
Jauh di dalam hutan lebat yang di mana tidak pernah di jamah oleh siapa pun sebelumnya. Terlihat sekumpulan orang bertudung hitam berdiri mengelilingi sebuah kristal hitam raksasa setinggi 12 meter sembari mengucapkan mantra-mantra sihir dengan khusyuk.
Dari balik tudung yang mereka kenakan, dapat terlihat wajah yang pucat dan basah oleh keringat.
Tangan dan kaki mereka terus gemetaran tanpa henti serta tidak sedikit dari mereka yang mulai batuk darah.
Tidak perlu dikatakan lagi mereka sudah mencapai batas mereka.
Walau mereka tinggal selangkah lagi dari pintu kematian, tidak ada seorangpun yang tampak menyerah. Dengan segenap Mana dan energi mereka yang tersisa, mereka memfokuskan segala yang mereka miliki kearah kristal
hitam tersebut.
Crak!
Retakan mulai tercipta pada permukaan kristal yang tampak sangat gelap di bawah bayangan pepohonan.
Deg... Deg... Deg...
Suara seperti detak jantung terdengar dari dalam kristal. Orang-orang bertudung itu semakin putus asa dan mulai mencurahkan bahkan masa hidup mereka untuk mencegah agar apa yang ada di dalam kristal itu untuk tidak keluar.
Krekekrkekker.... Clang!!!
Pada akhirnya apa yang mereka takutkan terjadi juga.
Ledakan yang tercipta dari pecahnya kristal tersebut sudah lebih dari cukup untuk menghabisi para orang bertudung dengan tragis tanpa ada yang bisa selamat.
Tidak hanya itu, ledakan tersebut sangatlah dahsyat hingga meratakan segala yang ada di sekitarnya. Bahkan gelombang kejut yang dihasilkan menyebar ke seluruh hutan yang membuat para Mobs yang merasakannya segera berlari ketakutan menjauh dari sumber ledakan.
Dari dalam kristal tersebut, muncul sebuah sosok yang awalnya hanya sebesar anak kecil yang seketika tumbuh dengan cepat hingga tubuhnya sudah melampaui pepohonan yang ada di sekitarnya.
Grroaaaaa....!!!!
....
Pada saat pagi datang menjelang, tidak ada lagi Mobs yang mencari masalah.
Yang ada hanyalah pemandangan orang-orang yang sedang sibuk menusukkan pisau mereka pada tubuh dingin Mobs yang di tumpuk di samping benteng. Mereka melakukan itu demi bisa mendapatkan drop dari Mobs yang telah susah payah mereka kalahkan.
Rencananya barang drop itu akan di bagi sama rata kepada para partisipan yang berpartisipasi dalam Quest ini.
Di sisi lain, banyak suara rintihan dari mereka yang terluka. Ada yang mengalami luka ringan sampai mereka yang masih hidup saja sudah merupakan sebuah keajaiban.
Tidak jauh dari mereka, adalah peti-peti yang berisikan tubuh mereka yang telah gugur dengan terhormat. Rekan mereka terlihat berkabung di samping peti kayu. Setelah semua ini selesai, mereka yang gugur akan di pulangkan ke keluarga mereka masing-masing.
Para Otherworlder yang mati kebanyakan telah bangkit kembali. Beberapa sudah segar bugar, sedangkan yang lainnya masih terkena penalti dari kematian mereka.
Pertempuran telah berakhir. Tapi tidak ada yang berani berpesta demi merayakannya.
Hal itu dikarenakan mereka semua tahu... Pertempuran baru benar-benar akan berakhir ketika mereka berhasil pulang dengan selamat.
Tidak jauh dari kompleks perkemahan, terdapat kandang besi yang berisikan para tahanan dari Narsist Kingdom.
Dari 100 kesatria, kini hanya tersisa kurang dari setengahnya.
Equipment mereka telah disita hingga hanya menyisakan kain lusuh untuk menutupi tubuh mereka. Tidak hanya itu, tangan dan kaki mereka juga di borgol yang membuat mustahil bagi mereka untuk meloloskan diri.
Dari semua tahanan yang ada, satu di antara mereka tidak ditempatkan di dalam kandang. Melainkan dia di pasung dengan penampilan yang babak belur dengan luka di sekujur tubuhnya.
