
Berendam di dalam kolam besar yang berisikan air hangat, aku kembali merefleksikan apa saja yang sudah aku alami selama seminggu ini.
Aku yang di bawa pergi oleh Pangeran Kedua dari Narsist Kingdom, Argenti ol Narsist. Kini telah hidup bersamanya selama seminggu lamanya.
Kalau di tanya bagaimana perasaanku, maka aku tidak akan bisa mengatakan kalau aku tidak merasa nyaman.
Harus aku akui, hidup di sini bisa dikatakan sebagai kehidupan yang paling nyaman yang pernah aku alami.
Tidur di kasur yang empuk, makan makanan yang sedap hingga kenyang, mengenakan gaun yang cantik setiap harinya, menerima perawatan kecantikan secara menyeluruh, hidup di rumah yang mewah sambil dilayani oleh para Pelayan yang setia, hingga sekarang aku mandi di air hangat di dalam bak mandi yang luasnya setara dengan sebuah kolam.
Yah, meski setiap malamnya aku harus menemani Pangeran Argenti, tapi aku menganggapnya sebagai ajang untuk menaikkan Skill Succubusku. Yah, ini untuk menaikkan level Skillku.
Puas mandi, aku pun keluar dari dalam air dan berjalan menuju ruangan lain yang khusus digunakan untuk mengeringkan badan sekaligus untuk berganti baju.
Sudah menungguku adalah seorang gadis kecil dari ras Arachne yang menggunakan seragam Maid yang di rancang khusus untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang menyerupai Manusia.
Namanya adalah Aranea. Terkecuali tubuh laba-laba miliknya, penampilannya sama persis seperti seorang gadis yang berumur tidak lebih dari 12 tahun. Meski begitu, umurnya yang sebenarnya adalah satu tahun lebih tua
dariku.
Duduk di depan cermin, aku membiarkan Aranea membantu mengeringkan diriku dengan menggunakan handuk yang lembut. Tangannya yang kecil dengan teliti mengelap setiap inci tubuhku. Menggunakan handuk yang lebih kecil, Aranea lalu membersihkan sayap dan ekor milikku dengan penuh kehati-hatian.
Tidak pernah aku sangka kalau aku bisa terbiasa diperlakukan selayaknya tuan putri hanya dalam kurun waktu seminggu.
Selesai mengeringkan badanku, Aranea lanjut membantuku untuk berpakaian.
"Apa yang ingin Nona kenakan hari ini?"
Sambil menunjuk lemari penuh pakaian, aku kembali di paksa untuk memilih pakaianku sendiri.
Sebenarnya aku sendiri yang meminta ini. Itu dikarenakan pada awalnya mereka akan langsung memberikanku pakaian tanpa menerima persetujuan dariku. Beberapa memang bagus, tapi kebanyakan tidaklah sesuai dengan seleraku sehingga aku mulai protes agar mereka membiarkanku untuk memilih pakaianku sendiri.
"Aku ingin mengenakan yang ini"
"Baiklah"
Mengambil gaun yang telah aku tunjuk, Aranea lalu membantuku untuk mengenakannya.
Dengan terampil Aranea membantu memasangkan gaun yang telah aku pilih. Menggunakan tangan kecilnya, Aranea membantu untuk memasukkan sayap dan ekorku pada lubang yang telah di buat agar sayap dan ekorku bisa menyembul keluar dari gaun yang aku pilih.
Hanya demi diriku saja, semua gaun dan pakaian yang disediakan untukku memiliki lubang di bagian belakangnya yang telah disesuaikan untuk sayap dan ekorku.
Walau seminggu sudah berlalu, tapi aku masih merasa tidak nyaman menunjukkan sayap dan ekorku para semua orang. Terlebih sayapku yang baru-baru ini aku dapatkan.
"Hari ini adalah hari terakhirmu, kan?" Ucap Aranea seolah kesepian.
Itu benar, aku hanya akan hidup di mansion ini selama seminggu sebelum akhirnya aku akan dikembalikan kepada Guru... Yang saat ini mengaku sebagai Kakakku.
