A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 102 : Unexpected Encounter



Pada malam bulan purnama, sebuah kereta kuda berlapis emas sedang berkendara melewati jalan raya di tengah gelapnya malam.


Sambil ditarik oleh total 12 kuda putih yang gagah berani, kereta kuda itu melaju dengan kencang seolah sedang membelah angin.


Mengawal kereta kuda itu adalah 6 kereta kuda lainnya yang seluruh eksteriornya berwarna hitam kelam yang berhiaskan ornament dari perak murni. Berkendara di samping konvoy itu adalah para kesatria yang mengenakan


Armor emas yang tampak mengintimidasi.


Dengan 3 kereta perak di depan dan 3 lagi di belakangnya. Serta rombongan kesatria di kiri dan kanan membuat Kereta emas itu di lindungi dengan sempurna.


Siapapun yang berada di dalam kereta emas tentu saja bukanlah orang sembarangan karena mampu berkendara di kereta yang mewah sambil di iringi oleh pengawalan yang ketat seperti ini.


Dan siapa lagi di seluruh Narsist Kingdom yang memiliki kekayaan dan kekuasaan terbesar kalau bukan sang baginda Ratu Impar ol Narsist itu sendiri?


Duduk dengan santai di dalam kereta emas, Ratu Impar memandangi pemandangan langit malam yang membosankan sebelum akhirnya menutup matanya berusaha untuk terlelap.


Berada di dalam kereta emasnya yang mampu menahan gempuran sihir tingkat kedua, serta di kawal oleh total 100 Royal Guards yang kekuatan setiap Royal Guard setara dengan 10 kesatria biasa.


Dengan tingkat keamanan seketat itu, serta otoritasnya sebagai Ratu sebuah Kerajaan. Tentu saja membuat Ratu Impar sangat percaya diri kalau tidak ada seorangpun yang cukup bodoh atau cukup kuat untuk menyergap


rombongannya di tengah jalan.


Berkendara jauh dari Ibukota tempat selama ini dia berdiam. Alasan kenapa Ratu Impar berani keluar dari wilayah Ibukota yang aman dan tenteram hanyalah satu.


Untuk bertemu seorang wanita yang menarik perhatiannya.


Menggunakan alasan agar dirinya menjauh dari medan perang yang semakin mendekat. Dengan mudahnya Ratu Impar mendapatkan izin untuk pergi 'mengungsi' dari suaminya yang bodoh dan berakal pendek padahal dia sudah tahu kalau lebih dari setengah anak mereka telah menghilang entah kemana.


Selagi menunggu agar rasa kantuk mendatanginya. Ratu Impar melihat kembali lukisan Baron Malika yang dia terima dari mata-mata yang telah dia kirimkan beberapa hari yang lalu.


Walau sebagian wajah Baron Malika tertutup oleh topeng sebagaimana warga Narsist Kingdom kebanyakan. Tapi setengah wajahnya saja sudah cukup untuk membuktikan kalau dirinya adalah seorang wanita yang cantik jelita.


Bukan hanya parasnya saja yang cantik jelita, tapi dia juga telah terbukti sebagai seorang individu yang pandai dan ahli dalam berbisnis.


Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan saja dia telah sukses membuat kota Pelabuhan yang awalnya adalah kota kecil yang miskin dan terbengkalai menjadi sebuah kota maju yang kian hari kian berkembang.


Mengelus wajah Baron Malika yang tergambar di atas secarik kertas. Ratu Impar tidak bisa tidak membayangkan ekspresi apa yang akan Baron Malika tunjukkan kepadanya setelah dia merenggut kembali apa yang seharusnya


menjadi miliknya.


"Tidak peduli siapa dirimu, hanya dirikulah yang pantas menjadi wanita tercantik di dunia ini"


Mengambil sebuah pisau perak dari sakunya. Pisau tersebut terlihat sangat polos tidak seperti sesuatu yang biasa di bawa oleh seorang Ratu ke mana-mana.


Dengan pisau tersebut, Ratu Impar mulai menyayat-nyayat wajah Baron Malika di atas kertas sembari mengingat bagaimana dia merenggut kembali kecantikan dari kedua putri pertamanya.


Untungnya hanya ada dia seorang di dalam kereta. Jika tidak, maka mereka akan menemukan sesosok wanita dengan seringai menakutkan sedang menusuk-nusuk kertas di tangannya dengan pisau sambil mengeluarkan suara tawa kecil.


Ketika sedang sibuk membayangkan masa depan yang sudah di depan mata. Tiba-tiba saja kereta emas yang dia kendarai bergoyang kecil.


