
"Baiklah, sebelum diriku bisa memberikan jawabanku, bolehkan engkau memperkenalkan dirimu? Wahai Tuan Putri?"
Atas apa yang baru saja aku ucapkan, sontak Maid yang berada di sisi kiri Pangeran Argenti tersentak. Walau wajahnya tertutup oleh topeng, tapi aku masih bisa dengan jelas merasakan tatapan tajamnya yang di arahkan
kepadaku.
Membalasnya, aku hanya tersenyum.
Tampak menghela nafas yang dalam, Maid itu segera bergerak dari tempatnya untuk duduk tepat di samping Pangeran Argenti. Sedangkan Pangeran Argenti sendiri segera memberikan ruang bagi Maid itu untuk bisa duduk.
Melepaskan kerudung yang menutupi kepalanya, kini terlihat rambut panjang yang lurus berwarna keemasan yang berkilau. Setelah merapikan rambutnya sebentar, dia lalu membuka topeng yang dia kenakan.
"Ya ampun..."
Bukan hanya aku, bahkan Luna pun jadi terkejut setelah melihat wajahnya. Bagaimana tidak? Itu adalah sebuah wajah yang tidak sepantasnya dimiliki oleh seorang wanita. Terlebih kepada seorang Tuan Putri seperti
dirinya.
Normalnya aku akan bertanya apa yang sebenarnya dia lakukan hingga pantas mendapatkan wajah itu. Tapi, mengingat di Kerajaan mana aku berada sekarang. Sudah jelas sekali kenapa dan siapa yang membuat wajahnya
hingga menjadi seperti yang sekarang.
Seolah tidak peduli dengan reaksi kami, dia pun mulai memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, Putri Pertama dari Narsist Kingdom, Margarita ol Narsist"
Putri Pertama? Bukankah dia adalah orang yang semua gaun yang aku beli kemarin? Sungguh, walau memang aku ingin bertemu dengannya, tapi tidak aku sangka akan seperti ini.
Melihat ke dalam mata emasnya, aku bisa melihat amarah yang coba dia pendam. Namun, amarah itu tidaklah ditujukan kepadaku, melainkan kepada orang yang sedang tidak berada di ruangan ini.
"Sekarang diriku mengerti. Setelah melihat Putri Margarita, diriku sekarang sepenuhnya paham akan betapa serius niat kalian.
Baiklah, sekali lagi, perkenalkan. Cucu pertama dari Penyihir Cardinal La Ciel, Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel.
Dengan ini diriku mewakili Sol Ciel meminta kerja sama kalian selaku Pangeran dan Tuan Putri dari Narsist Kingdom. Sebuah kerja sama untuk menghentikan peperangan yang bodoh ini"
Setelah aku memperkenalkan diri, sekarang malah giliran Pangeran Argenti dan Putri Margarita untuk terkejut.
"Ciel? Maksudmu adalah Ciel yang telah menjadi Pemimpin dari Sol Ciel secara turun-temurun?"
"Jadi begitu, tampaknya setelah apa yang telah pelacur itu katakan sangat di anggap serius oleh pihak Sol Ciel sehingga mereka mengirim dirimu sebagai mata-mata"
"Menyebut orang yang telah melahirkan dirimu sebagai Pelacur. Memang benar, apa yang Ratu kalian ucapkan kepada Bibiku memang sudah keterlaluan"
Setelah kami saling memperkenalkan diri, sekarang tinggal giliran Luna untuk memperkenalkan dirinya. Namun, sebelum sempat dia membuka mulutnya, aku menghentikannya.
"Sebelum kau memberikan nama aslimu, sebaiknya tunggu sampai percakapan ini selesai. Karena memberikan nama aslimu akan menjadi sama halnya dengan menerima perasaan dari Pangeran Argenti kepadamu. Jadi, tolong pikirkan baik-baik"
Luna lalu terdiam. Melirik ke arah Pangeran Argenti, Luna tampak berpikir keras jawaban apa yang akan dia berikan.
