
Di tengah malam yang penuh bintang, berlari sekuat tenaga di padang rumput yang luas adalah sesosok gadis muda yang belum bisa di sebut sebagai seorang remaja.
Apa yang dia kenakan adalah sebuah jubah putih yang telah compang-camping serta dinodai oleh lumpur dan kotoran.
Sebelah tangannya dengan setia menahan topi segitiga yang ada di kepalanya agar tidak terlepas sembari dia berlari dengan kecepatan penuh. Sementara tangannya yang lain memegang erat sebuah Staff kayu dengan kristal
menyala tertanam pada bagian kepalanya.
"Ha... Ha... Ha..."
Dengan nafas terengah-engah, gadis kecil itu mengerahkan segenap tenaga yang tersisa untuk membuat kedua kaki kecilnya agar bisa terus berlari tanpa henti.
Alasan kenapa dia berlari di tengah malam begini jelas terlihat jika kau melihat apa yang sedang ikut berlari di belakangnya.
Hanya berjarak kurang dari sepuluh langkah dari gadis itu adalah sesosok makhluk yang mengenakan Heavy Armor yang menyala hitam mengerikan.
Meski makhluk tersebut sekilas terlihat seperti Manusia, tapi kau akan berpikir sebaliknya jika melihatnya lebih dekat lagi.
Tumbuh dari tubuhnya yang kekar dan berotot adalah duri-duri hitam yang berbentuk seperti gigi seekor ikan hiu. Duri-duri tersebut tumbuh di sekujur tubuhnya yang terus menjalar dari pinggang hingga menuju kepalanya yang membuat sulit untuk mengenali wajah aslinya.
Bahkan rambutnya kini berubah menjadi semacam kawat hitam bergerigi yang sangat panjang hingga membuat rambutnya terseret di atas tanah selagi dia berlari mengejar si gadis kecil.
Dari wajahnya yang sudah tidak lagi tampak seperti wajah seorang Manusia, terlihat mulutnya membentuk sebuah senyuman lebar yang mana menampilkan isi mulutnya yang tampak seperti mesin penggiling yang dipenuhi oleh
gerigi-gerigi yang tajam selagi air liurnya mengalir deras dari mulutnya yang terbuka.
Melihat ini, si gadis kecil semakin mempercepat laju larinya.
(Light Burst)
Menggunakan sihirnya, sang gadis kecil menembakkan bom cahaya yang ******* seluruh tubuh makhluk yang mengejarnya tanpa memperlambat langkah kakinya sedikitpun.
!!!...Boooom....!!!
Sebuah cahaya terang bersinar menerangi padang rumput yang gelap.
Dari dalam cahaya itu, muncul sosok makhluk tersebut yang tidak terlihat mendapatkan luka sedikitpun meski telah terkena serangan langsung.
"SIIIAALAAAANNN!!!"
Mengeluarkan seluruh isi hatinya, gadis tersebut hanya bisa berteriak sambil menengadah ke atas langit akan kesialan yang menghampirinya.
Setelah menembakkan sihir terakhirnya, bukan hanya stamina yang tidak lagi dia miliki bahkan persediaan Mana miliknya pun sudah mulai kehabisan.
Hal itu membuatnya sudah tidak sanggup lagi untuk melaju hingga membuat tubuh kecilnya terjatuh dan terguling di atas tanah.
Topi segitiga yang selalu dia kenakan kini terlempar jauh darinya yang mana menampakkan rambut pirang pendeknya yang seperti helaian emas.
Matanya yang hijau hanya bisa memandang lemah pada makhluk yang kini sudah berada tepat di hadapannya.
Tanpa repot untuk berhenti, makhluk tersebut menerjang langsung ke arah gadis tersebut yang sedang terkapar di atas tanah dengan kedua tangannya yang kini tampak seperti cakar makhluk buas terulur seolah ingin menerkam
gadis malang tersebut.
Mengetahui kalau kematiannya sudah dekat, gadis tersebut tidaklah takut ataupun menutup matanya. Malahan kedua matanya masih menatap lurus ke arah makhluk tersebut.
