
“Jadi Azka, apa yang sesungguhnya terjadi antara Kau dan gadis itu, kakak Yuna. Apa yang telah terjadi diantara kalian?”
“Mama, apa maksudnya pertanyaan semacam itu..?”
“Oh Tuhan ku.. Aku telah melihatnya dari dekat. Jangan kira Mama bodoh dan tak menyadari siapa gadis itu. Dia jelas-jelas pernah bekerja untukmu. Menjadi sekretarismu. Mama masih memiliki ingatan itu saat aku berkali-kali melihatnya dalam satu ruangan bersamamu..”
Mama bergerak mendorong pada bahuku..
“Kenapa kau tak pernah mengatakan padaku jika Yuna adalah adiknya?”
Sesaat setelahnya, Mama beralih pada Yuna dan memberikan tatapan tajam padanya.
“Kenapa kau juga tidak mengatakan padaku jika kakakmu yang kau katakan sebelumnya berada diluar negri, dia adalah bekas sekretaris Azka?”
“Ibu, Aku.. Aku hanya..”
“Ma, apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?”
Papa pada akhirnya menarik Mama ke sisinya.
“Astaga.. Kenapa kau tidak memiliki pemikiran yang sama denganku, Pa. Kakak Yuna pernah menjadi sekretaris Azka. Dan kau lihat bagaimana gadis itu histeris mencari-cari keberadaan Azka tadi. Mereka berdua pastilah memiliki riwayat kedekatan yang lebih sebelumnya..”
“Jadi maksudmu adalah..?”
“Ya, kau mengerti apa yang menjadi maksudku sekarang..”
Papa kini menatap meminta penjelasan dariku. Dan aku mengerti apa yang saat ini sedang menjadi kecurigaan kedua orangtua ku..
“Ya Tuhan, Ma.. Mengapa kau berpikir aku serendah itu?”
“Itu karna aku melihat sendiri dengan kedua mataku bagaimana kelakuanmu bersama dengan Yuna saat itu. Bahkan sekarang saat Mama terpaksa harus mengingatnya, aku masih merasakan kecewa terhadapmu, Azka..”
“Mama.. Yang terjadi malam itu sebenarnya, sebenarnya hanyalah..”
Aku berpikir jika aku mengatakan yang sebenarnya terjadi pada malam itu, pada saat Mama memergoki ku bersama dengan Yuna, itu sama saja dengan aku harus membongkar kebenaran yang sengaja ku tutupi. Dan itu tidak mungkin kulakukan. Maka kemudian aku menghentikan ucapanku..
“Apa.. Hanyalah apa, Azka? Hanyalah tindakan main-main mu dengan mencoba untuk menidurinya? Kau ingin mengatakan seperti itu pada Mama..? Kau mungkin juga telah melakukan hal yang sama dengan kakaknya..”
Aku meremas rambutku, sedikit frustasi dengan pemikiran ibuku yang telah begitu rendah memberikan penilaian terhadap putranya sendiri.
Tidakkah Mama mengenalku?
Oh,
aku tak bisa menyalahkannya. Semua pemikiran itu muncul karna salahku..
Sementara yang kulihat dari Yuna, dia hanya menundukkan wajahnya, diam seakan mengunci rapat-rapat mulutnya.
“Tidak Ma, tidak ada yang main-main dengan apa yang kulakukan dengan Yuna. Aku mencintainya.. Aku serius dengan perasaanku terhadapnya.”
Dengan mendengar kalimat itu, Yuna mendongak menatap padaku. Aku membalas tatapannya dengan masih terus melanjutkan kalimatku..
“Tidak pernah terjadi sesuatu antara aku dan Yuri, seperti yang terjadi antara aku dan Yuna. Aku mencintai Yuna dan aku menginginkannya bersamaku..”
Aku tahu Yuna akan bersuara tapi aku takkan membiarkan dia menginterupsi ucapanku..
“Dan aku tidak akan berdusta pada Mama dan Papa, jika sebelumnya Yuri memang mengatakan bahwa dia mencintaiku..”
“Astaga.. Azka..!”
Meski telah memiliki dugaan didalam pemikirannya, Mama masih terkejut saat mendengarku mengatakannya.
Ya..
Aku memutuskan untuk tidak melakukan kebohongan pada hal satu ini.
“Aku tidak bisa mencegah perasaan seseorang tumbuh terhadapku, Mama. Mengertilah..”
