
Di dalam tenda utama di kompleks perkemahan para Penyihir dari Sol Ciel.
Terlihat rangkaian lingkaran sihir yang melayang di tengah udara yang saling terikat satu sama lain hingga Membentuk sebuah formasi sihir yang rumit dan sulit untuk dibaca oleh Penyihir (Witch) biasa. Sedangkan jika Ahli
sihir (Mage) biasa yang melihatnya, mereka akan langsung kehilangan kesadaran mereka karena informasi yang terkandung di dalam formasi sihir itu terlalu banyak untuk diproses oleh orang biasa.
Dari ujung ke ujung formasi sihir itu adalah Penyihir Cardinal dan Ratu Titania yang saling berhadapan dengan formasi sihir tepat berada di antara mereka.
Penyihir Cardinal menutup matanya dengan rapat berusaha untuk fokus berkonsentrasi sementara pakaian yang dia kenakan telah basah oleh keringat. Mengerjakan formasi ini selama berhari-hari tanpa henti telah memberikan sebuah beban berat pada tubuh kecilnya.
Kulitnya telah memucat sementara bibirnya telah memutih serta pecah-pecah. Yang paling parah adalah jari-jemarinya yang mulai terlihat seperti setangkai dahan kering yang bisa patah kapan saja.
Senasib dengan Penyihir Cardinal, kondisi Ratu Titania juga tidaklah lebih baik.
Berasal dari ras Peri (Fairy), Ratu Titania tidaklah memiliki tubuh fisik melainkan tubuhnya terbuat dari kumpulan Mana yang murni.
Ketika Manusia atau ras lainnya kedapatan menggunakan Mana mereka secara berlebihan, maka mereka akan mulai merasa lemas dan jika terus dipaksakan, mereka akan jatuh ke dalam keadaan koma sama seperti yang
Penyihir Lavender alami.
Akan tetapi, hal yang jauh lebih fatal akan dialami oleh ras Roh (Spirit) seperti para Peri (Fairy) ketika mereka kedapatan menggunakan Mana mereka secara berlebihan.
Tidak lagi mampu mempertahankan wujudnya, Ratu Titania yang awalnya memiliki wujud seorang Wanita Dewasa yang cantik jelita serta penuh akan wibawa, kini sudah tidak lagi terlihat. Sebagai gantinya, adalah seorang gadis
kecil yang jauh lebih kecil dari Penyihir Cardinal yang sudah tergolong memiliki penampilan seperti anak-anak.
Jika Penyihir Cardinal memiliki penampilan seperti murid SMP atau sekolah dasar, wujud Ratu Titania kini bagaikan seorang anak kecil yang baru saja masuk ke dalam taman kanak-kanak.
Wajahnya yang imut serta pipinya yang tembem membuat siapapun gemes ingin mencubitnya. Tubuhnya yang bulat dengan tangan dan kakinya yang pendek namun berdaging akan membuat siapapun tidak mampu menahan diri untuk memeluknya lalu menggendongnya untuk di ajak jalan-jalan.
Satu-satunya hal yang akan mencegahmu untuk mendekatinya hanyalah rambutnya yang kini tidak lagi terlihat seperti rambut pada umumnya. Apa yang awalnya rambut merah panjang yang tergerai indah kini sudah menjadi sebuah api yang membara bagaikan sebuah obor yang menyala menerangi malam.
Duduk bersila di atas lantai, tangan mereka berdua menengadah ke angkasa seolah sedang memangkul formasi sihir yang kini memancarkan sebuah cahaya terang yang membutakan mata.
...
Sementara Penyihir Cardinal serta Ratu Titania masih disibukkan oleh formasi sihir, situasi di kedua medan pertempuran semakin kacau dan mulai tidak terkendali.
Pada gudang penyimpanan, terlihat kalau Milim kini sedang beristirahat untuk memulihkan Mananya sementara Kepala Suku Rubah, Lisa kini telah kembali ke medan pertempuran.
(Fox Fire-Tri Explosion)
Boom! Boom! Boom! Tiga ledakan dahsyat terdengar dalam waktu yang hampir bersamaan.
