
Yuna POV
Aku merasakan sentuhan-sentuhan nan lembut membelai wajahku, dan menyentuh rambutku. Aku terbangun karna tangan itu berlama-lama mengusap rambut diatas kepalaku.
Mengerjapkan mata, Aku hampir tak percaya jika Kak Yuri berada disamping tempat tidurku. Dengan wajah sayu menatapku, tangannya mencoba menunjukkan kasih sayangnya padaku.
Aku bergerak..
Aku sangat ingin bergerak untuk memeluknya. Tapi seakan tubuhku lumpuh..
Aku ingin berteriak..
Ada apa denganku?
Mengapa aku tak bisa meraih kakakku..
Aku ingin memeluknya..
Aku ingin mengadu padanya..
Aku ingin dia membawaku keluar darisini..
“kakak.. kakak..”
“Kau adik kecilku yang kuat, Yuna.. Aku menyayangimu..”
“kakak.. kakak jangan.. kakak.. kakak jangan pergi!! Tidak kakak.. Jangan pergi..!!”
Aku benar-benar tak bisa menyentuhnya. Dan aku justru kehilangannya dalam kabut gelap..
Kakak ku pergi dan aku benar-benar terjaga dari sebuah mimpi..
Tuhan..
Aku memeluk kedua lututku dan menangis hingga hampir tersedak. Mengapa itu hanya mimpi?
Mengapa tidak ada kak Yuri disisiku, sekarang, disaat aku benar-benar membutuhkannya..
Aku sudah cukup menangis semalam..
setelah bajingan itu merendahkan ku..
Dan sekarang aku heran, mengapa masih saja ada airmata yang tersisa dan siap untuk kembali kutumpahkan..
Bergerak menyingkap selimut dari atas tubuhku, aku melangkah kedalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku.
Aku akan menghapus airmataku dengan air yang mengguyur tubuhku..
Aku kuat..
Aku gadis yang kuat seperti yang dikatakan kakak padaku.
Dia hadir dalam mimpiku, pasti untuk menyemangatiku..
Tapi mengapa kau menunjukkan wajah sayu itu kakak, kenapa..?
Seharusnya kau menunjukkan senyum penyemangat yang biasa kau berikan padaku..
Aku berlama-lama berada dibawah pancuran. Membiarkan air membawa sisa-sisa airmata dan membasahi seluruh tubuhku..
Aku hampir menggigil saat keluar dari dalamnya, memutuskan mengenakan pakaian dengan cepat dan kemudian mengeringkan rambutku yang basah.
Aku sudah menyisirnya saat aku keluar dari dalam kamar sepuluh menit kemudian dan langsung mengarah kedapur. Aku ingin mencari tahu apakah Bibi Lia sudah datang. Dan sudahkah dia mengatakan pada mas Doni tentang keberadaanku disini. Aku sangat ingin tahu bagaimana reaksinya tentang itu.
“Bibi.. Bibi..”
Aku menemukannya sedang mengolah sesuatu, dan kemudian aku menghampirinya..
“Bibi..”
“Oh, Yuna.. Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu semalam..?”
“tidak lebih baik daripada tidur didalam kamar sempitku..”
aku mendengus dan Bibi tersenyum kepadaku..
“Kau akan terbiasa nanti.. Ingin meminum sesuatu? Teh hangat? Aku akan menyiapkannya untukmu..”
“Tidak.. Tidak usah bi, jangan melayaniku.. Apa yang sedang kau kerjakan..?”
“Aku sedang membuat sarapan..”
“Nyonya dan Tuan belum bangun?”
Aku menatap kesekeliling mencari tahu..
“mungkin sudah.. Biasanya mereka akan keluar sebentar lagi. Dan mengapa kau masih memanggil mereka seperti itu? Kau sudah harus memanggil mereka ayah dan ibu, Yuna..”
“mereka bukan ayah dan ibu ku..”
“tapi kau sudah bertunangan dengan putra mereka.. Kalian akan menikah, sudah pasti Tuan dan Nyonya akan menjadi ayah dan ibu mu..”
“Tidak.. Aku tidak akan menikah dengan Azka..”
Mengabaikan Bibi Lia yang mengernyit mendengar ucapanku, aku semakin mendekatinya..
“Kau ini bagaimana.. Jika sudah terjadi pertunangan sudah pasti yang selanjutnya menjadi pembicaraan adalah mengenai pernikahan”
Aku tak ingin menjelaskan pada Bibi Lia, maka aku hanya tersenyum kearahnya..
“bibi..”
“bibi sudah mengatakan pada mas Doni?”
