
Azka POV
Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Aku benar-benar merasa heran mengapa gadis itu begitu mempercayai Doni. Mengapa Yuna begitu mudah terpengaruh. Aku mendengar percakapan mereka dipagi hari dan aku bersumpah menjadi sangat marah saat ini ketika aku kembali mengingatnya.
Pembatalan bisnis dan kebakaran yang sempat terjadi dikantor, meski itu hanya sebuah kebakaran kecil yang langsung bisa diatasi tapi aku segera tahu hal itu berpotensi menjadi kekacauan besar karna terjadi diruang penyimpan dokumen.
Dan Doni ada pada saat kebakaran itu terjadi. Dia berada disana untuk menemukan sebuah dokumen perusahaan, itu yang aku dengar tadi. Tak berhasil disana dan mengingat dia telah membawa Yuna sebagai partner kejahatannya, gadis itu yang sekarang menjalankan perannya. Menuruti ucapan Doni dengan mengendap kedalam ruang kerjaku pada dini hari seperti ini hanya untuk mengambil dokumen itu dari dalamnya.
Dia dengan mudah mendapatkannya karna aku memang dengan sengaja meletakkannya disana. Saat setelah pulang dari jamuan makan malam, aku mengambil dokumen itu dari dalam brankas. Sebuah brankas yang kupastikan aman karna berada didalam kamarku.
Apa dia pikir aku seorang bodoh yang sembarangan menyimpan dokumen penting dari perusahaan ayahku seperti itu..
Jelas tidak..
Aku sengaja melakukannya, mengambilnya dari dalam brankas sebelum kemudian meletakkannya diatas meja ruang kerjaku dan meninggalkannya disana tanpa mengunci pintu.
Aku bahkan menunggu dengan gelisah. Berada dibalik pintu kamarku dalam beberapa jam, dengan menajamkan pendengaranku hanya untuk mengetahui apakah Yuna benar-benar memiliki keberanian untuk mengambilnya.
Dan Ya..
Dia memang gadis belia pemberani seperti biasanya.
Namun keberaniannya kali ini mengagetkanku.
Tidak..
Itu tidak lebih tepat dari keberaniannya kali ini mengecewakan ku. Mengobarkan amarah didalam diriku.
Semalam aku masih sempat mempercayai bahwa dia terkesan dengan perlakuanku. Meski aku tidak dengan sengaja membuat diriku mengesankan dimatanya, karna yang kulakukan adalah memang benar apa yang ingin kulakukan terhadapnya.
Aku hanya berpikir setidaknya dia akan sedikit mengubah pemikiran dan atau penilaian yang telah bersarang dikepalanya sejak pada pandangan pertama dia melihatku, bahwa aku adalah seorang ****.
Diam-diam kekecewaan itu menelusup kedalam hatiku, mengetahui dia tidak lebih meyakini apa yang dia lihat namun justru lebih mempercayai omong kosong yang dikatakan Doni terhadapnya.
Sialan..
Aku menggeram didalam hatiku. Kekecewaan itu dengan segera telah berubah menjadi kemarahan yang aku yakin dapat dia lihat dari tatapan mataku padanya.
“Jadi apa yang kau curi itu, Yuna..?”
Dia mundur saat aku kembali mempertanyakan hal itu.
“Pak.. Aku, aku hanya..”
Bibirnya bergetar, wajahnya luar biasa pucat dan matanya meredup dengan kegelisahan saat menatapku.
“Kau mencuri itu dari dalam ruang kerjaku..”
“Pak.. Aku..”
Dia kembali mundur dan membiarkan dokumen itu jatuh dari tangannya yang gemetar.
“Apa yang kau pikir bisa kau lakukan dengan itu, Yuna?”
Dia menggeleng, aku yakin baru saja melihat airmata lolos dari sudut matanya namun dia dengan cepat menyeka dengan menggunakan jemarinya.
Kenapa dia harus menangis..?
