At First Sight

At First Sight
Episode 55



Author POV


“Ayo, Yuna.. Ikutlah denganku, aku akan membawamu bertemu dengan Yuri”


Sulis yang tak tega melihat tangisan Yuna, yang kemudian merengkuh bahu gadis itu untuk berdiri. Ia menuntun Yuna untuk menyebrang menuju mobilnya yang masih diparkir didepan tempat dimana mereka tak sengaja dipertemukan tadi.


Ia membuka pintu mobil dan membiarkan Yuna masuk kedalamnya, duduk disebelahnya yang dengan segera mengemudikan mobilnya ke arah jalan raya.


Yuna tak bisa menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan Sulis sampai kemudian menghentikan laju mobilnya. Yang jelas menurut apa yang dirasakannya pada saat itu, setiap menit bahkan setiap detiknya rasanya sungguh sangat lama. Hingga mungkin ia telah sampai ratusan kali mempertanyakan pada Sulis, kapankah ia akan sampai di tempat sang kakak dikurung, di sembunyikan.


Sial..


Kenyataan itu benar-benar menyakitinya. Terlebih fakta bahwa yang melakukan hal itu adalah seseorang yang dipercayainya, membuat Yuna telah berkali-kali mengumpat didalam hatinya.


Ia bertekad untuk membawa Kakak nya. Karna tak ada seorangpun yang lebih berhak dan berkewajiban menjaga Yuri selain dirinya.


“Kita sudah sampai..”


Sulis menyentuh lengan Yuna dan menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


Yuna menatap ke sekeliling dan hanya menemukan setidaknya ada ratusan mobil disana.


“Kita di basemant gedung..”


Sulis yang kemudian menjawab pertanyaan tak terucap dari Yuna.


“Doni menempatkan kakakmu di salah satu kamar di gedung apartemen ini..”


Sulis membuka sabuk pengamannya, Ia baru akan turun ketika kemudian mendengar ponselnya berdering.


Panggilan dari rumah sakit..


“Dokter, anda sebaiknya secepatnya datang ke rumah sakit. Pasien anda mencoba melakukan bunuh diri. Dia telah berhasil memutus urat nadinya dan sekarang sedang ditangani didalam ruang gawat darurat.. Keluarganya terus mempertanyakan dimana keberadaan anda..”


Pemberitahuan itu yang dengan segera membuat Sulis menatap kearah Yuna yang telah membuka pintu mobilnya, bersiap untuk turun. Terpancar ketidak sabaran dari sorot matanya untuk segera dapat menjumpai kakaknya.


“Aku mengerti..”


Setelah mengiyakan, Sulis menutup ponselnya dan beralih pada Yuna.


“Panggilan dari rumah sakit..”


Sulis memberitahukan..


“Salah satu pasien ku dalam keadaan gawat.. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”


“Tidak apa-apa dokter, anda bisa pergi. Aku akan menemui Kak Yuri. Terimakasih untuk semuanya. Saya benar-benar bersyukur Tuhan telah mempertemukan saya dengan anda, tadi..”


Yuna sudah akan membawa kakinya untuk turun ketika kemudian Sulis menahan pergelangan tangannya.


“Tunggu Yuna.. Sebaiknya, sebaiknya kau ikut denganku saja..”


“Apa? Apa maksud dokter?”


“Kau ikut dulu denganku ke rumah sakit. Setelah itu, aku akan membawamu kembali kesini. Kita akan bersama-sama saat menemui Yuri..”


Mendengarnya, Yuna langsung menyentakkan tangannya sebagai tanda penolakan. Sebenarnya Sulis sendiri juga meragukan Yuna akan menuruti apa yang dikatakannya.


“Tidak.. Saya tidak mengerti, bagaimana maksud anda? Saya akan menemui Kak Yuri sekarang..”


“Mungkin tidak aman jika kau masuk sendirian, Yuna..”


“Kak Yuri ku lebih tidak aman, dokter!!”


Yuna berteriak putus asa. Airmata kembali membasahi wajahnya.