Bukan hanya luka bekas pukulan. Terlihat luka bekas cambukkan hingga luka bakar yang sekarang menghias tubuhnya yang terlatih.
Dia adalah kapten dari para kesatria Narsist Kingdom.
Sekarang, dia sedang diinterogasi.
...
"Jadi... Apakah benar kalau hanya sebanyak ini pasukan yang kalian miliki?"
"....iya...."
Heh, jelas dia berbohong.
Dari laporan yang ada, seharusnya ada Perapal Mantra (Caster) yang bersama mereka. Akan tetapi, selama pertempuran berlangsung, keberadaan mereka tidak pernah terlihat.
Tentu nak Onlay telah mengirimkan anak buahnya untuk mencari keberadaan mereka.
Aku juga telah berusaha untuk membuat orang ini mengatakan kartu apa saja yang mereka miliki. Seperti yang di duga, dia susah untuk di ajak bicara.
Sebuah rencana yang hanya mengandalkan sebuah item jelas sangat mencurigakan. Mustahil mereka tidak memiliki rencana B dan seterusnya.
Hmm... Kalau tidak salah cucuku telah membuat beberapa Potion yang menarik. Apakah aku harus meminjamnya?
Ada juga pilihan untuk menggunakan (Mind Control) tapi salah-salah aku malah membuat orang ini menjadi seorang idiot. Jelas itu bukanlah sebuah pilihan.
"Zweite, apa yang anak itu sedang lakukan sekarang?"
"Master masih belum bergerak dari tempatnya"
"Serius? Bukankah pertempuran telah berakhir?"
Ini aneh, tidak peduli seberapa keras seseorang berkonsentrasi. Mereka tidak akan menjadi tuli. Aku dengan jelas sudah memberitahukannya kalau komandan musuh telah tumbang dan mahkotanya sudah berhasil di renggut.
"Awasi orang ini... Tidak, biarkan si kembar bermain dengannya. Kau cukup awasi mereka berdua. Ingatkan untuk tidak berlebihan"
"Baiklah"
Aku lalu berjalan menuju tempat cucuku berdiri selama empat hari ini.
Sebuah area yang awalnya hanyalah padang rumput biasa yang berwarna hijau, kini berubah menjadi sebuah area yang mengeluarkan cahaya keunguan. Itu dikarenakan rumput yang dulunya berwarna hijau sekarang digantikan oleh rumput dengan daun berwarna violet yang memancarkan cahaya yang redup.
Di tengah semua itu, berdiri sosok cucuku yang masih belum beranjak dari tempatnya.
"Pertempuran telah selesai. Meski masih ada pasukan musuh yang masih berkeliaran, tidak butuh waktu lama sebelum mereka ditemukan. Jadi... Hentikanlah ritualmu itu"
Masih tidak mau menjawab yah...
"...belum..."
"Baru sekarang kau mau berbicara. Jadi, apa maksudmu dengan belum?"
"...di dalam hutan...ada sebuah keberadaan...ancaman masih ada..."
Keberadaan? Ancaman?
Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Akan tetapi, jika itu adalah cucuku yang memiliki hubungan erat dengan hutan. Terlebih, dia sekarang sedang terhubung dengan hutan tersebut. Ini jelas tidak bisa di sepelekan.
Meninggalkan cucuku, aku langsung bergegas menuju tenda nak Onlay.
Di sana aku bisa menemukan sosok nak Onlay sedang bersama dengan nak Doragon. Bagus, sekarang semuanya bisa menjadi lebih mudah.
"Aku punya kabar buruk..."
Akan perkataanku, Onlay dan Doragon langsung memandangiku dengan tatapan serius.
Aku lalu menceritakan semua kecurigaanku serta apa yang baru saja cucuku katakan.
"Jadi, masih ada sebuah keberadaan yang masih belum diketahui. Terlebih keberadaan tersebut merupakan sebuah ancaman besar?"
"Menurut apa yang cucuku rasakan, itu adalah benar"
"Hmm... Jika kita mengikuti alur ini. Mungkin saja para Perapal Mantra (Caster) yang masih belum tertangkap sekarang sedang berusaha untuk memanggil sesuatu yang berbahaya?"
"[Summoning Magic] yah... Memang benar ada sebuah skill yang bernama (Summoning Ritual) yang memungkinkan untuk memanggil seekor Mobs atau makhluk superior lainnya"
"Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah makhluk apa yang mereka..."
!Boom!