Berkat ledakan itu, banyak Monster yang mengalami luka yang parah hingga membuat mereka tidak lagi berani untuk terus maju sementara kobaran api yang ganas menghalangi jalan mereka.
Memanfaatkan hal ini, Lisa segera memberikan perintah "Mundur!" kepada seluruh pasukannya.
Mendapatkan perintah dari atasan mereka, seluruh Prajurit yang bertarung di garis depan segera mundur kembali ke balik dinding sementara para Monster tertahan oleh kobaran api yang membara.
Meski mereka diperintahkan untuk segera mundur, bukannya langsung berlari menuju pintu gerbang, para Prajurit terlihat mengambil jalan memutar dalam satu barisan yang sama tanpa terlihat sedang tergesa-gesa dan mereka bahkan terlihat sedang memperhatikan kemana mereka melangkah.
Setelah semua prajurit berhasil sampai kembali ke dalam dinding, api pun akhirnya padam yang membuat para Monster mampu kembali melanjutkan serangan mereka.
"Tembak!!!"
Atas perintahnya, ribuan sihir dan anak panah berterbangan ke angkasa dan menghujani pasukan Monster yang datang menyerbu.
Sama seperti sebelumnya, serangan mereka hanya memberikan dampak kecil kepada pasukan Monster yang kini jauh lebih kuat dari yang sebelumnya.
Meski begitu, Lisa tidaklah berkecil hati karena ini memang termasuk ke dalam rencananya.
"Khhahakakaaa....A..aaa...Aa...aaa!!"
Auman para Monster menggema di seluruh medan pertempuran mencoba untuk mengintimidasi para prajurit yang berjaga.
Meski tidak sedikit prajurit yang dibuat gentar karenanya, tapi masih banyak yang mampu berdiri dengan gagah sembari menatap balik para Monster itu untuk mengatakan kalau mereka tidaklah takut.
Dengan kekuatan mereka yang tidak manusiawi, para Monster menerjang maju hingga tanah pun dibuat bergetar oleh langkah kaki mereka. Menampilkan seringai yang mengerikan, para Monster berlari kencang untuk membangun momentum sebelum mereka melompat ke atas dinding yang kini telah diperkuat lagi.
"Serang! Jangan beri ampun!!!"
Atas arahan dari Lisa, ribuan proyektil kembali ditembakkan untuk menghalangi para Monster yang sedang melaju kencang ke arah mereka.
Tanpa perlu menghindar ataupun berlindung, para Monster menerima semua serangan itu dengan tubuh mereka seolah memberitahukan kalau apa yang para prajurit itu lakukan adalah sia-sia saja.
Sedikit mereka tahu kalau kini terdapat senyuman tipis di wajah Lisa.
"Kahhakakakakaa...... AAaaaaaa....."
Ketika para Monster itu sedang melaju dengan kencang, tiba-tiba saja wujud mereka menghilang begitu saja bagaikan ditelan oleh tanah. Itu bukanlah sebuah pengandaian karena memang itulah yang sebenarnya sedang terjadi.
Terima kasih berkat bala bantuan yang datang membantu, membuat Lisa dan yang lain memiliki banyak waktu untuk membuat jebakan berbahaya di sekitar dinding. Mengandalkan kemampuan murid dari Penyihir Lavender, Luna. Sebuah tabir ilusi diciptakan untuk menutupi pekerjaan mereka.
Jebakan pertama yang mereka buat adalah sebuah jurang yang gelap dengan lebar 20 meter serta kedalaman yang mencapai lebih dari ratusan meter.
Jika bukan karena bantuan para Peri (Fairy) hal ini tidak mungkin bisa terjadi.
Jatuh ke dalam jurang yang dalam, apa yang menunggu para Monster adalah barisan pasak-pasak dari batu yang tajam serta sungai yang mengalir dengan deras.
Bam! Bam! Splash! Bam!
Suara para Monster yang mengahantam pasak-pasak batu terdengar jelas sementara Monster yang sedikit beruntung terjun langsung ke dalam air.
