
“Aku ingin kau mengajakku berkencan.. Selama ini belum pernah ada yang mengajakku melakukannya..”
Sekali lagi ia merasakan keinginan untuk menggigit kuat lidahnya. Kenyataan itu yang seharusnya tak perlu dikatakannya pada Azka hanya semakin membuat Yuna merasakan semburat rasa malu yang menjalar naik dan pasti telah memerahkan wajahnya.
Ia kemudian menyadari jika Azka yang kini berganti menertawainya.
“Kau yang memaksaku untuk mengatakan apa yang kuinginkan.. Kenapa sekarang kau justru menertawai keinginanku.. Menyebalkan..”
Yuna berusaha melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman tangan Azka, namun ia tak berhasil melakukannya. Azka masih terus menggenggamnya erat, meski pria itu jelas mengetahui keinginannya untuk terlepas..
“Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku berkencan dengan seorang gadis. Kurasa aku menjadi lupa bagaimana caranya mengajak seorang gadis berkencan..”
“Baiklah tidak perlu melakukannya, lupakan saja keinginanku itu.. Aku memang tak seharusnya mengatakannya..”
Yuna memalingkan wajahnya, mendengus kesal pada apa yang dikatakan Azka sebelumnya.
“Ya, bukan seperti itu maksudku. Mengapa kau cepat sekali marah? Aku hanya ingin kau tahu jika aku sudah sangat lama tidak berkencan dengan seorang gadis. Aku jarang berkencan dan lebih sering berhubungan dengan wanita dewasa, bukan gadis belia seperti ini..”
Mendengarnya, Yuna kembali mengarahkan tatapannya pada Azka dan menemukan senyum diwajah pria itu.
Apa yang membuat Azka tersenyum?
Apa pria ini akan menyombongkan dirinya yang tak pernah merasakan kesepian karna selalu memiliki wanita disisinya, sementara tadi ia justru mengatakan tak pernah ada seorang pria yang mengajaknya berkencan.
Menyebalkan..
Yuna menggerutu didalam hatinya. Bertambah kesal dengan dugaan yang dipikirkannya.
“Aku mungkin lupa bagaimana cara berkencan dengan seorang gadis, tapi mengapa kita tak mencoba berkencan seperti kau adalah wanita dewasa. Kurasa aku masih mengingat bagaimana cara melakukannya..”
Yuna mengerutkan dahi dan memberikan tatapan penuh tanya dikedua matanya.
“Maksudku adalah, kita bisa berkencan dengan cara seorang pria dan wanita dewasa.. Kau mengerti?”
“Maksudmu?”
Azka yang mengerlingkan sebelah matanya, membuat Yuna justru membulatkan mata melihatnya. Ia kemudian dapat mengerti dengan maksud dari ucapan Azka yang tadi didengarnya tanpa pria itu memberikan penjelasan lebih merinci kepadanya. Maka dengan segara Yuna lantas menarik tangannya dari genggaman tangan Azka, lalu mendorong pria itu mundur dari hadapannya.
Dasar pria mesum..
Kesalnya yang melihat Azka justru sedang menunjukkan gelak tawa atas reaksi terkejut yang ditunjukkannya.
Yuna yang merasa telah dibuat kesal oleh Azka, kemudian beranjak dari hadapannya namun dengan segera pergelangan tangannya kembali ditarik dan ia kembali berada dalam rangkulan kuat lengan Azka.
“Lepaskan aku jika kau masih memiliki pemikiran mesum dikepalamu, Pak..”
Azka justru masih saja menunjukkan senyum geli kearahnya.
“Pak Azka..!”
Yuna yang benar-benar telah merasa kesal saat itu, kemudian memukul dada Azka sampai beberapa kali dan baru menghentikannya ketika Azka meraih tangannya kembali dalam genggamannya.
“Oh, siapa yang sebenarnya sedang memiliki pemikiran mesum disini? Aku sama sekali tidak merasa memilikinya.. Aku hanya mengatakan untuk melakukan kencan dewasa, maksudnya adalah dengan usia ku yang sekarang, well.. Aku tak perlu menyebutkannya. Aku tak ingin melakukan kencan yang dilakukan seperti remaja..”
