
Di sebuah daerah di Sanguine Kingdom, terdapat sebuah kota yang berdiri di tengah-tengah hutan yang lebat dan tersembunyi dimana seluruh penduduknya adalah wanita.
Tidak ada satu pun laki-laki yang berada atau diperbolehkan menginjakkan kakinya di kota tersebut.
Nama kota tersebut adalah Ciel.
Rumah bagi Guild Penyihir Sol Ciel.
Meski berada di dalam Sanguine Kingdom, kota Ciel termasuk ke dalam kawasan netral dikarenakan tugas yang di emban oleh para Penyihir Sol Ciel itu sendiri.
Para Penyihir dari Sol Ciel memiliki satu tugas utama. Yaitu untuk menjadi penengah jika saja ada kerajaan yang saling berselisih.
Berkat reputasi mereka selama ratusan tahun, Sol Ciel selalu diharapkan untuk menjadi pihak netral dalam setiap masalah antar kerajaan.
Namun, kasus kali ini cukup spesial.
...
"Dasar narsis sialan!!!!"
Di dalam rumah, atau kalau lebih tepatnya disebut sebagai sebuah kastil yang berada tepat di tengah-tengah kota Ciel, terdapat sesosok wanita yang sangat cantik jelita.
Rambut dan matanya berwarna oranye bagaikan jeruk. Kulitnya yang putih mulus tampak tak bercela, wajahnya yang memiliki pesona wanita dewasa mampu membuat setiap pria bertekuk lutut di hadapannya.
Namanya adalah Asterids La Ciel. Putri kedua dari Cardinal La Ciel serta ibu dari Rosemary La Ciel.
Beliau adalah pewaris selanjutnya dari Sol Ciel yang sekarang menjabat sebagai wakil dari Cardinal.
Di hadapannya terdapat puluhan Penyihir (Witch) lainnya yang hanya bisa terdiam sambil bergetar hebat saat di hadapan amarah Asterids.
Meski mereka tahu amarah itu tidak ditunjukkan kepada mereka, namun aura yang Asterids lepaskan mampu untuk membuat orang yang memiliki Mana lebih kecil darinya terdiam karena tekanan dari Mana yang dia lepaskan.
"Aku tahu kalau mereka itu mengutamakan kecantikan dan keindahan dibandingkan dengan apa pun.
TAPI! Sampai menyingkirkan yang lain hanya karena iri dan Inferiority Complex yang tidak beralasan sudah tidak bisa dimaafkan lagi!"
Narsist Kingdom, seperti namanya, itu adalah sebuah negara yang dipenuhi oleh orang-orang yang mengutamakan kecantikan atas segalanya.
Bagi mereka menjadi cantik dan indah adalah alasan atas keberadaan mereka. Jika ada orang yang tidak memenuhi syarat kecantikan mereka, jangankan tinggal, bahkan menginjakkan kaki di kerajaan itu hanyalah mimpi di siang bolong.
Pada awalnya hasrat akan kecantikan ini hanya sebatas akan kerajinan seni.
Tapi, semakin kesini hasrat itu berkembang hingga ke tahap yang memprihatinkan.
Yang lebih buruk lagi, mereka sampai-sampai mendikte kalau kerajaan mereka beserta rakyat rakyatnya adalah permata dunia. Kerajaan lain tidak lebih dari orang munafik yang tidak tahu diri.
Oleh sebab itu, mereka mengibarkan bendera peperangan.
Dan yang menjadi target pertama mereka adalah Sanguine Kingdom yang dipenuhi oleh ras yang berumur panjang dan memiliki kecantikan melebihi ras Manusia.
Tentu saja Sol Ciel sudah mencoba untuk menghentikan tindakan konyol mereka.
Akan tetapi, apa yang mereka dapat adalah...
"Heh, nenek-nenek seperti kalian tidak berhak berbicara di hadapanku! Aku yakin rahasia dibalik wajah awet muda kalian adalah karena kalian mengambil kulit wajah dari gadis muda tidak bersalah kan!"
Bang!
Meja kerja yang seharusnya terbuat dari kayu yang kokoh seketika hancur berantakan setelah di hantam oleh Asterids yang masih mengingat perkataan dari Ratu Narsist Kingdom yang dikatakan tepat di wajahnya sendiri.
