
Yuna jelas tak perlu bersusah payah memikirkan tawaran Azka hingga dua kali. Ia menyambar umpan yang dilemparkan pria itu dengan antusias. Dengan merangkul lengan Azka, ia lantas membawanya kebeberapa wahana permainan yang belum sempat dicoba, dan kembali mengulang permainan yang sebelumnya gagal dimainkan oleh Azka.
Kepatuhan Azka yang terkesan mendadak saat itu terhadap gadis belianya itu bukan tak berdasar. Bukan hanya karna ia yang kemudian menyadari dirinya yang sedang mengencani seorang gadis belia, yang sudah semestinya ia juga bisa mengimbangi gaya kencan yang diinginkannya. Tapi juga karna melihat Yuna yang begitu menunjukkan binaran dikedua matanya ketika ia berhasil mendapatkan sebuah boneka yang diinginkannya dan memberikan itu untuknya, membuat Azka berniat memberikan hari itu sepenuhnya untuk Yuna. Karena itu bahkan ia tak memprotes ketika Yuna menariknya untuk melakukan foto box bersama.
“Kenapa ekspresimu kaku sekali, Pak.. ckckckk. Yang seperti ini sama sekali tidak terlihat tampan..”
Yuna kembali menertawainya..
“Kau tidak pernah berfoto dengan gadis cantik yaa..?”
Dan hanya dengan melihat tawa lepas gadis itu dihadapannya, ia telah merasakan kepuasan yang luar biasa didalam hatinya. Meskipun yang ditertawakan gadis itu adalah dirinya.
Biarlah..
Azka tak sedang peduli akan hal itu. Yuna bebas menertawai siapapun hari itu.
Bahkan, hingga kemudian keduanya memutuskan untuk menyudahi kencan yang dilakukan hari itu, Yuna masih tak bisa menghilangkan senyum yang begitu terlihat jelas diwajahnya. Senyum kepuasan lantaran impian kencan-nya telah menjadi kenyataan.
“Terimakasih Pak.. Aku menganggap kencan kita tadi sebagai perayaan kedua yang kau berikan padaku. Yang pertama tentu perayaan bersama Husna dan Siska tadi. Jadi aku berterimakasih untuk perayaan pertama yang begitu menyenangkan dan perayaan kedua yang juga luar biasa menyenangkan. Terimakasih..”
Yuna mengucap itu sesaat setelah keduanya masuk kedalam mobil. Namun Azka justru diam, tidak menanggapi ungkapan terimakasihnya dan hanya terus memandang pada wajahnya.
“Pak Azka…”
Yuna sedikit merasa kikuk dan sekaligus terkejut saat Azka mencondongkan tubuhnya, membuat jarak yang cukup dekat dengan wajahnya..
“Aku sudah menahan ini sejak tadi, maka ijinkan aku untuk mendapatkannya..”
Yuna tak perlu lagi mencerna apa yang dimaksud Azka sebelumnya, karna pria itu segara menunjukkan apa yang menjadi maksud dari ucapannya tadi dengan mencium bibirnya.
Entah sejak kapan, Yuna sepertinya menjadi terbiasa dengan kontak bibir yang tiba-tiba dilakukan Azka terhadapnya..
Awalnya pria itu hanya melakukan ciuman ringan dengan memagut bibir bawahnya, namun setelah Yuna ikut menggerakkan bibirnya dan memainkan lidahnya, Azka seakan kehilangan kendali atas kewarasan dirinya yang selama ini selalu ia jaga.
Ia melumat bibir Yuna seakan ingin mengambil semua rasa yang dimilikinya. Lidahnya mendorong, melesak masuk kedalam rongga hangat mulutnya. Bahkan sebelah tangannya kemudian ikut berpartisipasi dengan mengusap semakin naik keatas paha Yuna. Menjadikan rok seatas lutut yang dikenakannya menyingkap lebih keatas dari yang sebelumnya.
Didalam sebuah mobil di area lahan parkir, yang itu artinya keduanya sedang berada ditempat umum. Namun yang terlihat, Azka justru tak peduli berada dimana mereka saat itu. Bahkan kemungkinan akan adanya seseorang yang memergoki tindakannya saat itu, lalu kemudian menyebarkan berita yang bisa saja menjatuhkan nama baiknya sebagai seorang pria dewasa yang sudah seharusnya menjaga tingkah lakunya didepan khalayak, masih tak mengusiknya untuk setidaknya sebentar saja menghentikan lumatannya terhadap bibir Yuna.
Azka mengerang..
Yuna terengah setelah desah tertahan lolos dari bibirnya, hingga suara deringan ponsel yang akhirnya menjadi penyelamat yang memaksa keduanya untuk tersadar dan mengakhiri ciuman yang tengah mereka lakukan..
Yuna dengan segera membenarkan rok nya yang menyingkap , dengan perasaan kikuk. Lalu mengalihkan rasa berdebar dari jantungnya dengan mencari-cari sumber dari suara dering ponsel yang pasti berada disekitarnya..
“Apakah itu ponselmu, Pak?”
Yuna bahkan sepertinya menjadi tak mengenali jenis suara ponselnya sendiri..
“euh.. bukan, ponselku ada disitu..”
Azka yang tak kalah kikuk, menunjuk pada ponselnya yang tergeletak diatas dashboard mobilnya dan sedang tidak menunjukkan ada suara yang berasal dari sana. Kemudian ia menoleh kebagian jok belakang, dimana tas tangan Yuna berada disana. Sedari tadi benda itu memang telah tergeletak disana. Yuna sengaja meninggalkan itu, sementara Azka juga tidak membawa ponselnya dan hanya mengantongi dompet miliknya saja.