Dengan Staffnya yang masih di tangan, gadis tersebut berusaha untuk memberikan pukulan terakhirnya.
"Datanglah!"
Meneriakkan tekadnya, gadis tersebut bersiap untuk terus bertarung sampai akhir.
Ketika makhluk itu hanya tinggal satu langkah lagi darinya... Tiba-tiba saja seekor ular besar yang seluruh tubuhnya terbuat dari tanaman merambat melahap makhluk tersebut bulat-bulat.
"Eh!?!"
Belum selesai dia terkejut, tiba-tiba saja terdapat sebuah tanaman merambat yang melilit tubuhnya dan menarik dirinya menjauh dari ular tersebut.
Untuk menambah keterkejutannya, terdengar suara wanita yang terdengar familiar namun juga terdengar asing baginya.
"Baiklah, apakah tidak ada yang pernah mengajarimu kalau gadis kecil sepertimu seharusnya tidak jalan-jalan di tengah malam begini. Lihat, akibatnya kau dikejar oleh orang aneh kan?"
Menengok ke belakang, terlihat sesosok Penyihir (Witch) yang sama sepertinya.
Apa yang Penyihir itu kenakan adalah sebuah jubah hitam panjang yang tampak seperti sebuah gaun mewah karena ornament-ornamen emas yang menghiasi jubah tersebut. Menghiasi kepalanya adalah sebuah topi segitiga yang biasa dikenakan oleh para Penyihir (Witch) sama seperti dirinya.
Walau angin sekarang sedang bertiup kencang, namun topi tersebut tepat berada di tempatnya. Malahan hembusan angin tersebut membuat rambut ungu gelapnya berkibar indah di bawah langit malam.
Melihat sekilas Staff yang Penyihir itu bawa, gadis kecil itu seketika mengalihkan pandangannya. [Sixth Sense] yang dia miliki berteriak keras untuk tidak melihat Staff tersebut lebih lama lagi.
Pada akhirnya gadis tersebut menengok wajah Penyihir tersebut.
"Guru?"
...
Ya ampun, baru juga bangun tidur aku sudah di kasih pemandangan gadis kecil yang dikejar paman-paman aneh.
Karena gadis itu mengenakan pakaian Penyihir, aku memutuskan untuk menolong gadis tersebut sendiri karena para budakku dan bahkan Nenek masih terlelap.
Aku tidak memanggil para Pelayanku karena untuk kali ini saja, aku ingin bertarung secara langsung dengan makhluk yang belum pernah aku temui sebelumnya.
Sekarang... Kenapa gadis ini memanggilku guru?
Aku akan sisihkan masalah ini terlebih dahulu karena tampaknya orang aneh itu masih belum mati.
(Combine-Metal Control)
Mengubah tubuh (Nature Serpent) menjadi baja, aku memfokuskan sihirku pada bagian mulutnya sehingga membuat (Nature Serpent) memiliki gigi-gigi taring yang tajam bagaikan pedang.
"Masih keras kepala juga yah"
Aku bisa merasakan dengan jelas kalau orang itu masih hidup dan bahkan memberontak di dalam mulut (Nature Serpent).
"Jika begitu... (Electro Control)"
Mengaliri seluruh tubuh (Nature Serpent) dengan aliran listrik, aku mencoba agar menyetrum orang itu sampai mati.
"Tidak mati juga! Baiklah, gadis muda, bisa jelaskan kepadaku makhluk apa itu sebenarnya?"
"Ah, dia adalah Kapten dari Narsist Kingdom yang berusaha menyusup ke dalam Sanguine Kingdom yang tidak sengaja timku temui saat sedang berpatroli. Kami awalnya berhasil menangani mereka semua sampai sang Kapten
bertingkah aneh dan berubah menjadi makhluk aneh itu"
"Kerajaan sialan itu lagi... Apakah Kapten itu mengenakan semacam item terkutuk atau semacamnya?"
"Item... Ah! Armornya!"
Armornya yah...
