At First Sight

At First Sight
Episode 74



Sejak terakhir kali dirumah sakit pada saat kematian Doni, Yuna memang belum lagi bertemu dengan Bibi Lia.


Ia yang terus berada dirumah sakit untuk menemani Yuri, hanya sesekali bertanya pada Azka mengenai keadaan Bibi Lia. Dan yang ia ketahui dari Azka, Bibi Lia memang selalu berada dirumah itu dan tak diperbolehkan untuk pergi seorang diri. Karna kesedihan dan perasaan teramat kehilangan yang dirasakannya takut-takut sesuatu terjadi padanya.


“Yuna, kau pulang sayang..”


Bibi Lia mendekat dan kemudian memeluknya..


“Aku sudah menunggumu, Yuna. Aku senang melihatmu kembali berada dirumah ini..”


Yuna tersenyum, menyusut airmata yang tanpa sadar telah menetes dari kedua mata Bibi Lia, membasahi wajahnya yang menurut Yuna terlihat lebih menua dibandingkan sebelumnya.


Ya Tuhan..


Kesedihan dan kehilangan kah yang membuat sang Bibi seperti itu?


Yuna hanya bisa membatin didalam hati saja.


“Bibi baik-baik saja kan?”


Bibi Lia menggeleng, dan kembali menjatuhkan airmata kesedihannya.


“Bagaimana aku bisa baik-baik saja, Yuna. Aku kehilangan Doni, aku kehilangan putraku satu-satunya. Bagaimana bisa aku akan baik-baik saja.. Aku tidak memiliki siapapun lagi didunia ini.”


Yuna meraih tangan Bibi Lia dan menggenggamnya dengan erat, sebagai bentuk ungkapan bahwa ia ikut merasakan kesedihannya.


Terlepas dari apa yang telah dilakukan Doni padanya, dan terutama pada Yuri, Bibi Lia hanyalah seorang ibu, dan dia tidaklah tahu apa-apa.


Benar apa yang dikatakan Azka sebelumnya, bila kebohongan yang dilakukan dirinya mengenai perilaku Doni, semata dilakukannya karna ingin menjaga agar wanita itu tidak semakin terluka dan tetap memiliki kebanggaan terhadap sang putra.


“Aku tahu Bibi, aku tahu.. Tapi Bibi tidak sendiri. Aku akan berada disini untuk menemani Bibi. Kumohon jangan lagi bersedih, Mas Doni pasti tidak ingin melihat Bibi seperti ini. Berkubang dalam duka dan terus menangisi kepergiannya..”


Bibi Lia kembali meraih tubuh Yuna dan memeluknya dengan erat.


“Tapi siapa yang akan menjagaku, Yuna. Siapa yang akan menjagaku jika bukan Doni. Aku sudah semakin tua, tapi anak itu kenapa tega sekali membiarkanku hidup sendiri..”


Yuna mengusap-usap pada punggung Bibi Lia untuk menenangkannya.


“Aku juga tidak memiliki siapa-siapa kecuali Kak Yuri. Aku juga kehilangan orangtua ku. Mereka pergi meninggalkanku dan Kak Yuri sendiri. Apakah.. Apakah Bibi Lia tidak ingin menggantikan kedua orangtua kami? Apakah Bibi tidak ingin menganggapku sebagai putrimu? Jika Bibi Lia mau menjadi orangtua ku, aku juga berjanji akan menjadi putri yang baik untukmu. Aku akan terus menjagamu. Aku tidak akan meninggalkanmu, Bibi. Aku janji..”


Yuna merasakan pelukan Bibi Lia yang semakin erat ditubuhnya, dan kali ini disertai dengan anggukan kepalanya yang mengiyakan kata-katanya.


“Oh, Yuna.. Trimakasih, kau begitu baik, sayang. Sejak lama aku memang telah menganggapmu juga kakakmu sebagai putriku. Kalian berdua adalah gadis yang baik, sayang..”


Bibi Lia melepas pelukan ditubuh Yuna, dan kemudian memperhatikan keberadaan Yuri yang hanya terdiam memperhatikan keduanya. Tatapan matanya mengisaratkan ketidak mengertiannya pada apa yang telah terjadi antara adiknya dan wanita paruh baya itu yang berkali telah dipeluk oleh Yuna.


“Yuri.. Bagaimana dengan keadaannya sekarang, Yuna?”


Yuna memberikan seulas senyum dibibirnya sebelum menjawab pertanyaan sang Bibi.


“Kakak sudah baik-baik saja, bibi. Dia hanya perlu menjalani beberapa terapi untuk memulihkan kondisinya.”


Bibi Lia lantas melangkah untuk mendekati Yuri. Menatap gadis itu dengan pandangan sedih, dan kemudian meraih tangannya.


“Yuri, apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka parah kan?”


