
Pertempuran di perbatasan antara Sanguine Kingdom dengan Narsist Kingdom semakin memanas.
Dengan bala bantuan yang sudah datang dari masing-masing kubu, jelas sudah semakin menambah kacau medan pertempuran. Seiring dengan berjalannya waktu, pasukan Aliansi sukses menekan pasukan dari Narsist Kingdom yang membuat medan pertempuran kini berganti dari Benteng tidak bernama menjadi ke area gurun luas di wilayah Narsist Kingdom.
Pasukan Narsist Kingdom yang semakin kewalahan jelas tidak ingin diam saja dan berusaha keras untuk kembali membalikkan keadaan.
"Berserk...!!!!"
Teriak salah seorang prajurit dari pihak Aliansi.
Berserk adalah kode yang mereka gunakan ketika melihat ada prajurit lawan yang mengalami perubahan dari segi penampilan dan tentu saja kekuatan.
Sudah menjadi pengetahuan umum jika pihak Narsist Kingdom tidak akan berpikir dua kali untuk menggunakan item atau Equipment terkutuk yang akan memberikan mereka kekuatan yang maha dahsyat. Sebagai gantinya,
kewarasan serta kemanusiaan mereka akan menghilang yang membuat mereka menjadi tidak lebih dari monster yang mengamuk.
Sebuah langkah yang tidak masuk akal mengingat Narsist Kingdom ada sebuah Kerajaan yang sangat menjunjung tinggi Kemanusiaan di atas segalanya.
Booom...!!!
Sebuah ledakan besar baru saja menghancurkan prajurit Narsist Kingdom yang mengamuk hingga membuat prajurit malang itu hancur berkeping-keping. Para prajurit tidak beruntung yang berada di sekitarnya juga tidak luput dari api ledakan itu.
Sumber dari ledakan itu adalah sebuah Tank yang dari sudut pandang para Locals terlihat seperti sebuah kotak baja yang baru saja menembakkan sesuatu dari moncongnya yang mirip seperti belalai seekor gajah.
Agak aneh memang melihat sebuah Tank yang adalah senjata era modern di tengah-tengah pertempuran dengan pedang dan sihir.
Akan menjadi aneh lagi mengingat ada tiga buah Tank yang kini membombardir pasukan dari Narsist Kingdom hingga membuat mereka tidak berkutik.
Usaha pasukan Narsist Kingdom untuk menjatuhkan Tank tersebut terbilang percuma mengingat permukaan Tank itu sudah dilapisi oleh Rune yang membuatnya tahan terhadap serangan sihir sementara Mythril yang menjadi bahan dasar dari Tank tersebut membuat mereka kebal terhadap serangan fisik.
Dua kombinasi ini telah membuat Tank yang di buat oleh para Otherworlder ini menjadi sebuah senjata menakutkan yang tidak akan tumbang bagaimana pun caranya.
Bahkan tanpa ada Tank sekalipun, pihak Aliansi masih memiliki banyak prajurit tangguh yang mampu menghabisi prajurit Narsist Kingdom yang mengamuk sebelum mereka bisa berbuat banyak.
Dua dari prajurit tangguh tersebut adalah Pemimpin dari Party the Guardian, Doragon. Dan Ketua dari Guild Iron Sword, Turbo. Yang merupakan Guild paling ternama di Drakon Kingdom.
Doragon bersama dengan Partynya dengan cepat menghabisi prajurit yang mengamuk seolah mereka bukanlah apa-apa.
Sedangkan Turbo menyuruh anggota Guildnya yang lain untuk menyebar dan menghabisi prajurit yang mengamuk ketika ditemukan.
Berkat ini pihak Aliansi mampu menahan amukan para pasukan Narsist Kingdom yang berubah menjadi monster tidak berakal sebelum mereka bisa membuat sebuah kekacauan besar.
Melihat pasukannya dihancurkan satu-persatu, membuat Auster El Austellus selaku Komandan dari Narsist Kingdom menjadi panas dan ingin segera turun ke medan pertempuran untuk menyingkirkan Tank-Tank itu dengan tangannya sendiri.
"Tenangkanlah dirimu, yang hendak kau lakukan hanya akan memperkeruh suasana"
Ucap seorang pria tampan dengan rambut dan mata sebiru lautan.
