At First Sight

At First Sight
Episode 83



Author POV


Setelah kepergian Azka dan Yuri, Ny.Dania langsung menarik Yuna kekamarnya. Ia memilihkan setelan berlengan panjang untuk menutupi pergelangan tangannya yang masih terlihat memerah.


Ny.Dania juga terus mewanti-wanti Yuna agar tidak lagi menginjakkan kakinya didapur. Dan Yuna hanya bisa mengangguk pasrah. Sejujurnya yang ada dipikirannya adalah Yuri. Dan bagaimana dengan sang kakak yang menjalani terapi tanpa ditemani olehnya.


Maka sepanjang dirinya bersama Ny.Dania ketika itu, Yuna terus merasakan kekhawatiran yang menggurat jelas diwajahnya. Kecemasannya bukan tidak terbaca oleh Ny.Dania, tapi wanita itu memang sengaja mengabaikannya, meski Ia harus menahan kesal karna Yuna yang lebih sering diam dan tak terlihat antusias menanggapi ucapannya.


Namun yang sebenarnya terjadi dengan Yuri, Ia dapat melewati terapi hari itu dengan cukup baik. Tidak merasa setegang sebelumnya, ketika sang dokter melakukan sentuhan guna membantunya. Kehadiran Azka mungkin salah satu yang menjadi sumber motivasinya. Meski ia sendiri melarang pria itu untuk melihatnya selama menjalani terapi, tapi dengan keberadaan Azka yang ia ketahui tengah menunggu diluar ruang terapi itu, membuat Yuri merasakan ada kekuatan lain yang mendorongnya untuk melakukan yang terbaik pada sesi terapinya saat itu.


“Baiklah, cukup untuk sesi hari ini, nona Yuri..”


Sang dokter lantas mengisaratkan seorang suster yang membantunya hari itu untuk mengambil alih.


Sang suster lah yang lantas membantu Yuri merapikan diri dengan menyeka keringat dan membantunya kembali pada kursi rodanya.


“Jadi kemana Yuna saat ini? Dia tidak terlihat menemanimu seperti biasanya?”


Sang dokter tiba-tiba memulai obrolan lain yang tak berkaitan dengan terapinya hari itu.


“Padahal aku sudah mengirimkan pesan bahwa aku ingin bicara dengannya..”


Yuri terlihat ragu untuk menanggapi, tapi melihat keramahan sang dokter saat itu dan selama beberapa kali sesi terapi yang dijalaninya, ketakutan yang kerap kali muncul ketika ia berhadapan dengan seorang pria perlahan-lahan sirna dari sorot kedua matanya.


“Yuna memiliki pekerjaan, dokter. Dia tidak bisa menemaniku karna harus bekerja..”


Sang dokter mengangguk mengerti..


“Apakah yang ingin anda katakan pada Yuna itu ada hubungannya dengan kondisi kakiku?”


Yuri kemudian mempertanyakan..


“Jika iya, anda bisa langsung mengatakannya padaku..”


“Tidak semuanya, tapi sebagian kecil memang ada yang menyangkut dengan keadaanmu. Tapi, tidak perlu dikhawatirkan Yuri, saya hanya ingin menanyakan beberapa hal padanya..”


Sang dokter lantas sedikit memberitahukan mengenai perkembangan terapinya itu pada Yuri. Yuri menyimak dan mengeluhkan beberapa hal yang kemudian ditanggapi oleh sang dokter. Pembicaraan itu tak berlangsung lama, Yuri lantas diantar keluar oleh seorang suster yang sebelumnya sudah membantunya selama sesi terapi didalam tadi.


“Nona..”


Jena mendekat begitu melihat Yuri keluar dari ruangan.


“Dimana Azka?”


Tatapannya mengitari kesekelilingnya, mencari-cari keberadaan Azka saat itu.


“Tuan sudah pergi..”


“Dia pergi?”


“Iya, Tuan mendapatkan telpon dari kantor.. Tuan hanya berpesan agar saya terus menemani anda..”


Tak bisa ia pungkiri, Yuri merasakan kekecewaan dalam relung hatinya. Ia mengira Azka benar-benar akan menunggunya, tapi nyatanya pria itu pergi tanpa terlebih dulu mengatakan sesuatu padanya.


“Nona..”