Walau mereka memiliki kulit atau sisik yang keras, namun setelah jatuh dari ketinggian sejauh ratusan meter membuat pasak-pasak batu tersebut menjadi jauh lebih tajam dari yang seharusnya. Karena efek tarikan gravitasi yang kencang mengakibatkan tubuh para Monster yang terjatuh menghantam pasak-pasak batu dengan sangat kencang hingga memberikan sebuah luka yang fatal jika tidak langsung merenggut nyawa mereka.
Sedangkan yang terjatuh ke dalam air tidaklah mengalami nasib yang lebih baik.
Jatuh ke dalam air dari ketinggian ratusan meter tentu saja memberikan sebuah hantaman yang keras para tubuh mereka. Tidak sampai di situ, karena air di sana digerakkan dengan sihir membuat air di situ mengalir dengan
sangat deras hingga mustahil untuk bisa berenang di sana.
Sontak saja para Monster yang tidak bisa berenang langsung terbawa oleh arus.
Berada dalam ampunan air yang mengalir, para Monster harus rela berkali-kali menghantam pasak-pasak batu yang menyembul dari dalam air. Luka yang parah mereka terima karena setiap sisi dari pasak-pasak itu telah dibuat
menjadi tajam hingga membuatnya sama seperti sebuah pisau.
Karena jurang ini mengelilingi area sekitar gudang penyimpanan. Membuat air yang mengalir di sana terus saja berputar tanpa henti di dalam satu lingkaran yang sama.
Hal ini membuat jurang itu menjadi sebuah blender raksasa yang siap mencabik-cabik siapapun yang masuk ke dalamnya.
Karena para Monster sedang melaju kencang, membuat mereka tidak mampu untuk segera berhenti sehingga banyak dari mereka yang menjadi santapan dari jurang raksasa itu.
Ketika mereka akhirnya bisa berhenti, sudah banyak dari mereka yang menjadi korban dan sekarang mereka tertahan oleh sebuah jurang yang mustahil untuk dilompati.
Melihat kejadian ini, para Prajurit yang berlindung di balik dinding seketika berteriak kegirangan.
Dengan pasukan Monster yang tertahan oleh jurang yang dalam, membuat pertempuran di sana menjadi terhenti untuk sementara waktu.
...
Sementara pertempuran di gudang penyimpanan telah terhenti walau hanya untuk sementara, hal yang buruk tengah terjadi pada medan pertempuran di Ibukota.
Panas api yang membara membakar seluruh medan pertempuran ketika Oriens menghadang pasukan Monster sendirian sementara prajurit yang lain sedang mundur kembali ke balik dinding Ibukota.
Belum sampai setengah hari, pasukan Aliansi yang awalnya berjumlah 15 ribu prajurit kini berkurang drastis hingga hanya setengah dari mereka yang masih sanggup untuk bertarung.
Menggotong kawan mereka yang terluka ke tempat yang aman, para prajurit yang masih selamat harus menahan kesedihan mereka karena tidak mampu untuk setidaknya membawa kembali tubuh rekan mereka yang telah gugur dalam pertempuran.
Sedangkan para Otherworlder yang terluka parah tidak ingin membebani rekan-rekannya yang lain dengan memilih untuk melakukan serangan bunuh diri dengan harapan untuk membawa musuh mereka untuk mati bersama mereka.
Berdiri mengamati medan pertempuran yang kacau balau, Raja Leonidas yang awalnya sudah merasa kalau pasukan yang dia bawa masih belum cukup tidak pernah menyangka kalau total kerusakan yang akan pasukannya terima akan separah ini.
Sebagai seorang Kesatria, ingin sekali dirinya untuk turun langsung dengan pedang di tangan untuk membantu para Prajurit yang lain melarikan diri sama seperti yang Oriens sedang lakukan sekarang.
Akan tetapi, sebagai seorang Raja dan Komandan dari pasukan Aliansi. Dirinya tidak boleh turun ke medan perang begitu saja.
Sebagai seorang Pemimpin Pasukan, tugasnya bukanlah untuk bertarung. Melainkan untuk memberikan arahan yang akan menghantarkan pasukannya kepada kemenangan.
Melirik ke arah Pangeran Lapelis yang sejak tadi terus saja melepaskan anak panahnya secara bertubi-tubi, Raja Leonidas ingin sekali melemparkan posisinya ini kepadanya sehingga dirinya bisa dengan bebas mengayunkan
pedangnya.
