
Lima belas tahun yang lalu untuk pertama kalinya Yuri melihat mata polos seorang bocah kecil yang mengerjap menatapnya. Bocah itu berada dalam gendongan ibunya saat itu. Memegang sebuah permen ditangan kanannya, sementara tangan kirinya merangkul erat leher ibunya.
Ayahnya kemudian mengajaknya duduk, dan menceritakan padanya bila mereka menemukan bocah kecil itu terlantar dipinggir jalan. Dan menanyakan padanya apakah dirinya tidak keberatan jika untuk semalam saja bocah kecil itu tidur bersama dengan mereka. Barulah pada keesokan harinya ayahnya akan melapor pada polisi dan memberitahukan mengenai penemuan bocah kecil itu.
Yuri mengangguk setuju, sama sekali tidak merasa berkeberatan. Ia justru menatap iba pada bocah kecil yang terpisah dari orangtua nya dan sedang dalam gendongan ibunya.
Ketika kemudian ia mendekat, menyentuh pipinya dan mengusap rambutnya, ibunya tersenyum padanya dan mengatakan pada bocah kecil itu untuk memanggilnya kakak.
Dan Yuri dibuat terpana oleh gumaman lirih dari bibir mungil bocah kecil itu yang dengan malu-malu mengikuti gerakan bibir dari ibunya yang mengajarkan untuk memanggilnya Kakak.
“Oh, lucunya.. Siapa namanya, Bu?”
Ibu dan ayahnya saling mengerutkan dahi kala itu. Mereka mengatakan tak mengetahuinya..
“Ya ampun.. Bagaimana bisa bocah manis ini tidak memiliki nama. Apa Ibu tidak bertanya padanya?”
Yuri lantas mencoba mengajak bocah kecil itu untuk berbicara. Namun tetap saja bocah itu tak bisa menyebutkan siapa namanya.
“Bagaimana kalau kita memberinya nama, Bu? Bagaimana Ayah.. Ayah setuju bila aku yang memberinya nama?”
“Dia hanya akan semalam bersama kita, sayang.. Mungkin dia tidak membutuhkannya. Dia pasti akan segera tertidur. Bila besok polisi menemukan keberadaan orangtua nya kita bisa menanyakan siapa nama bocah itu. Bocah semanis itu pasti telah memiliki nama yang indah seperti kau, Yuri..”
Yuri memberengut mendengar apa yang dikatakan ayahnya, dan masih bersikeras untuk memberi nama pada bocah kecil itu walaupun dia hanya akan semalam berada dirumahnya.
“Aku akan memanggilnya, Yuna.. Namanya Yuna.. Bagaimana Ayah, Ibu, kalian juga menyukai nama yang kuberikan?”
Yuna..
Pada akhirnya nama itu tak cuma menjadi nama semalam bagi bocah kecil itu.
Rencana sang ayah untuk melapor pada polisi urung dilakukan karna pada keesokan paginya, Yuna justru mengalami demam tinggi yang kemudian mengharuskan mereka membawanya untuk mendapatkan perawatan dirumah sakit. Tiga hari berada dirumah sakit, Yuna menjadi tak bisa lepas dari ibu Yuri yang memang terus menjaganya. Menggendongnya saat menangis dan menenangkannya kala Yuna terjaga ditengah malam. Bocah kecil itu sepertinya mengalami shock setelah terpisah dari orangtua nya.
Setelah tiga hari itu. Setelah Yuna sembuh dari demam dan kembali mereka membawanya pulang. Rencana untuk melapor pada polisi justru semakin jauh untuk dilaksanakan.
Ibu Yuri mengatakan, tunggu satu atau dua hari lagi sampai Yuna benar-benar pulih. Jangan sampai nanti orangtua Yuna menuduh mereka yang macam-macam bila mendapati putri mereka ditemukan dalam keadaan sakit.
Dua hari berselang, setelah Yuna benar-benar telah terlihat sembuh dan bahkan mulai bisa diajak bercanda, giliran Yuri yang melarang. Yuri yang baru berusia sepuluh tahun ketika itu, bahkan mengatakan kalimat yang kemudian mampu membuat kedua orangtua nya tersentak, dan menjadi ikut memikirkan mengenai kebenaran dari kalimat yang diucapkannya.
“Bagaimana jika Yuna memang sengaja dibuang? Bagaimana bila orangtua nya yang sudah membuangnya? Mereka tidak akan menginginkan Yuna lagi, Ibu.. Ayah..”
Jika benar demikian..
Sungguh malangnya nasib bocah manis itu.
Hingga sampailah mereka pada keputusan untuk merawat Yuna sampai setidaknya mereka mendengar berita pencarian dari kedua orangtua nya. Jika memang Yuna tidak dengan sengaja dibuang, sudah pasti kedua orangtua nya akan melakukan pencarian. Begitu apa yang ada dalam pemikiran mereka.
Namun sehari berselang setelah pengambilan keputusan itu, ayah Yuri menerima kabar pemindahan lokasi pekerjaannya yang mengharuskannya untuk pindah dan tentu saja membawa serta anak dan istrinya. Ketika ia kemudian mengatakan itu, ibu Yuri menangis. Begitupun dengan Yuri. Keduanya memohon agar sang ayah masih tetap pada keputusan mereka untuk merawat Yuna. Yang itu berarti mereka juga akan membawa serta Yuna kemanapun mereka pindah.
