A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 114 : The Great Alliance (3)



Hari ketiga semenjak Paus Senor dirasuki oleh Iblis (Demon) dan menghancurkan Istana Nirvana serta area sekitarnya.


Dapat terlihat kalau dinding penghalang yang mengurung Iblis (Demon) tersebut kini mengalami retakan besar yang sudah mustahil untuk bisa diperbaiki tidak peduli berapa banyak Mana yang dikeluarkan.


Boom! Boom! Boom!


Setelah menerima pukulan serta serangan secara bertubi-tubi, jelas saja bagi penghalang itu untuk secara perlahan kehilangan ketahanannya.


Para Penyihir (Witch) serta Peri (Fairy) yang bertugas untuk menjaga penghalang kini memiliki wajah pucat karena terlalu banyak mengeluarkan Mana. Berjaga di sekitaran penghalang, para Prajurit Aliansi tampak berkeringat deras kawatir karena Iblis (Demon) itu bisa terbebas kapan saja.


"Tampaknya penghalang (Holy Confinement) hanya bisa sampai sini saja"


Menonton dari kejauhan adalah para Pangeran dari tiga Kerajaan yang berbeda. Pangeran Draco dari Drakon Kingdom, Pangeran Lapelis dari ras Elf, serta Pangeran Verfolger dari Sanguine Kingdom.


Bertugas sebagai Komandan pasukan, mereka bertiga menunggu dengan cemas sampai (Holy Confinement) pecah dan petarungan melawan Iblis (Demon) menjadi tidak terelakkan lagi.


"Heh, penghalang remeh seperti itu memang sejak awal tidak ada gunanya. Lebih baik langsung saja serang makhluk hina itu sehingga dia tidak lagi menistakan Istana Suciku!"


"Janganlah begitu, wahai Raja Pulchritudo. Berkat Penghalang itu jugalah kita bisa mengulur waktu sampai bala bantuan tiba"


Yang berbincang tidak jauh dari para Pengeran adalah dua sosok Raja yang memimpin Kerajaan mereka sendiri.


Raja dari Narsist Kingdom, Raja Pulchritudo serta Raja dari Ferox Kingdom, Leonidas.


Menampilkan ekspresi kesal, Raja Pulchritudo masih tidak sudi untuk berbagi kursi bersama seekor hewan jorok. Akan tetapi, karena keadaan tidak mendukung, dia terpaksa untuk menahannya.


"Tetap saja, kita masih harus menahan makhluk hina itu sampai setidaknya empat hari lagi. Apakah Penyihir dari Sol Ciel itu tidak bisa lebih cepat lagi?"


"Jujur, aku bukanlah seorang yang pandai dalam hal sihir. Tapi aku setidaknya paham kalau untuk mengaktifkan sebuah sihir yang cukup hebat untuk bisa menyegel seekor Iblis (Demon) selama milenia pastinya akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit"


"Tch..." tidak bisa menyangkal perkataan Raja Leonidas, Raja Pulchritudo hanya bisa menutup mulutnya sambil mengutuk dalam hati.


Krak!


Tiba-tiba saja suara retakan besar terdengar di telinga semua orang.


Sontak itu membuat jantung mereka seolah terhenti. Melihat ke arah penghalang, apa yang awalnya sebuah retakan besar kini meluas menjadi retakan-retakan kecil yang menyelimuti seluruh permukaan penghalang.


"Bersiaaapp!!!!"


Memberikan aba-abanya, Bearnard yang memimpin regu penyerang mulai menyiapkan senjatanya. Tidak jauh di belakangnya, adalah Kepala Suku Rubah, Lisa Vulpes. Yang bertugas untuk memimpin regu ahli sihir juga telah bersiap untuk melepaskan sihir mereka.


Kratakrtakakkarttrak.... suara retakan kian menjadi, kini orang-orang hanya mampu melihat kubah penghalang yang diselimuti oleh retakan seperti sarang laba-laba hingga apa yang ada di baliknya tidak mampu lagi terlihat.


