
Dari Kota Pelabuhan yang berada di utara Narsist Kingdom kami bergerak menuju ke arah timur. Sepanjang jalan kami telah menghancurkan setidaknya 3 reruntuhan yang menyuplai item-item terkutuk kepada pasukan Narsist Kingdom.
Karena kami bergerak secara diam-diam, mudah bagi kami untuk menyingkirkan pasukan yang menjaga reruntuhan tersebut tanpa terdeteksi.
Selanjutnya kami pun membakar hingga meledakkan reruntuhan tersebut hingga tidak ada lagi yang tersisa darinya.
Tentu saja pasukan yang aku pimpin bukanlah satu-satunya pasukan yang dikirim untuk menghancurkan reruntuhan. Di saat kami menuju arah timur, secara bersamaan ada satu pasukan lagi yang menuju ke arah barat yang di pimpin oleh seorang Kapten yang adalah bawahan langsung dari Pangeran Draco dari Drakon Kingdom.
"Kapten, reruntuhan keempat sudah di depan mata"
Mengambil teropong dari bawahanku, aku memantau sebuah kompleks reruntuhan yang ada di depan.
Karena posisi kami sekarang berada tepat di atas tebing, mudah bagiku untuk mengetahui luas sebenarnya dari reruntuhan itu.
Itu adalah sebuah lubang menganga lebar di atas tanah terbuka. Aku perkirakan diameternya sekitar 8 sampai 10 km.
Jika reruntuhan yang sebelumnya memiliki wujud seperti kota atau bahkan pabrik yang terbengkalai, reruntuhan yang satu ini lebih terlihat seperti sebuah area tambang yang aku yakin kalau bagian di bawah tanah jauh lebih besar dan lebih kompleks ketimbang reruntuhan yang berada di atas tanah.
"Bagaimana hasil pengamatan dari Familiar?"
"Lapor, Ahli Sihir (Mage) kita mengatakan kalau mereka menemukan beberapa pintu masuk yang mengarah ke area tambang. Semua item terkutuk berasal dari dalam sana. Jumlah penjaga yang ada di luar kurang lebih sebanyak dua lusin. Sedangkan yang mungkin berada di dalam tambang tidak diketahui."
"Bagus, lalu berapa banyak peledak yang masih tersisa?"
"Lapor, peledak yang ada masih sebanyak 3 \ ukuran sedang"
"Baiklah, selagi tim pertama mengalihkan perhatian para penjaga, tim kedua dan ketiga bertugas untuk memasang peledak pada setiap pintu masuk ke arah tambang. Pastikan untuk mengubur mereka semua ke dalam tanah"
"Siap!"
Mengikuti arahan dariku, kami pun berpisah menjadi tiga tim.
Tim pertama yang aku pimpin segera menuju ke arah pintu masuk sementara tim kedua dan ketiga bergerak secara diam-diam ke arah belakang.
Untungnya tidak ada pagar pembatas di sekitar area tambang. Sehingga tim kedua dan ketiga bisa dengan mudah menyelinap dengan bantuan gelapnya malam. Sedangkan tim pertama yang aku pimpin akan tetap menyembunyikan keberadaan kami sampai kami tiba tepat di depan pintu masuk yang hanya dijaga oleh pos penjaga sederhana.
Setelah semua tim berada di posisi masing-masing, operasi pun dimulai.
(Fire Burst) (Fire Pillar)
Para Ahli Sihir (Mage) yang berada di timku mulai menembakkan sihir mereka ke arah pos penjaga. Sebuah ledakan dan pilar api menghiasi malam yang gelap. Karena aksi kami yang mencolok, semua orang yang ada di tambang pun sontak menjadi ribut.
"Serangan musuh!"
"Cepat cari mereka!"
Tampaknya mereka masih belum menyadari keberadaan kami. Bagus, mari kita buat lebih meriah.
"Jangan berhenti, terus tembak!"
(Flame Missle)
Atas perintahku total lima misil api ditembakkan yang meliuk-liuk di udara mencari targetnya. Salah satu Ahli Sihir (Mage) lawan bergerak cepat dan berhasil menjatuhkan satu misil api dan membuatnya meledak di udara. Meski begitu, masih ada empat misil lain.