Yuna masih diam sampai kemudian mendengar Azka mengatakan..
“Ayo, berkencanlah denganku Yuna..”
Dan dengan perlahan Yuna menunjukkan senyum dibibirnya, mengangguk malu mendengar ajakan Azka yang lantas menggandengnya, membukakan pintu mobil untuknya.
Azka melajukan mobilnya dikeramaian pusat kota sampai kemudian Yuna menunjuk sebuah tempat hiburan yang ingin dikunjunginya. Awalnya Azka menolak, bukankah sebelumnya ia telah mengatakan tak ingin melakukan kencan layaknya pasangan remaja berusia belasan?
Namun nampaknya Yuna mengindahkan hal itu, ia bahkan tak segan merengek didepan pria itu. Hingga membuat Azka mau tak mau menurutinya.
Yang terjadi didalam tempat hiburan itu lebih tak pernah terbayang akan pernah dilakukan oleh seorang pria dewasa sepertinya. Yuna memaksanya masuk kedalam gedung teater untuk menonton pertunjukan. Yang awalnya sedikit masih bisa diterima olehnya karna Azka menemukan beberapa pria dewasa yang pada saat itu juga melakukannya. Namun setelah beberapa menit berada didalamnya, Ia benar-benar merasa jengah.
Pertunjukan yang ditontonnya saat itu benar-benar membosankan, terlebih Yuna yang berada disampingnya nampak tak terlalu peduli dengan apa yang pada saat itu dirasakan olehnya. Gadis itu memiliki perhatian yang terus tertuju pada apa yang sedang disaksikannya. Yuna tersenyum dan benar-benar terlihat menikmati tontonan yang sedang berlangsung.
Senyum itu..
Senyum yang begitu indah membingkai wajahnya, yang akhirnya membuat Azka dapat menghilangkan kebosanan yang dirasakannya. Matanya tak lagi tertuju kearah panggung yang berada didepan, tapi justru kearah Yuna, kearah gadis disampingnya dan tanpa kebosanan mengagumi senyum yang terus diperlihatkan oleh Yuna. Sampai sekitar seratus dua puluh menit pertunjukan itu berjalan dan akhirnya berakhir, Azka dapat menghitung Yuna yang hanya tiga kali menoleh kearahnya.
Tak cukup sampai disitu, keluar dari dalam ruang pertunjukan, Yuna menariknya menuju beberapa wahana permainan yang kontan saja membuat Azka membulatkan mata mengetahui keinginan Yuna yang ingin memainkan permainan-permainan itu bersamanya. Meski gadis itu tak berhasil memaksanya untuk memainkan semua wahana yang berada disana, namun Yuna berhasil membuatnya mengantongi sebuah dasi yang tanpa sadar masih dipakainya dan juga menggulung lengan kemejanya pada saat memainkan beberapa permainan yang menurutnya sangat konyol untuk dilakukan, dan berakhir memalukan untuknya karna ia tak berhasil melakukannya dengan benar.
Yuna bahkan terus menggerutu hanya karna ia tak berhasil mencetak angka ataupun mengambil satu saja boneka dari dalam sebuah mesin permainan.
“Aku tak percaya ini.. Kau benar-benar payah, Pak..”
“Bagaimana mungkin kau mengatakan itu pada tunanganmu hanya karna aku tak bisa mendapatkan boneka menggelikan seperti itu? Demi Tuhan, aku bahkan bisa memenuhi kamarmu dengan seluruh boneka yang jauh lebih bagus dan berkwalitas, atau membeli lebih dari sepuluh mesin semacam itu dan kau bisa memainkannya sendiri dirumah..”
Azka yang nampak kesal dan kemudian melangkah mendahuluinya membuat Yuna justru tersenyum geli melihatnya.
“Pak.. Tunggu aku..”
Yuna menyusulnya dan setelah berhasil menyamakan langkahnya, ia meraih tangan Azka dan bergelayut dilengannya..
“Mas..”
