
Pada akhirnya Azka memutuskan untuk tidak kembali ke kantor nya, meski Yuna meyakinkan dirinya tidak masalah jika Yuna ingin meninggalkannya disana karna dirinya sudah merasa tenang, dan lagipula Juna sudah kembali dan bisa menemaninya.
Tapi Azka berkeras tak mau meninggalkannya.
Ia menemani Yuna sampai pada sore hari ketika Yuri terbangun. Azka juga yang kemudian membujuk dan meyakinkan Yuri untuk melakukan terapi. Hingga apa yang dikatakan Azka dapat membuat Yuri mengangguk mengiyakan, meski Ia tetap menolak dan tidak menginginkan Azka melihatnya selama dirinya menjalani terapi itu.
Malam itu juga Yuri menjalani terapi pertamanya dengan ditemani oleh Yuna, sementara Azka menunggu diluar ruangan dan mencoba mengabaikan keberadaan seorang dokter pria tadi yang tengah bersama Yuna didalamnya.
Didalam ruang terapi itu, meski sepanjang sesi terapi berlangsung Yuri masih terus memasang raut waspada diwajahnya terhadap Fariz, sang dokter yang menjadi terapis nya, namun Yuna cukup lega sesi terapi malam itu berjalan dengan baik.
Yuri yang merasa kelelahan kemudian tertidur tak berapa lama setelah terapi berakhir. Dan Azka yang sebelumnya menemaninya didalam kamar rawat itu, kemudian keluar dan disambut oleh Yuna yang sudah memesankan kopi untuknya..
“Terimakasih..”
Ucapnya tersenyum sambil menerima kopi yang diulurkan Yuna padanya.
“Kakak sudah tidur?”
“Hm, dia mengatakan kelelahan..”
Merangkulkan sebelah tangannya ditubuh Yuna, Azka membawanya untuk duduk.
“Terimakasih untuk membujuknya..”
“Sama-sama..”
Azka mengusap pada rambut Yuna, sebelum kemudian menyesap kopi panasnya.
“Kau tidak akan pulang?”
“Tidak, sebenarnya aku sangat ingin berada disini dan menemanimu..”
“Ibu akan marah.. Dia mungkin akan berpikir aku sengaja menahanmu disini..”
Azka tersenyum mendengarnya..
“Bukankah sudah biasa menerima tuduhan dan sekaligus kemarahan Mama..”
Yuna yang menjadi tersenyum mendengarnya.
“Aku lebih suka melihatmu tersenyum seperti ini.. Kau terlihat jelek jika menangis.”
“Tapi kau yang tadi membuatku menangis..”
Yuna memberengut kearahnya..
“Pak..”
“Hm..”
“Dokter sudah mengijinkan Kak Yuri untuk pulang. Dia hanya harus kembali ke rumah sakit bila ada jadwal untuk terapi..”
“Bagus jika seperti itu. Berarti kekhawatiranmu pada kondisi Yuri yang mungkin menurun tidak terjadi..”
“Ya, dan aku sudah memutuskan untuk membawa Kakak pulang.. Pulang kerumah kami.”
“Apa?”
Azka cukup terkejut dengan keputusan yang dikatakan Yuna, namun belum sampai ia mengatakan keberatannya, sebuah suara lebih mendahuluinya..
“Seharusnya kau tahu Yuna, Kau tidak lagi dapat memutuskan segala sesuatunya sendiri..”
Ny.Dania melangkah cepat menuju keduanya, bersama dengan sang suami dibelakangnya.
“Ibu..”
Yuna langsung berdiri dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya pada ayah dan ibu Azka yang kini berada dihadapannya.
“jadi kakakmu sudah diperbolehkan pulang?”
“Iya, Bu..”
“Dan kau berencana membawanya pulang kerumah itu. Rumah kalian yang terlalu kecil untuk disebut sebagai rumah, dan.. Astaga, kau pikir aku akan membiarkanmu melakukannya?”
“Kupikir Mama tidak akan membiarkan Yuna melakukannya..”
Yuna memutar mata pada Azka yang kini beralih darinya untuk kemudian berada disebelah Ny.Dania, seolah tahu dan siap memberi dukungan pada apa yang akan dikatakan ibunya yang sepertinya satu pemikiran dengannya.
“Ya, tentu saja tidak.. Aku tidak akan mengijinkanmu kembali ke rumah itu, Yuna”
“Tapi Ibu, aku tidak memiliki tempat lain selain dirumah kami..”
Yuna menundukkan wajahnya..
“Tempat mu adalah dirumah kami, Yuna...”
Ia kembali mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan dari Tn.Rian tadi.
“Bapak..”
“Kau bisa membawa kakak mu pulang kerumah kami. Pikirkanlah, disana ada Bibi Lia, ada beberapa orang lagi yang bisa membantumu untuk menjaganya. Jika kau membawanya pulang kerumahmu, siapa yang akan mengawasinya jika sewaktu-waktu kau ingin pergi bersama istriku ataupun dengan Azka”
“Ya, Papa Azka benar.. Dan jangan kau pikir bisa menggunakan alasan kakakmu untuk membuatku membiarkanmu mengabaikan apa yang masih harus kau pelajari. Kau masih memiliki kelas kepribadian yang harus kau selesaikan dan beberapa hal lain yang sudah kurencanakan, termasuk mengirimmu ke perguruan tinggi.”