Tepat pada saat kami sedang mendiskusikan ini, tiba-tiba saja terdapat sebuah gelombang kejut yang menghantam kami.
Efek dari gelombang kejut itu mampu untuk menggentarkan seluruh kompleks perkemahan serta menjatuhkan barang-barang kecil yang diletakkan di atas lemari dan meja.
Dari yang aku rasakan, gelombang ini di akibatkan oleh ritual yang gagal.
Tidak hanya aku, Onlay dan bahkan Doragon yang tidak mahir dalam sihir sekalipun juga bisa menebaknya dari pengalaman mereka masing-masing.
Normalnya, jika sebuah ritual gagal. Ledakan yang di hasilkan tidak akan sebesar ini. Kecuali...
Grrrroooaaaaaa....aaaaaa....!!!!
Suara makhluk buas yang terdengar seperti berasal dari kedalaman neraka menggema hingga ke inti jiwaku yang terdalam.
Meski aku berada jauh dari sumber suara, rasanya seperti berada tepat di hadapannya.
"Tch, sepertinya yang terburuk telah tiba"
Tanpa banyak bicara lagi, kami semua serempak keluar dari tenda untuk menuju bagian atas benteng.
Sepanjang jalan kami bisa menemukan para prajurit serta Petualang yang juga berhamburan keluar untuk mengecek keadaan.
Pada saat kami akhirnya sampai di atas benteng, kami di sambut oleh sebuah pemandangan yang mustahil untuk bisa dipercaya.
Sebagian besar hutan hijau sekarang telah layu. Hal itu menciptakan sebuah area kematian yang di tengahnya terdapat sebuah sosok yang paling tidak ingin aku lihat.
Sang naga pelindung. Sang simbol kemenangan dan kesejahteraan. Naga Penjaga Verloren Kingdom, Victoria.
Victoria, dia yang dulunya memiliki sisik putih seperti mutiara, sekarang dilapisi oleh sisik hitam seperti aspal. Dia yang awalnya diselimuti oleh aura suci, sekarang diselimuti oleh aura kematian yang akan membunuh apa pun yang ada di dekatnya.
Dia yang awalnya dihormati, sekarang menjadi sumber ketakutan.
"Naga?! Kau serius!"
"Tegarkanlah dirimu, nak. Ini akan menjadi pertempuran yang panjang"
"Lebih baik lupakan saja, orang itu memiliki [Domain] yang besar dan efeknya sudah jelas di mata kalian"
"Nyonya Cardinal, apakah Anda mengetahui sesuatu mengenai Naga itu?"
Setelah itu aku menceritakan secara singkat kepada mereka identitas sebenarnya dari musuh yang ada di hadapan kami.
"Verloren? Ini pertama kalinya aku mendengarnya"
"Aku pernah membacanya di buku sejarah. Kerajaan itu hancur seabad lalu. Aku mendengar mereka memiliki Naga penjaga yang juga gugur bersama dengan kerajaan itu. Jadi, yang kita hadapi ini..."
Mereka berdua tampak cemas. Wajar saja, lagi pula semua orang tahu seberapa berbahayanya seekor naga itu. Terlebih, yang berada di hadapan kami ini jelas telah berubah menjadi seekor Undead yang dimana meningkatkan level bahayanya secara drastis.
Dengan [Domain] yang dia miliki, mustahil bagi makhluk hidup untuk mendekat. Bahkan jika mereka dilindungi oleh [Luminous Magic] atau bahkan [Holy Magic] sekalipun, mereka tidak akan bisa bertahan lama.
Satu-satunya pilihan adalah menyerangnya dari jarak jauh!
"Aku akan pergi... Kalian fokus evakuasi semua orang yang ada. Jika ingin membantu, gunakan serangan jarak jauh. Jangan sampai mendekatinya apa pun alasannya!"
Dengan begitu, aku mengaktifkan (Aero Maneuver) yang memungkinkanku untuk bisa bergerak di udara dengan bebas.
Hanya dengan satu hentakan kecil saja, tubuhku sudah melayang di udara bagaikan kapas yang ditiup angin.
Dari arah benteng, aku bisa mendengar nak Onlay memerintahkan anak buahnya untuk segera melakukan proses evakuasi.
Dengan begini aku bisa lega.
Menggunakan angin sebagai kendaraan, aku mendekati teman lamaku yang sekarang telah kehilangan jati dirinya.