Tok Tok Tok
Di saat para Penyihir sedang bingung bagaimana caranya menenangkan amarah atasan mereka, tiba-tiba saja terdengar ketukan di pintu.
"Siapa?"
"Ini putrimu, Rosemary"
"Masuk"
Rosemary dengan anggun masuk ke dalam ruangan. Di tangannya terdapat sebuah item dengan bentuk menyerupai bola kristal yang memancarkan cahaya keputihan.
Ketika dia sampai di samping ibunya, dia berkata...
"Ibunda, ada pesan dari nenek"
"Oh, akhirnya ada kabar"
Sudah sebulan lebih semenjak Cardinal pergi menjalankan misi dari Ratu Cascade. Sejak saat itu dia tidak pernah memberi kabar apa pun.
Karena mejanya sudah hancur, Rosemary hanya bisa terus menggenggam bola kristal itu di tangannya.
Bola itu seketika memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan sebelum akhirnya menunjukkan sebuah gambar seperti hologram yang menunjukkan sesosok gadis kecil dengan rambut berwarna merah tua.
"Halo... Apakah ini sudah tersambung?"
Suaranya yang seharusnya merdu terdengar agak aneh karena bola kristal yang mereka pakai untuk berkomunikasi bukanlah penghantar suara yang baik.
"Ibunda, terima kasih atas kerja kerasnya"
"Oh... Sudah tersambung yah. Bagus bagus. Jadi, Asterids, bagaimana situasi di sana?"
Asterids lalu menjelaskan kepada Cardinal semua yang terjadi selama dia tidak ada. Dia meringkasnya dengan padat karena ada batasan waktu saat menggunakan bola kristal tersebut.
"Begitu, jadi kerajaan sialan itu akhirnya bergerak yah"
Tampak sedang memikirkan sesuatu, tidak ada seorang pun di dalam ruangan yang berani mengeluarkan suara karena takut akan konsekuensi yang terjadi jika mereka mengganggu konsentrasi Cardinal.
Yah, setidaknya tidak di ruangan ini...
"Nek, cepat bicaranya, tanganku pegal!"
"Sabar, lagian ini salahmu sendiri karena tinggal di tempat terpencil seperti ini!"
Tiba-tiba saja tersebut sebuah suara orang asing yang dengan beraninya berbicara dengan lantang kepada Cardinal.
Hampir semua Penyihir yang ada penasaran akan identitas orang yang punya nyali sebesar itu.
Di antara mereka semua, hanya dua orang yang merasakan kalau suara itu terdengar familiar.
"Tunggu sebentar, kak Lavy? Itu kak Lavy kan?"
"Hm? Oh, Mary, lama tak jumpa! Tante Aster juga, lama tak jumpa!"
Seketika gambar yang ditunjukkan oleh hologram berubah dan menunjukkan sesosok gadis yang wajahnya sangat mirip dengan Rosemary hanya saja terlihat lebih muda.
Sontak semua Penyihir yang ada terkejut akan hal ini.
Mereka semua terkejut akan adanya sosok yang sangat mirip dengan nona muda mereka. Terlebih bagaimana cara dia berinteraksi dengan Asterids dan Rosemary yang tampak sangat akrab.
Selain para Penyihir senior, tidak ada yang mengetahui kalau Cardinal sebenarnya memiliki dua orang putri yang salah satunya telah pergi ke tempat yang jauh. Sehingga sebagian besar Penyihir di Sol Ciel mengira kalau Asterids merupakan putri tunggal dan Rosemary adalah cucu satu-satunya.
"Oh, Lavender, lama tak jumpa. Bagaimana kabar kak Orchid, baik?"
"Ibu? Tenang saja, Ibu baik-baik saja dan penuh semangat seperti biasa"
Seterusnya mereka terus berbincang-bincang tentang apa saja yang telah terjadi. Meski sempat terkejut akan apa yang telah dilalui oleh Lavender, percakapan masih terus berlanjut dengan hangat sampai akhirnya sampai
akhirnya dipotong oleh Cardinal.
"Baik, baik, sudah cukup bicaranya... Kali ini kita akan pergi perang kan? Kalau begitu aku akan segera pulang. Tentu saja Lavender juga akan ikut"
"Tunggu, aku senang tapi kan..."
Tiba-tiba saja sambungan terputus.