“Tapi bagaimana bisa kemudian kau justru bersama dengan adiknya? Bersama dengan Yuna? Bagaimana kau melakukan itu?”
Mama kembali mengarahkan tatapannya pada Yuna. Aku menyadari bahkan penjelasan seperti ini akan menjadi panjang bila yang kuhadapi adalah ibuku.
Mama seakan memiliki seribu satu pemikiran yang sanggup untuk mencecarku..
“Aku menolak perasaan Yuri terhadapku. Aku ingin hubungan profesional kami tetap terjaga. Dia pintar dan selalu bisa ku andalkan. Namun sepertinya Yuri terlukai oleh karna penolakanku. Dia memutuskan pergi dan berhenti dari pekerjaannya.”
“Dan membiarkan adik belianya menjadi liar dengan pergi keluar negri hanya karna perasaannya ditolak. Seperti itu kah?”
Sesungguhnya tidak..
Aku juga melihat ketidak relaan dimata Yuna mendengar mama mengatakan itu. Tapi dalam hal ini aku terpaksa harus mengatakan ‘Ya’ berdasar pada cerita yang telah ku buat sebelumnya.
Kini aku merasakan kebenaran pepatah yang mengatakan jika satu kebohongan akan membuatmu melakukan kebohongan berikutnya.
Oh Tuhan..
Ampuni aku..
“Jadi apakah dia telah mengetahui jika kau dan Yuna sudah menjalani pertunangan?”
Itu pertanyaan yang kudengar dari Papa..
“Tidak.. Yuri belum mengetahuinya..”
“Saya telah memutuskan untuk tidak mengatakannya”
Oh,
Yuna..
Kau jelas tidak dalam posisi untuk mengambil keputusan.
Aku mengarahkan tatapan tajam padanya, namun nampaknya dia mengabaikan itu dan melanjutkan ucapannya ketika Mama dan Papa terlihat terkejut mendengarnya.
Ya..
Memang apa yang baru terucap dari mulut gadis belia itu cukup mengejutkan. Bahkan aku yang sebelumnya telah mengetahui hal itu masih dibuat terkejut dengan keberaniannya mengucapkan hal itu pada Mama dan Papa.
“Apa maksudmu Yuna?”
“Ibu.. Sebelumnya maaf, maafkan aku, tapi Ibu telah melihat bagaimana keadaan Kak Yuri sekarang. Kakak ku tergantung pada keberadaan Azka disisinya. Maka tidak mungkin untukku mengatakan bahwa kami telah menjalin pertunangan. Ditambah dengan trauma yang dirasakannya, Itu akan menghancurkan kakak ku. Kak Yuri mencintai Azka.. Dia mencintainya. Kakak membutuhkannya sekarang..”
Aku menunggu bagaimana Mama dan Papa akan bereaksi, namun sepertinya keterkejutan itu masih bertahan disana.
“Aku ingin meminta Azka untuk.. Untuk mencintai kak Yuri ku..”
Dia menatapku dengan tatapan memohon, namun hal itu justru kembali memunculkan amarah dalam diriku.
Aku tak lagi perduli dengan kehadiran Mama dan papa disana, aku telah meraih pergelangan tangannya, mencengkramnya dan menariknya menjauh dari Mama dan papa yang mungkin saja tak menyangka dengan apa yang telah mereka dengar dan juga lihat sekarang.
Aku menarik Yuna disepanjang koridor rumah sakit, hingga menemukan tempat yang bisa membuatku leluasa..
“Pak..”
Aku masih tak melepaskan pergelangan tangannya, sampai kemudian menemukan tempat itu pada balkon rumah sakit..
Aku mungkin telah membentak, melihat dari Yuna yang sedikit mundur dari hadapanku.
Dia pasti menyadari geraman kemarahanku saat itu. Sejurus kemudian airmata jatuh dari kedua sudut matanya.
Sial..
Airmatanya..
Kesedihannya..
Dan juga tatapan memohonnya..
Aku merasa itu akan dengan mudah melumpuhkan kekerasan ku.
“Pak.. Aku..”
“Bagaimana bisa kau tidak memikirkan perasaanku? Bagaimana bisa kau tidak peduli tentang itu, Yuna..! Katakan bagaimana kau bisa berlaku seperti itu..!!”
Rasanya aku perlu meninju apapun yang berada disekitarku, hanya untuk melampiaskan kemarahan dan kefrustasian yang kurasakan.
Bagaimana mungkin gadis belia itu bisa membuatku begitu frustasi.