"Tunggulah, Victoria. Aku akan membebaskanmu"
...
..
.
Langit yang awalnya cerah sekarang ditutupi oleh awan gelap.
Dengan badai yang menerpa, guntur yang menggelegar, serta petir yang menyambar. Mewarnai pertarungan dahsyat yang terjadi di atas tanah yang mati.
Berdiri di atas apa yang awalnya merupakan hutan rindang, terdapat sosok kadal raksasa. Memiliki empat kaki yang mampu meremukkan segalanya, lehernya panjang bagaikan ular, di kepalanya yang menyerupai wajah seekor kadal memiliki empat pasang tanduk menyerupai mahkota serta deretan gigi yang tajam bagaikan pedang. Di punggungnya terdapat sepasang sayap kelelawar yang sangat lebar dan agung. Ekornya menggeliat dengan bagian ujungnya yang berbentuk seperti sebuah gada.
Tubuhnya yang sebesar gunung dilindungi oleh sisik sehitam aspal yang mampu menahan serangan apa pun. Di tambah dengan aura kematian yang menyelimuti sekujur tubuhnya yang membuat makhluk hidup mana pun mustahil untuk mendekatinya.
Makhluk yang diagung-agungkan berkat kecerdasan serta kebajikan mereka. Mereka ditakuti oleh setiap makhluk hidup berkat kekuatan mereka yang melebihi akal sehat, Naga (Dragon).
Sudah tidak ada kabar penampakan mereka selama berabad-abad. Selama itu, jika seseorang mengatakan Naga, maka itu akan tertuju pada sebuah ras yang benar-benar memiliki darah naga di tubuh mereka, Dragonmen.
Namun kini, Naga yang sebenarnya telah muncul kembali sebagai seekor Undead yang tak memiliki akal pikiran.
Naga tersebut kini sedang berhadapan dengan sesosok gadis kecil yang mengenakan jubah serta topi khas Penyihir (Witch) yang berwarna putih bagaikan awan. Serta membawa sebuah Staff yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri, Penyihir itu terbang mengitari sang Naga bagaikan seekor nyamuk yang mengitari manusia.
Penyihir itu, Cardinal La Ciel.
Cardinal mengangkat Staff miliknya tinggi ke udara. Sontak, sebuah lingkaran sihir kemasan tercipta. Cardinal mengaktifkan (Aurora) yang seperti namanya, menciptakan sebuah Aurora yang sangatlah cantik.
(Aurora) itu muncul dan melingkupi seluruh area pertarungan.
Naga itu, Victoria. Merasakan sebuah perasaan yang tidak mengenakkan. Setelah dia berada di bawah efek dari (Aurora), aura kematian yang menyelimutinya seketika berkurang dalam jarak jangkauan serta kekuatan.
Victoria bisa merasakan kalau tubuhnya mulai terasa berat yang disertai perasaan seperti terbakar menerpa dirinya yang seharusnya sudah tidak lagi bisa merasakan sakit.
Tidak sampai di situ saja, Cardinal lalu mengaktifkan sebuah sihir yang di arahkan langsung kepada Victoria.
(Luminous Ring)
Tiga buah cincin cahaya mengitari Victoria dan menahannya di tempat.
Grrrroooaaaaaa....!!!!
Jelas Victoria tidak akan menerimanya begitu saja. Aura yang menyelimutinya mulai terlihat seperti api hitam yang membara. Tidak, aura tersebut kini benar-benar berubah menjadi api hitam yang mampu untuk menghanguskan
segala yang dia sentuh.
Melihat ini, Cardinal kembali melanjutkan serangannya.
Kali ini Cardinal mengaktifkan (Electro Storm) yang menghasilkan sebuah badai petir yang tiada hentinya menyambar tubuh Victoria.
Kilatan petir yang menyambar terlihat seperti ular yang menyambar mangsa yang tidak berdaya. Menghadapi ini, Victoria mengangkat kepalanya ke arah langit sebelum dia membuka rahangnya dengan lebar.
Seketika sebuah sinar hitam pekat ditembakkan dari mulut Victoria yang terbuka. Sinar tersebut menembus langit dan menghilangkan awan badai dan bahkan menonaktifkan (Aurora) yang telah melemahkannya.
