At First Sight

At First Sight
Episode 13



Author POV


Setelah menjauh dari ruang kerja Azka, dan berada dibalik pintu tangga darurat untuk memastikan ditempat itu tak akan ada seorangpun yang melihat dan terutama mendengar ketika dirinya berbicara, Doni baru melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Yuna dan menangkap tatapan penuh tanya yang diarahkan Yuna padanya.


“Mas.. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang dimaksudkan pria bajingan itu? Aku menjadi sekretarisnya? Itu benar-benar konyol Mas..”


“Kau tidak akan menyebut ini konyol jika Kau tahu hal itu justru akan menguntungkan untuk kita..”


Yuna mengerutkan dahi..


“Kau tidak lupa kan, Yuna.. Apa yang sudah kita rencanakan?”


“Ya, aku mengerti tujuan kita adalah untuk menghancurkan bajingan itu.. Tapi aku masih belum tahu apa yang sudah menjadi rencanamu untuk mewujudkan itu. Kau sama sekali tak menjelaskannya padaku.. Dan sekarang aku bertambah bingung dengan siapa yang memiliki ide untuk menjadikanku sebagai sekretaris bajingan itu. Kau kah orangnya..?”


“Bukan.. Azka yang memiliki ide itu..”


Yuna membelalak..


“Dia yang menginginkanmu sebagai sekretarisnya”


“tapi kenapa? Apa dia tidak mengetahui Aku hanya menyelesaikan pendidikan menengah dan belum pernah menjalani perkuliahan. Aku tidak akan bisa bekerja untuknya..”


“kurasa itu bukan sesuatu yang penting untuknya. Azka hanya ingin memanfaatkanmu untuk mendapatkan wanita yang diingkannya..”


Doni menggulirkan cerita yang sama seperti yang dikatakan Azka padanya. Tentang alasannya memposisikan Yuna sebagai seorang sekretaris, sampai tentang rencana pertunangan dan pengumuman pertunangan itu pada perayaan ulang tahun perusahaan yang sekiranya akan berlangsung diminggu depan.


“Apa kau mengerti jika pertunangan itu nantinya hanya akan menguatkan posisi Azka.. Dia akan bertambah besar dengan penyatuan antara perusahaan ini dan perusahaan milik keluarga wanita itu”


“Apa itu berarti akan sangat susah untuk menghancurkan pria itu..”


Doni mengangguk..


“karna itu, Kita tidak bisa membiarkan pertunangan itu.. Kita akan mencegahnya terjadi”


“tapi apa yang akan kita lakukan untuk menghentikan itu Mas?”


“kita memiliki waktu sampai pada perayaan perusahaan diminggu depan. Aku akan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikannya.. Untuk sementara Kau bisa mengikuti apa yang Azka katakan. Persiapkan dirimu untuk menjadi seorang sekretarisnya mulai hari ini..”


“tapi mas, apa yang bisa kulakukan nanti..?”


“Kau hanya perlu mengikuti apa yang dia katakan..”


“tapi..”


Doni menggeram..


“Hanya lakukanlah Yuna.. Posisimu dengan sendirinya menjadi dekat dengan Azka, dan kuharap kita bisa memanfaatkan itu.. Kita akan berbicara lagi nanti”


Dengan itu Doni meninggalkan Yuna yang masih berada dalam kebingungannya.


“Sialan.. Aku bahkan tak ingin berada dekat dengan bajingan itu!”


***


Apa yang kemudian dilakukan oleh Yuna dihari itu setelah mengemas sedikit barang pribadinya dan memindahkannya pada meja kerja seorang sekretaris yang tepat berada didepan ruang kerja Azka, meja yang sama yang pernah dipakai Yuri kakak nya untuk bekerja. Tak ada yang Ia lakukan. Tak ada yang benar-benar Ia lakukan selain duduk tanpa mengerjakan apapun. Azka terus berada didalam ruangannya dan belum sekalipun memanggilnya untuk melakukan ataupun mengerjakan sesuatu.


Dia pasti tahu jika dirinya memang tak akan mampu untuk melakukannya..


Ia juga bukan tipe gadis yang bisa duduk tenang, yang akan memanfaatkan waktu tanpa pekerjaan itu untuk mengecat kuku-kuku dijari tangannya, seperti yang banyak wanita lakukan.


Ia tidak akan melakukan hal itu, meski Ia ingin namun kehidupannya tak mengijinkannya untuk menyibukkan diri dengan pewarna kuku.


Maka sepanjang hari itu, Yuna hanya bisa terus menggumam kesal dengan makian tertahan didalam hatinya. Mengutuki apa yang dilakukan Azka dengan memanfaatkannya sebagai salah satu alat untuk mengesankan pribadinya didepan calon tunangan bisnisnya.


“Jam kerjamu sudah berakhir nona. Kau bisa pulang..”