“Aku harus bertemu dengan Kak Yuri.. Anda sudah begitu baik terhadapku. Maka sekarang, aku mohon untuk tidak mempersulit ku.. Katakan dikamar mana kakak ku disembunyikan?”


Sulis hanya bisa menghela napas, Yuna jelas tidak dapat dicegah.


“Sebelumnya, tolong dengarkan aku..”


Sulis kembali meraih tangan Yuna. Memegangnya erat seakan ia takkan melepaskannya sebelum Yuna kembali mendengarkan apa yang akan disampaikannya.


“Faktanya Doni sengaja menyembunyikan Yuri darimu. itu berarti dia tak menginginkanmu untuk tahu keberadaan kakakmu, Yuna. dia juga menempatkan seorang penjaga disana untuk mengawasi Yuri.. Kau tidak akan bisa sembarangan masuk”


“Tapi aku tetap harus bertemu dengan Kak Yuri, dokter..”


“Yuna..”


“Aku butuh untuk melihatnya, dokter..”


Air matanya kembali menetes..


“Kumohon dokter.. aku harus, aku benar-benar butuh untuk melihat Kakak ku”


Sulis kembali menghela napasnya..


“Baiklah jika memang itu yang kau butuhkan..”


Sulis kemudian lebih dulu beralih pada tas tangannya, mengambilnya dari atas dashbor dan mengeluarkan beberapa jenis obat dari dalamnya.


“Awalnya aku memang berencana untuk mengunjungi Yuri dan memberikan beberapa obat untuknya.. Sekarang aku akan menggunakan ini sebagai alasan untuk membuatmu masuk ke dalam sana. aku akan mengatakan mengirim suster kesana ..”


Yuna mengangguk mengerti..


“Tapi sebelumnya, aku perlu lebih dulu menghubungi Doni dan mengatakan agar dia memerintahkan penjaganya membukakan pintu untukmu”


Yuna kembali hanya mengangguk..


Sulis kemudian menggunakan ponselnya untuk menghubungi Doni. Namun dari dua kali panggilan yang dilakukannya, pria itu masih belum menjawab ponselnya. Setelah ke tiga kalinya dan masih tidak mendapatkan jawaban, Sulis mencoba untuk menghubungi langsung sang penjaga yang selalu berada disana untuk menjaga Yuri.


Panggilannya dijawab dan Sulis langsung mengatakan padanya, bila dirinya seharusnya datang untuk membawakan obat untuk Yuri namun keadaan dirumah sakit tak memungkinkan. Sulis tak berbohong mengenai alasannya karna pasiennya yang dalam keadaan gawat, namun ia melakukan sedikit kebohongan dengan mengatakan Ia telah mengirimkan seorang suster untuk menggantikannya.


“Dia mungkin akan tiba disana dalam beberapa menit, maka ku harap kau akan membukakan pintu untuknya..”


Yuna hanya terus mendengarkan apa yang Sulis katakan, yang sedang berusaha meyakinkan seseorang itu bahwa suster yang dikirim olehnya adalah orang kepercayaannya.


“Aku sudah mencoba untuk menghubungi Tn.Doni, namun dia tidak menjawab ponselnya..”


Sulis kemudian diam mendengarkan..


“Baiklah, kau bisa coba menghubunginya. Dan katakan untuk menghubungiku.. Jika tidak, seharusnya kau telah diajarkan untuk mengambil keputusan disaat dalam keadaan darurat..”


Sulis menutup ponselnya dengan kekesalan yang menggurat diwajahnya. Sang penjaga itu rupanya susah untuk di yakinkan.


“Bagaimana dokter?”


“Aku akan menunggu setidaknya lima menit sampai Doni atau penjaga itu menelponku. Jika tidak ada dari keduanya yang menghubungiku dalam waktu itu, kau benar-benar harus ikut denganku, Yuna. Percuma kau berada disana, kau tidak akan pernah bisa masuk..”