“Pasti itu berasal darisana, ponsel milikmu..”
Azka yang lantas menggapai tas itu, kemudian memberikannya pada Yuna..
Memasukkan boneka yang sedari tadi berada dalam genggaman tangannya kedalam tas itu, Yuna menukarnya dengan mengambil ponselnya yang masih terus berdering.
“Oh, Jena..”
Ia kemudian menatap pada Azka..
“Jawablah..”
Ucap Azka kemudian, masih terus memperhatikan pada Yuna yang kemudian menjawab panggilan dari Jena..
“Halo.. Oh, ya.. Jena..”
“Ya Tuhan, nona.. Anda berada dimana? Kenapa sejak tadi tak menjawab ponselnya..”
“Hm.. Aku, aku.. emm.. Apa kau mencoba menghubungiku sejak tadi? Kenapa? Kak Yuri baik-baik saja kan?”
Azka dapat melihat raut wajah Yuna yang segera berubah cemas..
“Karna itu saya terus mencoba menghubungi.. Nona Yuri masih berada dirumah sakit sampai sekarang, dia mengalami pingsan tadi..”
“Apa? Jena.. Apa yang terjadi pada Kak Yuri?”
“Sebaiknya anda cepatlah datang, nona..”
Yuna langsung memutus sambungan telponnya dengan Jena, dan saat itu pula Azka dapat melihat gurat-gurat kepanikan diwajahnya.
“Apa yang terjadi?”
“Apa? Pingsan?”
Dengan tanpa menunggu lagi, Azka lantas menjalankan mobilnya, memacunya diatas kecepatan rata-rata dengan sesekali menoleh pada Yuna dan mengatakan kalimat-kalimat untuk menenangkan kegelisahan gadis itu.
Tiba dirumah sakit pada sekitar tiga puluh menit setelahnya, Yuna nyaris berlari ketika memasuki rumah sakit dan segera mencari keberadaan Jena disana. Ia menemukan Jena berada dibarisan kursi tunggu disana..
“Jena..”
“Oh, nona..”
Jena segera berdiri dari duduknya, setelah melihat kehadiran Azka yang datang bersama Yuna saat itu.
“Apa yang terjadi Jena? Ada apa dengan kakak ku? Mengapa dia bisa pingsan?”
Yuna mengatakan pertanyaan beruntun, tapi tak menunggu ataupun membiarkan Jena menjawab dengan mengatakan kejadiannya. Ia langsung menuju pada salah satu ruangan dimana saat itu ia melihat seorang suster yang baru saja keluar dari dalamnya.
“Suster, Apa kakak ku berada didalam?”
Sang suster yang sempat sedikit terkejut dengan keberadaan Yuna, kemudian dapat mengenalinya sebagai salah seorang yang memang biasa menemani Yuri selama berada disana.
Sang suster lantas mengangguk mengiyakan..
“Apa yang terjadi, suster? Bagaimana dengan kakak ku?”
“Saya baru saja mengganti cairan infus nya, nona.. Nona Yuri masih belum sadar..”
Yuna tak menunggu penjelasan suster itu lagi. Ia dengan segera membuka pintu didepannya dan kemudian dibuat terkejut dengan keberadaan seseorang didalamnya.
Seorang pria yang pada saat itu berada disisi tempat tidur kakaknya, yang sedang menggenggam tangan Yuri dan menatap sang kakak dengan penuh kekhawatiran dimatanya.
Yuna tertegun melihatnya..
Oh, siapa kah dia?
Namun kemudian, pria itu sepertinya menyadari keberadaannya. Ia menoleh dan langsung melepaskan tangan Yuri dari genggaman tangannya serta sedikit menjauh darinya.
Yuna kemudian dapat mengenali pria itu..
“Tuan, Arkhan..”
Pria itu tersenyum dan kemudian mengangguk..
“Apa yang anda lakukan disini?”
Arkhan melihat pada Azka yang menyusul Yuna masuk kedalam kamar itu, dan tak sempat memberi Yuna penjelasan atas keberadaannya disana ketika kemudian Yuna menyadari pergerakan dari tangan Yuri yang menyertai kerjap pada kedua matanya yang tertutup.
“Kakak.. Kakak, kau sudah sadar? Kak Yuri.. Syukurlah..”
Yuna yang telah menggenggam tangan Yuri, tak dapat mengendalikan airmata nya yang kemudian menetes kala mengetahui betapa pucat nya wajah sang kakak ketika itu.
“Kak, kau baik-baik saja kan? aku begitu khawatir padamu..”
Entah apa yang kemudian membuat Yuri menarik tangannya lepas dari genggaman tangan Yuna dan membuat sang adik terkesiap oleh karna apa yang dilakukannya.
“Kakak..”
“Azka..”
Yuna kembali menjatuhkan airmata, sesak ia rasakan menghimpit kuat pada bagian dadanya mengetahui Yuri tak hirau dengan keberadaannya dan justru mengalihkan perhatiannya pada Azka yang lantas mendekat, membuat Yuri kemudian melakukan pergerakan untuk memeluknya.
Tuhan..
Ada apa lagi dengan kakak nya?
“Azka..
“Aku disini, Yuri..”
“Jangan pergi.. Jangan meninggalkanku..”
Bukan hanya Yuna yang merasakan sakit saat melihatnya, tapi juga Arkhan yang telah sekian lama menunggui Yuri tersadar, tapi keberadaannya disana justru terasa terabaikan…
***
**to be continue
jangan lupa mampir di novel terbaru aku ya ..
judul nya "Cinderella after midnight" dan "Pertunangan Konyol" cerita nya bagus kalian pasti suka deh** ..