Rosemary yang sedari tadi memegang bola kristal tampak bermandikan keringat serta wajahnya tampak pucat.
Tampaknya dia kehabisan Mana untuk tetap menjaga sambungannya.
"Begitu yah, Ibunda dan Lavender akan segera pulang. Kalian, persiapan kamar untuk Lavender. Letaknya tepat di sebelah kamar Rosemary. Cepat laksanakan!"
"Siap!"
Setelah memberikan perintah, Asterids hendak kembali memeriksa dokumen di atas meja hanya untuk menyadari kalau mejanya telah hancur.
Sembari menunggu meja pengganti dibawakan, Asterids bercakap dengan putrinya yang sekarang sedang beristirahat di sampingnya.
"Jadi, bagaimana menurutmu?"
"Tentang kak Lavender?"
Asterids mengangguk.
Rosemary teridam sejenak tampak memikirkan jawaban apa yang harus dia katakan.
"Menurutku, masih tidak bisa dipercaya kakak bisa sampai kesini mengingat sikap bibi Orchid terhadap Penyihir. Tapi aku senang karena akhirnya bisa bersama dengan kakak lagi"
"Begitu... Baguslah"
Sepasang ibu dan anak pun saling bercengkrama sampai akhirnya meja pengganti telah dipasang dan mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
...
"Ha... Teleponan aja kenapa bisa secapek ini sih?"
Bersandar di atas meja dengan lesunya, Lavender tiada hentinya mengutarakan keluhannya akan cara berkomunikasi yang kurang efektif dan memakan banyak biaya.
"Asal kau tahu saja, membutuhkan Mana yang cukup banyak untuk mengaktifkannya dan biasanya hanya dipakai untuk membuat laporan singkat, bukan gosip keluarga"
Tidak memedulikan cucunya yang masih terkapar di atas meja, Cardinal lalu segera kembali ke kamarnya berniat untuk mengepak barang-barang karena dia akan segera pulang.
Tidak lupa dia juga memerintahkan Pelayan dari Lavender, Lif untuk mengepak barang milik Lavender.
Hari telah berlalu dan sekarang pagi telah menjelang.
Tepat di depan Mansion, Cardinal serta Lavender sudah siap berangkat.
(Nature Creation)
Dengan menggunakan sihirnya, Lavender menciptakan sebuah kereta kuda dengan empat roda yang eksteriornya tampak mewah dan kokoh.
Untuk menariknya, dia memanggil 4 ekor kuda abu-abu yang masing-masing dari mereka memiliki 8 buah kaki.
Mereka bernama (Sleipnir).
Keempat (Sleipnir) tersebut Lavender panggil dengan bantuan .
Setelah mengikatkan mereka pada kereta, Cardinal dan Lavender segera masuk ke dalam dan mendapati kalau interiornya cukup nyaman dengan kursi yang terbuat dari kayu serta dudukannya yang empuk serta dilapisi oleh
bulu-bulu yang lembut.
Percy yang bertugas sebagai kusir segera memegang tali kendali dan di sampingnya terdapat Zweite yang bertugas sebagai asistennya.
Tidak lupa, si kembar yang bertugas sebagai pengawal duduk di bagian belakang kereta sambil terus menggoyangkan kaki mereka karena rasa senang karena untuk pertama kalinya mereka akan pergi untuk bepergian dengan jarak yang sangat jauh.
Untuk menjaga rumah, seperti biasa itu diserahkan kepada Lif.
"Master, semoga perjalanan kalian berjalan lancar"
Setelah semua telah siap, kereta pun berpacu ke dalam hutan.
Tentu saja tidak ada yang namanya jalan raya di tengah hutan yang sekaligus juga merupakan sebuah Dungeon.
Tapi entah bagaimana, jalan bergelombang yang hendak mereka lalui tiba-tiba saja menjadi rata serta pohon-pohon yang seharusnya menghalangi mereka secara mengejutkan bergerak sendiri untuk membukakan jalan.
Sayang sekali tidak ada yang menjadi saksi mata akan kejadian yang mistis ini.
Tapi, itu tidak akan berlangsung lama...
...
Tepat di pintu masuk menuju Dungeon, terdapat kerumunan Petualang yang hendak menantang Dungeon Ibis.
Selama ini Petualang tiada hentinya membanjiri Dungeon Ibis.
