
Pada bagian paling selatan dari Ferox Kingdom, berdiri sebuah kota yang bernama Kota Taurus.
Berdiri berhadapan langsung dengan Hutan Barriere, Kota Taurus di bangun sebagai dinding pertama jika saja Drakon Kingdom datang menginvasi sekaligus sebagai kota perbatasan yang mencatat keluar masuknya penduduk
dari dua Kerajaan.
Karena posisi mereka yang sangat jauh dari Ibukota, membuat para penduduk di Kota Taurus hidup dengan damai meski peperangan sedang berlangsung.
Namun, kedamaian itu menjadi terganggu ketika Hutan Barriere seketika berubah hanya dalam waktu satu malam saja.
Hutan yang awalnya hijau kini berubah warna menjadi violet terang. Suasana hutan yang awalnya asri kini berubah menjadi mencekam. Beberapa orang bahkan mengaku kalau mereka sempat mendengar suara raungan yang sangat keras dari Hutan Barriere tepat sebelum hutan itu berubah.
Hal ini membuat warga menjadi panik akan adanya kemungkinan Wave yang akan datang mengancam kehidupan mereka.
Demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, pihak Union telah mengirim Petualang terutama para Otherworlder untuk pergi menyelidiki.
Akan tetapi, dari semua yang dikirim, hanya Otherworlder saja yang kembali. Terlebih mereka kembali setelah bangkit kembali dari kematian.
Dari pengakuan mereka, mereka tiba-tiba saja diserang tanpa bisa mengetahui apa sebenarnya yang menyerang mereka.
Beberapa hari kemudian, tim yang masuk melalui jalan utama akhirnya kembali dengan selamat tanpa ada yang terluka.
Dengan begitu diputuskan bahwa satu-satunya jalan yang aman hanyalah melalui jalan utama yang menghubungkan kedua Kerajaan.
Setelah kabar itu menyebar, orang-orang menjadi sedikit lega. Namun, masalah utama masih belum terselesaikan.
"Bagaimana kami akan menyambung hidup dari sekarang?"
Tidak sedikit dari penduduk kota yang menggantungkan hidup mereka pada Hutan Barriere. Terlebih para Petualang yang sering menjadikan Hutan Barriere sebagai lahan berburu mereka.
Di tengah orang-orang yang sibuk memutar otak mereka, beberapa grup merasa optimis akan hal ini...
...
Memasuki kawasan Hutan Barriere yang sekarang sudah di segel, sebuah grup yang terdiri dari lebih dari 50 orang berjalan di tengah hutan dengan bersenjata lengkap.
Setiap dari anggota grup adalah Beastman. Baik itu yang berdarah murni ataupun berdarah campuran. Memimpin mereka adalah seorang Beastman murni dari suku Macan Kumbang.
Mengenakan Light Armor di atas rambut gelapnya, si Macan Kumbang memimpin anak buahnya menyusuri bagian terdalam hutan.
"Hei, bos, apakah bos yakin akan hal ini?"
Tanya seorang gadis kucing berdarah campuran. Wajahnya tampak cemas akan tindakan yang mereka lakukan. Tangannya yang gemetaran tiada hentinya menggenggam gagang pedangnya seolah siap menariknya kapan saja.
"Kau tidak perlu takut. Kita tidak terlalu jauh dari jalan utama. Kita hanya harus menemukan tempat yang cocok untuk melakukan sergapan dan kekayaan
akan mendatangi kita"
Benar, mereka adalah kelompok bandit yang berniat untuk merampok siapa saja yang melewati jalan utama. Terlebih, karena ini adalah satu-satunya jalan yang aman, membuat mereka melihat ini sebagai sebuah kesempatan emas yang tidak boleh untuk di lewatkan.
Tidak mampu melawan bosnya, si Gadis Kucing hanya bisa pasrah mengikuti setiap arahan darinya.
Setelah menemukan tempat yang di rasa cocok, para bandit segera memasang tenda sederhana sebagai tempat peristirahatan mereka.
Butuh waktu bagi mereka untuk memasang tenda di tanah yang tidak rata. Karena terlalu sibuk, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari sesuatu yang aneh.
Matahari sudah tinggi di angkasa ketika perkemahan kecil mereka sudah jadi. Si Macan Kumbang memerintahkan anak buahnya berbaris untuk mempermudahnya dalam memberikan arahan.
"Hm? Ke mana si Anjing dan Singa kecil pergi?"
Para bandit yang lain melihat ke sana kemari untuk mencari sosok kawan mereka yang tidak terlihat. Setelah beberapa saat, mereka tetap saja tidak muncul.