Terlihat dia mengenakan Armor yang serupa dengan yang dikenakan oleh Auster. Yang menjadi pembeda adalah jika Armor yang Auster kenakan berwarna Cokelat yang dihiasi oleh ornamen berwarna keemasan, Armor yang pria itu kenakan memiliki warna biru sama seperti rambutnya yang tentu saja juga dihiasi oleh ornamen keemasan.
Dia adalah salah satu dari Empat Jenderal besar, sang Jenderal dari Laut Barat (West Ocean) Occidens El Occiduus.
Alasan dia datang kesini adalah untuk membantu Auster yang sudah mulai kewalahan menghadapi pasukan musuh.
"Aku tahu itu!"
Teriak Auster sementara matanya menatap tajam jauh ke dalam barisan pasukan musuh.
Di sana terdapat empat orang sosok yang sedari tadi hanya berdiri diam mengamati alur pertempuran.
Keempat sosok itu adalah Sang Penyihir Cahaya Suci, Rosemary La Ciel. Kepala Suku Beruang, Bearnard Ursa. Ratu para Peri (Fairy), Titania. Dan terakhir adalah Pangeran Bangsa Elf, Lapelis Ast Regenwald.
Mereka berempat adalah Jenderal dari pihak lawan.
Kekuatan mereka berempat tentu saja tidak bisa di anggap enteng. Alasan kenapa tidak ada satupun dari mereka yang turun ke medan pertempuran adalah untuk menyimpan kekuatan mereka dan menunggu sampai saat kekuatan mereka dibutuhkan.
"Jika kau sampai turun tangan maka mereka pasti akan langsung bergerak"
"Aku bilang aku tahu itu!"
Menahan amarahnya, Auster hanya bisa menggertakkan giginya melihat semakin banyak pasukannya yang gugur bahkan setelah meminjam kekuatan dari artefak yang mereka temukan dari dalam reruntuhan kuno.
Menggenggam erat kalung pemberian yang mulia, Auster tidak punya pilihan lain selain memendam gejolak amarah di dalam hatinya.
Sayang, tekadnya itu hanya bisa bertahan sementara.
Booom...!!!
Sebuah suara ledakan kembali terdengar.
Kali ini jaraknya tidak terlalu jauh dari tenda Komandan tempat Auster dan Occidens berada. Melirik ke sumber ledakan, terlihat apa yang dulunya adalah Kesatria terlatih kini sudah berserakan di atas tanah dengan tubuh yang sudah tidak lagi utuh.
Booom...!!!
Suara ledakan lainnya kembali terdengar. Dan Kesatria lainnya kembali berguguran.
Booom...!!!
Ledakan lainnya terjadi tepat di hadapan Auster dan Occidens. Kebetulan atau tidak, sebuah potongan tubuh terlempar ke bawah kaki Auster. Itu adalah sebuah kepala. Sebuah kepala yang sudah tidak lagi bernyawa yang kedua mata matinya seolah menatap langsung kepada Auster.
Melihat ini, Auster pun menjadi tidak mampu lagi untuk menahan diri.
"Jangan...!"
Tidak mengindahkan peringatan dari rekannya, Auster menerjang kedepan sambil berteriak "Haaaa...!!!" yang bergema dengan jelas di medan perang yang luas.
Mengangkat Battle Axe miliknya tinggi di udara, tujuan Auster hanya satu.
Menghancurkan Tank yang berada di hadapannya.
(Terra Rage)
Melompat tinggi ke udara, Auster menghentakkan Battle Axe nya dengan keras ke atas permukaan tanah berpasir. Sebuah ledakan keras terdengar ketika Battle Axe itu menghantam tanah. Darinya sebuah retakan yang membelah
tanah menyebar luas ke area di hadapannya.
"Lari!" "Mundur!!!" "Menghindar!!"
Peringatan mereka seakan percuma ketika retakan itu dengan cepat mencapai kaki mereka dan terus melaju dan meluas berusaha menggapai pasukan Aliansi yang lainnya. Dari retakkan tersebut, sebuah jurang besar menganga lebar seakan menelan semua yang ada di atasnya.
Jelas saja semua orang, baik itu pasukan Aliansi dan bahkan pasukan dari Narsist Kingdom yang tidak beruntung tertelan ke dalamnya. Mereka hanya bisa berteriak tidak berdaya seraya tubuh mereka terjatuh ke kedalaman
celah bumi.
Dan salah satu dari korban amukan Auster adalah sebuah Tank yang sejak awal menjadi incarannya.