Akan tetapi, itu adalah sebuah tindakan yang paling tidak bertanggung jawab yang bisa dia lakukan dan pantas disebut sebagai kekanak-kanakan.
Oleh karena itu, Raja Leonidas akan terus berada di posisinya sampai akhir.
menghentikan gerakan tangan mereka untuk melihat apa yang sebenarnya Raja Leonidas rencanakan.
Barulah ketika melihat Raja Leonidas menarik nafasnya dalam-dalam, mereka berdua akhirnya paham dan segera menjauh sembari menutup telinga mereka.
"GRRRROOOOOAAAAAAAA....!!!!"
Sebuah auman yang menggelegar dilepaskan yang seketika menggentarkan seluruh medan pertempuran. Semua orang terdiam mendengar suara auman yang sangat keras seakan menelan semua suara lainnya yang ada di dunia ini.
Bukan hanya para prajurit saja yang terdiam karena suara ini tapi bahkan para Monster tidak bisa menahan insting alami mereka untuk bergidik ketakutan ketika mendengar sebuah auman yang menggentarkan bahkan jiwa mereka yang terdalam.
Di dalam pandangan mereka Raja Leonidas kini tampak seperti seekor Makhluk Buas yang tidak boleh di ganggu atau bahkan di dekati.
Melihat para Monster yang perlahan melangkah ke belakang, Oriens pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Menancapkan Greatswordnya ke tanah, Oriens segera mengaktifkan (Wall of Fire) yang seperti namanya, menciptakan sebuah dinding api raksasa.
Melihat sebuah dinding api raksasa muncul di hadapan mereka begitu saja, para Monster yang masih ketakutan karena auman dari Raja Leonidas seketika kehilangan seluruh nyali mereka dan segera bergegas kabur dari tempat
ini.
Setelah satu Monster berusaha untuk kabur, Monster-Monster yang lain segera mengikuti.
Karena dirinya tidak bisa melihat apa yang terjadi di balik dinding api, namun karena tidak ada Monster yang berusaha untuk menyeberang Oriens pun memanfaatkan kesempatan ini untuk segera mundur kembali ke dalam dinding Ibukota yang aman.
"Mundur!!!"
Kembali menerima arahan dari atasan mereka, para Prajurit yang sempat terdiam kini segera bergegas untuk kembali mundur sembari berusaha menyelamatkan rekan mereka yang terluka.
Meskipun dirinya yang paling terakhir untuk mundur, namun langkah kakinya adalah yang paling cepat dibandingkan dengan prajurit lainnya. Dengan lihainya Oriens menggunakan (Fire Manipulation) di bawah telapak kakinya untuk menciptakan efek ledakan kecil yang tidak hanya mempercepat lajunya tapi juga membuatnya mampu melompat dengan tinggi.
Menendang tanah dengan kuat, Oriens kini tidak lagi berjalan di atas tanah melainkan berjalan di tengah udara.
Tap! Tap! Tap! Hanya dengan tiga lompatan saja sudah berhasil menghantarkan dirinya naik ke atas dinding dan mendarat tepat di samping Jenderal Boreas.
Melihat aksi dari mantan rekannya itu, Jenderal Boreas pun dibuat tercengang karenanya "Kau bisa terbang sekarang?!".
Walau dirinya baru saja kembali dari garis depan yang berbahaya, tingkah Oriens masih santai seperti biasanya "Terima kasih berkat kelelawar itu, aku jadi belajar gerakan ini karena dia selalu saja lari ke udara setiap kali kami latih tanding".
Mengingat kembali sesi latihannya bersama orang itu, Oriens menjadi tidak bisa menahan senyumannya.
Meski heran akan ekspresi yang Oriens buat, namun Jenderal Boreas memilih untuk tidak bertanya karena ini memang bukanlah waktu yang tepat untuk sebuah obrolan santai.
Beberapa saat kemudian, Penyihir Rosemary yang baru saja selesai mengobati para Prajurit yang terluka akhirnya bergabung bersama mereka. Di susul oleh Kepala Suku Beruang, Bearnard. Serta Doragon dan Yari dari The Guardian.