"Bos! Sosok mereka tidak di temukan"
"Barang tidak ada yang hilang!"
"Kami tidak bisa menemukan jejak mereka!
"Aroma mereka juga menghilang begitu saja!"
Mendapati situasi yang tidak biasa ini, rasa takut mulai menyelimuti para bandit. Si Macan Kumbang seketika teringat akan rumor baru-baru ini yang mengatakan bahwa siapa pun yang memasuki hutan tidak dari jalan utama
akan menghilang dan tidak akan pernah kembali.
Dia awalnya hanya menganggap kalau orang-orang yang menghilang itu hanya kabur karena tidak mau ikut berperang atau sedang sial dan bertemu dengan Mobs yang berbahaya.
Tapi, sekarang...?
"Bos, jalan utama tepat berada di depan mata. Haruskah kita kabur?"
Di dekati oleh si Gadis Kucing yang telah menghunuskan pedangnya, si Macan Kumbang mulai mempertimbangkan pilihannya.
"Bos! Gawat! Si Badak dan Gorila juga tiba-tiba saja menghilang?!"
"Apa!"
Mendapati ada lagi rekan mereka yang menghilang tanpa jejak, kepanikan seketika menyebar yang membuat bandit yang tersisa menghunuskan senjata mereka. Karena tidak adanya sosok musuh yang terlihat, mereka hanya berputar di tempat sambil mengacungkan senjata mereka ke segala arah.
Melihat tingkah anak buahnya yang memalukan, membuat si Macan Kumbang tidak mampu lagi menahan emosinya.
"Dasar bola bulu! Tenanglah dan segera saling membelakangi!"
""Ba-baik!!!""
Mendapat arahan, para bandit yang awalnya panik tidak karuan mulai menenangkan diri mereka dan mulai saling menyandarkan punggung mereka satu sama lain dengan tekad siap bertempur.
Si Macan Kumbang yang menyadarkan punggungnya pada si Gadis Kucing melihat sekelilingnya dengan seksama.
Yang terlihat hanyalah hutan violet yang bersinar bagaikan cahaya lampu yang redup. Penciumannya yang tajam tidak mampu mengendus bau asing atau pun aroma lainnya yang mungkin saja di tinggalkan oleh lawan mereka yang masih tidak diketahui bagaimana sosoknya.
"Bos... Bagaimana selanjutnya?"
Sambil berbisik, si Gadis Kucing menanyakan langkah apa yang harus mereka ambil.
Mereka tidak tahu apa sebenarnya yang mereka lawan. Mereka bahkan tidak mengetahui bagaimana caranya rekan mereka menghilang dalam sekejap mata.
Karena mereka memilih tempat yang cocok untuk menyiapkan sebuah sergapan, tentu mereka memilih tempat yang memungkinkan mereka untuk mengamati jalan utama dengan jelas. Sebagai satu-satunya jalur yang aman di dalam hutan ini, kabur ke arah jalan utama adalah satu-satunya pilihan bagi mereka untuk bisa selamat.
Jarak mereka dari jalur utama hanya sejauh 20 meter. Jika berlari, tergantung dari suku mana mereka berasal, berlari ke sana adalah hal yang sangat mudah bagi mereka.
"Menuju jalan utama! LARI!!"
Meninggalkan barang-barang mereka di tenda, semua bandit segera berlari menuju jalan utama dengan kecepatan penuh. Bagi mereka yang berasal dari suku yang unggul dalam kecepatan seperti suku Kucing dan Anjing, mereka sanggup berlari dengan sangat cepat sehingga mereka mampu untuk sampai ke jalan utama dalam sekejap mata.
Yang mengejutkan adalah, meski si Macan Kumbang berlari terlebih dahulu. Tapi dirinya di salip oleh si Gadis Kucing yang sampai dua langkah lebih cepat darinya.
Beberapa langkah kemudian, satu-persatu bandit yang lain sampai di jalan utama dan segera mengambil nafas lega.
Setelah 12 dari mereka sampai di jalan utama, tidak ada lagi yang menyusul mereka.
"Bos!"
Melihat anak buahnya menunjuk ke dalam hutan, si Macan Kumbang mengikuti arah yang anak buahnya tunjuk. Apa yang selanjutnya dia lihat adalah sesuatu yang di luar akal sehat.
Anggota bandit yang bergerak lambat mendapati diri mereka terjerat oleh semacam tanaman merambat yang dengan erat melilit tubuh mereka bagaikan ular yang melilit mangsanya.