"Sial!" teriak salah satu Otherworlder yang menaiki Tank tersebut. Berada di dalam Tank yang tertutup, dia beserta rekannya yang lain tidak bisa berbuat banyak ketika Tank yang mereka kendarai terjun bebas ke dalam jurang tak berdasar.
"Kalau begini caranya..."
Tidak mau menyerah, semua orang di dalam Tank itu sepakat untuk memberikan sebuah perlawanan terakhir.
Sebuah hembusan angin seketika menyelimuti Tank tersebut. Walau angin tersebut tidak cukup kuat untuk mencegah Tank itu agar tidak jatuh, angin tersebut sudah lebih dari cukup untuk memposisikan kembali moncong Tank itu.
Memasukan peluru spesial yang permukaannya dilapisi oleh Mythril serta di isi oleh bahan peledak yang di buat langsung oleh sang Alkemis Kehancuran, Colette. Peluru tanda perpisahan mereka pun siap ditembakkan.
Target mereka sudah tidak perlu disebutkan lagi.
"Tembak!" Booom...!!!
Sebuah peluru sebagai ucapan selamat tinggal melesat lurus ke arah Auster yang Battle Axe nya masih menancap di dalam tanah.
Mencabut Battle Axe nya, Auster tidak berniat untuk menyambut serangan itu secara langsung. Sebagai gantinya dia menembakkan (Stone Bullet) berharap untuk meledakkan peluru yang ditembakkan oleh Tank itu di udara.
Andai saja dia menggunakan serangan yang jauh lebih kuat.
"Apa!" melihat usahanya gagal, Auster tidak lagi punya waktu menghindar ketika peluru itu sudah berada tepat di hadapannya.
Booom...!!!
Terkena serangan langsung, Auster masih sempat untuk menggunakan bagian datar Battle Axe nya sebagai tameng dadakan. Meski begitu, tubuh seorang Manusia biasa jelas saja bukanlah tandingan bagi sebuah peluru spesial yang ditembakkan dari sebuah Tank.
"Agh!" satu tembakan itu membuat Auster terhempas mundur jauh kebelakang.
Terguling-guling di atas tanah, butuh segala yang dia miliki hanya untuk tetap mempertahankan kesadarannya. Ketika asap ledakan yang menyelimutinya sirna, terlihat wujud Auster yang masih utuh namun menyedihkan.
Hiasan emas yang melapisi Armornya telah sirna setelah terkena ledakan. Terlihat juga kalau Armor kokoh yang dia kenakan kini tidak lebih dari Armor usang yang penuh dengan retakan. Bahkan Battle Axe yang tadi dia gunakan kini telah terlempar entah kemana.
Yang paling miris adalah wajah tampannya kini sudah tidak lagi.
Tampak setengah wajahnya pada sisi kanan telah hangus terbakar. Kulitnya hitam melepuh hingga deretan gigi putihnya terlihat jelas. Kelopak matanya telah menyatu dengan kulitnya sehingga mata kanannya kini sudah tidak
lagi bisa dibuka.
Tidak usah diragukan lagi. Bahkan jika dia berhasil selamat dari pertempuran ini, di Kerajaan yang mengutamakan kecantikan di atas segalanya bahkan di bidang militer sekalipun, karir militernya sama saja dengan tamat.
Whooosh....
Seakan ingin segera mengakhiri penderitaannya, sebuah anak panah melesat sambil dikelilingi oleh aura berwarna kehijauan.
Dengan sebuah observasi singkat terlihat jelas kalau tujuan anak panah itu adalah satu.
Melihat ini, Auster yang masih kesusahan untuk berdiri tidak bisa melakukan apa-apa ketika tahu kalau kepalanya sedang di incar. Pasrah akan nasib, Auster pun memejamkan matanya berharap kalau ini akan cepat berlalu.
Namun sayang, tampaknya ceritanya masih belum berakhir di sini.
"HA!"
Sebuah tombak yang berlapis air sukses menangkis anak panah yang hanya tinggal sejengkal saja sebelum mengenai targetnya.
Membuka matanya, Auster menemukan sosok Occidens yang kini sudah berdiri dengan gagah di hadapannya. "Kau masih hidup?" Menyiramkan sebotol Potion, Occidens memperhatikan kondisi Auster yang sedikit membaik sebelum memfokuskan pandangannya kembali ke arah musuh.