Hmm, jika dilihat kembali, aku memang bisa merasakan ada sesuatu yang salah dari Armor yang dia kenakan. Pilihanku sekarang adalah antara menghancurkan Armor tersebut atau berusaha untuk melepaskan Armor itu
dari tubuhnya.
Pada saat aku sedang sibuk berpikir, si Kapten sudah hampir lolos dari cengkraman (Nature Serpent) dengan cara mencabik-cabik rahang (Nature Serpent) yang seharusnya terbuat dari baja itu.
"Tampaknya aku tidak punya kemewahan untuk melepaskan Armor itu... Baiklah, aku hancurkan saja"
Tepat setelah si Kapten berhasil lolos dari mulut (Nature Serpent), dia kembali di sambut oleh (Nature Serpent) yang kedua.
Dengan si Kapten di dalam mulutnya, aku mengirim (Nature Serpent) kedua naik tinggi ke langit... Sebelum akhirnya menukik tajam kembali ke tanah dengan kencang.
Booom...!!!
Hantaman keras yang dihasilkan oleh (Nature Serpent) membuat debu berterbangan kemana-mana.
Menggunakan (Aero Control) untuk menjauhkan debu-debu itu dariku, aku langsung menembakkan (Dual-Casting) (Metal Stake) yang mana membuat pasak-pasak baja bermunculan dari dalam tanah yang lalu dilanjutkan dengan (Flame Missile) yang aku tembakkan langsung ke arah si kapten seharusnya berada.
Tanpa mengkonfirmasi kondisi si Kapten, aku kembali menyerangnya menggunakan (Stone Fall) serta (Combine-Metal Control) yang mana membuat sebuah bola baja yang besar jatuh tepat di atas si Kapten bagaikan sebuah batu meteor.
Sebagai sentuhan terakhir, aku menggunakan (Flaming Ground) yang aku lanjutkan dengan (Fire Pillar).
Dengan memposisikan kedua (Nature Serpent) ke dalam posisi siaga, aku menyaksikan sebuah pilar api yang menyala terang melebihi api unggun mana pun.
"Sudah cukup, makhluk itu sudah tamat"
Tanpa aku sadari, Nenek sudah bangun dari tidurnya dan bahkan sudah mengenakan jubah Penyihirnya. Di sampingnya aku juga melihat gadis kecil tadi yang tampaknya sudah di sembuhkan oleh Nenek berdiri sambil
menatap pilar api yang masih menjulang tinggi.
Menonaktifkan (Fire Pillar), yang tersisa hanyalah sebuah kawah berwarna hitam dengan pasak baja yang menyala kemerahan.
Tepat di tengah kawah tersebut adalah sosok si Kapten yang sudah hangus terbakar hingga penampilannya sudah mustahil untuk dikenali lagi.
Hanya untuk berjaga-jaga, aku kembali menggunakan (Metal Stake) agar menjaga tubuh si Kapten agar tidak bangkit kembali sekaligus memastikan kalau Armor yang dia kenakan itu benar-benar hancur.
•Skill [Metal Magic] telah mencapai level 10, mendapatkan 1SP•
•Mendapatkan (Metal Lance) dari [Metal Magic]•
•Skill [Lightning Magic] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•
•Mendapatkan (Electro Shock) dan (Electro Whip) dari [Lightning Magic]•
"Hmm... Baiklah kalau begitu. Nak Clara, bisakah engkau jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
"I-iya, Ketua Cardinal!"
Gadis yang bernama Clara itu lalu menjelaskan kembali apa yang sudah dia jelaskan kepadaku kepada Nenek namun dengan lebih detail.
Tampaknya pasukan dari Narsist Kingdom yang datang menyusup membawa tiga orang Beastman bersama mereka. Satu sudah di bunuh oleh pihak Narsist Kingdom karena tidak sanggup lagi berjalan sementara dua lainnya telah berhasil di selamatkan.
Saat Clara dengan timnya berhasil memojokkan pasukan dari Narsist Kingdom, sang Kapten mulai bertingkah aneh dan Armor emas yang dia kenakan tiba-tiba saja berubah warna menjadi hitam dan mengubahnya menjadi makhluk mengerikan yang tadi aku lawan.