"Iya, setelah ini kau tidak akan perlu lagi memanggilku sebagai Nona"
"Hahaha... Jika saja Nona memilih untuk tetap tinggal, kita mungkin akan menjadi rekan kerja. Dengan itu aku bisa memanggilmu sebagai Selene"
Aku hampir saja lupa. Semua Maid yang bekerja di sini dulunya juga adalah gadis yang Pangeran Argenti bawa ke sini sama sepertiku. Mereka yang tidak ingin kembali ke tempat mereka berasal dan ingin tetap tinggal akan mulai bekerja sebagai Maid.
Tentu saja Aranea juga seperti itu.
"Pangeran akan menjadi sedih jika Nona pergi. Mengingat Pangeran sangat menyayangi Nona"
"Kau terlalu menyanjung, bukankah Pangeran juga menyayangimu?"
"Itu tidak benar. Saat aku dulu aku cuma tidur berdua bersamanya selama tiga malam saja. Sisanya aku harus berbagi dengan Maid lainnya yang juga menginginkan kasih sayang dari Pangeran"
Itu... Aku baru mendengarnya.
"Bahkan kemarin saja saat Kepala Maid, Ovis. Ingin ikut tidur bertiga. Pangeran menolak keras dan melarang semua Pelayan untuk mengganggu saat bersama kalian"
"Kau serius?"
Ini benar-benar baru bagiku.
Awalnya aku pikir semua orang mendapatkan perlakuan yang sama. Ternyata hanya aku yang diperlakukan berbeda dari yang lain.
"Walau ini adalah hari terakhir Nona, tapi Nona harus tetap waspada. Aku sih tidak apa-apa karena kami Arachne tidak punya konsep pasangan, tapi para Maid yang lain sudah menaruh rasa iri kepada Nona. Terlebih Kepala Maid, walau beliau tampak tenang. Tapi sebenarnya dia lah yang paling cemburuan di antara semua Maid yang ada di sini"
"Terima kasih atas peringatannya. Tapi karena ini adalah hari terakhirku, kurasa mereka akan senang karena aku akhirnya akan pergi dari sini"
"Haha, kurasa itu benar"
Selesai berpakaian, dengan Aranea yang berjalan mendampingiku aku berjalan menyusuri lorong megah mansion ini yang sudah terasa familiar.
Menghabiskan hidupku hidup dalam kesederhanaan, diriku pada tahun lalu tidak akan pernah menyangka kalau aku bukan hanya menginjakkan kakiku di tempat semewah ini, tapi juga sampai hidup di dalamnya selama seminggu penuh.
"Oh, Tiara"
Dari kejauhan sudah terlihat sesosok Maid lainnya yang sedang bekerja. Berbeda dari Maid yang lain, Maid yang satu ini memiliki tubuh besar setinggi 2 Meter lebih dengan sepasang tanduk berwarna merah darah di atas kepalanya.
Namanya adalah Tiara. Dia adalah seorang Half-Devil sama sepertiku yang berasal dari ras Minotaur.
"Nona Selene! Senang bisa bertemu denganmu sebelum kau berangkat"
Ucapnya dengan senang sambil masih memegang dua koper besar di masing-masing tangannya.
Sebagai Half-Devil yang dianugerahi oleh kekuatan fisik yang luar biasa, membuat Tiara sering kali mendapatkan pekerjaan kasar yang tidak jarang pekerjaan itu seharusnya dikerjakan oleh banyak orang dan bukan dikerjakan sendirian.
Melihatnya mengangkat sebuah batu besar sendirian membuatku terkesan. Yang lebih membuatku terkesan lagi adalah fakta kalau Pangeran Argenti pernah tidur dengan Tiara.
Dan kali ini, tampaknya dia mendapatkan tugas untuk mengangkut banyak sekali koper dan meletakkannya ke atas kereta kuda.
Aku tidak ingin menebak milik siapa koper-koper itu sebenarnya.
"Sungguh, Pangeran tampaknya benar-benar sayang kepadamu sampai-sampai Pangeran memberikanmu hadiah sebanyak ini"
"Benar sekali, bahkan gadis-gadis lainnya palingan hanya mendapatkan selembar gaun sebagai cinderamata"
Oh, ya ampun. Bagaimana bisa semua menjadi seperti ini?
Di saat aku tidak berani untuk menghitung berapa banyak sebenarnya koper yang sedang dipindahkan, seorang Maid dari suku Domba berdarah campuran tiba menghampiri kami.
Dia adalah Maid yang sama yang aku temui pertama kali di hari pertamaku di Mansion ini.
Kepala Maid, Ovis.