Alasan mereka beragam, baik itu demi untuk menaikkan level, mencari material, mengejar kotak harta yang tersebar di hutan, atau memiliki ambisi untuk menaklukkan Dungeon baru ini.
Meski dengan banyaknya Petualang yang ada, hanya sedikit yang sukses mengalahkan Boss pertama dan lebih sedikit lagi yang mampu untuk mencapai Boss kedua yang berada di hutan bagian Timur.
Bagi mereka yang kurang beruntung, mereka malah tersesat ke hutan bagian Barat dan harus rela mati dan kehilangan beberapa uang serta Equipment mereka.
Meski hanya satu atau dua Equipment saja yang hilang, tapi mereka tetaplah merugi karena Equipment yang hilang pasti adalah Equipment termahal yang mereka miliki serta yang paling sulit untuk didapatkan.
Dalam beberapa kasus, ada yang secara sengaja tidak membawa uang karena takut hilang jika mereka mati. Akan tetapi, sebagai gantinya mereka malah kehilangan semua Equipment mereka dan hanya ditutupi daun seperti pada
patung di Roma saat mereka hidup kembali.
Sejak saat itu sudah diputuskan kalau tidak membawa uang bukanlah sebuah pilihan.
Kembali ke pintu masuk.
Setelah buka selama sebulan lebih, pintu masuk hutan yang awalnya hanyalah sebuah padang rumput sekarang telah menjelma menjadi pasar dadakan yang dipenuhi oleh kios-kios penjual yang menjual berbagai macam keperluan untuk menjelajahi Dungeon.
Hal ini tentu sudah diketahui oleh Lavender.
Dia sejatinya tidak menyukai ini karena terkesan berantakan. Tapi dengan ajuan Walikota Lambert, Lavender sebagai tuan rumah mendapatkan uang pajak sebesar 10% dari hasil penjualan para pedagang dan kios-kios pun
sudah diatur agar terlihat lebih rapi.
Selain untuk menyenangkan hati Lavender, hal ini sangat menguntungkan bagi Kota Gata karena sekarang terdapat sumber penghasilan baru yang menggerakkan roda perekonomian yang selama ini menurun karena tertutupnya akses menuju Hutan Ibis.
Para penjual senang karena mereka bisa memenuhi meja makan mereka hari itu dan para Petualang dengan senang hati berbelanja untuk bisa meningkatkan peluang selamat mereka di dalam Dungeon.
Semua itu berjalan lancar dan damai sampai akhirnya ada seseorang yang mengganggu mereka.
"Dengarkan dasar sekumpulan orang sesat! Di dalam hutan itu terdapat seorang Penyihir jahat yang menculik dan memangsa anak kecil!"
Yang mengucapkan itu dengan lantang adalah seorang pria gempal yang memakai setelan mahal dan aroma parfum yang menyengat bisa dengan mudah tercium dari badannya yang penuh akan keringat yang tiada hentinya mengalir.
Orang lain yang melihat penampilannya pasti akan segera menyamakannya dengan seekor babi. Terlebih itu adalah jenis babi yang menjijikan.
Bahkan Orc, yang merupakan Mobs berkepala babi pasti akan jijik setelah melihat babi dengan setelan mahal itu.
Babi tersebut adalah Baron Rukkus yang bertanggung jawab akan sebuah desa terpencil di pegunungan tidak jauh dari Kota Gata.
Alasan kenapa orang gunung sepertinya mereka jauh-jauh datang kesini tidak lain adalah untuk mencari masalah.
"Bukalah mata kalian! Kalian telah ditipu! Walikota kota Gata telah bersekongkol dengan Penyihir demi keuntungannya sendiri! Apakah kalian tidak melihat? Equipment kalian telah direnggut, uang kalian telah dicuri.
Kalian pikir ke mana perginya semua itu!? Tentu saja semua uang dan Equipment kalian masuk langsung ke dalam kantong pria busuk itu!"
Semakin lama, semakin banyak orang yang berkerumun untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Namun, tidak ada yang menyadari kalau terdapat seekor burung hantu yang ikut menonton bersama mereka.
Beberapa dari mereka tampak mulai mempercayai perkataannya. Tapi tidak sedikit dari mereka menganggap kalau Baron Rukkus hanya mengada-ngada. Terlebih dengan penampilannya, tidak sedikit atau bahkan bisa dibilang hampir semua Otherworlder yang ada di sana pernah membaca novel yang menggambarkan situasi seperti ini.