Setelah menunda masalah lamaran ini untuk sementara waktu, saatnya kami masuk ke topik utama.
"Penyihir Lavender, demi bisa mengakhiri peperangan ini, maka sudah seharusnya kita membahas tentang alasan sebenarnya kenapa peperangan ini bisa di mulai"
"Oh, jadi memang bukan sekedar iri yah"
Putri Margarita lalu menggelengkan kepalanya.
Orang-orang beranggapan kalau alasan sebenarnya kenapa perang ini bisa terjadi adalah karena Narsist Kingdom yang telah lama memendam rasa iri kepada Sanguine Kingdom yang seluruh penduduknya memiliki umur panjang, paras yang cantik secara alami, serta tentu saja, awet muda. Itu semua adalah hal yang paling di damba-dambakan penduduk Narsist Kingdom terutama sang Raja dan Ratu sejak lama.
Perang akhirnya pecah ketika ada seorang Otherworlder yang secara kebetulan memiliki paras yang mirip seperti Raja Narsist Kingdom yang sekarang.
Hanya dengan alasan sepele seperti itu, perang yang akhirnya melibatkan seluruh benua pun terjadi.
"Alasan kenapa perang ini bisa terjadi, adalah karena bajingan dan pelacur itu hendak mendapatkan sebuah artefak yang katanya mampu membuat seseorang untuk menjadi abadi"
...kau serius?
Bukankah cerita tentang orang jahat yang rela melakukan segalanya demi mencapai keabadian itu sudah terlalu umum?
"Artefak yang mampu memberikan keabadian? Apakah hal seperti itu memang benar-benar ada?"
"Apakah kau tidak tahu tentang hal ini?"
Aku menggelengkan kepalaku. Walau memang benar aku tidak lama berada di Sanguine Kingdom, tapi jika memang benar ada artefak seperti itu, terkecuali jika itu memang benar-benar tersembunyi maka Nenek pasti
sudah memberitahukan hal ini kepadaku.
"Memangnya dari mana kalian mendapatkan info seperti ini?"
"Itu tertulis di dalam sebuah prasasti yang ditemukan di dalam sebuah reruntuhan kuno yang berada tepat di bawah Istana. Prasasti itu menyebutkan 'Pergilah ke dalam menara yang menjulang hingga ke kahyangan. Taklukkan segala tantangan yang menghadang. Mendakilah hingga engkau mencapai puncak, niscaya segala keinginanmu akan terkabul' dan dari prasasti itu, si pelacur itu beranggapan kalau apa pun di puncak menara itu bisa menjadikannya wanita tercantik di dunia hingga menyaingi Baginda Ratu Cascade serta mendapatkan tubuh yang abadi dan awet muda"
Jadi begitu, agar bisa mengakses menara itu maka Ratu dari Narsist Kingdom sampai merayu suaminya yang adalah seorang Raja agar mau menginvasi Sanguine Kingdom hanya agar mereka bisa memonopoli menara itu.
Tetap saja, baru pertama kali ini aku mendengar kalau di Sanguine Kingdom ada sebuah menara yang bisa mengabulkan segala keinginanmu hanya dengan mendaki sampai ke puncak... Tunggu!
"Apakah menara yang kalian maksud itu adalah Tower of Challenge?"
"Benar sekali. Awalnya kami sudah mengirimkan permintaan untuk bisa menantang menara itu. Hanya saja selalu di tolak dan bahkan pihak Sanguine Kingdom berkata kalau tidak ada menara yang seperti itu"
Tentu saja tidak ada. Soalnya menara itu memang sudah tidak ada lagi.
Dengan itu aku pun menjelaskan kepada Pangeran Argenti dan Putri Margarita perihal tentang Tower of Challenge beserta kota... Kota apalah itu yang ada di sekitar menara itu yang sudah menghilang dari dunia ini karena
serangan seorang Iblis (Demon). Tentu saja aku tidak memberitahukan mereka kalau Tower of Challenge sebenarnya di pindahkan ke dunia lain dan fakta kalau Iblis (Demon) yang menjadi pelakunya adalah Ayahku
sendiri.