Tahu benar kalau tidak peduli seberapa besar lubang di jalan, itu tidak akan cukup untuk membuat kereta emasnya bergoyang.


Sadar kalau ada sesuatu yang salah, Ratu Impar segera mengaktifkan pelindung sihir yang terpasang di dalam kereta sehingga dirinya terlindungi dari segala ancaman.


Tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar. Ratu Impar kembali menutup matanya berusaha untuk terlelap karena dia tahu kalau Royal Guard yang dia bawa pasti bisa mengatasi semua orang


bodoh yang berani mengganggu perjalanannya.


...


Selagi Ratu Impar sedang bersantai di dalam kereta kudanya, para Royal Guard yang menjadi pengawalanya sedang sibuk membentuk sebuah formasi bertahan.


Beberapa menit yang lalu...


Di saat mereka sedang melaju menembus gelapnya malam. Tiba-tiba saja terdapat sebuah dinding kayu raksasa yang tumbuh di tengah jalan. Jika saja si kusir tidak sigap menghentikan kereta, tak ayal mereka pasti sudah menabrak dinding kayu tersebut.


Yang membuat mereka semakin waspada adalah fakta kalau dinding kayu itu mengeluarkan cahaya violet yang terang sehingga jelas kalau itu bukanlah dinding kayu biasa.


Membentuk formasi melingkar dengan kereta emas sang Ratu berada tepat di tengahnya. Para Royal Guard bersiap untuk menahan serangan musuh yang menyergap mereka.


Drrrrrttt....


Bersamaan dengan tanah yang berguncang. Pohon-pohon besar yang mengeluarkan cahaya violet seketika muncul dari dalam tanah dan membentuk sebuah dinding alami yang mengurung konvoy sang Ratu di dalamnya.


Dengan perisai dan tombak dalam keadaan siaga, para Royal Guard siap untuk bertarung melawan musuh yang baru saja menunjukkan wujud mereka.


Dari dahan-dahan pohon yang baru saja tumbuh, muncul semacam buah dengan diameter 2 meter yang berwarna ungu gelap yang tumbuh dengan cepat sebelum akhirnya jatuh ke atas tanah.


Tidak lama setelah buah-buah itu menyentuh tanah. Buah tersebut seketika pecah dan menampakkan sesosok makhluk setinggi 2,5 meter dengan seluruh tubuh terbuat dari kayu.


Terdapat dua macam makhluk yang 'menetas' dari buah yang jatuh.


Yang pertama adalah makhluk dengan tubuh kekar serta memiliki sepasang lengan yang besar dan juga kuat. Dan yang kedua adalah makhluk dengan tubuh tinggi dan ramping yang dilengkapi oleh sepasang lengan yang ramping namun tajam seperti pisau.


Menyaksikan pemandangan aneh di hadapan mereka, para Royal Guard tetap tidak gentar dan tetap setia melindungi Ratu mereka.


Dengan angin yang berhembus sebagai sinyal. Para makhluk kayu itu pun mulai menyerang.


Krreaakkk!!!


Mengeluarkan jeritan yang memekik di telinga, para makhluk kayu itu menerjang dengan ganas ke arah para Royal Guard yang sudah dalam keadaan siap siaga.


Sontak pertarungan yang sengit pun dimulai.


...


Menonton pertarungan itu dari kejauhan adalah Penyihir Lavender yang berdiri di atas sebuah lingkaran sihir yang memancarkan cahaya ungu gelap.


Menggunakan (Combine). Lavender sukses menciptakan sebuah sihir baru bernama (Birth of Woodland Creature) yang merupakan gabungan dari [Forest Magic] dengan [Demon Magic] yang membuatnya sukses menciptakan sebuah pohon magis yang mampu melahirkan Mobs yang bernama (Woodland Creature) yang kini sedang


berhadapan dengan para Royal Guard.


Dengan matanya masih terpaku pada pertarungan yang tengah berlangsung, Lavender berbicara kepada Pangeran Draco yang berdiri tidak jauh darinya.


"Pangeran Draco, selagi diriku menahan mereka. Alangkah baiknya jika Pangeran membawa pasukan untuk terus melangkah ke depan"


"Hmph, apakah dirimu yakin bisa menahan mereka seorang diri?"