Jauh di belakang garis musuh adalah Pangeran Lapelis yang sudah siap dengan busur kayu miliknya. Busur itu jelas bukanlah busur biasa, selain terlihat ada daun dan bahkan bunga yang tumbuh dari busur itu, yang membuat busur itu sangatlah mencolok adalah ukurannya yang setara dengan tinggi seorang pria dewasa. Orang biasa tidak akan sanggup untuk membawa busur itu atau bahkan menggunakannya. Akan tetapi, Pangeran Lapelis dapat menggunakan busur itu tanpa ada masalah.
Whooosh....
Sebuah anak panah kembali ditembakkan.
Anak panah itu melaju dengan sangat kencang hingga wujudnya tidak lagi terlihat oleh mata telanjang.
"Sial!" merasa mustahil untuk menebak ke arah mana anak panah itu menuju, Occidens menggunakan sihir (Hydro Cocoon) untuk melindungi dirinya dan juga Auster yang masih belum pulih sepenuhnya.
Booom!
Sebuah ledakan bergema ketika setengah dari (Hydro Cocoon) yang Occidens buat hancur bersamaan dengan sebuah perasaan panas di samping wajahnya.
Tampaknya (Hydro Cocoon) miliknya hanya mampu untuk membelokkan arah serangan dari anak panah itu. Meski begitu, itu sudah cukup untuk membuatnya terhindar dari anak panah di kepala.
Walau dirinya baru saja menghindari kematiannya, tapi dia tetap tidak boleh lengah.
Terlebih ketika seekor beruang sedang berlari menuju arahnya.
Mengenakan sebuah Full Amor yang ditempa khusus hanya untuk dirinya, Bearnard berlari kencang dengan keempat kakinya melewati medan pertempuran. Di punggungnya adalah Ratu Titania yang kini juga mengenakan Full Armor yang berwarna merah seperti sebuah api yang membara. Di tangannya adalah sebuah Pedang dengan bilah yang menyala oranye yang memancarkan aura panas yang tidak bisa di anggap enteng.
"Maafkan aku"
Menengok ke belakang, terlihat Auster yang walau setengah wajahnya masih hangus, tapi dia sudah memiliki kekuatan untuk bisa kembali berdiri. Terlihat dari tatapan matanya kalau dia masih belum menyerah untuk bertarung.
"Bagus, setelah ini kau harus menebus kesalahanmu"
"Tenang saja... Aku akan segera menebusnya"
(Terra Armor)
Tanah cokelat mulai naik dari kakinya ke seluruh tubuhnya. Armor yang retak kini dilapisi oleh Armor yang walau terbuat dari tanah tapi ketangkasannya jauh melebihi dari Armor yang awalnya dia kenakan. Hanya dalam kurun waktu yang singkat, (Terra Armor) miliknya telah mengubahnya menjadi sesosok kesatria dengan tinggi melebihi dua meter.
Permukaan Armornya sangatlah keras bagaikan sebuah gunung dalam wujud Manusia. Helm yang menutupi kepalanya sekilas mirip seperti helm tentara Romawi kuno. Akan tetapi di mata para Otherworlder helm yang Auster kenakan sekarang jauh lebih terlihat seperti helm pahlawan super pengendara yang biasa tayang seminggu sekali.
Karena Helm itu menutupi seluruh bagian kepala bahkan wajahnya, membuat luka di wajahnya tidak lagi terlihat tertutupi oleh helm itu.
Dengan Armor yang sudah jadi, kini yang Auster butuhkan adalah senjata.
Battle Axe yang dia gunakan sebelumnya sudah hancur berkeping-keping dan kini berserakan di atas pasir. Oleh karena itu, mengulurkan tangannya ke depan. Auster menggunakan Skill (Terra Armament) untuk menciptakan
sebuah Great Axe yang saking besarnya harus dia bawa dengan kedua tangan.
"Aku sudah siap"
Dengan Armor dan senjata yang sudah jadi, Auster sudah siap untuk kembali bertarung. Para pasukan Aliansi melihat ini, terlebih para Otherworlder yang menonton dari kejauhan menjadi terpana dan bahkan berdecak kagum
akan penampilannya yang gagah nan keren.
Tidak perlu dipertanyakan lagi kalau para Otherworlder yang juga menguasai [Soil Magic] telah menemukan panutan mereka. Skill (Dirt Armor) serta (Stone Armament) yang selama ini kurang populer karena berat dan susah untuk bergerak tidak lama lagi akan menjadi populer dan akan semakin sering untuk dijumpai.
"Heh, sungguh sebuah wujud yang tidak sedap di mata..."
