
Namaku adalah Lif.
Aku adalah sebuah Golem yang diciptakan oleh Master untuk melayaninya.
Nama Masterku adalah Lavender.
Master adalah seorang gadis yang cantik jelita. Kulitnya pucat namun mulus tanpa sedikit pun noda. Rambutnya yang berwarna ungu gelap berkibar dengan indahnya ditiup angin malam. Mata violetnya bersinar cerah bagaikan cahaya rembulan. Parasnya yang cantik serta bibirnya yang merona membuat siapa pun yang melihatnya akan jatuh hati padanya.
Untuk diciptakan oleh Master secantik ini adalah sebuah anugerah bagi diriku.
Namun, jika aku boleh bertanya, kenapa Master tidak mengenakan pakaian di tengah malam begini?
...
Seminggu telah berlalu semenjak aku diciptakan. Seperti biasa, aku melayani Master dengan sepenuh hati.
Tidak seperti Master, aku bisa mengetahui siang dan malam berkat skill [Forest Whisper] yang menghubungkan diriku dengan hutan ini.
Oleh karena itu, tugasku yang paling penting adalah untuk mengingatkan Master untuk makan dan tidur.
Master sering tenggelam dalam penelitiannya hingga Master sering kali lupa untuk makan atau pun untuk pergi tidur.
Selain Master, aku juga harus memberi makan anak kecil yang menjadi bahan percobaan Master. Anak
itu sangatlah kurus dan bisa mati kapan saja. Namun, dengan sihirnya Master mampu untuk membuat anak itu untuk terus hidup hingga sekarang.
Aku juga bertugas untuk mengomandoi para Golem ciptaan Master yang lain.
Tidak seperti diriku, mereka hanya mampu untuk memahami perintah sederhana. Oleh karena itu, tugas mereka hanyalah berpatroli atau mengurus kebun.
Master juga memiliki tiga ekor familiar.
Mereka berasal dari spesies (Forest Owl). Dari mereka bertiga, hanya satu yang Master berikan nama.
Namanya adalah Glaza Demona. Dan dia biasa bertugas untuk mengawasi hutan jika saja ada tamu tidak di undang.
Tugasku yang lain adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Master.
Seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah.
Rumah Master cukup spesial.
Master membangun rumah ini dari nol dengan menggunakan sihirnya sendiri. Hal itu bisa dirasakan dari Mana Master yang memenuhi seluruh bagian rumah ini.
Master memanglah luar biasa.
"Oh, hampir lupa. Lif, buka bajumu"
"Baik"
Tidak peduli seberapa bahayanya atau seberapa anehnya permintaan Master, aku sebagai pelayannya wajib untuk mewujudkannya.
"Ehh... Jadi letaknya disitu yah"
Master memandangi perutku. Lebih tepatnya kepada lambang sebuah pupil dengan tiga buah tanduk yang terukir di bagian pusarku.
Setelah itu Master tidak memberikan perintah untuk aku berpakaian kembali. Berkat itu aku terus melakukan tugasku tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Aku baru berpakaian saat Master melihatku hendak memberikan makan kepada anak kecil yang berada di bawah basemen. Dengan cepat aku memakai pakaianku dan melanjutkan tugasku.
...
"Pergi ke kota dan jual semua yang ada di dalam sini kepada Union. Lalu beli semua yang ada di daftar ini. Oh, benar. Ini kartu tanda pengenal ku"
"Perintahmu akan hamba laksanakan"
Setelah menerima sebuah ,secarik kertas yang berisikan daftar belanjaan, dan sebuah kartu tanda pengenal, aku lalu berpamitan dan segera pergi ke arah kota.
Karena aku bisa mendengar suara tumbuhan, aku bisa mengetahui semua jenis dan posisi Mobs yang ada disekitarku.
Dan dengan kekuatan yang Master berikan saat menciptakanku, tidak ada satu pun Mobs di bagian hutan ini yang mampu untuk menjadi ancaman bagiku.