"Nona Selene, Tuan Muda sudah menunggu"
Berpamitan dengan Tiara yang langsung kembali bekerja, Aku berjalan mengikuti Ovis menuju ruang kerja milik Pangeran Argenti.
Sesampainya di sana hanya aku yang diperbolehkan masuk. Ovis dan Aranea sama-sama di suruh untuk menunggu di luar. Sesuai dengan yang Aranea katakan sebelumnya, aku bisa merasakan perasaan permusuhan dari Ovis yang dengan profesionalismenya selalu memasang muka yang ramah senyum.
Masuk ke dalam, aku mendapati Pangeran Argenti duduk di balik meja kerjanya sambil mengenakan setelan yang jauh lebih mewah dari yang biasanya.
"Selene sayang, senang bisa melihat wajahmu kembali"
Kembali mendapatkan pujian darinya, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi karena selama seminggu ini hanya itu saja yang dia lemparkan kepadaku.
"Apakah alasan kau memanggilku kesini hanya untuk melihat wajahku untuk yang terakhir kalinya?"
"Janganlah kau berkata begitu wahai sayangku, mungkin benar kalau hari ini kau akan kembali kepada Keluargamu. Tapi hari ini tidak akan menjadi hari terakhir kita bertemu"
Pangeran Argenti lalu mengisyaratkan kepadaku untuk duduk di atas sofa empuk yang sudah di sediakan. Sesaat setelah pantatku menyentuh permukaan sofa yang lembut, Pangeran Argenti sontak bangkit dari tempat awalnya dia duduk untuk kembali duduk tepat di sampingku dengan tangannya yang merangkulku dari belakang.
Sudah terbiasa dengan hal ini, aku tidak lagi malu ketika bibir kami saling bertemu saat kami saling bertukar kecupan.
"Jadi, apa sebenarnya alasan kau memanggilku kemari?"
"Jangan terburu-buru seperti itu... Yah, apakah kau sudah mendengar berita mengenai Pertempuran di perbatasan?"
"Apakah yang kau maksud itu yang ada di dataran Anemo?"
"Bukan, pasukan yang ada di sana sudah lama ditarik mundur. Yang aku maksud itu pertempuran yang baru-baru ini terjadi di perbatasan antara Narsist Kingdom dan Sanguine Kingdom"
Baiklah, itu adalah sebuah berita baru bagiku.
Dan dengan itu Pangeran Argenti langsung menjelaskan kepadaku apa saja yang terjadi di medan pertempuran dengan sebuah senyuman lebar di wajahnya.
Dari pihak Narsist Kingdom yang kehilangan 10.000 prajuritnya pada hari pertama, keberadaan sebuah benteng kayu di dalam hutan, hingga sampai di mana kedua pasukan sampai detik ini masih saling bertempur di benteng
tersebut.
"Aku bisa membayangkan bagaimana gugupnya Auster sekarang. Dia yang adalah yang termuda dari keempat Jenderal pasti akan takut kena marah karena sampai sekarang masih belum bisa memberikan hasil yang nyata kepada Ayahanda"
"Kau terdengar cukup senang mengingat ini adalah kegagalan dari Jenderal dari Kerajaanmu sendiri"
Atas perkataanku, Pangeran Argenti hanya tersenyum.
Tok... Tok... Tok...
Meski sedikit kesal karena waktu kami 'bersama' di ganggu, Pangeran Argenti tetap mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk.
"Permisi..." yang masuk ke dalam adalah salah satu Pelayan Guru, Zweite yang ikut kesini bersamaku sebagai Pengawal sekaligus pengawas. Zweite yang masih mampu terhubung dengan Guru juga bertugas untuk memberikan kabar terbaru perihal keadaanku.
Jujur, awalnya aku mengira Guru akan datang menyelamatkanku ketika mengetahui kalau aku 'Diculik' oleh Pangeran Argenti. Tapi faktanya aku malah mendapatkan anjuran untuk terus menggoda Pangeran Argenti dan membuatnya berpihak kepada kami.
"Permisi, Pangeran Argenti, Nona Selene. Ini sudah waktunya"
Ah, jadi sudah waktunya bagiku untuk pergi dari sini yah.
Pangeran Argenti yang mendengar ini seketika tampak kesepian. Karena ini akan menjadi yang terakhir, maka aku akan memberikannya hadiah berupa ciuman terakhir sebagai tanda dari perpisahan kami. Karena ini akan menjadi
yang terakhir, maka aku akan memaafkannya karena masih sempat-sempatnya meremas buah dadaku.