Hanya dengan satu tarikan, para bandit yang terjerat di tarik masuk ke jauh ke dalam hutan hingga sosok mereka tidak lagi terlihat.
Semua orang yang menyaksikan ini akhirnya tahu. Apa yang menyerang mereka tidak lain adalah hutan ini sendiri.
Bandit yang tidak sanggup menerima apa yang baru saja dia saksikan jatuh tersungkur di atas tanah sambil terus memegang kepalanya. Yang lain hanya berdiri mematung seolah dia masih belum mampu memproses apa yang
baru saja mereka lihat.
Meski anak buahnya sedang menampilkan sesuatu yang memalukan bagi seorang Beastman, si Macan Kumbang membiarkan mereka karena dia sendiri juga tidak ingin memercayai apa yang baru saja dia lihat.
"Bos..."
Setelah di sadarkan oleh si Gadis Kucing, si Macan Kumbang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena situasi yang genting, dia tidak akan mengatakan apa pun tentang si Gadis Kucing yang baru saja membasahi dirinya sendiri.
"Lebih baik... Kita kembali ke kota dan melaporkan masalah ini kepada pihak Union. Setidaknya, kita bisa mendapatkan hadiah... Dengan begini, pengorbanan mereka tidaklah sia-sia"
Tidak ada satu pun dari anak buahnya yang menolak ajakannya. Terlebih, setiap dari mereka hanya ingin segera keluar dari hutan terkutuk ini.
Tidak lama setelah itu, informasi mengenai Hutan Barriere yang ternyata adalah hutan hidup tersebar luas hingga membuat Hutan Barriere menjadi hutan terlarang yang hanya boleh dimasuki setelah mendapatkan izin dan hanya boleh dilalui lewat jalan utama.
...
Setelah Master pergi berkelana, suasana rumah menjadi sangat damai.
Para Pelayan yang lain melakukan pekerjaan mereka dengan tekun. Para budak dengan patuh melaksanakan tugas mereka walau Master sedang tidak ada. Para Pengunjung yang datang juga dengan penuh semangat mencoba untuk menaklukkan Dungeon yang Master ciptakan.
"Senior Lif, persediaan untuk membuat Equipment sudah habis"
"Baiklah, kau diizinkan pergi ke kota untuk membeli persediaan"
"Ah, kalau pergi ke kota. Tolong titip Potion ini. Antarkan ke Union!"
Efta yang menggantikan Master untuk memproduksi Potion untuk di jual, menitipkan hasil kerjanya kepada Quin yang hendak berangkat ke kota untuk membeli persediaan.
Setelah menerima yang berisi Potion, Quin pun segera berangkat.
Karena urusanku dengan mereka telah selesai, aku pun kembali ke dalam rumah Master yang sekarang telah bertransformasi menjadi sebuah Mansion besar dengan tiga buah lantai.
Hal ini membuat proses membersihkan rumah menjadi lebih sulit.
Untungnya aku di bantu oleh dua budak Master yang awalnya bertugas untuk menjaga Penjara bawah tanah. Karena Penjara sekarang tengah kosong, mereka pun aku tugaskan untuk membersihkan rumah bersama dengan diriku dan Phyte.
Pada saat aku masuk ke dalam rumah, aku segera di sambut oleh adikku, Pyhte. Yang berlari ke arahku dengan terburu-buru.
"Ada apa, terburu-buru seperti itu?"
"Kak, Acht bilang tolong temui dia"
Acht, Pelayan Master paling baru yang bertugas untuk mengawasi seluruh wilayah kekuasaan Master. Jika dia berkata untuk menemuinya, maka itu berarti ada sesuatu yang tidak biasa.
Di dalam ruang pribadi Acht yang sekaligus berfungsi sebagai ruang pengawas, duduk seorang Golem yang di sekujur tubuhnya dipenuhi oleh puluhan mata yang terbuka lebar seolah mengawasi segalanya. Dia tidak mengenakan sehelai pun pakaian yang memungkinkan siapa pun untuk melihat seluruh matanya dengan jelas. Ruangan yang dia tempati terbilang sederhana. Hanya terdapat sebuah ranjang dan sebuah kursi yang menghadap
kepada sebuah meja rias dengan sebuah cermin besar terpasang padanya. Tapi, entah mengapa sekarang terdapat tumpukan senjata berupa pedang dan kapak berserakan di sampingnya.
"Ada apa hingga engkau memanggilku?"
"Terdapat sesuatu yang membutuhkan perhatianmu"
Acht lalu menunjuk kaca cermin di hadapannya yang menunjukkan pemandangan di penjara bawah tanah.