"Tidak apa-apa. Malahan, ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk menahan atau bahkan menghabisi Ratu dari Narsist Kingdom"


Melihat kepercayaan diri di wajah Lavender, Pangeran Draco pun tahu kalau tidak ada gunanya merasa khawatir. Mengucapkan "Terima kasih" dia pun membawa total 1.000 pasukan elit Drakon Kingdom bersamanya dan berbaris menuju Ibukota Narsist Kingdom.


Sambil menyaksikan Pangeran Draco beserta pasukannya yang mulai mengecil di kejauhan, Penyihir Lavender kembali fokus pada medan pertempuran di hadapannya.


"Percy!" perintahnya dengan tegas yang di sambut oleh Percy yang kini berdiri di belakangnya. "Pimpin pasukan dan serang pasukan musuh. Pastikan tidak ada satupun dari mereka yang berada di dekat kereta sang Ratu".


Mendapatkan perintah dari Masternya, Percy dengan sigap menjawab "Siap!" sebelum akhirnya memimpin pasukannya sendiri menuju pertempuran.


Tidak seperti sebelumnya, Percy kini mengenakan Heavy Armor baru yang di buat dari sisik Victoria yang setelah sekian lama akhirnya selesai.


Diberikan nama oleh pembuatnya Sechs. Armor tersebut dua kali lebih tangguh ketimbang Armor yang selama ini Percy kenakan.


\ ★★★★★


«Physical Protection : Large» «Physical Resistance : Large» «Magical Protection : Large»


«Magic Resistance : Large» «Knocback Resistance : Medium» «Fire Resistance : Medium»


«Weight Reduction : Small»


Sebuah full Heavy Armor yang terbuat dari sisik seekor Naga terkutuk.


Memberikan pertahanan yang tinggi terhadap serangan fisik maupun sihir terutama dari element api. Ketika dikenakan, berat Armor ini akan terasa lebih ringan dari yang seharusnya sehingga tidak akan terlalu menghalangi


pergerakan pengguna.


Syarat penggunaan : [Armor 20] [Armor Knowledge 10]


Mengenakan Armor barunya, Percy memimpin total 50 (Superior Golem) yang belum lama ini Penyihir Lavender ciptakan.


Dengan tinggi 3 meter, para (Superior Golem) tampak mengintimidasi dengan penampakannya yang dibuat sehingga mirip seperti robot raksasa yang terbuat dari kayu yang memiliki duri-duri tajam di pundak dan punggung


tangan mereka.


Menemani Percy adalah Zweite dan juga Glory yang juga akan ikut bertempur.


Royal Guard yang sedang sibuk bertarung dibuat terkejut oleh kedatangan Percy beserta pasukannya yang sontak membuat formasi mereka yang awalnya kokoh kini mulai berantakan.


Menghadapi ratusan Mobs misterius yang terus saja 'menetas' dari buah sudah cukup untuk membuat mereka kesusahan. Akan tetapi, menghadapi musuh yang tidak berakal. Mereka yang adalah kesatria elit tentu saja tidak mungkin kalah melawan mereka.


Hanya masalah waktu sebelum akhirnya Penyihir Lavender kehabisan Mana dan tidak sanggup lagi untuk memanggil (Woodland Creature) yang baru.


Karena itulah, kedatangan pasukan Percy membuat alur pertarungan menjadi kacau dan pertahanan Royal Guard pun mulai runtuh.


"Lindungi Yang Mulia Ratu Impar!"


"Jangan biarkan makhluk nista ini mendekati Yang Mulia!!!"


Bertarung dengan lebih keras, kawan mereka yang gugur secara satu-persatu tentu membuat mereka menjadi gelisah.


Selain karena mereka yang kalah jumlah, fakta kalau musuh yang mereka lawan tidak punya konsep stamina tentu membuat pertempuran jangka panjang menjadi pilihan buruk bagi mereka. Ingin mengakhiri pertarungan ini dengan lebih cepat, sayang mereka tidak punya kuasa untuk itu.


Kapten dari Royal Guard, Kapten Grand von Blue.


Berdiri tepat di samping Kereta Emas yang ditumpangi oleh sang Ratu, dia menjaga kereta itu sekaligus mengawasi alur pertarungan.


Dengan Armor emasnya yang berkilau. Mudah untuk membedakannya dengan Royal Guard yang lain karena memang Armor yang dia kenakan begitu mencolok ketimbang Royal Guard yang lainnya.


Melihat anak buahnya yang mulai di pukul mundur, membuatnya mulai berkeringat dingin.


"Jika saja kami punya Perapal Mantra" gumamnya dengan ekspresi menyesal di wajahnya.