Duuuarrr...!!!
Ledakan besar kembali mewarnai malam yang indah ini.
Berkat rentetan serangan yang mencolok ini, keberadaan kami akhirnya diketahui oleh pihak musuh.
"Itu mereka!"
"Cepat! Habisi para penyusup itu!"
Ah, jadi orang yang berisik itu adalah pimpinan mereka.
"Tarik pedang kalian!"
Menghunuskan Rapier yang berada di pinggangku, aku membawa pasukanku untuk menyerbu musuh dari depan.
"Serang!"
"""Aaaa...!!!"""
Tidak butuh waktu lama bagi kedua pasukan untuk saling beradu. Di tengah-tengah kekacauan yang terjadi aku menyelinap tanpa ketahuan dan menuju langsung ke arah orang yang berteriak tadi.
"Apa..."
Belum sempat dia bertindak, lehernya sudah aku tusuk hingga membuatnya tidak lagi bisa bicara. Mencabut Rapierku, aroma darah yang menyengat mulai merangsang hidungku. Menahan nafsu makan yang mulai bergejolak, aku membiarkan tubuhnya terjatuh ke atas tanah sambil bersimbah darah.
Bagus, dengan ini tidak ada lagi yang memimpin mereka.
Setelah menghabisi dua orang lainnya yang berusaha menyerangku, aku kembali ke garis belakang yang adalah posisi yang paling aman.
Lebih banyak dan lebih banyak lagi pasukan musuh yang mulai berdatangan. Di saat situasi menjadi semakin kacau, saat yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Booom...! Booom....! Booom...!
Tiga ledakan saling bersahutan dari kejauhan. Melihat asap hitam yang membumbung tinggi di langit malam, aku pun tersenyum puas.
"Mundur!"
Tidak ada lagi alasan bagi kami untuk berada di sini. Membiarkan para Ahli Sihir (Mage) menggunakan (Fire Wall) untuk menutupi pelarian kami, aku pun segera membawa pasukanku pergi dari sini.
...
Sudah seminggu semenjak kejadian itu.
Total kami telah sukses menjatuhkan 10 reruntuhan dari yang besar hingga yang kecil. Dan sekarang, tidak jauh dari kami adalah reruntuhan terakhir yang berada di sisi paling Timur Narsist Kingdom.
"Itu sebuah kastil kan?"
"Tidak salah lagi, itu adalah sebuah kastil"
"Apakah kau yakin kita tidak salah koordinat dan bukannya reruntuhan tapi kita malah menghampiri benteng musuh?"
"Aku sudah mengeceknya berkali-kali, memang di sana tempatnya"
Jadi bukan hanya berwujud seperti pabrik atau bahkan tambang. Reruntuhan kuno mereka juga ada yang berbentuk sebuah kastil.
Menggunakan teropong, aku mendapati kalau kastil itu sangat di jaga ketat. Bahkan dari luar saja aku sudah menemukan setidaknya seratus prajurit yang berjaga di sana. Dengan tidak diketahuinya berapa jumlah pasti prajurit yang ada, aku tidak berani untuk melancarkan serangan yang mencolok seperti yang sebelum-sebelumnya.
"Apakah kau menemukan jalur yang tidak terjaga?"
"Sedang di usahakan. Ahli Sihir (Mage) kita sedang mengirimkan Familiar untuk melihat sekeliling kastil"
Baru juga dibicarakan, orang yang kami sebut akhirnya datang juga. Namun apa yang dia bawakan bukanlah sebuah kabar baik.
"Lapor, Familiar yang aku kirim ditembak jatuh pada jarak 300 meter dari kastil"
Tch, tidak bagus yah.
"Mundur, kita lewati dulu reruntuhan yang satu ini"
Membawa pasukanku pergi, aku baru akan kembali setelah aku mendapatkan lebih banyak informasi. Sementara itu, aku akan menghancurkan lebih banyak reruntuhan yang lain.
...