Bibi Lia seakan meneliti pada tubuh Yuri. Melihat pada sebelah kakinya yang masih dililit dengan perban. Namun selebihnya, keadaannya terlihat baik-baik saja kecuali wajahnya yang masih dililit dengan perban. Namun selebihnya, keadaannya terlihat baik-baik saja kecuali wajahnya yang sedikit pucat dan lebih tirus. Gadis itu jelas terlihat lebih kurus daripada terakhir kali ia melihatnya, ketika seringkali Doni mengajak Yuri ke rumahnya.


Sebelum kemudian ia mendengar kabar yang cukup mengejutkan dari Doni, bahwa gadis itu pergi untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik diluar negri.


Apakah kemudian pekerjaan yang didapatkan Yuri menyengsarakannya?


Hingga membuatnya kehilangan begitu banyak berat tubuhnya?


Oh..


Sungguh, betapa malangnya.


Begitu apa yang ada didalam pemikiran sang Bibi..


Yuri masih hanya menatapnya. Dahinya berkerut samar, seolah sedang berusaha mengingat-ingat siapa wanita paruh baya itu yang masih terus menatapnya, bahkan kini tangannya telah bergerak mengusap pada rambutnya.


“Aku masih ingat saat dulu kita tinggal berdekatan. Kau selalu mengajak Yuna untuk bermain bersama Doni. Kau juga kadang menitipkan Yuna padaku. Bahkan saat Doni kemudian mengajakku untuk pindah, Kau masih sering datang ke rumahku. Dan itu begitu membuat Doni senang. Aku selalu melihat Doni cemas ketika menunggu kedatangan mu. Tapi dia dengan cepat akan tersenyum ketika melihatmu berjalan menuju rumah kami. Dia akan langsung berlari menghampirimu didepan pintu. Sejak saat itu aku tahu jika Doni menyukaimu. Putraku pasti telah jatuh cinta pada gadis cantik sepertimu, Yuri. Dia bahkan memajang banyak fotomu didalam kamarnya.”


Mendengar Bibi Lia yang terus menyebut nama Doni, membuat tubuh Yuri kembali menegang. Ia juga seakan menyaksikan sekelebat bayangan yang muncul. Gambaran dari kejadian buruk yang dialaminya didalam sebuah kamar yang memajang banyak foto dirinya. Didalam kamar Doni.


Pelecehan itu..


Seketika, Yuri menepiskan tangan Bibi Lia yang masih terus mengusap rambutnya. Membuat sang Bibi terkesiap oleh karna apa yang telah dilakukannya.


Begitu juga dengan Jena yang masih berada dibelakang kursi rodanya, yang nampak terkejut melihatnya. Terlebih Yuna, Ia lantas dengan cepat mendekat setelah melihat sikap yang ditunjukkan Yuri terhadap Bibi Lia.


“Jangan menyentuhku..”


“Yuri..”


Suara Bibi Lia sedikit bergetar. Kedua sorot matanya menyiratkan kebingungannya.


“Yuri, ada apa sayang? Apa kau tidak mengenaliku? Kau tidak mengingatku? Aku Bibi Lia, Yuri. Aku ibu Doni.. Kau masih tak mengingatku? Aku yang selalu memasak dan mengundangmu juga Yuna untuk makan bersamaku dan Doni. Tapi sekarang putraku, Doni sudah..”


Bibi Lia tak bisa meneruskan kalimatnya. Ia kembali mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, namun sekali lagi Yuri menepiskannya.


“Jangan menyentuhku..! Sudah kukatakan jangan menyentuhku!!”


“Kakak..”


Yuna makin terkejut saat Yuri mulai berteriak. Ia mendekat kesisi Yuri, untuk kemudian menenangkannya.


“Kakak.. Tidak apa-apa, Bibi Lia tidak akan menyakitimu. Tenanglah kak.. Bukankah kau juga mengenal Bibi Lia dengan baik..”


Yuri menggeleng dengan keras..


“Kakak.. bibi Lia, hanya..”


Yuri malah menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali tak ingin mendengar Yuna mengatakan sesuatu tentang Bibi Lia terhadapnya. Melihat wanita itu, entah mengapa justru langsung mengingatkannya pada Doni. Bayangan pria itu langsung memenuhi benaknya.


Tentu saja karna Bibi Lia, wanita paruh baya itu adalah ibunya.


Ibu dari pria ******** yang dengan tega merampas bahkan merusak kehormatannya sebagai seorang wanita.


“Kumohon Yuna.. Aku tak ingin melihatnya disini. Aku tak mau dia mendekatiku. Aku tak mau dia menyentuhku. Kumohon Yuna, suruh dia pergi. Aku lelah.. Aku ingin beristirahat..”


Yuna tak tahu apa yang kemudian harus dikatakannya. Ia juga bingung mengapa sang kakak bersikap seperti itu terhadap Bibi Lia. Ia masih hanya memandang dengan tidak percaya, saat kemudian Yuri meminta Jena untuk mendorong kursi rodanya.