Azka mengangguk-angguk setuju pada apa yang ayah dan ibu nya sampaikan.
Tentu saja, ia juga tak akan membiarkan gadis itu berada jauh darinya..
“Tapi Bu, bagaimana nanti aku menjelaskan pada Kak Yuri..?”
“Kau hanya tinggal mengatakan pada kakakmu, kau adalah tunangan dari Azka dan calon menantu keluarga kami. Wajar jika kami memberimu fasilitas yang layak..”
“ibu tahu, aku masih belum bisa mengatakan hal itu pada kakak ku.. maaf..”
Ny.Dania mendecakkan lidah mendengarnya.
Yuna jelas masih bersikukuh untuk menyembunyikan statusnya dari sang kakak.
“Sebaiknya itu tidak perlu dipusingkan. Kita bisa membicarakannya nanti.. Asal kau setuju untuk membawa kakakmu kerumah kami, Yuna..”
Yuna tahu, ia sudah pasti tidak bisa melawan pada apa yang telah dikatakan Ayah dan Ibu Azka dan Azka sendiri yang juga satu pemikiran dengan kedua orangtua nya. Apalagi jika itu Tn.Rian yang memutuskan.
Meski pria itu terkesan tidak memaksakan apa yang menjadi pemikirannya, tapi Yuna sendiri merasa tak mampu untuk mengatakan kata ‘Tidak’ untuk menolaknya. Hingga akhirnya ia pun mengangguk setuju, meski masih harus memutar otak, mencari alasan apa yang nantinya dapat diterima oleh Kak Yuri nya bila dia dibawa pulang kerumah Azka. Rumah megah bak istana yang kini menjadi tempat tinggalnya..
***
Pada pagi itu ketika Yuri terbangun dan kembali menemukan buket bunga yang diletakkan diatas meja disamping tempat tidurnya, seulas senyum langsung tertarik disudut bibirnya. Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil rangkaian bunga itu dan membaca kartu kecil yang disematkan diantara tangkai-tangkai bunganya..
*Hari ini kau akan tersenyum..
Aku yakin kau akan terus tersenyum~
Begitu kalimat yang tertulis disana dan Yuri langsung membawa bunga itu mendekat kewajahnya, menciumnya dengan sungguh-sungguh.
“Terimakasih untuk terus memperhatikanku..”
Gumamnya dengan senyum membingkai diwajahnya. Namun kemudian sebuah suara dan sekelebat tubuh yang dilihatnya berada dibalik pintu kamarnya, membuat Yuri memasang raut waspada..
“Yuna.. Yuna, kau kah itu? Yuna.. Azka.. kau yang disana? Azka..?”
Andai kedua kakinya dapat ia pergunakan untuk berjalan, Yuri sudah pasti akan memastikan siapa seseorang itu yang sekelebat seperti berdiri dibalik pintu kamarnya, mengawasinya.
Yuri sedikit berteriak saat itu, hingga kemudian Yuna muncul, masuk kedalam kamarnya dengan raut cemas diwajahnya.
“Kakak, ada apa Kak? Kau mencariku?”
“Yuna.. Kau kemana?”
“Aku baru saja selesai dari kamar mandi.. Ada apa kak?”
“Siapa yang berada diluar tadi?”
Yuna mengernyit mendengarnya..
“Siapa?”
“Dibalik pintu itu, aku melihat seseorang disana tadi..”
Yuna menoleh pada pintu kamar dibelakangnya.
“Aku tidak menjumpai siapa-siapa tadi..”
“Tapi aku melihatnya, dia berdiri disana dan seperti mengawasiku..”
Ya Tuhan..
Jangan sampai kakak nya kembali merasakan trauma.
Doa Yuna dalam hati..
“Tidak ada Kak.. Kurasa hanya petugas kebersihan. Aku juga melihatnya tadi..”
“Benarkah?”
Yuna mengangguk dan tersenyum meyakinkan.
“Kakak?”
“Iya..”
“Apakah kakak ingin pulang?”
“Ya, tentu saja Yuna.. Aku sangat ingin pulang..”
“Kalau begitu ayo kita bersiap, dokter sudah memperbolehkan kakak untuk pulang. Tapi sebelumnya, kakak memiliki jadwal terapi pagi ini..”
Yuna dapat melihat kedua mata Yuri yang nampak berkaca-kaca mendengarnya. Sang kakak kemudian meletakkan rangkaian bunga ditangannya dan kemudian memanggilnya..
“Yuna.. Kemarilah, aku ingin memelukmu..”
Merentangkan kedua tangannya, Yuri bersiap menyambut Yuna yang kemudian memberikan pelukan untuknya.
“Terimakasih Yuna.. Terimakasih untuk menjagaku. Aku menyayangimu.. Aku akan sembuh untukmu, aku janji..”
Yuna mengangguk-anggukkan kepala mendengarnya dan ikut meneteskan airmata mendengarnya.