Setelah memastikan kalau dia sudah puas, aku pun beranjak pergi bersama Zweite menuju kereta yang sudah disediakan.
Sebelum berangkat aku juga menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Aranea dan Tiara yang sudah menemaniku selama seminggu aku tinggal di sini.
Tidak luput aku juga merasakan aura kebahagiaan yang dipancarkan oleh para Maid lainnya terutama dari Ovis ketika mereka melambaikan tangan mereka untuk menghantarkanku pergi.
Pada akhirnya, saat yang di tunggu-tunggu pun tiba.
"Baiklah, mari kita berangkat"
...
..
.
Di dalam lantai khusus VIP di Hotel Lost Peacock, aku duduk di dalam ruangan yang di desain khusus sebagai ruang pertemuan para tamu-tamu penting.
Berdiri di belakangku adalah Percy dan Victoria yang berperan sebagai Pelayan sekaligus pengawalku. Duduk bersama di sampingku adalah Luna yang telah kembali setelah seminggu lamanya.
Melihat kondisinya yang sehat, mengenakan gaun mewah yang cantik, serta tercium bau wangi khas bunga dari tubuhnya, bisa di anggap kalau dia benar-benar diperlakukan dengan sangat baik di sana.
Penampilannya yang sama seperti Manusia mengatakan kalau dia masih tidak lupa untuk menyamarkan penampilannya dengan menggunakan [Illusion Magic].
Sekarang... Untuk orang yang duduk di hadapan kami...
"Terima kasih karena selama ini telah merawat adik Saya yang tercinta, Wahai Pangeran Argenti"
"Heh, justru dirikulah yang seharusnya berterima kasih karena telah secara sukarela meminjamkan kepadaku 'Adikmu' yang sangat manis dan menawan itu, Nona Malika Verloren"
Berdiri tegak sambil sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda ucapan terima kasihnya adalah Pangeran Kedua dari Narsist Kingdom, Argenti ol Narsist.
Datang kemari untuk 'mengembalikan' Luna kepadaku, terlihat jelas kalau dia juga punya agenda lain mengingat dia tahu atau setidaknya curiga kalau Luna itu sebenarnya memang bukan adikku.
Setelah saling bertukar salam, kami diam untuk beberapa saat karena Pelayan Hotel sedang sibuk menghidangkan minuman serta camilan di atas meja.
Melihat kembali, Pangeran Argenti hanya datang sambil membawa dua orang Maid yang sama-sama menggunakan topeng yang menutupi seluruh wajah mereka. Tidak sampai situ saja, mereka berdua bahkan sampai mengenakan kerudung yang menyembunyikan rambut mereka.
Setelah Pelayan Hotel itu pergi, barulah kami bisa saling berbincang.
"Pangeran Argenti, sungguh senang sekali setelah mengetahui kalau Adik saya bisa mendapatkan kehormatan untuk tinggal seatap bersama Pangeran selama seminggu lamanya. Sekali lagi, Saya mengucapkan terima kasih"
"Sekali lagi, justru diriku yang seharusnya berterima kasih. Dari semua gadis yang pernah aku dekap sebelumnya, Selene lah satu-satunya yang berhasil menggerakkan hatiku... Karena itulah"
Merogoh sesuatu dari saku bajunya, Pangeran Argenti lalu meletakkannya ke atas meja.
Itu adalah sebuah kotak kecil yang berlapis emas dan berhiaskan permata warna-warni. Aku ingatkan sekali lagi, itu baru kotaknya.
Dengan sebuah gerakan halus, Pangeran Argenti lalu membuka penutup kotak tersebut dan memperlihatkan isinya.
Itu adalah sebuah cincin.
Sebuah cincin dengan desain yang sederhana namun cincin itu seutuhnya terbuat dari berlian murni.
"Meski sampai sekarang aku tetap tidak tahu siapa nama aslinya, dan apakah kau itu memang benar adalah kerabatnya. Tolong, izinkan aku untuk meminang Selene dan mengangkatnya sebagai Istri utamaku dan Istriku satu-satunya"
Mengatakan itu dengan ekspresi yang sangat, sangat, sangat serius. Bukan hanya Luna yang terkejut, tapi juga kedua Maid yang menemaninya juga tampak tidak mempercayai apa yang baru saja Pangeran Argenti katakan.