“Bibi..”


Yuna juga melihat raut terluka diwajah Bibi Lia yang kemudian melangkah dengan lemah kearah pintu kamar. Berniat untuk keluar dari kamar itu seperti apa yang Yuri minta.


Yang tak diduga oleh Yuna, entah sudah berapa lama, diambang pintu kamar itu Ny.Dania berdiri. Disana, menyaksikan kejadian yang terjadi didalamnya.


Ny.Dania langsung meraih sang bibi, merangkul bahunya dan kemudian membawanya keluar darisana.


“Ibu..”


Yuna hanya mampu menggumam lirih. Wanita itu hanya menatapnya sekilas, dan entah apa yang nanti akan dipikirkannya.


Yuna sudah akan melangkah untuk keluar dari dalam kamar itu dan mengejar Ny.Dania juga Bibi tersenyum. Setidaknya ia mungkin akan bisa memberikan penjelasan mengenai sikap Yuri tadi, meski dirinya sendiri masih tidak tahu pasti alasannya.


Namun suara Yuri yang memanggilnya yang kemudian menghentikan niatannya.


Yuna mendekat untuk kemudian bersama Jena membantu Yuri turun dari kursi rodanya, dan selanjutnya membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


“Adakah yang anda perlukan, nona?”


Jena menanyakan, Yuna lantas mengucap pertanyaan serupa pada Yuri.


“Apa kakak perlu sesuatu?”


Yuri menggeleng..


“Aku hanya merasa haus”


Yuna tersenyum mengerti..


“Jena, bisakah kau mengambilkan air sekarang?”


“Tentu saja, nona”


“Aku merasa heran, Yuna.. Kau mengatakan bekerja disini, tapi mengapa dia sepertinya ada untuk memberi pelayanan padamu”


Oh dear..


Yuna menggigit bibir bawahnya, tidak salah bila kakaknya adalah seseorang yang pintar. Pemikirannya jelas dengan cepat dapat menangkap kejanggalan dari sikap Jena yang begitu terlihat patuh dan selalu siaga disekitar mereka.


Mengetahui Yuna yang masih hanya terdiam tak memberikan jawaban, maka Jena yang memang belum mencapai pintu untuk keluar, kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menjawab pertanyaan yang tersirat dari kalimat Yuri mengenai keberadaan dirinya..


“Tuan muda Azka yang memerintahkan saya untuk berada disekitar anda, nona. Bukankah saya sudah mengatakannya sebelumnya..”


“Oh, Azka yang memintamu melakukannya?”


Jena mengangguk dan Yuna menarik senyum disudut bibirnya, lega dan pasti akan mengucap terimakasih pada Jena nanti karna mampu membaca situasi yang dialaminya.


“Baiklah aku mengerti..”


“Saya permisi nona..”


Jena keluar dan menutup pintu dibelakangnya. Begitu ia berada selangkah menjauh dari kamar itu, Jena merasakan getaran pada ponsel miliknya.


Melihat siapa yang pada saat itu menghubunginya, Jena buru-buru, mencari tempat yang ia rasa takkan ada yang mendengar suaranya.


“Arkhan..”


Jawabnya dengan suara lirih, disertai dengan tatapan dari kedua matanya yang awas memperhatikan kesekeliling.


“Kau benar-benar nekat, Arkhan. Kau tahu, kau pasti telah membuat nona Yuri takut. Dia begitu terlihat tegang tadi..”


“Maafkan aku, tapi aku benar-benar sudah tak bisa menahan diriku. Aku ingin melihatnya, aku ingin dia melihatku. Aku ingin dia mengenalku..”


Jena menghela napas mendengarnya..


“Tapi apa yang kau lakukan tadi benar-benar gegabah, Arkhan. Kau melupakan kehati-hatian mu yang bahkan selalu kau ajarkan padaku.”


“Aku tahu..”


“Jika kau melakukan kecerobohan lagi, Aku berpikir takkan lagi bisa membantumu.. ”


“Oh ayolah, Jena.. kau pasti tidak akan melakukan itu. Aku masih membutuhkan bantuan, dan hanya kaulah satu-satunya yang bisa membantuku..”


“Apa kau sudah memiliki rencana, Arkhan?”


“Ya, tentu.. Aku lelah bersembunyi. Aku ingin dia tahu bahwa aku ada. Seperti yang kukatakan, Aku ingin Yuri mengenalku. Tapi tenang, aku tidak akan tiba-tiba muncul dihadapannya seperti tadi dan menakutinya. Aku akan…”


“Jena..”


Jena terkejut dan buru-buru mematikan sambungan telponnya. Memutus suara dari seorang pria disambungan telponnya yang masih terus berbicara.


Menoleh ia mendapati Yuna yang tengah berdiri tak jauh darinya, memperhatikannya.


***


to be continue