Itu bukan sesuatu yang ingin aku lihat sekarang!
Aku mengeraskan hatiku dan melangkah mendekatinya. Dia mundur dari jangkauanku sampai kakinya menyentuh tempat tidurku dan membuatnya harus terhenti dan tetap berada disana.
Tempat tidur..
Sialan..
Amarah telah membangunkan sisi gelap dari diriku. Aku seakan mendengarnya berbicara untuk menghukum gadis itu diatas tempat tidurku.
Gairahku menyala..
Aku hanya perlu sedikit mendorong tubuhnya untuk bisa membuatnya terjatuh diatas tempat tidurku. Melucuti pakaiannya dan merasakan tubuhnya berada dibawah tubuhku. Aku bisa menyentuhnya, membuatnya mengerang dengan keras atau aku akan menidurinya sampai dia menangis dan meminta maaf atas keberanian yang telah dilakukannya.
Gadis itu perlu dihukum..
Ya..
Yuna harus dihukum karna keberaniannya. Dan hukuman semacam itu sangatlah tepat untuknya.
Ya Tuhan..
Tidak..
Tidak..
Papa tidak membesarkanku untuk menjadi seorang ****. Itu yang selalu dikatakannya dan bersyukur aku masih mengingatnya saat ini, dan membuatku kehilangan niatan bejat yang berasal dari sisi gelapku.
Tidak..
Aku tidak akan melakukan itu pada gadis belia dihadapanku.
Tapi aku masih marah padanya..
“Jawab aku Yuna..! Apa yang akan kau lakukan dengan mencurinya dari ruang kerjaku..”
“Aku.. Aku tidak tahu, Pak.. Aku tidak tahu..”
“Kau tahu Yuna.. Jelas kau tau..!”
Dia menggeleng dan sekarang aku hanya beberapa inci berada dihadapannya.
Tubuhnya yang gemetar masih menguarkan keharuman yang sesaat mengacaukan kemarahanku. Aku sangat ingin mengendus dan menikmati keharuman itu. Keharuman murni dari tubuh seorang gadis belia. Dan aku benar-benar masih merasakan gairahku menyala terhadapnya.
Bagaimana rasanya bila aku menikmati keharumannya sambil menyentuh bagian-bagian sensitif dari tubuhnya dan membuat diriku berada didalam dirinya.
Sialan..
Tidak..
Berhenti memikirkan itu karna aku tidak akan melakukannya.
Yang bisa kulakukan hanya meremas rambutku dengan penuh kefrustasian. Aku bisa tapi aku tidak akan tega menyentuhnya dengan menggunakan kekerasan, sekali lagi aku hanya akan membuatnya semakin yakin akulah seorang ****. Dan aku tidak menginginkannya berpikir demikian.
“Kau melakukannya karna perintah Doni.. Itu yang kau tahu dan itu yang seharusnya kau katakan padaku sekarang..!!”
Wajahnya hanya semakin memutih mendengar apa yang baru aku katakan. Dia mungkin shock.
“Apa kau terkejut? Aku telah mengetahui semuanya.. Semuanya, Yuna..”
Ucapku memberi penekanan, kurasa dia masih terlihat ragu dengan pendengarannya.
“Kau berkomplot dengan Doni untuk menjatuhkanku..”
Dia hanya semakin gemetar.
“Kau telah menarik perhatianku dari pandangan pertama kau menatapku dengan penuh kebencian dan kemarahan dimatamu. Asal kau tahu, itu terlihat mencolok. Sampai pada akhirnya aku tahu kau sedang memiliki rencana dalam kepala cantikmu.. Aku mengikuti permainan kalian, aku juga membuat rencana dimalam pertunangan itu. Setelah aku mengetahui rencana murahanmu melalui ciuman itu, aku hanya ingin membuatnya menjadi lebih menarik..”
