At First Sight

At First Sight
Episode 27



Azka hanya bisa menghela napas mendengar perkataan frontal yang keluar dari mulut ibunya. Apa yang bisa dikatakannya, dirinya sendiri yang telah membuat sang ibu memiliki tuduhan-tuduhan semacam itu terhadapnya.


Sementara Ny.Dania lantas beralih memperhatikan Yuna yang masih menundukkan wajahnya.


“Kau mendengar apa yang kukatakan, Yuna..?”


Yuna mengangguk..


“Apa kau tak bisa menunjukkan wajahmu dan menjawab dengan benar!”


“Ma, sudahlah.. Kau seharusnya tidak perlu ambil pusing dengan apa yang teman-temanmu katakan, jangan menjadi mudah terpengaruh. Dan sama halnya denganku, jika tak menginginkan Azka dan Yuna melakukan perbuatan dosa.. Kita seharusnya bukan hanya mempertunangkan keduanya, melainkan menikahkan mereka secepatnya”


“Jangan bicara omong kosong, Pa.. Aku takkan membiarkan Azka menikahi gadis yang bahkan belum bisa melakukan cara makan dengan benar. Bagaimana dia akan bisa mengurus Azka nantinya..”


“Tentu saja Kau yang akan mengajarinya. Yuna dengan cepat akan bisa belajar banyak tentang menjadi seorang istri yang baik sepertimu..”


Tn.Rian menunjukkan senyum membujuk pada sang istri yang seperti biasanya selalu berhasil untuk meluluhkan kekerasan hatinya..


“Tak ada masalah dengan Azka mengenai pernikahan, dan bagaimana denganmu Yuna.. Apa kau bersedia menikah dengan Azka?”


Kali ini Yuna merasa perlu untuk mendongak untuk memberikan jawaban pada apa yang ayah Azka tanyakan padanya.


“Maaf, tapi saya.. saya..”


“Ada apa, Yuna?”


“Maaf Tuan.. Beri saya waktu untuk berpikir. Saya merasa belum memiliki kesiapan untuk sebuah pernikahan..”


Yuna memberi jawaban yang seakan Ia akan mempertimbangkan untuk melakukan pernikahan seperti yang dibicarakan ayah Azka.


Tapi sebenarnya jawabannya adalah tidak..


Sudah pasti tidak..


Ia tidak akan mungkin menikah dengan pria yang telah menyakiti kakak nya.


Bahkan terlintas pun dalam benaknya untuk itu sama sekali tidak pernah..


Pertunangannya dengan Azka yang tak terduga sebelumnya akan terjadi, sudah membuatnya kesulitan bernapas ketika memikirkan bagaimana reaksi dari Yuri kakak nya jika mengetahui hal itu.


Maka yang kemudian dipikirkan olehnya adalah agar cepat-cepat mengakhiri pertunangan itu, bukan justru melanjutkannya sampai ke tahapan pernikahan.


Yuna memastikan hal itu tidak akan pernah terjadi..


“Baiklah.. Aku akan memberimu waktu. Sementara kau terus memikirkan itu, biarkan aku untuk membicarakannya dengan istriku terlebih dulu..”


Tn.Rian lantas merangkul sang istri yang terlihat masih enggan untuk beralih meninggalkan Azka bersama Yuna disana.


***


Yuna yang melihat ayah dan ibu Azka memasuki kamar mereka, langsung menuju taman belakang. Yuna mengambil ponsel Bibi Lia yang saat itu telah ia pinjam. Yuna berusaha menghubungi Doni, namun betapa kagetnya Yuna saat Azka telah merebut ponsel itu dari tangannya.


“Pak Azka..”


“Apa?”


Azka mengabaikannya dengan melangkah menuju ruang kerjanya.


“Siapa yang ingin kau hubungi..?”


Yuna terdiam menatap Azka khawatir, ia sangat takut kalau Azka mengetahui Yuna akan menelpon Doni.


Mengabaikan Yuna yang masih terdiam. Azka memasuki ruang kerjanya dan langsung menutup pintunya, namun Yuna tak lantas tinggal diam, Ia membuka pintu itu dan mengikuti Azka masuk kedalamnya.


“Pak.. Kembalikan ponsel Bibi Lia padaku..”