Mendengar itu, membuat Azka dengan segera menghentikan langkahnya. Menatap pada Yuna, ia menemukan senyum diwajahnya yang menyertai binar dikedua matanya. Tau bahwa gadis itu pasti sedang kembali merajuk karna memiliki keinginan lain setelahnya..
“Mas.. Apa kau akan memperbolehkanku untuk menikmati itu..?”
Tidak salah apa yang diperkirakan Azka sebelumnya..
“Boleh kan? Aku benar-benar menginginkannya, Mas..”
Yuna menunjuk pada pedagang yang menyediakan aneka jenis eskrim dan sekali lagi menunjukkan kemampuannya yang pandai merajuk.
Oh, siapa yang tidak akan luluh bila melihat ekspresi polos wajahnya dengan bibirnya yang mengerucut ketika ia terus memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’.
Meski Azka mengetahui itu hanyalah tak-tik yang digunakan Yuna untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, namun nyatanya dengan itu, Yuna berhasil membuat Azka mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya dan membayar satu cup besar es krim untuknya.
Tidak hanya itu saja, dengan kata ajaib-nya itu (Mas), Yuna juga berhasil menjejalkan es krim kedalam mulut Azka.
Tak puas hanya menikmati es krim saja, Yuna kembali bertingkah manja ketika menginginkan gulungan permen kapas berwarna merah muda yang dilihatnya.
“Mas, ini benar-benar enak.. Kau tidak mau mencobanya?”
Yuna menyodorkan gulungan permen kapas ditangannya pada Azka yang berada disebelahnya.
“Cukup Yuna, Aku menghindari mengkonsumsi gula secara berlebihan..”
“Kenapa? Karna kau takut kehilangan kotak-kotak dalam perutmu?”
Ucap Yuna santai, Masih dengan mempermainkan gulungan permen kapas ditangannya. Ia memutar, menempelkan dibibirnya, beberapa kali menjilat sebelum kemudian melumat dan memasukkan kedalam mulutnya.
Apa yang sedang dilakukannya didepan Azka saat itu, membuat pria itu sama sekali tak berkedip melihatnya dan tanpa sadar telah menelan air liurnya.
“Kau menginginkannya bukan?”
Azka mengerjap dan tergerapap untuk menjawab pertanyaan Yuna yang tiba-tiba memperhatikan dirinya dengan seringaian yang bercampur dengan rasa geli yang menggurat diwajahnya.
“Mengaku sajalah, Pak.. Kau juga menginginkan permen kapas ini seperti kau menginginkan es krim ku tadi. Kau tak bisa mengelak karna aku yakin melihat kau menelan air liur mu..”
Azka memutar mata mendengarnya. Masalahnya adalah bukan karna ia menginginkan jenis makanan anak kecil seperti itu, melainkan memperhatikan cara Yuna yang menikmati itu dengan lidah dan bibirnya lah yang pasti telah membuatnya menelan air liurnya dengan tanpa sadar.
Karna hanya itu yang bisa dilakukannya.
Tak mungkin ia menyerang gadis itu ditempat umum seperti ini. Meski hasratnya untuk membelit lidahnya dan melumat bibir tipis itu begitu kuat dirasakan olehnya.
“Pak Azka, Aaa.. Buka mulutmu dan cobalah ini. Kau menginginkannya kan.. Ayo cobalah..”
Azka hanya bisa mengerang didalam hatinya..
“Aaa.. Pak, ayolah..”
“Jangan mengada-ada, Yuna.. Aku tidak mungkin menginginkannya”
Azka menghindar dengan menjauhinya dan sesaat justru membuat Yuna tertawa melihatnya.
“Percayalah padaku, memakan ini sekali saja takkan menghilangkan kotak-kotak di perutmu”
Yuna menyusul langkah Azka, menghadang dengan berdiri didepannya dan menunjukkan senyum diwajahnya dan beberapa kali kedipan dimatanya.
“Mas..”
Kedipan mata itu hampir saja membuat Azka meloloskan tawa dari bibirnya.
“Mas Azka.. Apa kau tak ingin menyenangkanku dengan memakan ini bersamaku? Ayolah.. Ini sangat enak dan begitu manis.. Kau pasti juga akan menyukainya. Mas ayolah..”