Sementara Allucard dan yang lain mulai pergi menjauhi reruntuhan yang berwujud kastil itu, orang yang menghuni kastil itu tampak tidak senang.
"Mengecewakan"
Setelah berhari-hari menunggu, apa yang dia tunggu malah pergi menjauh setelah menyaksikan kastil itu dari jauh.
"Apakah aku harus mengurangi jumlah penjaga?"
Merapikan rambut panjangnya yang berwarna merah seperti bara api, Oriens mengambil alat komunikasi yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Perhatian kepada semua Reruntuhan di sekitar Kastil Matahari, Penyusup kemungkinan akan menuju ke arah kalian. Harap selalu waspada"
Meletakkan kembali alat komunikasi yang berwujud seperti papan kristal itu ke atas meja, Oriens menghela nafas dengan berat.
Sang Jenderal Matahari dari Timur, Oriens El Orientalis.
Karena maraknya laporan kalau situs reruntuhan yang menjadi pemasok item kepada Narsist Kingdom telah hancur atau bahkan diambil alih oleh musuh, Yang Mulia lalu memerintahkannya untuk menjaga reruntuhan yang tersisa
sementara rekannya, Sang Jenderal Angin dari Utara, Borreas El Borras bertugas untuk mengambil alih reruntuhan yang telah jatuh ke tangan musuh.
Bersama dengan pasukannya, Oriens secara pribadi menjaga kastil ini yang merupakan reruntuhan dengan wujud paling indah dan yang paling pantas untuknya. Sementara itu Kapten yang berada di bawah perintahnya dia suruh untuk menjaga reruntuhan lainnya.
Sedangkan untuk laporan lain yang kini sudah tampak kumal karena sudah berkali-kali dia baca.
"Aku masih tidak bisa percaya kalau Occidens dan Auster telah gugur"
Menyebutkan dua nama rekannya yang telah gugur dalam perang, ekspresi Oriens menjadi suram.
Empat Jenderal Besar bukanlah sebuah gelar yang bisa di anggap enteng.
Untuk mendapatkannya kau harus menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Bahkan untuk Oriens sendiri saja harus berusaha keras berlatih pedang sejak dini serta tidak lupa untuk mengasah kemampuannya setiap hari barulah
dia bisa mendapatkan gelar ini.
Bahkan setelah mendapatkan gelar ini, dia tetap tidak bisa lengah.
Banyak orang yang mengincar posisinya dan tidak berhenti untuk selalu berpikir bagaimana caranya mereka menurunkannya dari jabatannya yang sekarang.
Terlebih sebagai satu-satunya Jenderal Wanita dari Keempat Jenderal Besar. Tidak terhitung berapa banyak surat lamaran yang dilemparkan ke wajahnya. Tentu saja dia menolak semua lamaran itu karena dia tahu kalau pria yang
melamarnya tidak lebih dari predator yang mengincar posisinya.
Meski tujuan awalnya mengambil karir di bidang militer adalah agar mencegahnya untuk menikahi pria aneh yang tidak dia kenal, entah mengapa dia malah terus naik pangkat hingga menjadi salah satu dari Empat Jenderal Besar yang malah membuat semakin banyak pria yang berkerumun kepadanya.
Akan tetapi, usianya yang sudah hampir mencapai kepala tiga mencegahnya untuk selalu menolak lamaran yang datang kepadanya. Tekanan dari keluarganya saja sudah cukup untuk membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
Setelah Misi ini selesai Oriens pasti akan mendapati keluarganya di rumah akan mengenalkan kepadanya sesosok lelaki yang mungkin saja tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Aku ingin sekali mengulur-ulur Misi ini, tapi Yang Mulia pasti tidak akan mengizinkannya"
Tidak seperti warga Narsist Kingdom yang lain, kesetiaannya kepada Kerajaannya terbilang dangkal dan hampir tidak ada. Bahkan jika ada kesempatan Oriens tidak akan ragu untuk pindah ke Kerajaan lain yang jauh lebih bebas dan jauh lebih 'Normal' dari Kerajaan tempat dia dilahirkan ini.