Pertarungan sengit pun terjadi hingga membuat dua orang anggota tim Clara terluka parah sehingga mau tidak mau Clara harus mengalihkan perhatian si Kapten agar menjauh dari perbatasan sekaligus memberikan waktu kepada
kawan-kawannya untuk bisa lari menyelamatkan diri.
Singkat cerita, Clara terus saja berlari sampai dia bertemu dengan kami.
"Begitu... Baiklah, nak Clara, kau beristirahat saja. Kebetulan kami juga sedang menuju kembali pulang jadi kau bisa ikut bersama kami"
"Terima kasih atas kebaikkan Anda"
Melihat jubah Clara yang sudah compang-camping, Nenek pun memberikannya jubah miliknya yang lain untuk Clara kenakan. Jelas Clara berusaha untuk menolak namun Nenek tetap bersikeras. Dengan sungkan Clara pun berganti baju dan tidak aku sangka kalau pakaian Nenek sangat pas dengan dirinya.
"Clara kan? Berapa usiamu?"
"Usia? Kalau tidak salah sekarang diriku berusia 16 tahun"
"Enam belas tahun yah...."
Melihat kembali ke arah Nenek, aku menjadi sadar kalau penampilan Nenek setara dengan seorang anak gadis berusia 16 tahun.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Untuk kali ini saja aku akan membiarkannya karena aku anggap itu sebagai sebuah pujian. Sekarang, mari kita segera masuk ke dalam kereta dan kembali melanjutkan perjalanan kita"
...
Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang.
Yang bermula dari di kejar-kejar oleh lawan yang tidak bisa aku kalahkan, sekarang aku mengenakan pakaian dari Ketua Cardinal dan bahkan berkendara dalam satu kendaraan yang sama dengan beliau.
Karena posisiku, aku sudah menduga kalau cepat atau lambat ini akan terjadi.
Tapi aku tidak pernah menyangkan akan terjadi dengan cara yang seperti ini!
Terlebih, orang yang duduk dengan akrabnya di samping Ketua Cardinal memiliki wajah yang sama dengan Guruku namun penampilannya secara keseluruhan sangatlah berbeda.
Guruku memiliki rambut dan mata berwarna ungu cerah serta penampilannya secara keseluruhan adalah penampilan layaknya seorang Manusia.
Namun orang yang ada di hadapanku sekarang bukan hanya memiliki rambut berwarna ungu gelap serta mata violet yang menyala, seluruh penampilannya menunjukkan jelas kalau dia berasal dari ras lain yang bukanlah Manusia.
Juga, bukankah dia terlihat lebih muda dari Guru?
Seolah mengetahui apa yang sedang aku pikirkan, Ketua Cardinal lalu menjawab semua pertanyaanku.
"Jika engkau bertanya kenapa gadis di sampingku ini sangatlah mirip dengan Rosemary, itu adalah wajar karena dia adalah cucu pertamaku. Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel"
"Cucu pertama!"
Sungguh tidak bisa dipercaya.
Banyak orang yang mengira kalau Guru Rosemary adalah satu-satunya cucu dari Ketua Cardinal. Akan tetapi, sebagai murid sekaligus orang terdekat dari Guru Rosemary, beliau sempat memberitahukan kepadaku kalau Guru
memiliki seorang saudari yang terlahir dari saudari ibunya, Wakil Ketua Asterids.
Tidak aku sangka kalau sekarang aku telah bertemu dengannya sekaligus menyaksikan kekuatannya secara langsung.
Di tengah keterkejutanku, aku menyadari kalau Nona Lavender telah menatapku dengan senyuman manis di wajahnya... Serta memandangku dengan matanya yang menakutkan.
"Kau sempat mengiraku sebagai gurumu. Apakah itu berarti kau adalah murid dari Mary?"
"Mary? ...Ah, kalau yang Anda maksud adalah Guru Rosemary, benar. Perkenalkan, nama saya adalah Clara, Murid pertama dari Guru Rosemary La Ciel"
Tepat setelah aku selesai memperkenalkan diri, tiba-tiba saja aku mendapati kalau Nona Lavender telah mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku bisa merasakan nafasnya tepat di wajahku dan aroma tubuhnya yang bagaikan bunga sangat jelas tercium oleh hidungku.