Penjara yang awalnya kosong setelah tahanan sebelumnya berubah menjadi (Zombie) dan (Skeleton) kini kembali terisi oleh narapidana yang baru.
Mereka semua terdiri dari ras Beastman yang mengenakan Equipment yang umum dikenakan oleh para Petualang. Selain Equipment, mereka tampak tidak membawa satu pun senjata. Hal itu karena apa yang kemungkinan adalah
senjata mereka telah di sita oleh Acht yang lalu dia bawa ke dalam ruangannya.
"Kau tidak mengambil Equipment mereka?"
"Dengan kuasaku yang sekarang, hanya senjata mereka saja yang sanggup aku ambil. Jika ingin mengambil Equipment mereka, aku harus turun ke sana atau menyuruh seseorang untuk melepas Equipment itu secara manual dari tubuh mereka"
"Kalau begitu lemparkan ke dalam sel mereka dan perintahkan Selvy dan Vergy untuk turun mengambil Equipment mereka"
"Baiklah, segera aku laksanakan"
Para tahanan yang awalnya terus berteriak kini terkejut akan munculnya sebuah asap yang muncul entah dari mana. Beberapa dari mereka mencoba untuk menutupi mulut mereka agar tidak menghirup asap tersebut.
Namun, pada akhirnya mereka mulai kehilangan kesadaran.
Yakin mereka semua sudah tertidur, Selvy dan Vergy pun masuk ke dalam sel penjara dan mulai menyita semua Equipment dari para tahanan.
Pada saat kami kira semua berjalan lancar, sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Tepat di sel sebelah, muncul sebuah lingkaran sihir yang bersinar terang. Tidak lama kemudian, lingkaran sihir itu memuntahkan para tahanan lainnya yang juga berasal dari ras Beastman yang berpakaian seperti Petualang.
Mereka semua tampak kebingungan akan apa yang baru saja menimpa mereka. Setelah mereka menyadari sosok Selvy dan Vergy, mereka mulai meneriaki mereka untuk meminta keterangan dan membebaskan mereka.
Hal ini jelas membuat Selvy dan Vergy ketakutan dan mundur menjauh dari para tahanan yang baru.
"Acht..."
"Laksanakan!"
kembali di lemparkan ke dalam sel. Para tahanan yang baru sempat terkejut akan munculnya asap sebelum akhirnya mereka juga kehilangan kesadaran mereka.
Melihat situasi akhirnya terkendali, aku menghela nafasku.
"Apa lagi yang Master lakukan kali ini?"
"Master... Beliau tidak mungkin menahan semua Beastman yang dia temui... Kan?"
Master yang pergi menuju ke kampung halamannya di Sanguine Kingdom sudah pasti akan melewati Ferox Kingdom. Dengan para Beastman yang mulai bermunculan seperti ini, aku tidak ingin membayangkan apa yang
sebenarnya sedang Master lakukan sekarang.
"Hei, Lif. Apakah kau disini!"
Yang masuk tanpa mengetuk pintu adalah Percy. Kedatangannya sangatlah mengejutkan karena dia yang seharusnya sedang mengawal Master datang ke sini tanpa mengenakan Armor dan hanya mengenakan sebuah pakaian biasa.
"Percy! Bagaimana bisa kau ada di sini? Apakah Master sudah kembali!?"
"Tenanglah dulu, ini baru akan aku jelaskan"
Mendengar penjelasan dari Percy, aku dan Acht hanya bisa terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Semua itu menjelaskan kedatangan para tahanan yang kemungkinan besar adalah para Petualang yang ditugaskan untuk
menyelidiki Hutan Barriere yang telah berubah secara tiba-tiba.
Tidak hanya itu, fakta bahwa Master baru saja menambah wilayah kekuasaannya hanya membuatku sakit kepala.
"Wilayah baru... Haruskah aku juga mengawasi keadaan di sana?"
"Ah, kalau soal itu sepertinya tidak diperlukan. Master berkata kalau hutan itu bekerja secara independen jadi tidak diperlukan pengawasan apa pun"
Meski dia secara teknis tidak perlu bernafas, Acht tetap mengeluarkan nafas lega setelah mengetahui kalau tugasnya tidak bertambah lagi.
Walau begitu, seseorang harus mengawasi para tahanan yang telah pasti akan terus bertambah mulai sekarang.
"Apakah kita punya cukup persediaan untuk para tahanan itu?"
"Benar, kau tidak tahu yah? Para tahanan itu hanya akan mendapatkan bubur rumput dan sup dingin"
Seperti namanya, bubur rumput hanyalah rumput yang di tumbuk halus dan diberikan air. Sedangkan sup yang diberikan terbuat dari sayuran liar yang dipetik para budak.
