A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 123 : Perfect Body



Berdiri di tengah-tengah kawah yang masih panas adalah sebongkah gumpalan daging berbentuk seperti sebuah bola bakso raksasa dengan diameter sebesar 3 meter.


Terlihat bekas hangus berwarna hitam di sepanjang permukaan bola daging itu. Namun itu tidaklah bertahan lama karena sedetik kemudian semua bagian yang hangus telah mengelupas dengan sendirinya dan menampakkan daging merah muda yang terlihat segar.


Deg... Deg... Deg...


Suara detak jantung terdengar jelas berasal dari bola daging itu.


Dengan permukaannya yang berdenyut-denyut menandakan kalau bola daging itu adalah sesuatu yang hidup dan berdetak.


Tanpa berdiam diri lebih lama lagi, sihir (Blaze Armament) pun dia aktifkan dan puluhan kalau bukan ratusan senjata dari api merah murni mulai bermunculan di sekitarnya.


Menatap tajam pada bola daging itu, Penyihir Orchid segera menembakkan semua senjata itu.


Sontak ratusan pedang, kapak, hingga tombak dari api melesat cepat ke arah bola daging yang hanya berdiam di sana bagaikan sebuah target yang tidak berdaya.


Benar saja, tanpa memberikan perlawanan apapun bola daging itu menerima semua serangan yang Penyihir Orchid lemparkan hingga sekali lagi sebuah ledakan hebat terjadi dengan bola daging itu sebagai pusatnya.


Doragon dan yang lain hanya bisa menatap takjub ketika api merah kembali menyala dengan hebat berusaha untuk melahap bola daging itu dan mengubahnya menjadi tumpukkan abu di atas tanah.


Walau sejak awal Penyihir Orchid sudah merasa kalau serangannya barusan masih belum cukup, tapi dia tetap dibuat terkejut ketika menyadari kalau serangannya sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa pada tubuh


lawannya itu.


Tidak tahu apakah itu karena apinya yang kurang kuat atau karena kemampuan regenerasi bola daging itu yang sangat luar biasa.


Yang jelas Penyihir Orchid yang mendapati kalau serangannya barusan tidaklah berarti apa-apa segera mengulurkan tangannya untuk menembakkan serangan kedua yang tentunya jauh lebih kuat dan lebih berbahaya.


Entah karena merasakan bahaya atau apa, bola daging itu berhenti diam saja dan mulai melancarkan serangan balasannya.


Masih dalam keadaan terbakar api merah membara, puluhan duri-duri putih dari tulang tumbuh dari dalam bola daging itu yang mengarah ke arah Penyihir Orchid dan yang lainnya. Sedetik kemudian, duri-duri itu ditembakkan


secara bertubi-tubi hingga membuatnya tampak seperti sebuah dinding putih yang datang menghampiri mereka.


Melihat hal ini, tentu saja mereka tidak tinggal diam.


Maju ke barisan paling depan, dengan perisai di tangan Doragon sontak menggunakan (Fortress) yang mana ini membuat pertahanannya naik hingga berkali-kali lipat untuk waktu yang singkat. Tidak hanya itu, Doragon juga mengaktifkan (Defense Up) serta (Strengthening) untuk memperkuat pertahanannya lebih jauh lagi.


Terakhir, Doragon mengaktifkan (Defense Area) yang mana menciptakan selubung semi transparan yang mencakup semua orang yang ada di sekitarnya serta (Protector) yang memperkuat pertahanannya lebih jauh lagi ketika dia


memiliki sesuatu yang harus dilindungi.


Masuk ke dalam mode pertahanan penuh, dengan gagah berani Doragon melindungi semua orang yang ada di belakangnya.


Tidak jauh di belakangnya adalah Victoria yang mengambil posisi tepat di hadapan Penyihir Orchid bersiap untuk melindunginya.


Dengan kecepatan tinggi, tidak butuh waktu lama bagi duri-duri itu untuk tiba di posisi dimana Doragon dan yang lainnya berada.


Ketika duri-duri itu hanya tinggal kurang dari semeter lagi dari Doragon, Allucard sudah selesai mengaktifkan (Blood Shield) yang mana itu menciptakan sebuah perisai dari darah yang mengkristal tepat di hadapan Doragon.


Clang! Clang! Clang!