Sayang, wujud Auster yang sekarang tidak termasuk ke dalam standar kecantikan di Narsist Kingdom. Menutupi seluruh tubuhmu dengan tanah? Jorok sekali. Itulah yang akan pertama kali terlintas di pikiran mereka ketika
melihat Skill ini.
Meski tahu kalau (Terra Armor) adalah Skill yang di anggap jorok oleh orang banyak. Situasinya yang sekarang tidak memberikannya pilihan lain selain menggunakannya.
Mengalihkan perhatian mereka kembali ke medan perang. Bearnard yang sedang membawa Ratu Titania kini sedang berlari tepat di pinggir jurang yang menganga menuju langsung ke arah mereka. Melihat mereka yang sebentar lagi sampai, Occidens tidak tinggal diam saja.
(Tsunami)
Seperti namanya, sebuah Tsunami tercipta yang menyapu segala yang ada di hadapannya.
Jurang yang Auster baru saja ciptakan dengan cepat terisi oleh air hingga tampak seperti sebuah sungai.
Di hadapkan dengan Tsunami yang menerjang membuat Bearnard untuk segera putar balik untuk mengindarinya... "Jangan berhenti" ...atas perintah dari Ratu Titania, Bearnard tidak jadi berhenti tapi malah mempercepat lajunya.
(Flame Spirit-Little Sun)
Sebuah kupu-kupu kecil berwarna oranye terbang dari telapak tangan Ratu Titania menuju ombak Tsunami raksasa yang berada di hadapan mereka. Jangankan Tsunami, seekor Kupu-kupu seharusnya tidak akan mampu terbang
di bawah guyuran hujan.
Akan tetapi, kupu-kupu itu bukanlah kupu-kupu biasa.
Di bawah naungan dari Ratu para Peri (Fairy) Titania, Kupu-kupu itu yang adalah perwujudan dari Peri Api mengepakkan sepasang sayap kecilnya yang indah dan terbang menyambut Tsunami yang datang menerjang. ketika kupu-kupu dan Tsunami akhirnya saling bertemu...
Sebuah bola api berukuran buah kelapa yang berwarna oranye bersinar terang menyinari segalanya.
Ketika Bearnard melihat bola api itu, seketika dia paham kenapa bola api itu dinamakan 'Little Sun'.
Aliran air dari Tsunami yang seharusnya meluluhlantakkan segala yang di laluinya seketika menguap ketika terkena cahaya dari Little Sun. Tidak hanya air, bahkan permukaan tanah yang dilaluinya seketika hangus terbakar hingga meninggalkan sebuah jejak hangus ketika Little Sun melewatinya seraya dia melaju dengan Bearnard dan Ratu Titania mengikuti dari belakangnya.
"Kau pasti bercanda!"
Dengan Little Sun memandu jalan mereka, Bearnard dan Ratu Titania melaju membelah Tsunami yang menghadang.
"Menghindar...!"
Seketika Occidens dan Auster langsung melompat ke arah yang saling berlawanan dengan sekuat tenaga.
Sedetik kemudian Little Sun sudah sampai di tempat di mana mereka awalnya berdiri.
Selamat dari maut, Auster dan Occidens melihat Ratu Titania yang melepaskan Little Sun ketika tahu kalau Skillnya sudah meleset tanpa mengenai target pertamanya. Karena itulah dia melepaskan Little Sun dari
kendalinya dan mengirimnya ke target sejatinya.
"..."
Tidak sempat berteriak, semua pasukan Narsist Kingdom yang masih dalam posisi siaga seketika lenyap bersama dengan tenda yang selama ini menjadi pusat komando mereka sekaligus tempat di mana Auster dan Occidens biasa berada.
Melihat pasukan sekaligus markas mereka ditelah oleh cahaya mentari, tingkat kesabaran Auster sudah benar-benar habis.
Turun dari punggung Bearnard, Ratu Titania dengan pedang membara di tangan berdiri dengan anggun menghadapi Occidens yang juga telah siap dengan tombaknya.
Sementara itu, Bearnard yang sudah terbebas dari tugasnya sebagai sebuah tunggangan kini berdiri dengan kedua kakinya. Mengambil Great Sword kesayangannya, dia kini sudah siap untuk berhadapan dengan Auster yang telah mengancungkan Great Axe miliknya siap untuk menebas seekor beruang.
Dengan kedua petinggi dari kedua belah pihak sudah saling berhadapan, tabir pertempuran pun sudah siap untuk di tutup.