Jena telah mengambil alih kursi roda yang diduduki Yuri dari sang suster tadi.


“Ayo kita pulang..”


“Tunggu nona, bolehkah saya berada ditoilet sebentar..”


“Baiklah, tapi jangan terlalu lama..”


Jena menepikan kursi roda yang didorongnya, kemudian meninggalkan Yuri sendirian disana.


Yuri berkali menghela napasnya, entah apa yang pada saat itu dirasakannya. Ia hanya diam dengan kedua matanya yang mengembara menatap kesekelilingnya.


Seseorang tiba-tiba muncul dihadapannya, dan membuat pandangannya terpaku pada sosok bocah kecil dengan setangkai bunga mawar ditangan yang terulur kearahnya.


Bocah itu tidak bersuara, hanya mengulurkan bunga itu dan sedikit menggoyang-goyangkan tangkainya untuk menarik perhatian Yuri agar kemudian ia menerimanya.


“Kau memberiku bunga ini?”


Bocah itu mengangguk..


“Siapa yang menyuruhmu?”


Tanya Yuri selanjutnya setelah setangkai bunga itu kini berada ditangannya.


“Azka kah yang memintamu memberikan ini untukku?”


Bocah itu menggeleng dengan kerutan samar didahinya. Nampak tidak mengenali nama yang disebutkannya..


“Om itu yang menyuruhku..”


Ucap suara kecil itu menunjuk seorang pria yang saat itu dalam langkah kearahnya. Tak mengatakan apapun lagi, bocah itu berlari dengan suara terkikik yang tertahan.


Yuri segera memperhatikan seseorang itu yang semakin mendekat padanya.


Siapa dia?


Ia merasa tak mengenali pria itu, dan perasaan panik dengan cepat menyergapnya.


“Jena.. Jena..”


Suara sepatu yang mengiringi langkah pria itu semakin mendekat, membuat Yuri merasakan ketegangan dalam dirinya.


“Jena, cepatlah.. Ayo kita pulang..”


“Apa kau yang sudah menerima bungaku, nona..?”


Yuri menduga wajahnya mungkin sudah memucat pada saat pria itu kini tepat berada dihadapannya..


“Maaf, tapi sebenarnya itu bukan untukmu. Gadis kecil tadi ternyata payah, seharusnya dia memberikan bunganya pada wanita itu..”


Pria itu entah karna apa tersenyum, dengan salah satu telunjuknya yang kemudian menunjuk pada seorang wanita paruh baya yang juga berada dikursi roda seperti Yuri, yang pada saat itu berada tak jauh dari mereka.


“Gadis kecil itu seharusnya memberikan bungaku pada bibi itu, tapi tak apa-apa karna sudah berada ditanganmu, itu menjadi milikmu.”


Pria itu kembali tersenyum sambil memegang tengkuknya, mungkin menganggap lucu kesalahan dari bocah kecil yang tadi ia suruh.


Namun Yuri masih belum merespon. Ia justru merasakan gemetar dikedua tangannya, dan pandangan matanya berusaha menghindari tatapan mata pria itu.


“Kau sendirian?”


Pria itu menanyakan..


Yuri tidak menjawab dan memilih berusaha menggerakkan kursi rodanya sekali lagi.


“Jena.. Jena..”


“Hei, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku bisa membantumu jika kau ingin pergi dari sini. Tapi baiklah jika kau merasa terganggu. Aku tidak akan berkata apa-apa lagi.. Tapi terimakasih untuk menerima bungaku..”


Setelah beberapa saat melakukan kontak mata dengan seorang pria yang pada saat itu berada didekat Yuri, yang mengisaratkan pada Jena jika sudah saatnya Ia keluar, Jena yang tidak benar-benar berada ditoilet dan sejak tadi memang telah memperhatikan interaksi singkat yang terjadi saat itu, kemudian dengan langkah cepat menghampiri Yuri.


“Saya sudah selesai nona, mari kita pulang..”


Jena membuka kuncian pada kursi roda Yuri sebelum kemudian mendorongnya menjauh dari pria itu. Setelah beberapa langkah, ia menoleh kearah belakang, mengacungkan jempol pada pria itu yang selalu dipanggilnya dengan Nama Arkhan, yang kemudian membalasnya dengan tersenyum, sambil memberi isarat dengan jarinya bahwa ia akan menelpon nanti.