Tiba-tiba saja suasana menjadi hening seketika.


Saking heningnya bahkan mereka sampai bisa mendengar suara detak jantung mereka sendiri.


Tidak tahu apakah mereka telah menunggu selama semenit atau hanya satu detik. Semua orang menahan nafasnya menanti apa yang tidak diinginkan untuk terjadi.


BOOOM!!!


Hanya dengan satu ketukan, keheninganpun seketika pecah dan begitu juga dengan kubah penghalang.


mAkaN!!! BeRIkaN aKu MAkaNAn!!! lAPaR!!! AkU LApAr!!!


Mengucapkan kata-kata yang tidak bisa di mengerti oleh telinga orang awam, puluhan kalau bukan ratusan tentakel yang besar dan tebal mulai meliuk-liuk di udara sebelum akhirnya menghantam tanah di sekitarnya dengan sangat


keras.


Tanah berguncang dan batu pun beterbangan. Mengangkat perisai mereka dan menancapkan kaki mereka rekat dengan tanah, para prajurit berusaha untuk tidak terjatuh oleh guncangan serta berusaha untuk tidak terluka oleh


proyektil yang beterbangan.


Ketika tentakel itu tidak lagi bergerak, perintahpun akhirnya disuarakan.


"SERANG!!!!"


Hanya dengan satu kata, satu kata saja sudah jauh dari cukup untuk membuat semua orang bergerak.


"Maju!!!!"


"Serang!!!"


"Haaaaa!!!!"


Dengan sangat gagah berani regu penyerang melaju kedepan tanpa takut kalau tubuh mereka akan hancur di bawah hantaman tentakel yang rupanya seperti sebuah batang pohon raksasa.


Yang melaju paling terdepan tentu saja adalah Bearnard.


Memanfaatkan kemampuan rasialnya, dia menyimpan Kapaknya di punggungnya lalu berlari dengan keempat kakinya yang mana itu sukses menambah kecepatannya sekaligus membuatnya menjadi jauh lebih lincah dari yang sebelumnya.


Menerjang paling depan, tentu saja membuatnya yang pertama kali menerima serangan.


Tentakel yang besar dan tebal seketika memecah menjadi ratusan tentakel kecil yang mengayun dengan cepat ke arah Bearnard yang sedang melaju.


Berlari zig-zag Bearnard berusaha untuk menghindari semua tentakel yang datang ke arahnya dengan kecepatan penuh.


Awalnya berjalan lancar, namun semakin dekat dia dengan Iblis (Demon) itu, serangan yang datang ke arahnya kian menjadi.


Menggunakan (Sturdy Defense) Bearnard memperkuat pertahanan dari Armor yang dia kenakan.


Tidak lama setelah itu Bearnard langsung terkena hantaman tentakel yang sontak membuatnya terguncang namun dia masih tidak apa-apa dan masih sanggup untuk berlari. Jika sebelumnya Bearnard tidak memperkuat pertahananya, maka serangan tadi pasti sudah menghempaskannya jauh ke belakang.


Mengalami situasi serupa dengan Bearnard, pasukan yang lain yang juga ikut menerjang kini harus tertahan oleh serangan tentakel yang bertubi-tubi.


Jika ada yang masih bisa melaju mereka hanyalah orang-orang kuat saja yang mampu bertahan meski menerima serangan beruntun dari ratusan tentakel yang berbahaya.


Menerjang dari keempat arah mata angin, pasukan Aliansi perlahan mendekati Iblis (Demon) yang mengamuk.


Dari sisi Selatan adalah Bearnard yang menerjang seorang diri di susul oleh para bawahannya yang tertinggal di belakang.


Di sisi Utara terdapat Doragon dengan pedangnya yang menyala merah memotong semua tentakel bagaikan sedang memotong-motong mie, Yari yang dengan lincah memutar tombaknya untuk menghalau semua tentakel yang datang kepadanya, dan Feline yang dengan cekatan berlari dan melompat sembari memotong semua tentakel yang dia lalui.