Dengan kembali menggunakan kata ajaib nya, Yuna terus saja menyodorkan gulungan permen kapas miliknya yang tak lagi utuh itu kehadapan Azka. Membuat Azka mendecakkan lidah, berikutnya tangannya justru meraih tubuh Yuna mendekat dengannya, untuk selanjutnya berbisik ditelinganya..
“Apa kau bisa menjamin itu akan terasa lebih manis dari bibirmu? Karna sekarang aku lebih menginginkan merasakan manisnya bibirmu daripada gumpalan kapas seperti itu..”
Skak..
Alih-alih kembali memaksa Azka, Yuna justru seakan kehilangan suara dari tenggorakannya karna apa yang dikatakan pria itu tadi tadi.
Yuna memberengut, saat Azka justru tersenyum. Seringai puas kemudian muncul diwajahnya.
Tapi..
Bukanlah Yuna namanya jika tak bisa mengubah keadaan..
Begitu apa yang kemudian dipikirkan gadis itu untuk membalas kegagalannya memaksa Azka memakan permen kapas miliknya.
Yuna kembali mengatakan sindiran-sindiran penuh ejekan pada saat keduanya kembali melewati mesin permainan boneka yang sebelumnya gagal dimainkan oleh Azka.
Ia sengaja berhenti melangkah, untuk melihat sepasang remaja, dengan sang pria yang sedang mencoba menaklukan mesin permainan itu dan mendapatkan boneka yang diinginkan oleh seorang gadis yang usianya pasti hanya satu atau dua tahun dibawahnya.
Yuna bukan hanya melihat tapi kemudian juga memberikan dukungan pada sang pria itu..
“Oh, kau hampir mendapatkannya.. Kau hampir mendapatkannya.. Ya yaa.. Ambil yang itu..!!”
Kedua remaja itu saling mengerutkan dahi dan sepertinya ucapannya yang begitu tiba-tiba itu, telah membuat sang pria kehilangan konsentrasinya dan menjatuhkan kembali boneka yang telah berhasil didapatkannya.
“Masih ada waktu.. Ayo cobalah sekali lagi.. Cobalah sekali lagi dan mendapatkannya..”
Ucap Yuna lagi dengan semangat..
“Hei, kau justru mengganggu konsentrasi kekasihku..”
Komentar sang gadis yang kemudian lebih mendekatinya..
“Kau seharusnya tidak diam saja. Kau harusnya menyemangati kekasihmu itu agar mendapatkan boneka itu untukmu. Dia sudah hampir berhasil.. Tidak seperti tunanganku, dia benar-benar sangat payah. Tak satupun dia bisa mendapatkan boneka menggemaskan seperti itu untukku..”
Azka yang berada tak jauh darinya langsung mendecak kesal mendengarnya.
Sementara Yuna masih terus saja menyemangati pria remaja seusianya itu yang kembali mencoba mendapatkan setidaknya satu boneka saja untuk kekasihnya. Sampai akhirnya Yuna yang justru lantang bersorak saat pria itu berhasil mendapatkan sebuat boneka panda dari dalamnya.
“Permisi..”
Yuna mencegah saat sepasang remaja itu hendam beralih darisana..
“Emm, bisakah.. bisakah kau mengambilkan yang itu untukku..”
Yuna menunjuk boneka kuma yang berukuran sangat kecil yang berada didalam mesin. Boneka itulah yang sangat ingin didapatkannya. Namun Azka, bahkan setelah lebih dari sepuluh kali melakukan permainan untuk mengambil boneka itu, dia masih tak bisa mendapatkan itu untuknya.
Yuna pun sudah beberapa kali mencobanya sendiri, namun ia juga mengalami kesulitan untuk mengambilnya..
“Kau tidak seharusnya meminta bantuannya.. Aku yang akan mendapatkan itu untukmu..”
Sepasang remaja itu langsung beralih ketika Azka mendekat dan membuat Yuna merasakan kegirangan didalam hatinya dan harus bersusah payah menyembunyikan tawa dibibirnya ketika Azka langsung mendekat pada mesin permainan boneka dihadapannya.