Bunyi nyaring terdengar ketika duri-duri itu menghantam perisai darah yang Allucard ciptakan.


Namun, belum sampai satu detik sebuah retakan terlihat jelas di permukaan perisai darah itu dan tidak lama kemudian perisai darah itu pecah karena tidak mampu menahan gempuran duri-duri yang datang secara bertubi-tubi.


Dengan pecahnya perisai darah, duri-duri itu pun menerjang langsung ke arah Doragon.


Trang! Trang! Trang!


Mengerahkan segenap tenaganya, Doragon pun menyambut semua duri-duri yang datang kepadanya tanpa ada niatan untuk membiarkan duri-duri itu melewatinya dan mengenai kawan-kawannya yang ada di belakang.


"Aaaaarrrgghhhh...!!!"


Berteriak sekuat tenaga, Doragon merasakan tubuhnya dihantam dengan sangat keras secara bertubi-tubi hingga rasanya dia bisa pingsan kapan saja. Meski begitu, dia tetap berdiri dengan gagah sambil mempertahankan postur


bertahannya.


Tetap saja, semua pasti ada batasnya.


Tidak butuh waktu lama sebelum selubung dari (Defense Area) mulai berpijar seolah bisa hilang kapan saja. Bahkan setelah memperkuat dirinya dengan menggunakan berbagai macam Skill, Doragon masih menemukan tubuhnya terluka dan babak belur setelah menerima semua hantaman duri-duri itu.


Perisai kebanggaannya yang telah dia gunakan sejak pertarungan di Hutan Barriere juga mulai mengalami retak di sana sini dan bahkan daerah pinggirannya sudah mulai terkikis tidak mampu menahan serangan yang bertubi-tubi.


Kawan-kawannya yang lain hanya bisa terdiam pasrah menatap ke arah Doragon yang berjuang seorang diri sementara mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Terkecuali Feline yang dengan cekatan melempari Doragon dengan Healt Potion untuk memulihkan lukanya sehingga Doragon bisa bertahan lebih lama lagi.


"Aaaarrrghhhhh..... HAAaa!!!"


Akhirnya, setelah berjuang tidak tahu berapa lama. Akhirnya gempuran duri-duri itu berkahir juga.


Sukses besar menahan serangan itu, Doragon yang telah menunaikan tugasnya seketika hendak tersungkur ke atas tanah sebelum akhirnya dia di sambut oleh Feline yang menampilkan wajah cemas sekaligus lega.


Melihat serangannya telah berhasil di tahan, bola daging itu segera bersiap untuk melontarkan serangan lainnya.


Akan tetapi, itu tidak akan pernah terjadi.


Terima kasih berkat Doragon yang berhasil mengulur waktu, Penyihir Orchid mampu menyelesaikan sihirnya dengan sempurna.


Dengan sebuah lingkaran sihir rumit yang memancarkan cahaya terang kemerahan, sebuah sihir pun diaktifkan.


(Sunlight Heliodor)


Dari lingkaran sihir itu, ditembakkanlah sebuah cahaya keemasan yang meluncur dengan cepat ke arah bola daging itu.


Menghadapi serangan ini, untuk pertama kalinya bola daging itu bergerak untuk mengambil posisi bertahan.


Menumbuhkan sebuah duri putih dari tubuhnya, duri tersebut seketika merekah bagaikan sebuah payung. Menggunakan payung dari tulang itu sebagai perisai, bola daging itu pun menerima serangan dari Penyihir Orchid.


Vroooom...!!!!


Menerima serangan secara langsung, sontak payung dari tulang berwarna putih mulai berubah menjadi menyala kemerahan karena tidak sanggup menahan hawa panas yang dipancarkan dari serangan itu.


Sama sekali tidak memberi ampun, Penyihir Orchid menambah kekuatan dari (Sunlight Heliodor) dengan niatan untuk segera menembus pertahanan dari bola daging itu.


Seakan tidak mau mengalah, bola daging itu terus saja menumbuhkan tulang-tulang putih yang kemudian dia jadikan sebagai perisai pengganti dari payung tulang yang kini sudah mulai kehilangan keefektifannya.


Benar saja, sedetik kemudian payung tulang itu seketika hancur tidak lagi mampu menahan serangan dari Penyihir Orchid. Dengan pertahanan payung tulang yang sudah tertembus, bola daging itu dengan cekatan menyusun


tulang-tulang yang telah dia tumbuhkan sebelumnya hingga membentuk sebuah perisai raksasa yang kemudian dia tempatkan tepat di hadapannya.