Yuna menggeleng, walau bagaimana pun ia tetap harus bertemu dengan Yuri kakaknya.


Setidaknya telah empat menit berjalan ketika kemudian ponsel Sulis berdering.


Penjaga itu menelponnya..


“Bagaimana? Kau sudah menghubungi Tn.Doni? Apa yang dikatakannya..?”


Sang penjaga itu mengatakan jika dirinya juga sama tidak bisa menghubungi Doni, maka setelah sekali lagi memastikan pada Sulis, penjaga itu mengatakan akan melakukan apa yang Sulis katakan.


“Terimakasih untuk mendengarkan ku..”


Sulis menutup ponsel dan sedikit tersenyum pada Yuna yang berwajah cemas saat itu.


“Kau bisa masuk, dan bawa ini..”


Sulis menggenggamkan kantong yang berisi obat ke tangan Yuna dan mengatakan dilantai berapa serta kamar nomor berapa yang harus Yuna ketuk.


“Doni tidak ada disana, dia memang jarang ada disaat pagi seperti ini. Dia berada dikantor dan biasanya datang untuk sekedar mengecek setelah jam kerja selesai. Jika masalah dirumah sakit sudah bisa diatasi, aku akan kembali kesini..”


“Terimakasih untuk bantuannya, dokter.. Aku sungguh berterimaksih..”


“Iya.. dan tolong maafkan aku”


Yuna mengangguk..


“Satu lagi, Yuna.. Jangan bertindak ceroboh. Kau harus tahu keberadaanmu disana diawasi”


Yuna kembali mengangguk sebelum kemudian Ia benar-benar keluar dari dalam mobil Sulis, untuk selanjutnya berjalan mencari lift sesaat setelah mobil Sulis melaju meninggalkannya.


Yuna merasakan degupan jantungnya yang cukup keras ketika Ia berada didalam lift seorang diri. Tangannya gemetar saat mencoba menekan tombol angka untuk memberhentikan lift dilantai yang ia inginkan.


Kesendirian itu mencekamnya, membuat airmata kembali lolos membasahi wajahnya, namun dengan cepat Yuna langsung menghapus dengan jari-jarinya. Rasa dalam hatinya memang luar biasa sakit. Ia sedikitpun tak pernah menyangka Yuri akan mengalami hal yang seperti telah diungkapkan oleh Sulis. Yuna juga lebih tak menyangka jika Doni lah yang menjadi pelaku perbuatan bejat yang mengakibatkan Yuri menanggung derita itu.


Ketika kemudian pintu lift terbuka, Yuna hampir saja tersandung oleh kakinya sendiri. Ia limbung hingga merasa perlu berpegang pada tembok disekitarnya. Tangannya mengepal menggenggam kantong berisi obat yang dititipkan Sulis padanya.


Yuna berjalan dengan perlahan, menyeret kakinya dan memfokuskan tatapan matanya untuk mencari-cari pintu apartemen yang sebelumnya telah disebutkan Sulis padanya.


Yuna menemukan pintu apartemen itu. Ia berdiri didepan interkom, dengan tangan gemetar tangannya memencet pada tombol..


“Siapa?”


Jawaban dari dalam..


“Aku.. Aku yang mengantarkan obat..”


Terdengar kuncian pada pintu didepannya yang kemudian terbuka.


Seorang pria yang menurutnya lebih tinggi dari Doni berdiri dihadapannya dan langsung mengulurkan tangan ke arahnya.


“Berikan padaku..”


Yuna bergerak mundur dan seketika menjauhkan tangannya yang memegang kantong obat ke belakang tubuhnya. Membuat sang pria mengernyit melihatnya.


“Maaf Tuan.. Dokter Sulis meminta saya untuk memastikan pasien meminum obatnya terlebih dulu. Tidakkah beliau mengatakan pada anda untuk memperbolehkan saya masuk?”