“Oh.. Bukankah pembahasan mengenai perselingkuhanmu dengan pria lain belum terselesaikan tadi. Akan kulihat, siapa sebenarnya yang telah kau hubungi tadi”


Azka merogoh saku kemejanya, mengambil ponsel dari dalamnya dan dengan sengaja mempermainkan ponsel itu dihadapan Yuna.


“berikan itu padaku..”


“Pak..!”


“hmm.. Kau benar-benar tidak menginginkanku untuk tahu?”


“Ini konyol..”


Azka kembali mengabaikan ucapannya..


“Baiklah.. Jika kau menginginkan ponsel ini kembali padamu, Kau harus melakukan sesuatu terlebih dulu..”


“Anda tidak bisa meminta saya untuk melakukan sesuatu..”


“Oh, tentu saja aku bisa. Kau juga tahu aku bisa melakukan itu..”


Yuna mendengus dengan nada mengancam dari kalimat yang Azka ucapkan, dan membuatnya kemudian memutuskan menyerah..


Untuk mendapatkan kembali ponsel Bibi Lia yang ada ditangan Azka, Ia merasa perlu untuk menjadi penurut pada apa yang pria itu katakan.


“Aku perlu berkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaanku.. Tapi pertama-tama aku perlu menjadi sedikit lebih rileks. Kau bisa membuatkanku secangkir kopi terlebih dulu..”


Yuna memutar mata kearahnya..


“Bukankah kau harus belajar menjadi seorang istri..”


“Nyonya mengatakan bahwa saya dilarang berada didapur. Dan ayah anda juga tidak akan suka jika saya berada disana.. Maka saya tidak akan melakukannya untuk membuatkan secangkir kopi untuk anda..”


“Kau mencoba mengelak..? Ketahuilah, ayah dan ibuku adalah pasangan yang romantis. Jika mereka berdua sudah berada dikamar, perlu beberapa waktu untuk mereka keluar dari sana. Maka jika Kau berada didapur sekarang.. Itu tidaklah akan menjadi masalah..”


Yoona mendecak, alasan apa lagi yang yang bisa digunakannya..


“Aku akan menghitung sampai tiga untuk membuatmu keluar darisini dan kembali dengan secangkir kopi untukku…”


“Anda tidak perlu menghitung.. Tapi anda harus berjanji akan mengembalikan ponsel itu pada saya.”


“hm.. Kau bisa mendapatkannya lagi setelahnya”


Azka menahan geli melihat Yuna yang memberengut ketika keluar dari dalam ruangannya. Namun setelahnya raut wajahnya berubah serius saat menatap pada ponsel ditangannya.


Memanfaatkan waktu dimana Yuna tak melihat apa yang dilakukannya, Azka langsung memeriksa panggilan terakhir yang digunakan dari ponsel milik Bibi Lia dan menemukan nomer milik Doni sebagai kontak yang paling terakhir dihubungi.


“Sudah ku duga..”


Sementara itu, Yuna berjalan dengan gerutuan dibibirnya, menuju dapur untuk melakukan apa yang Azka inginkan. Ia menemukan Bibi Lia disana..


“Oh, Yuna..”


Yuna berusaha menunjukkan senyum padanya..


“Apa yang kau lakukan? Nyonya melarangmu berada didapur..”


“Azka menginginkan aku untuk membuatkannya kopi..”


“Benarkah? Kalau begitu, biar aku saja yang membuatkan kopinya.. Tunggulah sebentar dan kau hanya perlu memberikannya..”


Yuna mengangguk, memperhatikan Bibi Lia yang kemudian mengambil sebuah cangkir dan meracik kopi yang kemudian Ia tuangkan kedalamnya.


Pada saat Bibi Lia berniat untuk menambahkan bubuk kremer kedalamnya, mendadak terlintas sebuah ide yang lantas membuat Yuna menghentikan apa yang akan Bibi Lia lakukan.


“Biar aku saja bi, aku bisa melakukannya jika hanya seperti itu..”


“Baiklah.. Kau memang harus belajar untuk melayani Azka nantinya.. Aku akan meneruskan pekerjaanku..”


Bibi Lia tersenyum, membiarkan Yuna mengambil alih meneruskan untuk membuat secangkir kopi yang belum selesai dikerjakannya.


***


to be continue