Sukses menembus pertahanan payung tulang, Penyihir Orchid seketika merasakan kalau serangannya kembali tertahan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat.


Meski begitu, Penyihir Orchid tidak patah semangat.


Malahan sebaliknya, mengerahkan segenap Mana nya, Penyihir Orchid mengendalikan (Sunlight Heliodor) dengan membuat bentuknya menjadi lebih kecil sehingga serangannya bisa lebih terfokus.


Melihat sinar keemasan yang mulai mengecil, bola daging itu tampak senang karena mengira kalau Penyihir Orchid sudah mulai kehabisan Mana. Mulai menumbuhkan duri-duri lainnya di sisi lain tubuhnya, bola daging yang baru saja menyiapkan serangan balasan seketika kembali dibuat panik ketika perisai daging yang baru saja dia buat mulai memerah yang dibarengi dengan retakan-retakan kecil yang muncul di permukaannya.


Dengan panik bola daging itu membatalkan persiapan serangannya dan kembali berfokus untuk memperkuat pertahanannya.


Ketika Penyihir Orchid dan bola daging sedang sibuk saling beradu, Doragon yang sempat kehilangan kesadarannya akhirnya terbangun dengan pemandangan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.


"Doragon, kau sudah sadar?"


Mendengar suara Feline, ketika Doragon menggerakkan kepalanya, barulah dia tersadar kalau selama ini dia sedang berada di dalam dekapan Feline.


Berdiri di sekitar Feline adalah kawan-kawannya yang lain yang sedang berdiri mematung dengan pandangan mereka semua terpaku pada pertarungan yang ada di depan mata mereka.


Mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi, rasa sakit yang seketika menjalar di seluruh tubuhnya akhirnya membawa kembali ingatannya tentang mengapa dia bisa berakhir menjadi seperti ini.


"Ha... Tampaknya aku harus meningkatkan Skill pertahananku lebih jauh lagi"


"Kau ini, jika Winzi ada di sini maka kau pasti sudah kena tempeleng kau tahu"


Melihat kalau Doragon sudah baik-baik saja, Feline pun memberikannya sebuah Health Potion dengan kualitas tertinggi. Masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, Doragon pun dengan senang hati menerima Potion itu dan


segera menghabiskannya.


merasa jauh lebih segar dari yang sebelumnya.


Dengan kondisi tubuhnya yang sudah kembali prima, Doragon pun bangkit dari dekapan Feline dan memandang ke arah Penyihir Orchid yang masih saja sibuk menembakkan sebuah cahaya keemasan yang memancarkan hawa panas yang tidak tertahankan.


Dapat terlihat kalau lantai di sekitar Penyihir Orchid telah menyala kemerahan karena tidak mampu menahan hawa panas yang terpancar dari serangannya.


Mengungsi jauh ke pinggir, Doragon dan yang lain hanya bisa menunggu dengan pasrah sampai pertarungan berakhir.


Tepat di saat Doragon mulai bertanya-tanya kapan ini akan berakhir, Penyihir Orchid telah menghentikan serangannya dan kini dia memandang lurus ke arah bola daging itu berada.


Mengikuti arah pandangan Penyihir Orchid, betapa terkejutnya Doragon ketika menyaksikan hasil dari serangan Penyihir Orchid.


Apa yang dulunya semacam laboratorium kini sudah kehilangan bentuk aslinya.


Pertama adalah serangan bernama (Vermilion Nova) yang memporak-porandakan segala. Dengan sebuah kawah besar tepat di tengah-tengah, laboratorium ini sama saja dengan hancur dan tidak mungkin lagi bisa digunakan.


Namun sekarang, setelah menerima serangan dari (Sunlight Heliodor), jangankan perlengkapan laboratorium, bahkan tanah pun terlihat mencair dan berubah menjadi lautan lava yang menyala. Doragon tidak lagi merasa


sedang berada di dalam sebuah laboratorium melainkan dirinya merasa seperti sedang mengunjungi sebuah lahar gunung berapi.


Di tengah lahar panas yang menyala kemerahan, terdapat sebuah titik putih yang terlihat sangat kontras dengan pemandangan di sekitarnya.


