At First Sight

At First Sight
Episode 4



Setengah hari berdiri dibalik meja


resepsionis ini, entah sudah yang


keberapa kalinya aku dibuat


mendengus kesal karna kehadiran


beberapa wanita yang datang


bergantian sejak pagi hari tadi.


Dan yang mereka cari adalah seorang


Azka Rianda.


Pria yang sedang bersembunyi dibalik


meja kerjanya sementara aku harus


membohongi wanita-wanita itu


dengan mengatakan ketidak hadiran


pria itu dikantor.


“Aku ingin bertemu Azka..”


ketika seorang wanita lagi datang


menghampiriku, Aku tak bisa bersabar


lagi..


“Oh, ya.. Tuan berada diruangannya


dan menunggu kedatangan anda


nona..”


Wanita itu kemudian tersenyum miring


dan segera melangkah pergi dari


hadapanku.


Aku tahu saat ini Husna sedang


melotot kearahku.


“Kau gila Yuna!”


“terkadang aku memang bisa menjadi


gila..”


Husna justru terlihat khawatir, saat


aku menunjukkan wajah datarku dan


kembali mengalihkan perhatianku


pada deringan telpon dihadapanku..


“Halo..”


“Siapapun Kau.. Naik keruanganku


sekarang! Jika dalam waktu lima


menit Kau tak berada dihadapanku.


Kau dipecat!!”


Dia membanting telpon nya..


Oh dear..


Kau akan mendapat masalah dari


bajingan itu.


Bersiaplah..


Aku berdiri dengan gelisah, menyadari


apa yang selanjutnya akan terjadi.


Bodoh..


Harusnya aku bisa sedikit menahan


diriku dan mengendalikan keinginanku


untuk memberontak pada pria itu.


Sial..


Jika sudah seperti ini apalagi yang


bisa kulakukan kalau bukan


menghadapinya.


“Kau kenapa, Yuna?”


Husna pasti melihat keresahan


diwajahku..


“apa yang harus kulakukan..”


“kenapa?”


“Presdir memanggilku..”


“Tuan muda itu?”


Aku mengangguk sambil menggigit


bibir bawahku..


“Oh no.. Aku sudah menduganya.


Inilah akibat kegilaanmu membiarkan


wanita tadi masuk. Tuan muda akan


sangat marah.. Dia sudah


memperingatkan kita sebelumnya..”


Aku membayangkan kengerian dari


kata-kata Husna yang bahkan juga


dirasakan olehnya.


Demi Tuhan..


Ia tak seharusnya menakutiku dan


membuatku justru menjadi gugup.


“Ini masalah, Yuna..”


“Ya.. Aku tahu. Aku akan mendapatkan


masalah segera setelah aku


menginjakkan kaki diruangannya”


Oh..


Aku bahkan belum mengetahui dimana


letak ruang kerjanya.


“Dimana ruangan Presdir?”


“Kau benar-benar akan naik dan


menemuinya?”


Aku mengangguk..


“Tak ada pilihan bukan.. Jadi ke lantai


berapa aku harus naik?”


“Tiga puluh..”


Oh Tidak..


Jadi selama ini sejauh itu jarakku


dengan si bajingan itu.


Tuhan tahu aku sangat ingin


menghancurkan nya.


Tapi mengetahui dia berada disana


bahkan hampir tak tersentuh olehku,


bagaimana bisa aku akan


melakukannya..


“Baiklah.. Aku akan menemuinya”


“Kau harus meminta maaf padanya..”


Tidak..


Itu bukan sesuatu yang kuinginkan


dan mustahil kulakukan.


Sepertinya..


Memberikan setengah senyum dari


Husna yang kemudian mengusap


pundakku.


“Aku berdoa agar Tuan muda tidak


memecatmu..”


Ah..


Dia terlalu mendramatisir.


Tapi dipecat..


Ya Tuhan..


Tidak tidak, Aku bahkan belum


mencapai apapun saat ini.


Mas Doni kau harus


menolongku..


Aku berlari kearah lift dan menunggu


lift untuk terbuka dan membawaku


untuk naik.


Lima menit..


Dia hanya memberiku waktu lima


menit, dan kurasa aku telah


kehilangan lima menit itu.


Aku terus mendesah dan benar-benar


gelisah didalam lift saat menunggu


satu persatu angka yang bergerak


naik.


Tiga puluh..


Aku ingin segera mencapai lantai tiga


puluh dan menemuinya.


Persetan jika kemudian pria itu


berteriak didepan wajahku, bahwa aku dipecat.


Aku punya kontrak kerja.


Dia tak akan bisa memecatku


semaunya.


Ya..


Aku akan menggunakan perjanjian


kerja itu untuk menolak kesewenang-


wenangannya.


Tuhan..


Kau harus bersamaku sampai detik itu


terjadi.


Menyadari lift yang kunaiki berhenti


diangka tiga puluh dan kemudian


terbuka, Aku langsung melangkah


cepat keluar.


Menatap kesekeliling, aku hanya


menemukan satu pintu.


Itu pasti pintu ruangannya yang harus


kumasuki dan yang akan menentukan


nasibku.


Mengatur napasku, tanganku terulur


untuk mengetuk pintu dihadapanku


namun kemudian seseorang meraih


pergelangan tanganku dan


menariknya.


“Kau tidak perlu masuk..”


“Mas Doni..”


“Aku yang akan menyelesaikannya..


Aku hanya bisa mengangguk,


mengerti.


Terimakasih banyak Mas Doni


Kau menyelamatkanku lagi dari pria


bajingan itu.


Aku masih tetap berada disini meski


Mas Doni telah masuk kedalam


ruangan itu.


Aku sangat ingin mendengar apa yang


kemudian dikatakannya untuk


membelaku.


Tapi tak ada sedikitpun yang bisa


kudengarkan dari pembicaraan


mereka. Ruangan itu sepertinya kedap


suara?


Benar-benar menyebalkan..


“Astaga.. Kenapa lama sekali?”


Mengetukkan sepatu yang kukenakan


dan memilin jemariku, aku sedang


mencoba menghilangkan


kegelisahanku menunggu mas Doni


yang tak juga keluar dari dalam


ruangan itu.


Mas Doni tak berhasil


meyakinkannya agar tidak


memecatku?


Sejujurnya aku memang tak


menginginkan bekerja disini. Maka


tak masalah bila kemudian dia


memecatku.


Sungguh aku takkan perduli.


Tapi aku belum menjalankan rencana apapun..


Dan demi kak Yuri lah seharusnya


aku tetap berada disini.


Sampai pada akhirnya pintu itu


terbuka, Mas Doni yang


keluar menarik seorang wanita


bersamanya.


Dia wanita yang tadi kuijinkan masuk,


sedang menggerutu dengan raut kesal


diwajahnya.


Siapa dia sebenarnya? Dan


Mengapa pria itu justru marah disaat


seorang wanita cantik


mendatanginya..


to be continued