Melihat semua orang telah berkumpul, Raja Leonidas pun mulai bicara.
"Nona Oriens, kau pikir berapa lama dinding Apimu akan terus berfungsi?"
Memberikan sebuah jawaban yang serius, dengan berat hati Oriens pun berkata "Setengah jam, paling lama".
"Hmm... Kalau begitu kita fokus untuk memperkuat pertahanan..." belum juga Raja Leonidas menyelesaikan perkataannya, tanah yang mereka pijak seketika bergetar dengan kuat yang kemudian diiringi oleh sebuah teriakan yang memekakkan telinga.
"Kkaykayakayakayaakayaya...!!!"
Tidak ada yang tahu apakah itu adalah suara tangisan atau suara gelak tawa. Yang jelas suara itu cukup untuk membuat bulu kuduk mereka merinding.
Memberikan (Blessing) kepada semua orang, Penyihir Rosemary merasakan sebuah firasat buruk yang tidak bisa dia jelaskan.
Tiba-tiba saja dinding api yang Oriens ciptakan terbelah menjadi dua.
Berjalan dengan santainya di antara dua dinding yang terbelah adalah sesosok makhluk yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Bagian atasnya terlihat seperti seorang lelaki Manusia dengan wajah yang tampan dan rupawan. Yang mengejutkan adalah wajahnya yang sangat mirip dengan Raja Pulchritudo terkecuali dia terlihat lebih muda serta pandangan matanya yang kosong sangat berbeda dari Raja Pulchritudo yang penuh akan kepercayaan diri.
Dengan bertelanjang dada, tubuhnya terlihat sempurna jika bukan karena hal yang mengerikan yang terdapat pada tubuh bagian bawahnya.
Terlihat sebuah gumpalan daging yang seluruhnya terbuat dari kumpulan tubuh perempuan yang saling menumpuk hingga menciptakan sebuah pemandangan yang mengerikan dan juga menjijikan. Wajah-wajah gadis muda tampak
menyembul dari tumpukan daging tersebut. Ekspresi yang mereka tunjukkan sangatlah beragam dari sebuah ekspresi seperti orang yang sedang mabuk, ekspresi seseorang yang sedang tertawa bahagia, ekspresi orang yang
sedang dilanda oleh kesedihan, hingga ekspresi kesakitan seperti seseorang yang sedang di siksa.
Tangan dan kaki terlihat menyembul dari tubuh-tubuh yang saling menumpuk dan menempel satu sama lain. Dan tangan dan kaki itulah yang digunakan untuk berjalan seperti kaki laba-laba hanya saja jauh lebih mengerikan dan
jauh lebih menjijikan.
Melihat wujud Makhluk yang aneh itu, semua orang seketika masuk ke dalam mode waspada penuh dan siap untuk bertarung kapan saja.
Ketika semua orang sudah siap untuk melepaskan Skill masing-masing, yang pertama kali bertindak adalah Jenderal Boreas dan Oriens.
Namun, bukannya sebuah Skill atau sihir yang mereka keluarkan, melainkan sebuah teriakan tidak percaya.
""Pangeran Ketiga?!"" seru mereka secara bersamaan yang sontak membuat semua orang terkejut mendengarnya.
"Pangeran ketiga? Apakah kau yakin kalau makhluk itu adalah salah satu dari Pangeran kalian?"
"Tentu saja! Tidak mungkin kami bisa melupakan wajah Pangeran kami sendiri! Hanya saja, setelah ulang tahunnya yang ke-15 batang hidungnya sudah tidak lagi terlihat. Siapa yang bisa menyangka kalau dia akan berakhir seperti ini"
"Apakah kita harus memanggil Raja Pulchritudo?"
"Jangan!" ucap Raja Leonidas dengan keras "Apapun yang terjadi jangan sampai orang itu melihat wujud putranya yang sekarang!". Tanpa memberikan sebuah penjelasan lebih jauh lagi, Raja Leonidas pun mendeklarasikan "Makhluk itu tampaknya adalah pimpinan para Monster! Jika kita menghabisinya, maka pertempuran ini akan berkahir!".