"Hm... Putri seorang bangsawan yah..." puas, Nona Lavender lalu menjauhkan wajahnya dariku dan kembali ke tempat duduknya yang semula "...Hebat juga kau Mary, sampai menemukan murid yang menarik seperti ini".
Aku terdiam ketika mendengar perkataan dari Nona Lavender.
Aku sudah sangat yakin kalau aku sudah sangat berhati-hati dalam menjaga rahasia kalau aku berasal dari keluarga Bangsawan.
Yang mengetahui rahasia ini hanyalah Ketua Cardinal, Wakil Ketua Asterids, dan tentu saja Guru Rosemary.
Tidak pernah aku sangka kalau Nona Lavender mampu mengetahui rahasiaku dalam sekali lihat.
"Janganlah kau menakutinya seperti itu, tujuan kita kembali ke Sol Ciel bukan hanya untuk mendiskusikan perihal Narsist Kingdom tapi juga agar kau bisa memilih muridmu sendiri"
"Oh, aku juga harus mengambil seorang murid?"
"Tentu saja, ini adalah tradisi turun temurun yang diwajibkan bagi semua Penyihir (Witch) untuk mengangkat satu atau dua Forest Dwellers sebagai murid mereka"
Ini adalah sebuah berita besar!
Pada saat Guru Rosemary mengumumkan kalau dia hendak mengangkat seorang murid, banyak orang termasuk diriku yang berbondong-bondong berusaha keras agar bisa diterima sebagai murid dari Cucu Ketua kami.
Aku masih bisa mengingat jelas betapa besarnya usaha yang harus aku keluarkan untuk menarik perhatian Guru Rosemary. Bahkan setelah aku terpilih sekalipun, aku masih tidak percaya akan betapa beruntungnya diriku yang sekarang.
Dan sekarang, satu lagi Cucu dari Ketua Cardinal juga akan mencari seorang murid.
Mereka yang gagal sebelumnya tidak akan melewatkan kesempat kedua ini!
Tok! Tok Tok!
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari arah kursi pengemudi yang kemudian terdengar suara seorang wanita.
"Master, di depan ada Penyihir lainnya yang datang menghampiri"
"Oh, itu pasti tim penyelamat"
Tidak lama setelah itu, kereta pun berhenti.
Yang keluar pertama kali adalah Ketua Cardinal yang lalu di susul oleh Nona Lavender. Tentu saja aku adalah yang terakhir keluar.
Apa yang aku lihat pertama kali adalah pemandangan lima orang Penyihir (Witch) yang memberi hormat kepada Ketua Cardinal.
Yang memimpin para Penyihir itu tidak lain dan tidak bukan adalah Guruku, Rosemary La Ciel.
Beliau mengenakan jubah putih yang memiliki model yang mirip dengan yang sekarang dikenakan oleh Ketua Cardinal. Hanya saja jubah milik Guru terlihat lebih sederhana untuk menunjukkan kalau kedudukannya lebih
rendah dari Ketua Cardinal.
"Selamat malam dan selamat datang kembali, Nenek"
"Senang melihat dirimu masih baik-baik saja. Juga, jika engkau mencari murid kesayanganmu, dia baik-baik saja, kami, atau lebih tepatnya Kakakmu telah menyelamatkan nyawanya"
Tepat setelah Ketua Cardinal mengatakan itu, Guru Rosemary dan Nona Lavender pun akhirnya saling berhadapan.
Terlihat kalau keempat Penyihir lainnya yang berdiri di belakang Guru sangat terkejut ketika melihat seseorang yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Guru.
Aku sangat mengerti dengan perasaan mereka. Karena bahkan setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, aku masih tetap tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang.
Sementara kami sedang tertegun, kedua saudari sudah saling menyapa.
"Senang bisa bertemu denganmu kembali, Kak lavy"
"Perasaan kita sama, wahai adikku Mary"