Yuna hampir tak menyadari jika Azka keluar dari dalam ruangannya dan kini berdiri didepan meja kerjanya.


Ralat..


Melainkan sebuah meja yang hari itu menjadi saksi kekesalannya.


“Anda bahkan tak meminta saya untuk mengerjakan apapun..”


Yuna menggumam kesal, tak menghiraukan bila saat itu Azka bisa mendengarnya.


Ia tak perduli..


Meski saat itu Ia juga melihat Azka menunjukkan senyum geli kearahnya. HalHal itu justru semakin membuatnya bertambah kesal..


“Kalau begitu saya permisi Pak..”


“hm, datanglah kembali besok.. Dan jangan lagi menggunakan seragam resepsionis itu. Kau bisa memakai yang lebih layak untuk dikenakan seorang sekretaris..”


“jadi saya seorang sekretaris..? Saya justru merasa lebih tepat jika anda jadikan security penjaga pintu ruangan anda..”


Niatannya mengatakan itu untuk menyindir Azka, namun yang terjadi Azka justru tergelak mendengarnya. Tawanya yang seakan tanpa beban justru membuat Yuna menjadi kikuk berdiri didepan pria itu.


Karenanya Ia kemudian merasa perlu untuk secepatnya pergi dari hadapan Azka..


“Saya permisi Pak..”


Namun tak disangka olehnya, bila


kemudian Azka justru menahan lengannya.


“Kau ingin aku memberimu pekerjaan? Baiklah Kau bisa bersiap untuk besok.. Besok kau akan mendapatkan pekerjaan yang bisa kau kerjakan..”


Dan kemudian Azka lah yang justru lebih dulu meninggalkan Yuna yang masih terpaku mendengar apa yang diucapkannya.


***


Pukul sembilan malam ketika Yuna akhirnya bisa masuk ke dalam kamarnya. Harusnya Ia bisa tiba dirumah sejak tadi, namun Husna berhasil memaksanya untuk ikut menikmati makan malam disebuah kedai pinggir jalan dan akhirnya mencecar nya dengan berbagai pertanyaan mengenai apa yang dikerjakannya dihari pertamanya sebagai sekretaris.


Maka dengan dua gelas soju yang diberikan husna padanya, telah berhasil membuatnya menceritakan kekesalannya pada gadis itu. Tidak semua nya, karna Yuna masih cukup sadar untuk tidak mengatakan keinginannya yang berencana mengahancurkan pria itu.


Melempar tas tangannya keatas tempat tidur, Ia juga kemudian menjatuhkan tubuhnya disana. Dan perlahan tangannya membuka satu persatu kancing pakaian yang dikenakannya, menariknya lepas dari tubuhnya dan kemudian melemparnya.


Hal yang dilakukannya itu lantas mengingatkannya akan kata-kata Azka yang memintanya memakai pakaian yang lebih layak sebagai seorang sekretaris.


“Ya Tuhan..”


maka kemudian Yoona langsung melesat kekamar Yuri dan membongkar isi lemarinya. Ia tahu tak memiliki pakaian yang cocok yang bisa dikenakannya besok, dan meminjam milik Yuri kakak nya menjadi jalan satu-satunya yang bisa dilakukan.


“kakak.. Kau tidak akan marah jika aku memakai pakaian kerjamu kan?”


Yuna menggumamkan pertanyaan itu sendiri sambil mengeluarkan beberapa pakaian kerja yang biasa dikenakan Yuri dari dalam lemarinya.


Ketika tengah melakukan itu, tanpa sadar Yuna menemukan sebuah buku yang tersembunyi dari dalam tumpukan pakaian.


Sebuah buku agenda kerja, yang didalamnya seharusnya berisi catatan tentang pekerjaan. Namun Yuri justru mengisinya dengan menuliskan kekagumannya pada sosok Azka.


Puja pujinya yang dituliskan untuk pria itu membuat Yuna mengetahui betapa dalamnya Yuri mencintai Azka, namun pria itu justru yang telah menghancurkan hatinya. Dan membuat kakak nya tak lagi ingin untuk melanjutkan hidupnya.


“Dia pria brengsek kak.. Kau tak seharusnya mencintai nya..”


Setelah membacanya Yuna merobek catatat itu satu persatu sambil kembali menangisi kemalangan kakak nya dan teringat betapa saat ini Ia berada jauh darinya, hingga Ia tak lagi bisa untuk memeluknya.


“Aku merindukanmu kak.. Aku pasti akan menemuimu setelah menghancurkan pria itu. Aku ingin pada saat itu Kau sudah kembali seperti dulu dan bisa tersenyum memelukku..”


Yuna kembali merasakan kesakitan yang mengiris hatinya, hingga sepanjang malam itu Ia meringkuk sambil memeluk pakaian Yuri diatas tempat tidurnya.


***


to be continued