Menyandarkan punggungnya pada kursi yang mewah, Oriens menghela nafas dalam-dalam berharap kalau Misi ini akan berlangsung sangat lama.
...
Seminggu telah berlalu semenjak pertama kali kami mendaratkan pandangan kami terhadap reruntuhan kastil itu.
Sejak saat itu kami sudah menyambangi reruntuhan lainnya yang berada di sekitar kastil dan menemukan kalau mereka juga dijaga dengan sangat ketat. Sudah tidak perlu disebutkan lagi kalau ini adalah tindakan yang Narsist Kingdom ambil setelah tahu kalau ada penyusup di wilayah Kerajaan mereka yang datang untuk membuat masalah.
Aku bahkan juga telah mendapatkan kabar kalau pasukan yang di pimpin oleh orang kepercayaan Pangeran Draco saat ini terpaksa untuk mundur setelah mereka berhadapan dengan salah satu dari Empat Jenderal Besar dari
Narsist Kingdom.
Meski namanya adalah Empat Jenderal Besar, tapi jumlah mereka sekarang hanya ada setengahnya karena dua di antara mereka telah gugur di medan perang.
Walau kini mereka hanya ada dua, tapi kekuatan mereka tetap tidak boleh diremehkan. Bahkan dari info yang aku dapat, salah satu Jenderal yang gugur di medan perang sempat berubah menjadi sesosok Naga dari air dan
membuat pasukan Aliansi menjadi kewalahan.
Dan orang kepercayaan Pangeran Draco sampai dipukul mundur oleh salah satu Jenderal yang tersisa tentu membuatku harus waspada akan keberadaan mereka.
Terlebih, sekarang aku harus berhadapan dengan salah satu dari mereka.
Total ada enam reruntuhan yang mengitari reruntuhan kastil. Empat di antaranya sudah berhasil kami hancurkan dengan susah payah dan kami juga telah sukses mengorek informasi dari prajurit yang ada.
Reruntuhan berbentuk kastil, yang mereka sebut sebagai Kastil Matahari kabarnya di jaga langsung oleh salah satu dari Empat Jenderal Besar. Jenderal Matahari dari Timur, Oriens El Orientalis.
Sebagai satu-satunya Jenderal Wanita di Empat Jenderal Besar, reputasinya tentu tidaklah sedikit.
Kabar mengenai kecantikannya adalah yang selalu pertama kali aku dengar dari prajurit yang aku interogasi. Kabar lainnya adalah mengenai kemampuan berpedangnya yang katanya membuatnya mampu membelah sebuah batu besar hanya dengan satu ayunan.
Dan itu berhasil dia capai hanya dengan kemampuan pedangnya saja tanpa adanya sihir yang bekerja.
Tidak peduli seberapa kasar aku menginterogasi mereka, hanya sebanyak itu informasi yang aku dapatkan.
Entah karena mereka memang adalah prajurit yang setia atau Jenderal Oriens hanya memiliki reputasi sebanyak itu. Meski aku memang bilang kalau dia punya banyak reputasi tapi itu hanya sebatas pada parasnya saja.
Informasi mengenai keberhasilannya di medan perang terhitung sedikit atau bahkan nihil.
Meski begitu, aku tetap tidak boleh meremehkannya.
"Tim pertama, maju"
Memanfaatkan malam yang gelap, kami bergerak dalam bayang-bayang menghindari pandangan para penjaga. Pada saat kami akhirnya mencapai dalam radius 100 meter, kami mulai memperlambat laju kami. Melihat ke depan, jumlah penjaga yang berjaga terlihat kurang dari setengah yang kami lihat seminggu yang lalu.
Apakah mereka dikirim ke reruntuhan lain, atau ini adalah sebuah jebakan.
Aku tidak tahu itu dan walau aku tahu sekalipun, aku tetap tidak punya pilihan lain selain untuk tetap maju.
Melaju secara perlahan dan hati-hati, kami akhirnya berada kurang dari 10 meter dari dinding kastil. Memberikan perintah, salah satu Ahli Sihir (Mage) kami pun mulai menggunakan (Aero Control) untuk memanipulasi angin dan sukses meniup semua obor dan lentera yang menyala.