Entah karena alasan apa, Ratu Impar menolak untuk membawa bahkan satu Perapal Mantra dalam perjalanan kali ini. Tidak peduli seberapa keras dia memohon, Ratu Impar tetap menolaknya.


Tidak mampu untuk melawan keinginan tuannya, dengan terpaksa Kapten Grand hanya membawa Kesatria murni yang tidak satupun pengetahuan tentang sihir.


Awalnya mengira itu saja sudah cukup, baru sekarang dia menyesalinya.


(Shield Rush)


Boom! Suara keras bergema dan seorang Royal Guard terhempas ke udara sebelum akhirnya jatuh ke tanah dengan keras.


Melihat anak buahnya yang terkapar di atas tanah, Kapten Grand lalu melihat sosok yang baru saja menghempaskan anak buahnya.


Membawa sebuah Buckler dan Sabre berwarna hitam pekat, Kesatria itu juga mengenakan Heavy Armor dengan warna yang sama. Hanya saja, Armor yang dia kenakan memiliki pola seperti sisik pada seluruh permukaannya. Di


tambah dengan helm yang dia kenakan memiliki motif wajah seekor Naga, penampilannya membuatnya terlihat seperti seorang Kesatria Kegelapan yang dikisahkan adalah Kesatria yang melayani seorang Iblis (Demon).


Yah, dia memang tidak salah.


Mendapati kalau Kesatria Kegelapan itu berjalan mendekati Kereta sang Ratu. Kapten Grand yang bertugas untuk menjaganya tentu tidak bisa membiarkannya untuk berbuat seenaknya.


Dengan tombak emas di tangan, Kapten Grand pun siap untuk berhadapan langsung dengan Percy.


"Kapten Royal Guard dari Narsist Kingdom, Grand von Blue!"


Melihat Grand memperkenalkan dirinya, Percy pun menghentikan langkahnya. Berdiri dengan gagahnya, dia pun juga ikut memperkenalkan dirinya.


"Pengawal dari Penyihir Lavender La Ciel, Percy!"


Sontak Grand pun terkejut mendengarnya. Selain setelah tahu kalau kesatria di hadapannya adalah seorang wanita, dia juga terkejut setelah mendengar kepada siapa dia mengabdi.


Sol Ciel.


Sebuah grup Penyihir yang prestasi mereka sudah dikenal selama berabad-abad. Dan yang memimpin mereka sejak Sol Ciel di dirikan adalah sebuah keluarga yang bernama Ciel.


Dan ketika dia tahu kalau Kesatria yang ada di hadapannya bekerja di bawah seorang Ciel, Grand akhirnya paham kenapa mereka bisa sampai di situasi saat ini.


"Heh, Penyihir Ciel, yah. Berani sekali Nenek Tua itu untuk menyerang Yang Mulia Ratu Impar. Sebegitu inginnya kah tuanmu itu untuk mengambil kecantikan dari Yang Mulia Ratu Impar?!"


"Jangan berkhayal! Master tidak butuh untuk melakukan tindakan hina itu hanya demi sebuah paras yang cantik! Justru, bukankah yang barusan kau katakan itu seharusnya ditujukan kepada Perempuan hina yang berlindung di dalam kotak emas itu?"


"Bawahan orang sesat sepertimu tidak pantas untuk menghina Yang Mulia Ratu Impar!"


"Berkaca lah, dasar kesatria buta!"


Tidak lagi saling bertukar kata, kini mereka bertukar serangan.


Yang pertama kali bergerak adalah Kapten Grand.


Menggunakan (Spear Charge) dia bergerak secepat kilat hingga tombak emasnya terlihat seperti kilatan cahaya yang menusuk tepat ke arah wajah Percy berusaha untuk mengincar sela di antara helmnya.


Untungnya Percy dengan sigap menggunakan (Stand) dan sukses menahan serangan yang di arahkan kepadanya.


Trang! Suara nyaring terdengar ketika tombak emas Grand dan Buckler Percy saling beradu.


Walau serangan pertamanya berhasil di tangkis, Grand tetap tenang. Menarik kembali tombaknya, selanjutnya dia menggunakan (Rapid Strike). Tusukan beruntun pun dia layangkan kepada Percy yang selalu berhasil di tangkis


menggunakan Bucklernya.


Terlebih ketika Percy telah menggunakan (Strengthening) serta (Sturdy Defense) yang membuat mustahil bagi Grand untuk menggoyahkan pertahanan Percy terkecuali dia menggunakan sebuah Skill yang kuat.


