Kak Arkhan.. Kau sudah disini?”
“Siapa yang kau lihat hingga tidak berkedip seperti itu? Azka?”
“Ah, tidak.. Kak Arkhan ingin bertemu denganku? Untuk alasan apa?”
“Apa aku perlu alasan untuk bertemu dengan gadis manis sepertimu?”
Arkhan menunjukkan seringai diwajahnya, tangannya justru kemudian terulur untuk mengacak rambut Yuna. Gadis itu mendengus kesal dan mencoba membalasnya, yang akhirnya justru menimbulkan gurauan diantara keduanya yang terjadi ditengah-tengah keberadaan Yuri, yang hanya bisa menatap dengan penuh ketertegunan dengan interaksi yang dinilainya cukup dekat antara sang adik bersama dengan Arkhan, teman lamanya (andai ia masih bisa menyebutnya seperti itu)
“Awhh.. Kak.. jangan menarik rambutku..! kau tidak tahu apa jika ini terasa sakit..”
“ehmm..”
Merasa tak tahan dengan gurauan yang berada dihadapannya, Yuri akhirnya berdeham untuk menarik perhatian keduanya yang lantas berhenti bergurau..
“Oh, Yuri.. Bagaimana keadaanmu? Oh ya, aku ingin mengajak Yuna pergi, bolehkan?”
Pria itu bahkan tak menunggu untuk ia menjawab pertanyaan mengenai keadaannya. Tidakkah pertanyaannya hanyalah basa-basi saja. Dan tidak terlalu penting kondisinya dimata pria itu sekarang..
Mendadak Yuri merasa kecewa karenanya..
“Tanyakan saja pada Yuna apakah dia mau pergi denganmu atau tidak”
Jawabnya sedikit terdengar ketus, kemudian meneruskan..
“Aku lelah, aku baru saja pulang setelah pergi dengan Azka. Aku akan masuk dan beristirahat. Pergilah jika kau mau, Yuna”
“Iya, Kak..”
“Baiklah kalau begitu, ayo Yuna..”
Melihat tangan Arkhan yang kemudian menggandeng tangan sang adik, mendadak menimbulkan gelenyar aneh dalam dirinya.
Kekecewaan lagi kah yang dirasakannya?
Tapi sepertinya lebih dari itu, ada semacam nyeri yang juga ikut terasa sakit saat melihatnya.
Memutuskan untuk mengabaikan perasasan aneh dalam dirinya, Yuri membuka pintu dan masuk kedalam rumahnya dengan tubuhnya yang mendadak terasa lemas..
***
Dua hari berlalu setelahnya, Yuna merasa sikap Azka justru terlihat semakin biasa saja terhadapnya. Hampa, begitu apa yang kemudian dibisikkan oleh hatinya ketika mendapati pria itu tak sedikitpun marah meski telah secara terang-terangan Azka sempat bertemu dengannya yang sedang pergi bersama dengan Arkhan.
Kebetulannya pada saAzka juga sedang bersama dengan Yuri. Selain makan disalah satu tempat makan itu, entah apa yang kemudian membuat kakak nya memiliki janji bertemu dengan Azka. Yang kian menggelisahkan hatin Yuna.
Fakta yang sebelumnya telah mengungkap bahwa dirinya telah memutuskan pertunangan mereka, apakah yang kemudian membuat Azka dengan mudah berpaling dan memilih Kakak nya?
Astaga..
Apa yang dipikirkannya?
Mengapa ia merasa semakin ngawur..
Pikirannya pasti telah tercarut marut oleh banyak hal, hingga kesulitan untuk memilah dan memilih mana yang seharusnya ia pikirkan dan mana yang selayaknya ia singkirkan, atau bila perlu ia buang jauh-jauh dari dalam pikirannya.
***
tbc