"Tapi... Bukankah semua tumbuhan di hutan ini telah berubah? Apakah aman untuk di konsumsi?"
"Itu... Aku tidak tahu"
"Tenang saja, palingan Master akan menari gembira ketika mengetahui efek apa saja yang diberikan oleh tanaman di sini"
"Ya, aku bisa membayangkannya"
"Hampir lupa, ini ada Material yang Master dapatkan. Harus aku taruh di mana?"
"Berikan saja pada Sechs. Dia sekarang sedang berada di Workshopnya"
"Oke, aku akan ke sana"
Melihat Percy pergi, aku dan Acht lalu kembali mendiskusikan apa tindakan yang akan kami lakukan terhadap para tahanan yang tiada hentinya berdatangan.
"Maaf, aku lupa lagi!"
Belum lama pergi, Percy sudah kembali lagi.
Kali ini dia menyampaikan bahwa Master telah memberikan izin kepada semua Pelayanannya untuk mendapatkan Skill baru. Percy lanjut memberikan Acht sekantung penuh (Magic Core) dengan berbagai macam kualitas.
"Sebanyak ini?"
"Percaya atau tidak, hadiah kali ini dibagikan per individu. Untuk Lif, Master mempersilahkan untuk menggunakan SP sesuka hati"
Setelah mengatakan itu, Percy kembali pergi.
Tidak tahu harus mengatakan apa, aku dan Acht hanya berakhir dengan saling menatap.
Beberapa saat kemudian, Acht mulai mengonsumsi (Magic Core) yang diberikan kepadanya. Melihat ini, aku lalu melihat daftar Skill apa saja yang bisa aku dapatkan atau tingkatkan lebih lanjut.
...
Keluar dari basemen, aku berpapasan dengan si kecil yang sekarang telah diberi nama Phyte. Phyte tampak sedang sibuk membersihkan debu yang ada di perabotan rumah.
"Hei, Phyte! Ada waktu?"
"Ah, kak Percy. Ya, ada apa?"
"Tidak usah tegang. Master bilang kau boleh memilih Skill apa saja yang hendak kau ambil"
"Eh, kenapa?!"
"Menjelaskannya akan membutuhkan waktu lama... Oh iya, lebih baik tanyakan saja kepada Lif. Kau juga bisa meminta pendapatnya untuk Skill apa saja yang sebaiknya kau ambil"
Setelah tampak ragu, Phyte lalu mengangguk dan segera turun ke basemen untuk bertemu dengan Lif.
Melanjutkan bisnisku, aku akhirnya sampai di Workshop milik Sechs.
Tidak seperti biasanya, aku tidak bisa mendengar suara ketukan palu yang biasa terdengar. Baru masuk ke dalam, aku sudah bisa melihat Sechs yang sedang duduk termenung memandang tungku pembakaran yang tidak menyala.
"Hei Sechs! Sedang bolos?"
"Percy? Sedang apa kau disini?!!"
Setelah menceritakan apa yang terjadi, Sechs hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka. Tidak memedulikannya, aku lalu mengeluarkan semua Material yang Master berikan kepadaku.
Hanya dalam hitungan detik, tumpukan Material telah memenuhi hampir seisi gudang.
"Sebanyak ini?!"
Tumpukan pertama telah selesai, saatnya mengeluarkan yang kedua.
"Masih ada lagi?!"
Selesai, aku lalu mengeluarkan satu lagi ...
"Tolong ampuni aku"
"Tenang saja, yang ini berbeda"
Apa yang aku keluarkan kali ini adalah setumpuk sisik besar dengan diameter sekitar 40-60cm yang seluruhnya berwarna hitam kelam serta seikat rambut berwarna putih abu.
"Ini... (Dragon Scale) dan (Dragon Hair)?!"
"Untuk yang ini, tolong buatkan satu set Equipment"
"Untuk siapa?!"
"Untuk Master. Siapa lagi?"
"Tapi, tapi, Skillku tidak akan cukup..."
Belum sempat Sechs selesai bicara, aku melemparkan satu kantung penuh dengan (Magic Core) tepat ke mukanya.
"Kau bebas menggunakannya"
Sebelum Sechs memahami apa yang sedang terjadi, aku langsung pergi meninggalkan Workshopnya.
Aku bisa mendengar teriakannya dari dalam Workshop. Tidak mengindahkannya, aku lalu mencari Pelayan Master yang lain untuk segera memberikan jatah mereka masing-masing.