Di sisi Barat adalah Turbo, Sisteen dan juga Nos yang saling bekerja sama membimbing pasukan Aliansi untuk maju secara perlahan.


Sedangkan di sisi Timur adalah Oriens dan Boreas yang membukakan jalan dengan Skill mereka yang jauh melampaui para prajurit biasa. Dengan ayunan pedangnya, Oriens membakar semua tentakel hingga menjadi abu sedangkan Boreas melepaskan anak panahnya yang dilapisi oleh bilah angin yang tajam yang sontak mencabik-cabik semua tentakel yang dilaluinya.


Hanya dengan mereka berdua saja sudah melampaui jumlah kerusakan yang ditimbulkan oleh tiga sisi lainnya yang telah digabungkan.


Mendapati kalau ada satu sisi yang menghancurkan tubuhnya lebih cepat dari yang lain, Iblis (Demon) yang tidak terima segera memfokuskan serangannya kepada duo Oriens dan Boreas yang tanpa kenal ampun mengayunkan pedang serta melepaskan anak panah mereka.


Terima kasih berkat penampilan mereka yang mencolok, beban yang harus di tanggung oleh tiga sisi yang lainnya menjadi berkurang.


Meski begitu, bahaya masih belum selesai.


(Area Blessing)


Menggunakan jubahnya sebagai sayap, sosok Penyihir Rosemary yang melayang di angkasa membuatnya tampak seperti malaikat yang turun ke medan perang demi membasi Iblis yang jahat.


Mengaktifkan sihirnya, Penyihir Rosemary menyelimuti semua orang dengan cahaya suci yang akan melindungi mereka dari segala kebatilan.


Berkat (Blessing) yang mereka terima, Bearnard dan yang lain mendapati kalau tubuh mereka menjadi lebih segar dan kekuatan pun seakan mengalir di tubuh mereka. Menghentikan lajunya, Bearnard berhenti tidak jauh dari


pinggiran rawa-rawa. Mengeluarkan kapaknya, dengan liar dia mengayunkannya.


(Mass Logging)


Dengan satu ayunan kapaknya, puluhan tentakel yang datang ke arahnya seketika terpotong bersih dan berjatuhan ke atas tanah. Dengan satu ayunan lainnya, puluhan tentakel kembali berjatuhan.


Hal yang sama juga terjadi di ketiga sisi yang lain.


Senjata di ayunkan dan Skill di aktifkan. Berkat (Blessing) yang mereka terima, efisiensi mereka meningkat drastis dan ratusan tentakel kini berserakan di atas tanah.


KURaNg AJaR! AkU tiDAk TeRimA!


Tidak terima dipermalukan lebih jauh lagi, Iblis (Demon) itu pun berniat melakukan serangan balasan.


Ratusan tentakel kecil miliknya kini kembali bergabung membentuk empat buah tentakel yang besar dan tebal yang menutupi keempat sisi yang ada. Tampak tulang-tulang putih membentuk di permukaan tentakel-tentakel itu


bagaikan sebuah cangkang. Mengangkat tentakelnya tinggi ke udara, di saat Iblis (Demon) itu hendak menjatuhkannya ke atas tanah, Lisa yang melihat semua ini tidak akan membiarkannya begitu saja.


(Fox Fire-Three Flames of Tribulation)


Tiga bola api oranye muncul di ketiga ujung ekornya. Mengibaskan kipas lipat di tangannya, Lisa melepaskan ketiga bola api itu ke arah tentakel yang hendak jatuh dari langit.


Boom! Boom! Boom!


Tiga ledakan beruntun terdengar dan tiga buah mentari tercipta menyelimuti tentakel yang hendak jatuh di sisi Selatan. Sedetik kemudian lidah api mulai merayap di seluruh permukaan tentakel yang kini mulai tampak hangus karena tidak mampu menahan panas api yang membakarnya dari luar dan dalam.