“Aku juga menyayangi kakak.. Dan apa yang kulakukan tidaklah sebanding dengan apa yang telah kakak lakukan untukku”
Keduanya saling berpeluk cukup lama, hingga kemudian seorang suster masuk dan memberitahukan bahwa dokter sudah datang dan menunggu Yuri diruang terapi.
Sesi terapi pagi itu berjalan cukup baik, meski sama halnya dengan semalam Yuri masih merasakan ketegangan tiap kali Fariz menyentuhnya dan wajahnya terus mengekspresikan kewaspadaan.
Setelah sesi terapi berakhir pada pertemuan kali itu, Yuna sudah akan langsung membawa Yuri untuk pulang hanya bersama dengan Jena yang masih terus menemaninya. Yuri jelas mempertanyakan kehadiran Jena pada saat itu, dan membuat Yuna sesaat merasakan kebingungan untuk menemukan jawabannya.
Untung saja Jena mengerti dan mengambil alih dengan mengatakan bahwa Tuannya, Azka lah yang menyuruhnya untuk berada disana.
Azka memang sudah menghubungi Yuna dan mengatakan tidak bisa menjemputnya karna harus memimpin rapat dikantor pagi itu. Namun Ayahnya telah mengirimkan mobil dan seorang supir untuk menjemput mereka.
“Saya sudah mengurus semua administrasinya, nona. Kita bisa pulang sekarang..”
Yuna mengucap terimakasih pada apa yang telah Jena lakukan. Biaya rumah sakit untuk perawatan Yuri jelas begitu besar, dan Yuna sangat bersyukur dalam keadaan seperti itu ia tak perlu mengkhawatirkan hal itu karna Azka yang menanggung semuanya dengan tanpa Yuna meminta padanya. Segera Ia akan mengucap terimakasih bila bertemu dengan pria itu dan juga pada kedua orangtua Azka yang telah berbaik hati padanya. Meski ia sadar itu tidaklah cukup untuk membalas kebaikan mereka.
“Ayo Kak..”
Yuri tersenyum dan mengangguk..
Namun ketika Yuna bergerak mendorong kursi roda yang ditempati Yuri, seseorang tiba-tiba memanggilnya dan membuat Yuna menghentikan langkahnya.
“Nona Yuna..”
“Oh, iya dokter..”
Fariz berdiri didepan ruang terapi dan dengan menggunakan tangannya ia mengisaratkan agar Yuna menghampirinya.
“Tunggu sebentar Kak, sepertinya ada yang ingin dokter Ahmad katakan padaku..”
Yuri mengangguk mengerti, dan Yuna lantas meminta Jena untuk menjaga kakaknya sementara dirinya kemudian menghampiri sang dokter.
Yuri hanya terus menatap pada Yuna yang terlihat membicarakan sesuatu dengan dokter terapis itu. Sang dokter juga menyerahkan sesuatu pada Yuna saat itu. Yuri yang terus memperhatikan itu, tanpa sadar menjatuhkan buket bunga dari tangannya. Sebuah buket yang pagi itu ketika ia bangun telah berada didalam kamar rawatnya seperti biasanya.
Mendadak ia berpikir apakah nanti Azka masih akan mengiriminya bunga setelah ia tak lagi berada dirumah sakit itu. Jika tidak, Ia pasti akan sangat merindukan hal seperti itu..
“Oh, bungaku..”
Jena yang mengetahui hal itu, sudah akan mengambilkan bunga yang terjatuh dan kini berada dilantai tepat dibawah kaki Yuri, namun seseorang mendahuluinya dan mengambil bunga itu dari sana.
“Ini milikmu..”
Ucap seorang pria dengan suara berat sambil mengulurkan buket bunga yang diambilnya pada Yuri.
Melihat seorang pria yang berjongkok dihadapannya, mengambil bunganya dan kemudian menyerahkan itu padanya, entah mengapa justru membuat Yuri mencengkram erat pada pinggiran kursi roda yang didudukinya.
Tentu saja, karna Yuri memang masih selalu mewaspadai kehadiran seorang pria disekitarnya.
“Ini bungamu..”
Ucap pria itu sekali lagi dan dengan tangan yang gemetar Yuri kemudian mengambilnya.
“Terimakasih..”
Ucap Yuri dengan menundukkan wajahnya, namun yang kemudian dirasakannya adalah tangan pria itu yang mengusap rambutnya.
“Semoga cepat sembuh.. Aku ingin melihatmu sembuh..”
gumamnya didekat telinga Yuri sebelum kemudian berlalu meninggalkan Yuri yang menegang mendengarnya.
Siapa dia?
“Kakak, ayo kita pulang.. Dokter hanya menyerahkan jadwal terapi untuk mu..”
suara Yuna ceria tak tahu jika Yuri merasakan ketegangan yang luar biasa pada apa yang baru saja didengarnya dari seorang pria yang tak dikenalinya.
Siapa dia?
Siapa dia?
Yuri mendekap tubuhnya yang gemetar, kepalanya menggeleng dengan keras dan ketakutan langsung tergambar diwajahnya..
***
to be continue