Ketika Grand sampai pada tusukan terakhir, Percy seketika menggunakan (Parry) yang sukses mengalihkan arah serangan Grand yang sekaligus membuatnya kehilangan momentum.


Tanpa menunda lagi, dengan Sabre di tangan. Percy melayangkan (Quick Slice) sebagai balasan.


Untungnya Grand sigap bertindak dan berhasil menghindari tebasan dari Percy dengan cara melompat mundur ke belakang.


Ketika jarak mereka kembali menjauh, membuat mereka berdua hanya diam di sana tanpa ada yang berani untuk bergerak.


Dengan pandangan mereka yang saling terkunci satu sama lain. Masing-masing dari mereka menunggu siapa yang akan pertama kali bergerak.


Di saat itulah Percy seketika menggunakan (Root Bind) dan sukses menjerat kaki Grand yang tidak waspada.


"Apa!?" terkejut akan akar tanaman yang tiba-tiba saja merambat di kedua kakinya, serta fakta kalau Percy ternyata bukan Kesatria murni dan mampu menggunakan sihir. Membuat Grand tidak sempat untuk bertindak ketika Percy sudah berada tepat di hadapannya.


(Shield Bash)


Menghantamkan Buckler miliknya tepat ke tubuh bagian samping Grand, Percy sukses menghantarkannya melayang sejauh 4 meter dan membuatnya harus rela berguling-guling di atas tanah yang kotor.


Ketika Grand mencoba untuk bangkit. Dia kembali terdiam ketika menyadari kalau Armor emas kebanggaannya kini kotor oleh tanah dan lumpur. Belum sempat dia mengeluarkan sumpah serapah, sebuah Buckler kini tepat berada di depan matanya.


Menggunakan (Shield Bash) sekali lagi, Percy kembali sukses untuk membuat Grand terhempas menjauh dari posisinya yang semula.


Setelah di paksa untuk berguling di atas tanah yang kotor untuk yang kedua kalinya. Grand yang tidaklah bodoh segera belajar dari kesalahannya.


Tidak lagi memeriksa keadaan Armor yang dia kenakan. Grand menggenggam erat tombak emasnya dan langsung melayangkan (Flying Strike) yang kecepatannya dua kali lebih cepat dari (Spear Charge) hingga sosoknya


sekilas tidak terlihat oleh mata telanjang.


Serangannya kali ini terbukti sukses mengenai Percy yang tidak mampu menyamai kecepatan serangan Grand tepat di lehernya.


Grand dapat merasakannya!


Walau dangkal, tapi serangannya berhasil melewati celah di antara Armor Percy dan menanamkan tombaknya di tubuh Percy.


Namun, bukannya senang malah tanda tanya yang dia dapatkan.


Grand benar-benar yakin kalau tombaknya sudah mengenai Percy tepat di lehernya. Jika itu manusia biasa, darah segar seharusnya telah menetes seraya sebuah tombak telah menggali ke dalam kulitnya.


Akan tetapi, bukan hanya tidak ada darah yang menetes. Tapi perasaan yang Grand rasakan bukanlah rasa menusuk daging melainkan seperti sedang menusuk sebuah batang pohon yang tebal.


Sial bagi Grand.


Lawan yang sedang dia hadapi bukanlah Manusia atau bahkan Makhluk Hidup yang berdarah.


Apa yang sedang dia lawan adalah seorang Golem yang tidak berdarah dan tidak merasakan sakit.


Itu terbukti dari Percy yang walau terdapat tombak yang menancap di lehernya, dia tetap bertindak seolah tidak merasakan apa-apa.


"Geh!" ketika Percy meraih tangan Grand yang memegang tombak, dia lalu mencengkeram tangan itu dan menolak untuk melepasnya.


Berusaha keras untuk melepaskan diri dari Percy, sosok Percy tetap tidak bergerak dari tempatnya dan malahan dia semakin menambah kekuatan pada cengkeramannya sehingga tangan Grand mulai terasa sakit.


Kembali menggunakan (Root Bind). Kali ini Percy sukses menahan seluruh tubuh Grand sehingga mustahil baginya untuk meloloskan diri dari tempatnya berdiri.


Sebelum Grand sempat menggunakan item aneh atau semacamnya, Sabre hitam Percy sudah melayang.


Melihat sebuah kepala yang terguling di atas tanah, Percy menengok ke kebelakang hanya untuk menemukan kereta emas yang dinaiki oleh Ratu Impar kini seluruhnya telah di lilit oleh tanaman merambat yang mengeluarkan cahaya ungu yang cerah.