“Oh, semalam dia tidak pulang.. Aku juga kesulitan menghubunginya. Dia hanya mengirimkan pesan pada sore hari jika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan..”
Aku hanya bisa mengehela napas mendengarnya. Mas Doni pasti sangat sibuk..
“jangan khawatir.. Aku sudah mengirim pesan padanya..”
“Iya.. Terimakasih bi.. adakah yang bisa kubantu?”
“Tidak.. Tidak.. Tidak.. Jauhkan dirimu dari sana, Yuna..!”
Aku cukup terkejut dengan suara itu dan tangan Ibu Azka yang langsung menarikku dari dapur..
“Apa yang sedang kau lakukan disana?”
“saya.. Saya hanya ingin membantu bibi Lia, Nyonya..”
“Tidak.. Kau tidak boleh membantunya didapur. Suamiku sangat marah bila aku memasuki dapur.. Dia pasti akan melakukan hal yang sama padamu. Meski itu konyol, tapi dia tak ingin melihatku mengalami luka teriris pisau ataupun tersulut api kompor saat berada didapur..”
Aku mengerutkan dahi mendengarnya. Bahkan dirumahku, aku berdekatan dengan dapur, aku juga bisa tidur didalam dapurku sesekali..
“bukankah Nyonya membenci saya? Mengapa Nyonya justru mengkhawatirkan itu..?”
Aku merasakan dia melepaskan tanganku, dan tatapannya berubah kesal melihatku..
“Kau pikir aku sedang mengkhawatirkanmu? Ck! Yang benar saja.. Aku hanya memberitahumu apa yang tidak disukai oleh suamiku.. Memasuki dapur adalah larangan.. Kecuali Bibi Lia yang sudah biasa melakukannya.. Jangan lancang saat berbicara denganku..!”
Aku menunduk..
Kembali melakukan kesalahan sepertinya.
“Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah ada suara keributan dari istriku..”
Aku menoleh, melihat ayah Azka menghampiri kami..
“Ada apa, ma..?”
“gadis itu mencoba berada di dapur, dia beralasan ingin membantu Bibi Lia .. Aku hanya sedang memberitahunya jika Kau tidak akan menyukai dia berada didapur..”
Aku melihatnya tersenyum saat merangkulkan lengannya pada ibu Azka yang masih terlihat kesal, dan kemudian beralih menatapku..
“istriku benar Yuna.. Untuk apa kau berada didapur? Bibi Lia sudah biasa mengatasi itu..”
“maaf Tuan.. Saya tidak tahu jika anda tidak akan menyukainya..”
“sekarang kau sudah tau kan? Istriku sudah memberitahumu..”
Dia kembali mengarahkan tatapan penuh cinta itu pada ibu Azka.
Kenapa dia sangat berbeda dengan Azka?
Pria itu jelas penuh kasih..
Sangat berbeda bila dibandingkan dengan putranya yang seorang bajingan..
“Satu lagi yang tidak akan aku sukai sekarang, jangan memanggilku ‘Tuan’ Kau mengerti kan..?”
Jadi aku harus memanggilnya ayah..
Oh dear..
“mama.. mama..! Dimana kemeja untukku? Mama tidak menyiapkannya?”
Aku melihat pria itu berdiri diambang pintu kamarnya, bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk yang melilit sebatas pinggangnya.
“mama tidak akan berurusan lagi denganmu.. Urus dirimu sendiri atau suruh gadis belia itu membantumu..”
Ibu Azka menarik suaminya menjauh dariku, ketika kudengar Azka memanggilku..
“hey.. Kau, kemarilah dan bantu aku, Yuna.. Cepat!”
Hah..
Untuk sesaat aku hanya terbengong seperti gadis tolol.
Apa maksudnya memintaku membantunya dan masuk kedalam kamarnya..
Apa dia sudah gila?
Dan bagaimana sih dengan sikap Ibu Azka itu? Aku harus mengatakan dia tidak konsisten. Dia marah besar pada pertunangan itu dan dia membenciku berada dekat dengan putranya. Tapi sekarang dia justru menyuruhnya untuk meminta bantuanku. Yang benar saja..
Dia mengetahui aku akan berada dikamar putranya dan dia membiarkannya begitu saja.
Tidak mungkin..
Jelas tidak mungkin..
Karna kemudian aku mendengar teriakannya..
“JANGAN BERANI KAU MENGUNCI KAMARMU AZKA.. AWAS JIKA KAU MELAKUKANNYA SEMENTARA GADIS ITU BERADA DIDALAMNYA..! TETAP BUKA PINTUNYA AGAR AKU BISA MENGAWASI KALIAN..”
Astaga..
Itu bukan sesuatu yang seharusnya kunikmati.
****
to be continued