Dengan tidak adanya (Aurora) membuat aura kematian milik Victoria bisa kembali seperti semula serta sekarang dia mampu menghancurkan cincin cahaya yang mengekangnya.
Cardinal yang melihat ini segera menyelimuti dirinya dengan (Blessing) lalu lanjut menembakkan (Luminous Rays) kepada Victoria.
Hanya dengan satu sayapnya saja, sudah cukup untuk menahan serangan dari Cardinal. Seketika puluhan hingga ratusan senjata berwarna hitam pekat yang dipenuhi akan kutukan tercipta di sekitar Victoria.
Baik itu pedang, kapak, tombak hingga gada, semua tercipta dan di arahkan kepada Cardinal yang berada di udara.
Merasakan bahaya, Cardinal segera mengaktifkan (Luminous Sphere) serta (Space Field) demi melindungi dirinya dari proyektil yang diarahkan kepadanya.
Dengan ayunan ekornya sebagai sinyal, seluruh (Cursed Armament) itu meluncur bagaikan peluru ke arah Cardinal.
Cardinal lalu melakukan sebuah manuver rumit untuk menghindari itu semua. Terkadang dia juga menembakkan sihir untuk mencegat senjata yang datang. Apa yang tidak bisa dihindari, di tangkis oleh (Luminous Sphere) atau
dibelokkan oleh (Space Field).
Meski begitu, ada saja yang masih bisa lolos dan hampir mengenai Cardinal. Tapi itu masih bisa di tangkis dengan (Space Barrier) yang senantiasa dia aktifkan.
Akan tetapi, hanya dengan dua serangan saja sudah cukup untuk meninggalkan sebuah retakan pada (Space Barrier) yang seharusnya sangatlah tangguh.
Di saat dirinya sedang bermanuver demi menghindari serangan yang ditujukan kepadanya, Cardinal tiba-tiba saja menukik tajam ke arah tanah.
Tepat di luar [Dominion] milik Victoria, Cardinal menghantamkan Staff miliknya ke atas tanah sambil yang mana mengaktifkan sebuah lingkaran sihir berwarna merah menyala.
(Flaming Ground)
Tanah yang awalnya bagaikan tanah mati seketika terbakar hingga tampak seperti sebuah lautan api. Victoria yang berada di tengah itu semua menjerit kesakitan dan mulai mengepakkan kedua sayapnya untuk kabur ke udara.
Tentu saja Cardinal tidak akan membiarkan itu terjadi.
Menggunakan (Dual-Casting) Cardinal mengaktifkan kembali (Aurora) dan (Luminous Ring) secara bersamaan.
Karena pergerakannya sekali lagi di kekang, membuat Victoria yang awalnya terbang ke udara harus rela kembali ke atas tanah yang terbakar.
Kali ini Cardinal menggunakan (Triple-Casting) dan mengaktifkan tiga sihir secara bersamaan.
(Flame Tornado) (Hurricane) (Electro Storm)
Badai api, angin, dan petir menghantam tubuh Victoria yang jelas melukainya dengan sangat parah.
Pada saat badai telah reda, apa yang tampak adalah seekor Naga dengan sayap yang patah, luka yang menganga lebar hampir di sekujur tubuhnya, serta darah hitam seperti lumpur mengalir dari luka yang terbuka.
Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama.
Hanya dalam hitungan detik, luka-luka yang Victoria derita perlahan mulai sirna. Sayapnya kembali utuh, luka yang lebar kian mengecil hingga hilang sepenuhnya, darah yang mengalir kini telah berhenti dan bahkan mundur kembali ke dalam tubuh Victoria.
"Ini... Merepotkan"
Terpana akan betapa cepatnya Victoria beregenerasi. Cardinal bersiap untuk melanjutkan serangan beruntunnya. Begitu juga dengan Victoria. Dengan dirinya yang telah kembali pulih, dia bertekad untuk membalas apa yang
telah Cardinal lempar kepadanya.
Pada saat itu...
"Wahai hutan kuno sang pembelah negeri"
Sebuah alunan mantra bergema di seluruh penjuru hutan. Anehnya, suara itu seakan terdengar langsung dari dalam kepala mereka yang mendengarnya.
"Wahai hutan kuno yang tengah sekarat"
Sekali lagi, suara itu kembali terdengar. Akan tetapi, Cardinal kali ini mengenali siapa pemilik dari suara misterius itu.
Perubahan yang jelas mulai terjadi di seluruh hutan Barriere.