Aku menahan diri untuk tidak menyentuh bibirnya. Bibirnya yang manis yang telah beberapa kali berada didalam mulutku. Dan sampai sekarang aku masih selalu menginginkannya, hanya saja dia telah mengecewakanku dan membuatku marah.
“Sekarang kau berusaha mencuri dokumen dari ruang kerjaku, dan sayangnya aku juga telah mengetahui itu. Aku bahkan mengetahui siapa yang telah membuat kantorku terbakar. Dan hanya dengan membuka mulutku, aku bisa menjebloskannya kedalam penjara.. Aku mendengar pembicaraanmu dan Doni dipagi hari tadi, Yuna..”
Gadis itu terlihat limbung, maka kemudian aku memegang kedua bahunya, menekan tanganku disana dan membuatnya tetap berdiri dihadapanku.
“Aku hanya tak yakin apa penyebabnya. Sebelumnya kau tidak mengenalku, jadi apa yang membuatmu menyetujui rencana Doni? Aku tidak tahu motif yang kau gunakan aku lebih tidak tahu lagi bagaimana bisa Doni melakukan ini padaku..!!”
Aku merasakan getaran ditubuhnya, dan itu hanya semakin membuatku menekan jari-jariku untuk memegang kedua bahunya. Aku yakin dia akan dengan mudah terjatuh lunglai jika aku tak melakukannya.
“Sekian lama Bibi Lia bekerja dan menjadi bagian dari keluargaku, begitupun dengan Doni. Aku bahkan bisa mengatakan padamu kami tumbuh bersama. Sedikitpun aku tak dapat menemukan alasan yang masuk akal yang melatar belakangi keinginannya untuk menghancurkanku.. Maka jika kau tahu, kau seharusnya bisa mengatakannya padaku Yuna. Kenapa kalian begitu ingin menghancurkanku..?”
Aku mengguncang tubuhnya agar dia berbicara, namun ia hanya diam. Bibirnya hanya bergerak karna gemetar. Dan sekuat aku mengendalikan diri serta kemarahanku terhadapnya, pada akhirnya aku lepas kendali dengan mendorongnya kebelakang hingga terjatuh diatas tempat tidurku.
Sisi gelap dalam diriku tertawa. Dia mendapatkan kemenangan pertamanya saat aku merangkak keatas tubuhnya, dan langsung melahap bibirnya, membawanya kedalam mulutku. Lidahku mendorong masuk kedalamnya, mengambil semua rasa yang berada disana. Dia menggerak-gerakkan kepalanya, dan memukul dadaku dengan tangannya yang mengepal, mencoba untuk menghentikanku.
Namun hal itu hanya membuatku semakin liar. Aku menahan kedua tangannya dengan tanganku, menempatkannya masing-masing disisi kepalanya. Aku merasa belum cukup. Aku belum mengambil semua rasa dari bibirnya. Menciumnya dengan keras, aku membuatnya mengerang didalam mulutku saat aku menggigit bibir bawahnya.
Aku merasakan lagi gerakan kuat dari kepalanya, dan pada saat itu aku menyadari kekasaranku terhadapnya, setelah melihat airmata meluncur diwajahnya.
Tuhan..
Aku benar-benar berlaku seperti ****. Seperti apa yang selama ini dipikirkannya.
Dengan cepat bergerak menjauh darinya, aku melihatnya terengah namun berusaha keras tidak terluka dengan apa yang baru saja dia terima akibat dari kemarahanku terhadapnya.
Dia kemudian bergerak mendudukkan tubuhnya dan menatapku dengan tatapan kuat yang berusaha dia tunjukkan padaku. Tapi aku justru menganggap itu adalah tatapan paling tidak berdaya darinya. Aku bersumpah itu hanya semakin membuatku menyesali apa yang baru saja kulakukan padanya.
“Apa itu semua hanya karna Yuri?”
Aku mengembalikan topik semula dan menjadikannya menatapku seolah apa yang aku katakan adalah hal mengejutkan pertama yang pernah dia dengar.
***
to be continue