Secara bersamaan serangan sihir juga dilepaskan untuk memusnahkan tentakel yang hendak jatuh di ketiga sisi yang lain.


Pada sisi Utara terdapat Weise yang memimpin regu ahli sihir di sana. Berkat kerja sama mereka, mereka melepaskan sihir mereka secara bersamaan yang sukses mengalihkan arah jatuh tentakel tersebut jauh dari pasukan Aliansi yang ada di bawahnya.


Pada sisi Barat adalah Penyihir Rosemary yang memimpin para Penyihir serta Peri (Fairy). Dengan aba-abanya sebuah pisau cahaya tercipta dan memotong tentakel yang hendak jatuh ke tanah.


Pada sisi Timur adalah Oriens sendiri yang dengan satu ayunan Greatsword miliknya sukses membelah tentakel yang hendak jatuh ke atasnya sekaligus membakarnya hingga menjadi arang.


Dengan bahaya yang sudah lewat, regu Penyerang kini bisa kembali fokus melancarkan serangan mereka.


kuRAnG AjaR! KUrANg AjAr! TIdAk aKAn aKu MaAfKaN! KAlIan tIDaK aKAn PeRNaH AkU MaaFKaN!


Shrriieeekk...!!! ratusan mulut menganga yang tumbuh di seluruh tubuhnya mulai mengeluarkan teriakan yang menyayat telinga setiap orang yang mendengarnya.


Yang menderita paling parah adalah para Beastman yang memiliki pendengaran yang jauh lebih superior dari ras-ras lainnya. Salah satunya adalah Feline yang awalnya mengayunkan belatinya dengan lincah kini harus terguling-guling di atas tanah dengan darah mengucur dari kedua telinga kucingnya.


Satu serangan ini sontak membuat Pasukan Aliansi yang awalnya unggul kini kehilangan momentum mereka. Jika teriakan ini lebih lama lagi, maka tidak heran kalau akan ada banyak orang yang akan kehilangan pendengaran


mereka kalau bukan nyawa mereka.


Untunglah ada seseorang yang maju untuk menghentikannya.


"yA aMpUn... TiDAk bISakAh kAu dIaM?!"


Muncul dari dalam tanah adalah puluhan pasak kayu raksasa yang memancarkan cahaya keunguan. Muncul secara tiba-tiba, pasak-pasak kayu tersebut menghujam sang Iblis (Demon) yang sontak membuatnya berhenti


mengeluarkan teriakan yang menyiksa telinga.


Dengan teriakan yang telah berhenti, pasukan Aliansi akhirnya bisa merasa lega dan mulai mengamati situasi yang sekarang.


Berdiri di atas sebuah gedung yang sepenuhnya kini tertutupi oleh tanaman merambat dengan daun-daunnya yang memancarkan cahaya keunguan, adalah sesosok wanita yang mengenakan jubah hitam yang tampak seperti terbuat dari gumpalan asap hitam pekat yang mengepul tertiup oleh angin.


Di tangannya adalah sebuah Staff yang ujungnya tampak seperti sebuah sangkar burung yang dililit oleh rantai merah menyala.


Pada permukaan tubuhnya dapat terlihat sebuah tanaman merambat berwarna hitam pekat yang melilitnya dengan erat namun wanita itu tampak biasa saja seolah tanaman merambat itu tidak pernah ada.


Membiarkan rambutnya yang panjang tergerai bebas, rambutnya yang berwarna ungu gelap tampak serasi dengan semua dedaunan yang mengelilinginya.


Apa yang menghiasi kepalanya adalah tiga buah tanduk hitam yang tumbuh menyerupai sebuah mahkota.


Ketika akhirnya para pasukan Aliansi bisa melihat wajah wanita tersebut, tak ayal jantung mereka berdetak kencang tidak sanggup menahan parasnya yang cantik jelita. Bukan hanya para lelaki saja, bahkan para gadis juga


ikut terpana sampai mereka lupa kalau mereka berjenis kelamin sama.