Jika kalian penasaran, inilah statusku.
Name : Lif
Race : Forest Golem, Female (1)
Occupation : Servant (Lavender)
Skill Active :
[Wood Magic 10] [Water Magic 5] [Soil Magic 5]
Skill Passive :
[Forest Whisper 10] [Mana Presence 5] [Magic Knowledge 5] [Plant Knowledge 10]
[Night Visions 5] [Housework 5]
Melihat ini, aku sadar kalau ini tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan Master.
Tapi, ini sudah lebih dari cukup untuk menangani Mobs yang tinggal di sekitar sini.
Setelah aku berjalan sekitar dua jam lebih, aku akhirnya keluar dari hutan.
Matahari sudah tinggi di angkasa.
Dari kejauhan kau bisa melihat pemandangan para Petualang muda sedang menghadapi para Mobs yang berdiam di padang rumput.
Tepat di belakang mereka, terdapat sebuah kota yang penuh akan aktifitas.
...
Hm♪ Hm♪ Hm♪
Memang benar, shift siang adalah yang terbaik.
Di mana-mana kau bisa melihat pemandangan para pemuda sedang berusaha keras. Jalanan dipenuhi oleh orang yang berlalu-lalang. Dan yang paling penting, tidak ada orang yang menyeramkan!
"Oh, kau terlihat lebih bahagia dari biasanya"
"Tentu saja, kalau siang beginikan jadi ada banyak yang bisa dipilih"
"Biar begitu, sampai sekarang kau masih..."
"Oke, satu Quest mengambil material obat di Hutan Ibis segera siap!"
"Woii..! Yang itu jangan dibawa becanda!"
Yup, hari-hari damai seperti ini memang yang terbaik.
"Ngomong-ngomong, nona Laila, bisakah aku bertemu dengan Headmaster? Ini mengenai laporan tentang kelompok bandit yang aktif baru-baru ini"
Sekarang kau mengatakannya, akhir-akhir terdapat sekelompok bandit yang menamai diri mereka sendiri sebagai Neck Hunter.
Mereka biasa merampok pedagang yang lewat, mengambil semua yang ada, membunuh semua pria, lalu
memperkosa dan menjual para wanita.
Oleh karena itu, pihak Union telah memberikan hadiah besar bagi siapa pun yang berhasil menaklukkan mereka.
Turbo beserta Guildnya adalah yang paling aktif dalam Quest ini. Meski sebenarnya ini tidak perlu, tapi Turbo selalu memberikan laporan terbaru kepada Headmaster Alfred secara langsung.
"Ah, maaf. Saat ini Headmaster sedang berada di kantor walikota"
"Begitu yah, kurasa aku akan datang lain hari"
"Hah... Kau ini, padahal kau baru saja menyelesaikan sebuah Quest sulit. Kenapa tidak ambil istirahat sebentar. Nikmatilah hari-hari yang damai ini"
"Pernahkah kau mendengar tentang tenang sebelum badai?"
"Katakan itu sekali lagi dan aku akan memukulmu!"
"Hahaha... Tenang, aku hanya..."
Tepat sebelum Turbo menyelesaikan perkataannya, dia dengan segera mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk.
Aku yang penasaran juga melihat ke arah yang sama.
Di sana aku melihat seorang wanita cantik yang memakai gaun yang tampak sangat mahal.
"Aku akan memukulmu nanti"
Berkat kedatangan wanita itu, Union yang awalnya bising seketika menjadi hening. Semua orang memandang ke arah tamu yang tidak biasa.
Wanita itu memiliki rambut hijau muda yang memanjang hingga mencapai lututnya. Kulitnya yang kecokelatan tampak sangat eksotis. Gaun yang dia pakai tampak seperti sebuah gaun dansa. Jika saja dia tidak membawa sebuah tas selempang yang tampak tua, maka penampilannya akan sempurna.