Jika Yuna langsung memberikan obat itu pada sang pria penjaga apartemen dihadapannya, Ia sadar takkan memiliki kesempatan untuk mengetahui kebenaran keberadaan kakaknya didalam apartemen itu. Ia haruslah memastikan jika Yuri tidak berada diluar negri dan benar apa yang Sulis telah katakan bahwa Yuri memanglah dengan sengaja disembunyikan oleh Doni darinya.


“Masuklah..”


Pria itu menggeser tubuhnya untuk membiarkan Yuna masuk.


Begitu dirinya masuk ke dalam apartemen itu, Ia langsung memberikan tatapan awas pada keadaan disekitarnya.


“Dimana kamar pasiennya?”


Yuna bertanya dengan nada bergetar dalam suaranya, namun untungnya pria itu sepertinya tak menyadarinya. Ia berucap agar Yuna mengikutinya dan membukakan kuncian pada pintu bercat hitam yang sebelumnya tak berada jauh dari tempat Yuna berdiri.


Yuri kakaknya terkurung dan bahkan terkunci didalam sana..


Ya Tuhan..


Yuna merasakan perih seakan-akan seseorang baru saja mengiris hatinya dan menaburkan garam ke atas luka yang dideritanya. Membuatnya sangat ingin menendang pria itu jauh-jauh saat itu juga, namun Yuna menahan diri saat mengingat apa yang Sulis katakan padanya untuk tidak bertindak ceroboh.


“Pastikan kau hanya melakukan apa yang menjadi tugasmu..”


Ucapan pria itu bernada memperingatkan, namun sesaat Yuna justru memberikan tatapan tajam ke arahnya dan hanya memberikan anggukan kepala sebagai responnya.


Begitu pintu terbuka, Yuna dapat melihat Yuri sang kakak yang sedang meringkuk dalam tidurnya. Ia sangat ingin berlari dan kemudian mendekapnya, namun Yuna akan memastikan terlebih dulu pria penjaga itu takkan melihat ia melakukannya.


“Dia kembali tidur atau memang dia memang belum dibangunkan?”


Pria itu menggaruk tengkuknya mendengar pertanyaan dari Yuna.


“Dia belum bangun..”


“Kau tidak mencoba untuk membangunkannya dan memberinya makan?”


“Dia tidak membutuhkan itu..”


Mendengar jawaban acuh bernada ketidak perdulian, rasanya Yuna sangat ingin melempar benda apa saja yang berada disekitarnya kearah pria itu.


Doni benar-benar keparat..


**** sialan yang tega membiarkan Kakak nya bersama dengan pria berhati binatang seperti itu. Bagaimana bila pria itu berlaku kasar dan juga berperilaku sama bejat?


Yuna merasakan kemarahan dalam hatinya dan sekaligus bergidik ngeri membayangkannya..


Menyadari pada saat itu Yuna memberikan tatapan tajam padanya, sang pria kemudian melanjutkan.


“Maksudku.. Maksudku, aku tidak melakukannya karna aku takut hanya akan membuatnya histeris. Kau harus tahu jika dia tak bisa didekati oleh pria..”


“Kalau begitu biarkan aku mengurusnya.. Aku butuh beberapa waktu. Beberapa menit untuk memandikannya, memberinya makan dan juga memastikan dia meminum obat. Kau bisa meninggalkan kami bukan?”


Pria itu mengangguk..


Namun ketika sang pria hendak menutup pintu, Yuna mencegahnya.


“Kau mungkin bisa membelikan sesuatu seperti bubur mungkin, untuknya makan..?”


“Sudah ada.. Aku akan menghangatkannya”


Pria itu menutup pintu..


Sial..


Niatan Yuna untuk membuat pria itu keluar dari apartemen dan berada jauh, gagal..


Namun setidaknya Ia telah melihat dan berada didalam kamar itu bersama dengan kakaknya.


“Kakak..”


Airmata Yuna kembali menetes ketika ia bergerak melangkah mendekati tempat tidur tak terlalu besar yang diatasnya sang kakak sedang meringkuk.


“Kakak.. Aku sangat merindukanmu.. Kak Yuri..”