Bahkan ketika terdapat tanaman merambat yang merayap di salah satu sisi wajahnya, bahkan ketika mulutnya yang sedikit terbuka menunjukkan deretan gigi taring yang tajam, bahkan ketika dia memiliki sepasang mata


merah menyala, bahkan ketika seluruh penampilannya jauh dari kata manusiawi.


Itu semua tidak cukup untuk menutupi pesona yang dia miliki bahkan akan ada banyak yang mengaku kalau semua itu malah menambah pesona yang dia miliki.


Menyaksikan sosok tersebut berdiri dengan angkuhnya dari kejauhan, para Raja serta Pangeran yang sedari tadi menonton berjalannya pertarungan mulai memberikan komentar mereka masing-masing.


"Jadi itu wujud asli dari Penyihir Lavender? Tidak diriku sangka, walau Aura Iblis (Demon) menyelimuti seluruh tubuhnya. Namun wujudnya tetaplah berupa wujud Manusia"


"Sepengetahuan diriku, wujud Iblis (Demon) itu tidaklah memiliki proporsi yang sama dengan makhluk hidup biasa. Secara bersamaan, wujud mereka sangatlah bergantung pada element atau tema apa yang mereka miliki"


"Hmm... Mengikuti perkataanmu itu, Iblis (Demon) yang kini sedang menduduki Istana Narsist Kingdom memiliki kemampuan untuk menginfeksi targetnya dan mengubah mereka untuk menjadi bawahannya yang setia. Bisa jadi kalau kemampuannya yang sebenarnya adalah untuk memanipulasi tubuh, atau lebih tepatnya darah dan daging. Itulah yang menyebabkan wujud asli Iblis (Demon) itu berupa gumpalan daging raksasa"


"Bisa jadi. Sedangkan Penyihir Lavender. Dapat terlihat kalau terdapat tanaman merambat yang tumbuh dari tubuhnya yang menyebar ke area sekitar dia berdiri. Apakah itu berarti Penyihir Lavender yang sebenarnya


adalah Iblis (Demon) tanaman?"


"Hah, diriku tidak peduli apa wujudnya yang sebenarnya. Asalkan Penyihir itu mampu menghabisi kerabat sialannya itu, maka diriku akan merasa senang. Sial, ingin sekali diriku untuk melihat mereka berdua saling membunuh sehingga tidak akan ada lagi yang namanya Iblis (Demon) di benua ini"


"Tidak boleh seperti itu! Bagaimanapun juga dia adalah cucu dari Penyihir Cardinal! Jika terjadi sesuatu kepadanya, apakah kau sanggup untuk menerima ganjarannya?"


"Diriku hanya berbicara! Bukan berarti diriku akan dengan sengaja mengacaukan alur pertempuran hanya karena diriku ingin melihat seseorang lenyap. Terlebih jika nasib Kerajaanku sendiri yang kini tengah dipertaruhkan!"


Ketika para anggota Kerajaan saling berbicara sendiri, terlihat juga kalau Penyihir Lavender tengah berbincang dengan Iblis (Demon) tersebut.


DaSAr dAraH CAmPurAn! apAkAH kAu HeNDaK mENgaMbiL MAngSakU!? TiDakKAh dIRimU TaHu KaLAu yANg SaTu iNi tENgAh kELaParAn SetElAh TErsEGel sELaMa riBuAn TaHUn lAmAnYa?


Walau yang lain tidak mengerti apa yang Iblis (Demon) itu ucapkan, namun Penyihir Lavender yang mewarisi darah Iblis (Demon) di dalam dirinya dapat memahami semua yang dikatakan Iblis (Demon) tersebut dengan sangat


jelas.


"BaIkLAh, EngKaU sElaLu MeNGatAkan KaLau kAu teNgaH keLaPAraN... ApAKah DirIMu TiDAk tAhu KalAu kAu BuKaNLah SaTu-sAtuNYa?"


Menghentakkan Staffnya dengan kuat, sinyal pertarungan pun akhirnya dimulai.