Aku ingin mengabaikan. Sangat ingin mengabaikannya. Tapi sayangnya aku juga merasa peduli. Dan keinginan untuk melindungi serta menjaganya juga begitu besar kurasakan.
Aku berbalik menghindari tatapan memohonnya. Rasanya takkan lama sampai aku benar-benar akan menjadi luluh dengan permintaannya jika terus menatap pada kesedihan diwajahnya.
“Maafkan aku.. Maafkan aku karna telah menempatkanmu dalam kesulitan seperti ini..”
Ini mengejutkan..
Aku merasakan Yuna memeluk dari belakang tubuhku. Kedua tangannya melingkari pada pinggangku.
Bahkan kini aku mulai merasakan basah dari airmatanya yang menempel pada punggungku.
Oh Tuhan..
Mengapa gadis itu bisa melakukan ini padaku.
“Aku begitu takut.. Takut akan kehilangan Kak Yuri. Aku bingung dan tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk membantu Kak Yuri selain dengan itu. Aku ingin dia sembuh. Aku selalu ingin kakakku baik-baik saja. Maaf karna keegoisanku. Maafkan aku..”
Isak tangisnya..
Airmata permohonan dibalik permintaan maafnya, telah membuat seakan-akan sesuatu meremas dengan begitu kuat didalam hatiku.
Seberapa keras dan kuatnya aku bertahan dengan kemarahanku, nyatanya Aku tidak ingin mendengar permohonannya. Aku tidak ingin membuatnya melakukan hal itu.
“Bahkan dengan aku memohonpun, Aku tahu aku tidak pantas meminta ini darimu, sementara aku telah begitu jahat padamu.. Tapi aku.. Aku hanya ingin..”
Tuhan..
Aku tak ingin mendengar lagi apapun itu yang coba dikatakannya.
Maka kemudian aku melepas kedua tangannya yang melingkari pinggangku, berbalik dan merengkuh bahunya dengan kedua tanganku..
“Sekarang Aku hanya ingin bertanya padamu.. Apa kau peduli dengan perasaanku?”
Dia mengangguk dengan lelehan airmata diwajahnya..
“Jika Kau mengerti dengan perasaanku padamu. Maka jawab aku, Yuna.. Apakah kau merasakan memiliki perasaan semacam itu terhadapku?”
Aku melihatnya terdiam dan hanya menatap padaku..
“Aku ingin kau mengatakannya sekarang..”
Aku membiarkan diriku menjadi sedikit pemaksa terhadapnya..
“Aku.. Aku tidak tahu bagaimana, tapi.. tapi sepertinya ada sesuatu disini..”
Tangannya bergerak menyentuh pada dadanya dan kemudian wajahnya tertunduk..
“Sesuatu apa, Yuna..? Katakan dengan jelas padaku..”
Aku perlu meraih dagunya untuk mengangkat wajahnya dan membuat manik matanya menatap padaku..
“Katakan padaku..”
“Aku.. Sepertinya aku.. Aku juga tertarik padamu.. Entah sejak kapan tapi aku menyadari diriku terus berusaha untuk mengingkarinya..”
Oh Tuhan ku..
Betapa melegakan mendengarnya..
“Kau tidak harus melakukan itu setelah aku mengatakan mencintaimu kan..”
“Tapi aku..”
“Ssttt..”
Aku menempatkan jari telunjukku didepan bibirnya..
“Aku yakin akan ada solusi lain untuk Yuri..”
Dia menggeleng tidak yakin..
“Untuk saat ini, aku rasa hanya itu satu-satunya yang bisa dilakukan..”
Aku menghela napas mendengarnya..
“Jika pada akhirnya hanya itulah yang bisa dilakukan. Baiklah.. Aku mungkin akan menuruti permintaanmu..”
“Pak Azka..”
“Aku akan mengatakan pada Yuri bahwa aku mencintainya jika itu apa yang ingin didengar olehnya. Aku akan berada disisinya jika itu juga apa yang dibutuhkannya..”
“Terimakasih.. Terimakasih untuk melakukannya. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk membalasnya..”
Aku akan mengingat itu..
Dengan itu Yuna langsung menubruk dadaku, memelukku.
Tapi aku bahkan belum selesai dengan apa yang ingin kukatakan padanya..
“Tapi dengan catatan, kau tidak harus menghindar apalagi menolak jika aku menunjukkan tindakan nyata terhadap perasaanku padamu..”
Baiklah..
Aku pasti bisa menghadapi kekeras kepalaannya dengan caraku..
***
to be continue