Dalam hati mereka meyakini bahwa cepat atau lambat pasti ada orang yang akan muncul dan menampar Baron Rukkus tepat di wajahnya.
"Jika kalian masih tidak percaya, maka dengarkanlah perkataan dari Uskup Sussy! Dengarkanlah perkataan beliau dan mata kalian pasti akan segera terbuka!"
Sembari mengatakan itu, Rukkus menunjuk kepada seorang wanita tua dengan pakaian keagamaan berwarna putih bersih.
Dia adalah Uskup Sussy. Sussy bertugas di gereja di desa tempat dimana Rukkus berkuasa.
Alasan kenapa Sussy bisa berada di tempat terpencil seperti itu meski telah menjabat sebagai seorang Uskup, itu karena dia bukanlah orang baik-baik dan karena itulah dia diasingkan di desa terpencil seperti itu.
Mereka telah berteman sejak lama jadi bisa dibilang mereka itu bersekongkol.
Selain Sussy, Rukkus juga membawa sekitar 30 prajurit pribadinya bersamanya. Mereka bertugas untuk mengawal Rukkus selama kunjungannya kali ini.
Setelah semua mata tertuju kepadanya, Uskup Sussy mulai berbicara...
"Wahai domba tersesat... "Hei, ada kereta kuda keluar dari Dungeon!" ...!?"
Tidak senang karena diganggu, Rukkus dan Sussy melihat ke arah sumber keributan yang telah mengganggu pentas mereka.
Berkat itu mereka tidak bisa berhenti menganga.
Apa yang mereka lihat adalah sebuah kereta kuda yang terlihat mistis melaju dengan kencang dari dalam Dungeon.
Terlihat dua orang duduk di kursi pengemudi.
Satu mengenakan Armor hitam yang mengintimidasi sedangkan di sebelahnya terdapat sesosok wanita yang cantik dan memberikan kesan sebagai kakak perempuan yang ramah.
Jika seseorang melihat ke bagian belakang kereta, mereka pasti akan melihat sepasang anak perempuan kembar identik yang duduk sambil bercanda ria.
Pemandangan itu tentu tidak biasa.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah apa yang menarik kereta kuda tersebut.
Terdapat 4 ekor (Sleipnir) yang menariknya.
Sudah menjadi pengetahuan umum kalau (Sleipnir) adalah kuda khusus keluarga kerajaan atau kerabat mereka. Selain susah untuk mengembangbiakkan mereka, harga mereka yang selangit sudah mampu untuk menguras kantong bangsawan mana pun yang mencoba untuk membelinya.
Dalam kasus Rukkus, bahkan jika dia menyerahkan seluruh harta kekayaan serta menjual wilayahnya sendiri, dia masih tidak akan mampu untuk membeli anakannya sekalipun.
Melihat seseorang memiliki 4 sekaligus, tentu membuatnya iri tidak terkendali.
Tepat sebelum dia membuat sebuah tindakan bodoh, terdengar seseorang meneriakkan sesuatu.
"Hei, lihat! Bukankah itu lambang dari Sol Ciel?!"
Mendengar ini, semua orang lalu fokus ke kereta kuda.
Benar saja, terdapat sebuah lambang matahari yang menjadi ciri khas dari Guild Penyihir paling terkemuka, Sol Ciel.
Mengetahui hal ini, Rukkus menjadi berkeringat deras serta gemetar hebat.
Rukkus memang tidaklah cerdas. Tapi dia juga tidaklah bodoh!
Melihat kereta kuda semewah itu, mengetahui siapa pemiliknya, dan fakta kalau kereta itu keluar dari dalam Dungeon yang dihuni oleh seorang Penyihir sudah lebih dari cukup bagi Rukkus untuk menyatukan semuanya dan
membuatnya takut akan masa depannya.
Lalu, hal yang paling dia takutkan akhirnya terjadi.
Kereta kuda tersebut berhenti tidak jauh dari mereka. Dari dalam, keluar seorang Penyihir dengan rambut ungu gelap dan memiliki kecantikan yang memesona.
Dengan tatapan yang dingin, Penyihir itu berkata...
"Siapa dari kalian yang berani membuat keributan di depan rumahku!!?"