"Penyusup!"
Dengan semua pencahayaan yang tiba-tiba saja padam, tentu saja ini akan membuat mereka menjadi waspada. Memanfaatkan situasi ini, kami segera mempercepat laju kami untuk bisa masuk ke dalam area kastil.
Dalam situasi yang gelap ini, tentu saja ada penjaga yang tidak tinggal diam saja. Tidak sedikit dari mereka yang langsung menggunakan [Light Magic] dan [Fire Magic] agar mereka bisa melihat sekitar. Tapi penjaga yang berani melakukan itu segera ditembak dengan Crossbow yang langsung merenggut nyawa mereka.
Berbeda dari para penjaga yang menjadi buta. Kami yang memiliki [Night Vision] masih dapat melihat dengan mudah walau tanpa ada sumber cahaya untuk menerangi jalan kami.
"Di mana penyusupnya?!"
"Di sisi Utara!"
"Ada penyusup di sisi Selatan!"
"Penyusup juga ada di sisi Barat!"
"Sial, mereka ada banyak!"
Tentu saja bukan hanya Tim kami saja yang pergi menyerang. Dua Tim yang lain juga telah maju dari dua arah yang berbeda.
Dengan ini pihak penjaga harus menangani penyusup dari tiga sisi di tengah gelapnya malam.
Dengan penjaga yang tersebar dan dalam keadaan panik membuat kami dapat dengan mudah masuk ke dalam kastil melalui jendela di lantai dua.
Sekali lagi semua penerangan kami matikan.
Melewati lorong yang panjang, kami mulai berpencar untuk menyisir semua ruangan.
Masuk ke dalam salah satu ruangan, aku mendapati kalau tempat ini adalah kamar untuk para penjaga terbukti dari tiga kasur tingkat yang memenuhi ruangan ini. Melihat kamar yang kosong dan kasur yang berantakan, aku menduga kalau para penghuni kamar telah keluar untuk menunaikan tugas mereka untuk mengusir para penyusup.
Karena aku tidak melihat adanya hal yang berharga di kamar ini, aku segera masuk ke kamar yang lain.
"Penyusup ada..."
Hampir saja ketahuan, aku sukses membungkamnya dengan sebuah pisau lempar yang mendarat tepat di tenggorokannya.
"Kapten, ruang senjata telah ditemukan"
"Langsung bakar"
"Siap"
Kembali menyusuri lorong kastil yang tidak di sangka luas, aku akhirnya tiba di depan sebuah pintu ganda yang terlihat sangat mewah karena dilapisi oleh ukiran dari emas.
Ingin sekali aku menghindarinya terlebih karena [Danger Sense] milikku berteriak kalau hanya ada masalah yang ada di balik pintu tersebut. Akan tetapi, secara bersamaan aku juga merasa tidak bisa mengabaikannya.
"Kapten..."
"Kalian lanjut menyisir ruangan yang lain, jika itu adalah ruangan strategis musuh, hancurkan saja"
"Siap!"
Setelah menyuruh anak buahku pergi, aku yang hanya tinggal sendiri lalu membuka pintu ganda yang ada di hadapanku.
Apa yang aku temukan di balik pintu adalah sebuah aula yang sangat luas. Dari penampakannya, kurasa ini adalah sebuah aula dansa para Bangsawan.
Berdiri di tengah-tengah aula adalah sesosok wanita cantik dengan rambut dan mata berwarna merah seperti bara api. Mengenakan Light Armor yang berlapis emas dan permata, serta di tangannya adalah sebuah Greatsword
yang jauh lebih besar dari tubuhnya dan tentu saja Greatsword itu juga tidak luput dari emas dan permata yang menghiasinya.
Baru selangkah aku menginjakkan kakiku, sebuah hawa panas mulai terasa yang seolah ingin membakar kulitku.
Di bawah tatapannya, aku seketika tahu kalau tidak ada yang namanya mundur.
Menghunuskan Rapierku, aku melihat dia tersenyum.