Besarnya tidak lebih dari satu meter.


Meskipun objek itu terlihat asing baginya, namun Doragon dan yang lain seketika tahu kalau titik putih itu tidak lain adalah si bola daging yang telah menyelimuti seluruh tubuhnya dengan cangkang dari tulang.


"Keras kepala"


Kembali mengulurkan tangannya, Penyihir Orchid yang hendak melancarkan serangan penghabisan seketika terhenti begitu saja.


Heran, Doragon pun kembali melihat ke arah bola daging itu dan seketika dibuat terkejut.


Terlihat sebuah retakan besar telah tercipta di permukaan cangkah berwarna putih itu. Namun, bukan retakan itu yang membuat Doragon terkejut. Apa yang membuatnya terkejut adalah sebuah tangan mungil yang menyembul dari dalam celah retakan tersebut.


Meraih pinggiran cangkang yang retak, betapa mudahnya tangan mungil itu mengoyaknya dan membuat sebuah lubang yang cukup besar baginya untuk akhirnya bisa keluar.


"Grrrr...!!!"


Mengeluarkan geraman seperti hewan buas, Feline menatap tajam ke arah sosok yang keluar dari dalam cangkang.


Itu adalah sesosok gadis kecil yang penampilannya seperti anak berumur sepuluh tahun. Kulitnya berwarna putih pucat dengan rambutnya yang berwarna putih seperti salju terlihat tumbuh dengan panjang hingga ujungnya menyentuh tanah.


Berdiri dengan susah payah, sosok itu lalu menyingkap rambutnya dan akhirnya menampakkan wajahnya.


"Ratu Impar?"


Tidak salah lagi, selain matanya yang merah menyala, wajah dari sosok tersebut sangat mirip dengan wajah Ratu Impar ol Narsist jika saja dia adalah seorang gadis berumur sepuluh tahun.


Itu adalah sebuah wajah yang cantik jelita yang mana mustahil dimiliki oleh Manusia.


Karena sosok itu baru keluar dari cangkangnya, tentu saja sosok itu tidak mengenakan sehelai pakaianpun. Meski begitu, tidak ada yang punya waktu untuk tergoda oleh penampilannya karena mereka semua dapat merasakan


dengan jelas aura berbahaya yang terpancar dari sosok tersebut.


Dengan mata merahnya sosok itu mulai memandangi semua orang secara satu-persatu hingga pandangannya akhirnya jatuh kepada Penyihir Orchid.


Setelah pandangannya terpaku pada Penyihir Orchid, sebuah seringai lebar terlihat di wajah sosok tersebut.


"PeNgAnTIn DaRi OlEAnDeR, tIdAk AkU SAngKa PeNgANtiN dARi SlIMe iTu yAnG AkaN MenGhALangI jaLaNkU"


Sekali lagi, Doragon dan yang lain tidak mampu untuk memahami apa yang sosok Iblis (Demon) itu bicarakan. Apa yang mereka dengar hanyalah bunyi-bunyi yang tidak masuk di akal dan mustahil untuk bisa dipahami oleh Manusia.


Akan tetapi, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada Penyihir Orchid.


"Aku tidak akan ikut campur tangan jika saja kau tidak berusaha untuk merusak dunia ini. Sekarang katakan, apakah kau ingin kembali ke duniamu dengan tenang atau binasa oleh apiku?"


"KEeHeHe... TiDaK uSAh tERbUrU-BuRu SePErTi iTu, lAgiPuLa TugASkU dI sInI JUgA tElAh sELeSai"


"Selesai? Memangnya tugas macam apa yang kau jalani di dunia ini?"


"buKaNKaH ItU SuDAh jeLAs?


Tiba-tiba saja sosok itu mulai berputar-putar seakan menari dengan seringai lebar di wajahnya. Sayangnya di tengah putaran dia hampir tersandung karena rambutnya yang kepanjangan. Memasang ekspresi kesal, sosok itu seketika memotong rambutnya hingga panjangnya kini hanya mencapai pinggangnya sebelum akhirnya kembali memasang ekspresi penuh kebahagiaan.