Dan mulai saat itu, dengan bantuan Jena, dengan terus mencoba memanfaatkan kesempatan yang sengaja diciptakan, pria itu makin bertekad kuat untuk mendekati Yuri dan membuat ketegangan dan sorot ketakutan dimata Yuri menghilang saat melihatnya.


***


Semenjak hari ia tidak diijinkan oleh Ny.Dania untuk menemani Yuri, Yuna memang tak lagi melakukan protes terhadap wanita itu. Ia cenderung menurut dan melakukan apapun yang diinginkan Ny.Dania. Meski kegelisahan sering kali menggurat diwajahnya.


Yuna telah menghitung setidaknya dalam jangka waktu seminggu ini, ada tiga kali sesi terapi yang dilakukan sang kakak bersama dengan dokter Ahmad, yang telah ia lewatkan. Begitupun dengan terapi kejiwaan yang dilakukan Yuri dengan Sulis. Yuna tak pernah mengantar apalagi menunggui Yuri. Jena lah yang kini memiliki tugas untuk melakukan itu.


Tapi dihari itu, setelah menghadiri acara lelang yang Yuna bahkan tak mengerti apa maksud tujuan dari acara itu, Ia dibuat terkejut ketika menyadari Ny.Dania menyuruh sang supir untuk memberhentikan laju mobilnya didepan gedung rumah sakit. Yuna sangat mengenali rumah sakit itu sebagai tempat yang selalu didatangi Yuri untuk melakukan terapi.


“Ibu..”


Yuna memperhatikan Ny.Dania yang masih terdiam, tidak mengatakan maksud dari tujuannya meminta berhenti didepan gedung rumah sakit itu.


“Masuklah.. Kau mungkin ingin melihat kakakmu..”


Yuna hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya pada saat itu.


“Maksud Ibu.. Aku..”


“Aku tidak memiliki acara lagi yang perlu kita hadiri hari ini.. Jadi kau bisa bersama kakakmu. Aku juga memiliki janji dengan suamiku..”


Yuna hampir-hampir menitikkan airmata pada saat itu, entah karna apa. Yang jelas ia merasa sangat senang ketika itu.


“Terimakasih Ibu..”


Yuna dengan tanpa sungkan memeluk wanita itu dan merasakan tangan Ibu Azka itu bergerak mengusap pada punggungnya.


Setelah beberapa hari berkeras memiliki Yuna untuk dirinya sendiri, pada akhirnya Ny.Dania menyadari jika Yuna tidak sepenuhnya menikmati aktifitas yang dilakukan bersamanya. Tubuh gadis itu memang berada didekatnya, tapi hati dan pikirannya selalu gundah memikirkan sang kakak.


Gadis itu memang berbeda. Ny.Dania menyadari hal itu. Yuna tidak bisa dialihkan meski hampir setiap hari Ia mengajaknya ke acara-acara berkumpul yang selalu diikuti Ny.Dania dengan beberapa temannya, meski ia juga telah membelanjakan gadis itu dengan berbagai macam benda hingga pakaian yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya, Ny.Dania tetap saja masih dapat menangkap kegelisahan yang kerap kali terlihat dari kedua sorot mata Yuna.


Ia mendesah beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk, mungkin lebih baik memberi kebebasan terhadap gadis itu..


“Cepatlah kau turun.. Aku harus pergi. Papa Azka pasti sudah menungguku..”


“Oh, Iya.. terimakasih Bu..”


Yuna mengambil tas tangannya, sudah berniat turun ketika Ny.Dania tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.


“Pakai ini.. Udara diluar semakin dingin akhir-akhir ini..”


Ny.Dania melilitkan scraf yang sebelumnya dipakai olehnya keleher Yuna.


“Jangan lupakan ponselmu.. Dan hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu..”


Yuna mengangguk dan tersenyum, dan kembali tanpa sungkan Ia memberikan ciuman dipipi wanita itu.


“Terimakasih Bu.. Aku sangat-sangat menyayangimu..”


Ny.Dania mengangguk dan tersenyum sambil mengusap pada pergelangan tangan Yuna, sebelum akhirnya membiarkan gadis itu keluar dari dalam mobil.


***


to be continue