Seakan mendukung perkataan Raja Leonidas, tiba-tiba saja para Monster yang awalnya berlari ketakutan kini secara satu-persatu muncul dari balik dinding api. Tanpa memedulikan kulit mereka yang terbakar, mereka
berjalan menembus dinding api untuk berbaris rapi di belakang sosok Pangeran Ketiga.
Melihat hal ini, mereka pun akhirnya yakin kalau sosok Pangeran ketiga adalah dalang dari penyerangan ini.
Sadar kalau dirinya harus melawan Pangerannya sendiri, sebuah keraguan pun muncul di benak Jenderal Boreas. Sebaliknya, Oriens menjadi penuh semangat karena kini dia punya alasan yang tepat untuk menebas anggota
keluarga Kerajaan tanpa perlu takut mendapatkan hukuman.
Seakan mengikuti perasaannya, dinding api yang awalnya hanya berdiri diam kini mulai membakar lebih hebat. Kobaran api yang awalnya menyala cerah kini terlihat jauh lebih gelap dan jauh lebih mengintimidasi. Bagaikan
memiliki pemikirannya sendiri, dinding api itu pun bergerak untuk meraih para Monster yang baru saja melewatinya bagaikan sebuah ombak besar yang menggulung di lautan.
Melihat kobaran api yang membara menelan semua Monster termasuk sosok Pangeran ketiga, sebuah sorak-sorai terdengar dari para prajurit yang juga ikut menonton.
"Hidup Jenderal Oriens!" "Hidup Jenderal Oriens!" "Hidup...!"
Meski sedang dihujani oleh pujian, namun hanya ekspresi tidak percaya yang dia tunjukkan.
"Apiku... Apiku telah diambil alih!!!"
Sontak semua orang pun kembali dibuat terkejut karenanya.
Walau ini sangat jarang terjadi, namun cerita tentang seseorang yang mampu mengambil alih sihir orang lain bukanlah sebuah isapan jempol belaka.
Hanya saja, agar hal ini bisa terjadi, orang tersebut haruslah jauh lebih kuat dari orang yang sihirnya hendak mereka ambil alih.
Fakta kalau sihir seorang Oriens telah di ambil alih tepat di hadapan matanya, memberitahukan kalau siapapun yang melakukannya bukanlah seseorang yang bisa di anggap remeh.
Seolah untuk menjawab perasaan mereka, [Intuition] dan [Danger Sense] mereka seketika berteriak dengan sangat keras memberitahukan kalau ada bahaya yang datang menghampiri.
"Gggrrrraaaaoooo...!!!"
Suara auman yang menggentarkan jiwa dan raga kembali terdengar. Kali ini suara auman tersebut terdengar dari arah langit yang sontak membuat semua orang mengangkat kepala mereka.
"Naga!!!" tidak ada yang tahu siapa yang meneriakkan hal itu, tapi memang sesosok Naga (Dragon) hitam sedang terbang menuju arah mereka dengan kecepatan tinggi.
Membuka rahangnya yang lebar, tanpa ampun Naga (Dragon) itu pun menembakkan sebuah nafas api hitam ke arah pasukan Monster yang berada di belakang dinding api.
"Victoria?!" teriak Penyihir Rosemary yang akhirnya bisa mengetahui identitas dari Naga (Dragon) itu.
Sebagai tunggangan dari Penyihir Lavender, wujud Naga (Dragon) dari Victoria tentu saja sudah diketahui oleh banyak orang. Setelah sadar kalau Naga (Dragon) tersebut ternyata berada di pihak mereka, hati para prajurit
yang sempat ketakutan pun akhirnya menjadi tenang kembali.
Akan tetapi, hati Penyihir Rosemary masih belum tenang.
Jika Victoria telah berada di sini, itu berarti kakaknya yang seharusnya masih terbaling lemas juga berada di sini karena hanya dia lah yang punya kuasa untuk mengendalikan Victoria sesuka hati.
Akan tetapi, kecemasannya seketika buyar setelah melihat sosok yang kini melayang di hadapannya.
"Maaf untuk datang secara tiba-tiba. Perkenalkan, Putri Pertama dari Cardinal La Ciel, sang Algojo Malam Merah, Orchid La Ciel"