“Mana yang kau inginkan?”
Azka bertanya seolah-olah lupa pada kegagalan yang sebelumnya dan seakan sudah dipastikan ia bisa mendapatkannya kali itu.
“Aku mau yang itu, Mas..”
Yuna mengedikkan mata, membuat Azka akhirnya tersenyum dengan tingkah gadis belia itu dihadapannya. Sesaat sebelum melakukan permainan, ia juga mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala dan sedikit mengacak rambut Yuna.
“Kau benar-benar akan membuatku gila, Yuna..”
Yuna terkikik dan lantas menunjukkan aksi dukungannya terhadap apa yang akan dilakukan Azka, dengan mengepalkan tangan dan mengangkatnya serta mengatakan..
“Mas Azka, semangat..! Semangat.. semangat.. Huuu yeahh..!!”
Azka tertawa mendengarnya, lalu berkonsentrasi pada mesin dihadapannya..
“Itu Mas.. Ya, yang itu.. Ayo, Ayo.. Lebih turun lagi.. Sedikit lebih kekiri, Ya begitu.. Yaa.. Tangkap.. Uhh..”
Permainan pertamanya gagal..
“Ya yaa.. sedikit lagi.. itu Mas.. itu itu.. yaahhhh..”
Begitupun dengan yang kedua, ketiga dan bahkan sampai yang ke tujuh kalinya, nyatanya Azka masih belum berhasil mendapatkan boneka itu untuk Yuna. Hanya sekali, dengan alat permainan itu ia sebenarnya hampir berhasil meraih boneka berjenis kuma itu dari dalamnya. Namun teriakan bersemangat dari Yuna yang menganggapnya telah berhasil, membuatnya justru kehilangan konsentrasinya dan kembali menjatuhkan bonekanya.
Kedelapan kalinya Azka melakukan permainan itu, Yuna merasakan telah kehilangan semangat untuk melakukan dukungan. Azka pun sudah sangat kesal hingga rasanya sangat ingin menendang mesin itu, atau bahkan melenyapkan dari hadapannya.
Satu kali lagi ia berniat mencoba dan bertekad..
“Demi Tuhan, jika kali ini aku tak berhasil mendapatkannya aku benar-benar akan membawa mesin sialan ini pulang, lalu kemudian menghancurkannya..”
Geramnya dengan tangan yang mencengkram kuat pada pinggiran mesin itu..
Yuna yang telah berubah lesu hanya menghela napasnya dan tak lagi mengamati permainan yang telah dihitungnya dilakukan Azka untuk yang ke sembilan kalinya.
Dalam hati ia terus saja menggerutu akan betapa payahnya pria itu..
Yuna kembali hanya mendengus, namun seketika kedua matanya mengerjap dengan penuh rasa terkejut pada saat didepan kedua matanya Azka tersenyum sambil menggoyangkan boneka kuma yang diinginkannya.
“Kau mendapatkannya? Kau berhasil mendapatkannya? Kyaaaa.. Pak Azka, kau benar-benar mendapatkan bonekanya untukku..”
Azka hanya mengangguk dan Yuna sudah langsung mengambil boneka itu dari tangannya, lalu berputar dan melompat kemudian menghambur kedalam pelukannya.
“Kau benar-benar hebat, Pak.. terimakasih, aku menyayangimu..”
Azka hanya perlu mendekap tubuh gadis itu dengan erat untuh menghilangkan lelah dan perasaan kesal yang sesaat lalu dirasakannya.
Dan sepertinya, mendapatkan boneka kecil berjenis kuma itu bukan menjadi bagian akhir dari hal paling menyenangkan yang dirasakan Yuna pada kencan pertama yang dilakukannya bersama dengan Azka. Karna Azka yang tadinya terlihat enggan dan cenderung kesal menuruti permintaan-permintaannya yang dianggapnya konyol justru berbalik dengan menawari Yuna untuk melakukan permainan apalagi yang ingin dicoba olehnya.
***
**to be continue
gimana puas gak moment manis Yuna & Azka???
Masih mau lagi???
kalo masih mau jangan lupa like, comment, vote and share ya**...