Di lihat darimanapun juga, wanita itu tampak seperti seorang gadis bangsawan dengan pangkat yang tinggi.
Aku penasaran dia itu istri dari bangsawan mana yah?
Wanita itu, setelah melihat sekeliling, melangkahkan kakinya tepat ke arahku.
"Ehem... Nyonya, apakah ada yang bisa kami bantu?"
"Maaf mengganggu, kedatangan saya kemari adalah atas perintah Master saya untuk menjual material dan Potion buatan beliau"
Gaya bicaranya yang sangat sopan serta suaranya yang sebening kristal membuatnya... Tunggu... Tunggu... Tunggu! Master! Dia seorang pelayan!?
Tidak hanya aku, semua orang yang berada di ruangan ini serentak merasa keheranan atas perkataannya. Bahkan rekan-rekanku yang awalnya sedang sibuk langsung terdiam.
Setelah itu, wanita itu pun menyerahkan kepadaku tas selempang tua yang dia bawa. Jelas ini adalah sebuah . Saat aku melihat ke dalamnya, terdapat berbagai macam material dan Potion di dalamnya.
Setelah menyerahkan tas itu kepada rekanku yang bertugas untuk menukarkan material, aku kembali menghadapi wanita itu.
"Permintaan Anda akan segera kami proses. Kalau berkenan, bisakah kami menerima kartu pengenal Anda?"
"Saya tidak memiliki tanda pengenal. Namun, Master telah memberikan izin untuk menggunakan miliknya"
Wanita itu pun menyerahkan sebuah kartu tanda pengenal. Saat aku membaca nama yang tertera pada kartu tersebut...
...
...
...
"Em... Nona Laila, apakah ada masalah?"
Setelah melihat kartu tanda pengenal itu, nona Laila menjadi terdiam bagaikan sebuah patung.
Karena penasaran, aku bergerak ke balik meja resepsionis dan melihat kartu tersebut dari samping nona Laila.
"Maaf atas ketidaknyamanannya. Tapi bisakah Anda ikut dengan saya ke ruang atas? Ada hal penting yang harus dibicarakan"
"...baiklah"
Aku meninggalkan nona Laila yang masih belum bergerak sedikitpun dan menuntun wanita ini menuju ruang atas di mana pembicaraan penting biasa dilakukan.
Sebelum itu, aku membisikkan sesuatu ke telinga resepsionis lain yang berjaga di samping nona Laila.
"Panggil Headmaster sekarang juga. Katakan pelayan dari Penyihir dari Hutan Ibis berada disini"
...
Orang yang ada di hadapanku sekarang adalah Walikota dari kota Gata, Lambert von Gata.
Dia adalah seorang pria yang sudah berumur lebih dari 50 tahun. Rambutnya yang sudah memutih dibiarkan memanjang hingga mencapai bahunya. Dari luar, tubuhnya terlihat kecil. Namun, dia sebenarnya adalah seorang Mage yang kuat.
Dikatakan kalau dia adalah lulusan terbaik dari akademi kerajaan dan memenangkan Grand Tournament sebanyak dua kali berturut-turut.
Kami sekarang berada di kantor pribadinya.
Alasan kedatanganku di sini adalah untuk memberikan laporan bulanan.
"Begitu, syukurlah kalau para Otherworlder baru-baru ini bersikap baik"
Saat pertama kali mereka datang ke dunia ini, banyak dari mereka bersikap seperti seorang berandalan. Tidak, mereka lebih buruk dari itu.
Kekerasan, pencurian, hingga pemerkosaan mereka lakukan dengan alasan yang tidak bisa dimengerti.
Jika bukan karena kerja keras Otherworlder seperti nak Turbo, aku menduga kalau keberadaan para Otherworlder hanya akan menjadi parasit bagi penduduk dunia ini.
"Lalu, soal Penyihir itu, apakah ada kabar terbaru?"
"Untuk masalah itu, selain aktivitas Hutan Ibis yang semakin aktif, tidak ada perkembangan baru"
"Apakah mungkin untuk bernegosiasi dengannya?"