Terlebih Maid yang berada di samping kirinya, Maid itu tampak yang paling syok setelah mendengar apa yang Pangeran Argenti ucapkan.
Karena Pangeran Argenti tampak sangat serius akan keputusannya ini, aku pun juga akan menyambutnya dengan serius.
Melepaskan topeng yang menutupi wajahku, aku juga menggunakan kekuatanku sendiri untuk membatalkan efek dari [Illusion Magic] yang sebelumnya telah diterapkan kepadaku.
Hal ini membuat fitur dari ras Iblis (Demon) yang ada pada diriku terpampang jelas di hadapan Pangeran Argenti.
"Pertama, saya mohon maaf karena apa yang akan saya katakan selanjutnya mungkin akan terkesan kasar. Pangeran Argenti, bukankah Anda sadar benar kalau kami berdua bukanlah berasal dari ras Manusia?"
Pangeran Argenti pun mengangguk "Aku tahu hal itu. Dan aku menerimanya dengan sepenuh hatiku".
"Baiklah, kalau begitu bukankah Anda juga sadar benar kalau Kerajaan ini, Kerajaan yang Keluarga Anda perintah dan kuasai. Sangat membenci ras selain Manusia?"
Membenarkan posisi duduknya, Pangeran Argenti kini tampak mengeluarkan sebuah aura. Aura khas yang membedakannya dari orang biasa.
Aura sang penguasa.
"Aku tahu dan sadar akan hal itu. Karena itulah aku berniat untuk menggunakan semua yang aku miliki demi mengubah perspektif dari warga Kerajaan ini yang telah terbutakan oleh kecantikan dan keindahan yang tanpa mereka sadari malah membuat mereka membusuk dari dalam"
"Sebuah mimpi yang luas biasa dan patut di puji. Dan apa saja yang rela kau lakukan demi menggapai mimpi tersebut?"
"Apa saja. Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi pengkhianat bagi Kerajaan ini"
Aku tidak bisa melihat adanya dusta dari matanya. Malahan aku melihat sebuah determinasi yang luar biasa yang tidak mungkin bisa kau temukan pada Pangeran pada umumnya.
Hanya untuk memastikan...
"Apa saja? Apa saja termasuk melumuri tanganmu dengan darah dari rakyatmu sendiri? Termasuk darah dari kerabatmu sendiri?"
Pangeran Argenti hanya menjawab singkat... "Ya" ...namun jawabannya itu dipenuhi oleh tekad yang kuat.
Melihat ini, aku menjadi yakin kalau dia benar-benar serius.
Sekali lagi, hanya untuk memastikan...
"Selene, bagaimana dia memperlakukanmu selama ini?"
Sempat terkejut karena tiba-tiba ditanyai, Luna yang tampaknya sudah semakin dewasa dapat dengan cepat menenangkan dirinya dan menjawab pertanyaan dariku dengan lantang.
"Pangeran Argenti memperlakukanku dengan sangat baik dan selalu menyiramiku dengan kasih sayang yang besar. Saking besarnya sampai-sampai Maid yang lain dibuat iri karenanya"
Melirik ke arah Pangeran Argenti, bisa terlihat kalau dia sedang sumringah setelah akhirnya bisa tahu perasaan Luna yang sebenarnya.
"Pangeran Argenti juga bukanlah seperti penduduk Narsist Kingdom yang lainnya. Dia tidaklah bersikap rasis atau merendahkan mereka yang tidak 'cantik'. Bahkan Pangeran Narsist sampai rela mengeluarkan dana pribadinya demi bisa membuatkan suaka sekaligus memberikan perlindungan kepada ras-ras lainnya yang tersiksa karena diskriminasi dari Kerajaan ini"
Mendengar perkataan Luna sudah lebih dari cukup untuk meyakinkanku untuk membuat keputusan ini.
Meski aku masih tidak yakin apakah Pangeran Argenti itu benar-benar serius atau seorang pembohong ulung yang menunggu kesempatan emas untuk mengeksposku dan menusukku dari belakang.
Meski begitu, aku tetap tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bisa memiliki sekutu terkuat dari dalam Narsist Kingdom.
"Baiklah, sebelum diriku bisa memberikan jawabanku, bolehkan engkau memperkenalkan dirimu? Wahai Tuan Putri?"