Pepohonan yang awalnya hanya bergoyang kecil karena efek dari pertarungan yang terjadi kini tampak bergejolak seakan diterpa oleh angin yang kencang. Victoria yang melihat ini mulai merasakan perasaan bahaya menerpa
dirinya.
"Dengarkanlah suaraku, dengarkanlah syairku"
Kali ini Victoria berhasil menemukan dari mana sumber suara itu berasal. Jauh di balik benteng tanaman yang kokoh, berdiri seorang gadis dengan pakaian yang membuatnya merasa nostalgia.
Bukan karena rasa rindu, tapi amarah yang tak terbendung.
Grrrroooaaaaaa... AaaaaAaaaAaaa!!!!"
"Jangan harap!"
Victoria yang hendak menyambar gadis itu, seketika di halangi oleh Cardinal.
"Serahkanlah dirimu, abdikanlah dirimu padaku"
Di tengah hutan yang bergejolak, Victoria dan Cardinal kembali bertarung. Akan tetapi, kali ini mereka tidak berusaha untuk saling menjatuhkan. Victoria hendak pergi menuju gadis yang berada di balik benteng, sedangkan Cardinal berusaha untuk menghalanginya.
"Dengan menjadi milikku, maka aku anugerahkan kepadamu kekuatan"
Perlahan... Tanaman yang awalnya hijau mulai memiliki corak ungu yang cerah. Baik itu dedaunan, semak belukar, hingga rumput ilalang. Semuanya mulai bertransformasi.
"Dapatkan kekuatan, miliki kekuatan, niscaya semua pengganggu akan sirna di hadapanmu"
Victoria yang tidak mampu menahan diri lagi, mengerahkan segalanya demi bisa mendekati gadis itu. Cardinal sampai dipaksa untuk sepenuhnya berada dalam posisi bertahan di hadapan Victoria yang sangatlah gigih.
"Dengan nama ini, Lavender La Ciel. Dengan ini aku kumandangkan titahku"
Tanpa pikir panjang lagi, Victoria segera melepaskan serangan nafasnya (Cursed Dragonic Breath) yang merupakan kumpulan dari ribuan kutukan yang menjadi satu.
Untuk menghadapi ini, Cardinal menempatkan dirinya tepat di jalur serangan. Mengarahkan Staffnya ke depan, Cardinal membuka sebuah (Portal) di hadapannya serta (Portal) yang lainnya yang terbuka tepat di samping
Victoria.
Hanya dalam hitungan detik, (Cursed Dragonic Breath) milik Victoria masuk ke dalam (Portal) hanya untuk keluar dari (Portal) satunya dan mengenai dirinya sendiri dan melukainya dengan sangat parah.
"Wahai Hutan kuno Hutan Barriere. Jadilah milikku dan layani diriku"
Tiba-tiba seluruh keributan yang terjadi sirna seketika.
Bahkan Victoria yang baru saja bangkit setelah termakan serangannya sendiri menjadi terdiam karena perubahan yang terlalu tiba-tiba.
Pada saat itu...
(Nature Overlord)
Dengan sebuah hentakan dari Staffnya, sebuah akar besar menjalar dari tanah hingga melewati benteng menuju hutan Barriere. Ketika akar itu menyentuh wilayah Hutan Barriere, perubahan yang sebenarnya terjadi.
Seluruh tanaman yang ada di hutan Barriere secara serempak berubah menjadi tanaman mengeluarkan cahaya keunguan yang sangat terang.
Pemandangan di Hutan Barriere kini tidak ada bedanya dengan Hutan Ibis.
Pelaku dari semua ini, Lavender. Dengan santainya berjalan di atas akar yang telah dia buat. Membawa sebuah Staff dengan bagian ujungnya yang menyerupai sebuah sangkar, Lavender perlahan naik ke atas benteng.
Jubah yang dia pakai kini tampak kabur bagaikan antara ada dan tiada. Meski begitu, dia tampak tidak menghiraukannya dan terus berjalan.
Hingga akhirnya dia sampai di atas benteng. Hal pertama yang dia lakukan adalah mempelototi sang Naga yang menatap balik padanya dengan tatapan penuh amarah dan nafsu membunuh. Puas akan reaksi sang Naga, Lavender mengangkat tangannya.
"Hahaha.... Baiklah, sekarang... Mari kita mulai!"