Karena keberadaan Penyihir itu, seluruh bagian Hutan Ibis terpaksa ditutup. Berkat itu, lahan berburu utama bagi para Petualang menjadi menghilang yang membuat pendapatan mereka menurun drastis.
Hal ini juga berdampak pada perekonomian kota karena material berharga banyak ditemukan di dalam hutan.
"Melihat dari kepribadiannya, asalkan harganya tepat, negosiasi bisa lancar dan damai"
"Jujur, resmi atau tidak, aku tidak ingin membuat masalah dengan Penyihir mana pun. Akan bagus jika negosiasinya bisa berjalan lancar tanpa ada masalah sama sekali"
"Yang menjadi permasalahannya sekarang adalah apa yang bisa kita tawarkan kepadanya?"
Pada saat kami masih sibuk berdiskusi, seseorang mengganggu kami.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan bergema di seluruh ruangan. Dari intonasinya, pihak lain tampak sedang terburu-buru.
"Masuk!"
Setelah diberikan izin oleh Walikota Lambert, pintu pun terbuka. Yang masuk bukanlah seorang pegawai pemerintahan melainkan pegawai dari Union.
Melihat ini aku sudah merasakan firasat buruk.
"Permisi, ada laporan mendesak dari Union"
"Katakan"
"Siap, Pelayan dari Penyihir dari Hutan Ibis sekarang berada di dalam Union"
Mendengar ini, aku dan Walikota Lambert hanya bisa menghela nafas.
...
Pada saat aku masuk ke dalam Union, mereka segera memintaku untuk ke sebuah ruangan dan duduk di sana selama beberapa menit.
Menemaniku adalah seorang Petualang yang nampak masih muda.
Dia memperkenalkan diri sebagai Turbo. Nama yang aneh jika kau bertanya.
Setelah beberapa saat, pintu ruangan terbuka. Ada dua orang pria yang memasuki ruangan.
Yang pertama adalah seorang pria yang tampak seperti seorang kesatria veteran. Sedangkan yang satu lagi adalah seorang Mage yang cukup kuat.
Melihat sikap yang diambil Turbo saat melihat mereka, tampaknya mereka berdua adalah orang penting.
"Perkenalkan, saya adalah Walikota dari kota ini, Lambert von Gata"
"Sedangkan saya adalah Headmaster dari Union, Alfred"
Si Mage adalah seorang Walikota sedangkan si kesatria adalah seorang Headmaster.
Hmm... Mereka tampak tidak berniat jahat, tapi aura yang mereka pancarkan mengatakan kalau mereka sedang dalam keadaan waspada.
"Perkenalkan, Pelayan ini bernama Lif. Saya melayani si Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender. Senang bisa berkenalan dengan Anda semua"
Setelah itu kami melakukan percakapan ringan.
Sambil menikmati teh dan manisan yang disajikan, aku menjawab setiap pertanyaan mereka.
Seperti alasan kedatanganku kemari dan apa yang ingin aku lakukan setelahnya.
Setelah aku menjawab itu semua, barulah kami masuk ke topik utamanya.
Mereka meminta diriku untuk menyampaikan permintaan mereka kepada Master.
Permintaan mereka adalah izin untuk memasuki Hutan Ibis meski itu hanya di bagian luarnya saja. Mereka bilang mereka sangat membutuhkan material yang berasal dari hutan.
"Pak Lambert, permintaan kalian sudah saya dengarkan. Sesampainya saya di rumah, saya akan menyampaikan permintaan kalian kepada Master"
Setelah mendengar ini, rasa lega tampak di wajah mereka.
Setelah bertukar sapa, aku akhirnya pamit undur diri.
Sambil dikawal oleh Turbo, aku mengelilingi kota untuk berbelanja dengan menggunakan uang yang baru saja aku dapatkan dari menukar material dan Potion yang Master berikan.