"GAdIs bOdOh iTu MeNGingINkAn tUBuH AbaDi yANg tIdAk TeEMaKaN OleH wAktU aTaUpUn uSiA. ApA yANg aKu LaKuKaN hAnyAlAh MeMBanTunYa dAlAm MenGumPuLKan BaHaN-bAhAn uNTuk MeNCipTakAnNyA. DeNGaN tUbUh InI yAnG TeLaH jAdI, MaKa aRTinYa TugASkU Di SiNi jUGa tElaH SeLeSaI"


Seketika sebuah lubang tercipta tepat di belakang sosok tersebut.


Bentuknya bagaikan sebuah lubang cacing yang berwarna merah kehitaman.


Membungkukkan badannya untuk memberikan hormat, sosok itu kemudian masuk ke dalam lubang itu tanpa menoleh kembali ke belakang.


Setelah sosok itu tidak lagi terlihat, lubang itupun juga perlahan mulai menutup sendiri.


Sebelum lubang itu tertutup sepenuhnya, suara sosok itu kembali terdengar.


"KaU BoLeH pERlaKUkaN tUbUhKu YanG lAIn dEnGan SeSuKa kAlIAn. Ah, dAn JaNGan lUPa sAMpaIKan SalAmKu kEpAdA OlEaNdeR!"


Lubang itu akhirnya tertutup dan suasana pun menjadi hening seketika.


Semua orang terdiam karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya baru saja terjadi. Yang mereka tahu hanyalah sosok Iblis (Demon) itu telah mengambil bentuk Manusia, berbincang sebentar dengan Penyihir Orchid, lalu pergi entah kemana.


Apa yang tersisa hanyalah cangkang putih yang telah kosong serta seikat rambut putih yang kini tergeletak begitu saja di atas tanah.


Ketika tidak ada dari mereka yang tahu apa yang harus dilakukan, semua pandangan pun tertuju kepada Penyihir Orchid.


"Hah..." menghela nafas panjang, Penyihir Orchid mengarahkan pandangannya kepada semua orang dengan pandangan lelah.


"Victoria, tolong ambilkan rambut orang itu serta cangkang yang dia tinggalkan"


"Siap!"


Setelah mengirim Victoria pergi, Penyihir Orchid pun perlahan berjalan mendekati Doragon dan yang lainnya.


"Terima kasih karena telah mau menemani diriku dalam Quest kali ini, karena tugas kita telah selesai, maka sudah saatnya bagi kita untuk segera kembali"


"Tunggu sebentar, Penyihir Orchid, apakah benar kalau Quest ini telah berakhir? Memangnya kemana perginya sosok Iblis itu? Dan apakah tidak apa-apa membiarkannya berkeliaran begitu saja?"


"Kekhawatiranmu patut untuk dimaklumi, namun dirimu tidak perlu khawatir, Iblis itu telah pergi kembali ke dunianya. Untuk penjelasan yang lebih jelasnya, akan diriku sampaikan ketika kita kembali nantinya"


Walau dirinya masih memiliki banyak sekali pertanyaan yang ingin di tanyakan, namun setelah melihat wajah Penyihir Orchid yang tampak kelelahan, Doragon pun menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih banyak lagi.


Sembari menunggu sampai Victoria kembali, sebuah pertanyaan muncul di benak Doragon namun dia berhasil menahan diri untuk tidak membuka mulutnya.


Namun, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada Weise.


"Maaf, kalau boleh bertanya. Tapi, jika Iblis itu kini telah pergi, lalu apa yang akan terjadi dengan tubuh utamanya yang kini masih berada di Ibukota Narsist Kingdom?"


"Ah, untuk itu..."


Belum sempat Penyihir Orchid menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba mereka merasakan sebuah tekanan besar yang seolah menekan tubuh mereka dengan kuat ke atas tanah.


Tidak hanya itu, tanah yang mereka pijak mulai bergetar hebat hingga membuat langit-langit di atas mereka seolah hendak runtuh.


"Tch, sudah di mulai yah"


Setelah akhirnya Victoria kembali dengan terburu-buru, Penyihir Orchid segera mengajak mereka untuk bergegas keluar dari tempat ini.


Doragon dan yang lain yang takut terkubur hidup-hidup segera melangkahkan kaki mereka untuk keluar dari dalam reruntuhan.


Di tengah perjalanan, Allucard pun bertanya "Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" yang mana langsung di jawab dengan lantang oleh Penyihir Orchid.


"Bukankah sudah jelas? Proses penyegelan telah dimulai"