Sang ayah sempat bimbang, bagaimana mereka bisa mengetahui jika orangtua Yuna mencari?
Namun melihat airmata istri dan anaknya, serta melihat wajah polos tak berdosa dari Yuna yang bahkan sudah ikut memanggilnya dengan sebutan ayah, membayangkan menyerahkan bocah kecil itu pada polisi yang belum tentu akan merawatnya dengan baik, membuatnya tak kuasa untuk menolak keinginan dari mereka yang teramat berharga untuknya.
Airmata masih tak bisa berhenti mengalir dari kedua mata Yuri, ketika ingatannya kembali memutar memori itu..
Bagaimana mungkin ia menjadi begitu tega terhadap Yuna.
Seharusnya ia terus mengingat saat dulu Yuna kecil selalu menunggunya didepan pintu ketika ia pulang dari sekolahnya. Yuna kecil akan berseru memanggilnya dan langsung menghampirinya dengan binar kegembiraan dikedua matanya. Sepertinya tahu bila sang kakak sudah pulang, ia akan memiliki teman yang kemudian akan mengajaknya bermain seharian.
Yuri bahkan rela menyisihkan uang saku pemberian ayahnya selama seminggu demi untuk membelikan sebuah boneka untuk Yuna.
Yuna yang menerima mainan pertamanya dengan begitu suka cita, kemudian tak henti menciumi wajah Yuri dan membuat ayah dan ibunya tertawa bahagia melihatnya.
Hari yang berganti hari..
Bulan yang berganti bulan..
Musim yang berganti musim..
Hingga tahun-tahun yang kemudian berlalu, membuat jalinan kasih sayang yang dirajut diantara Yuna dan Yuri bersama dengan kedua orangtua nya kian terjalin erat.
Sang ibu bahkan kerap kali mengatakan pada Yuri jika mungkin saja dikehidupan sebelumnya, putrinya memanglah seorang saudara bagi Yuna. Melihat begitu sayangnya Yuri terhadap Yuna, dan melihat pertumbuhan Yuna yang kian hari menjadi semakin mirip dengan Yuri, membuat ibunya semakin meyakini hal itu. Ibunya terus-terusan mengingatkannya untuk menjaga Yuna..
“Dikehidupan yang telah lalu kalian berdua pasti sudah menjadi anak-anak yang begitu manis, hingga Tuhan bermurah hati mempertemukan kalian kembali. Oh, betapa beruntungnya aku yang menjadi ibumu, sayang.. dan betapa beruntungnya dirimu, Yuri ah.. Jagalah selalu adikmu..”
Begitupun dengan sang ayah, yang memintanya untuk terus menjadi kakak yang menyayangi Yuna, adiknya sampai kapanpun.
“Dimasa depan nanti, Kau harus terus berbahagia bersama Yuna, Yuri .. Kalian berdua adalah pemberian Tuhan yang paling berharga dalam hidupku dan juga ibumu. Jangan mengingat siapa Yuna sebelumnya. Dia adikmu, kalian harus terus saling mengasihi, sampai kapanpun..”
Saat itu, Yuri semakin menyadari kedua orangtua nya adalah dua orang baik hati yang tak sedikitpun membedakan kasih sayang antara Yuna dengan dirinya. Dan Yuri merasa luar biasa beruntung memiliki orangtua seperti mereka. Namun hal itu juga yang kemudian disadari Yuri, jika semua kalimat itu adalah permintaan terakhir dari kedua orangtua nya, sebelum maut merenggut mereka dari sisinya lima tahun yang lalu. Mereka menitipkan cinta dan kasih sayang mereka untuk Yuna ketanganannya.
Menyadari akan cinta tulus kedua orangtua nya, terucaplah janji dari bibirnya saat itu, didepan makam orangtua nya bahwa dirinya akan selalu menjaga Yuna, menyayanginya sama seperti ayah dan ibunya mencurahkan kasih sayang mereka untuknya.
Tapi apa yang telah terjadi..
Ia sendiri yang kemudian melanggar janjinya..
“Maaf Ibu.. Maaf Ayah.. Aku sungguh meminta maaf pada kalian ..”
Yuri terus menggumamkan kalimat itu disela isak tangisnya dan airmata yang semakin deras bercucuran dari kedua matanya yang sembab dan mulai nampak sayu..
Tapi kekecewaan dan rasa sakit dihatinya juga masihlah teramat perih dirasakan olehnya.
Yang tak pernah terbayang olehnya adalah Yuna tega mengkhianatinya. Bukankah dia tahu perasaan cintanya untuk Azka?
Lalu kenapa..
Mengapa Yuna justru bertunangan dengan pria yang dicintainya?
Tidakkah Yuna memikirkan perasaannya..
Tidakkah Yuna mengerti akan sakit dihatinya mengetahui dia yang disayanginya justru berkhianat padanya..
“Mengapa Yuna melakukan ini padaku, Bu.. Mengapa Yuna tega mengkhianatiku, Ayah..”
Langit telah menjadi gelap saat itu, namun masih belum ada tanda-tanda Yuri akan beranjak dari sana. Ia masih terduduk berlutut diantara gundukan tanah pusara orangtua nya. Menangis, menangis dan terus menangis. Merasakan hatinya yang remuk dan mungkin takkan pernah lagi kembali utuh seperti semula..
***
To be continue