Ketika telah cukup dekat dengan Yuri, Yuna mengulurkan tangan menyentuh rambutnya. Melihat wajah pucat sang kakak sungguh membuatnya nelangsa. Yuri terlihat lebih kurus bila dibandingkan dengan terakhir kali ia melihatnya.


Ia duduk dipinggir tempat tidur dan kemudian meraih tangannya. Yuna dapat melihat bekas luka yang tergores dipergelangannya..


“Kakak, Apa yang terjadi? Apa yang terjadi denganmu..”


Yuna telah menjatuhkan kantong berisi obat itu dari tangannya. Kedua tangannya kini telah menggenggam erat tangan Yuri. Bahkan sesekali membawanya untuk menempel di wajahnya.


Airmatanya yang terus menetes yang membasahi tangan Yuri, yang kemudian membuat Yuri terjaga dari tidurnya.


Yuri langsung menarik tangannya dan dengan tatapan waspada bangun dari tidurnya untuk kemudian beringsut ke ujung tempat tidur..


“Kakak..”


Yuna menggumamkan namanya dalam tangis kepiluan..


“ini aku Kak.. Aku sangat merindukanmu..”


Yuri terus menatapnya, tatapannya yang penuh kewaspadaan saat pertama kali melihat keberadaan seseorang disekitarnya perlahan-lahan berubah.


“Aku merindukanmu Kak..”


Yuna mengulurkan tangan untuk meraihnya, pada saat itu Ia melihat Yuri meneteskan airmatanya sesaat sebelum dia bergerak menghambur memeluk Yuna.


“Yu-na.. Yu-na.. Yuna..”


Yuna merasakan kelegaan mengetahui Yuri mengenalinya dan bahkan menyebut namanya, hal yang tak lagi dilakukannya setelah dokter memfonisnya mengalami depresi. Namun kelegaan yang Yuna rasakan masih bercampur dengan rasa sakit ketika tubuh Yuri bergetar hebat dalam pelukannya.


“Aku takut.. Aku takut, Yu-na..”


Ya Tuhan..


“Aku disini Kakak, aku disini.. Aku akan menjagamu. Aku takkan membiarkan siapapun menyakitimu. Jangan takut..”


Yuri menggeleng dan mengeratkan pelukannya..


“Pergi.. Ayo pergi..!! Ayo pergi Yuna..!”


Yuna melihat kepanikan diwajah Yuri begitu Ia melepaskan pelukannya. Yuri menggenggam tangannya dan menariknya saat ia turun dari atas tempat tidur.


“Kakak.. Kak, ku mohon tenanglah.. Tenang Kak..”


Yuna mencemaskan pria penjaga itu akan mendengar apa yang di teriakkan Yuri. Namun Yuri seakan tak mengerti, dia terus menggeleng dan terlihat kian panik..


“Pergi.. Ayo pergi Yuna, cepat pergi..! Ayo kita pulang Yuna.. Ayo..!!”


“Iya Kak kita akan pergi.. Kita akan pulang, kembali kerumah..”


Yuna mendekap tubuh Yuri untuk menenangkannya.


“Kita akan pulang.. Aku akan membawa Kakak pulang kerumah kita. Tenanglah Kak..”


Yuna merasakan Yuri hanya tenang sesaat dalam pelukannya, sebelum kemudian tubuhnya menegang ketika mendengar bunyi klik dari pintu kamar. Menandakan pintu itu kini telah terkunci. Mengunci mereka berdua didalamnya..


“Gadis belia sepertimu jelas tidak akan bisa bermain-main denganku apalagi mencoba mengelabuhiku..”


Setelah mengunci pintu kamar yang ditempati Yuri, dan Yuna yang juga masih berada didalamnya, Pria penjaga di apartemen itu menyeringai pada foto Yuna yang berada ditangannya..


Ia kemudian beralih mendekat ke sebuah meja, untuk menjawab panggilan yang masuk pada ponsel miliknya yang tergeletak diatasnya..


“Ya, Tuan..”


******


to be continue