Selesai memberitahukan semua itu, ekspresi terkejutpun tercipta di wajah mereka berdua.
"Iblis (Demon)? Apakah kau yakin itu adalah Iblis (Demon) dan bukan Setan (Devil)?"
"Tidak mungkin salah karena orang yang pergi menyelidikinya adalah Ibuku sendiri"
Mendengar hal itu, Pangeran Argenti dan Putri Margarita hanya bisa terdiam. Dengan menara yang adalah alasan utama kenapa Narsist Kingdom mengibarkan bendera peperangan sudah tidak ada. Itu sama saja dengan mengatakan kalau peperangan ini sama saja dengan percuma.
"Hi..Hi..Hi..Hi.."
Dan... Tiba-tiba saja Putri Margarita tertawa cengingisan.
Berkat cara tertawanya yang tidak biasa serta di tambah dengan rupa yang dia miliki, membuatnya sekarang terlihat seperti setan yang seram.
Bahkan Pangeran Argenti yang duduk di sampingnya sampai terperanjak dari tempat duduknya menjauh dari kakaknya sendiri yang sedang bertingkah aneh. Sedangkan Luna langsung memelukku dengan erat sambil
menyembunyikan wajahnya di balik tubuhku.
"Hi..Hi..Hi..Hi.. HAHAHA... HAHAHAHAHAHA!!!!"
Oke, ini sudah mulai mengkhawatirkan.
"Putri Margarita, bisakah kau tenang sekarang?"
"Ahahaha... Hihihi... Maaf, hehehe... Hanya saja... hihihi... Hanya saja aku jadi membayangkan... Hehehe... Bagaimana wajah pelacur itu ketika mengetahui... Hehehe... Kalau dia tidak akan pernah mencapai tujuannya... Hihihahaha..."
Baiklah, bukannya aku tidak mengerti dengan apa yang Putri Margarita rasakan. Malah mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika saja aku berada pada posisinya.
Hanya saja cara bicara sama penampilannya itu loh, rasanya seperti sedang menonton adegan langsung dari film horror.
Selagi Kakaknya sedang asyik tertawa sendiri, Pangeran Argenti memberanikan dirinya untuk duduk kembali meski dia akhirnya duduk di bagian paling ujung sofa untuk bisa melanjutkan kembali percakapan ini.
"Ehem... Jika yang kau katakan itu benar, maka apa pun yang terjadi, kedua orang tua kami tidak akan pernah menggapai tujuan mereka. Dengan basis itu, sebaiknya kita dengan sesegera mungkin melancarkan serangan kita agar tidak ada lagi darah yang tumpah pada pertempuran yang sia-sia ini"
"Aku paham perasaanmu, hanya saja tidak baik rasanya jika kita menjadi terburu-buru hanya karena hal ini. Mengingat, selain Raja dan Ratu, masih ada satu orang lagi yang harus kita khawatirkan"
"Ah, benar. Paus Senor"
Senor ol Ballena.
Dia adalah paus dari sebuah Gereja yang bukannya menyembah Tuhan atau Dewa yang ada di kahyangan, mereka malah menyembah Raja Pulchritudo ol Narsist seolah dia adalah tuhan sejati.
Alasannya sederhana.
Dengan posisinya sebagai seorang Paus, dia bisa dengan mudah menggerakkan umatnya untuk melawan dan mengangkat senjata dengan sukarela atau menggunakan pengaruhnya untuk memutar balikkan fakta agar bisa sesuai dengan keinginannya.
Jujur, aku lebih suka melawan satu Kerajaan ketimbang melawan satu Agama.
Walau Agama sejatinya adalah jalan agar seseorang dapat mendapatkan ketenangan hati dan juga pencerahan, jika berada di tangan yang salah sebuah Agama akan menjadi sebuah 'Senjata' terkuat karena mereka memiliki 'Tuhan' sebagai alasan untuk membenarkan segala tindakan yang mereka lakukan bahkan jika itu adalah tindakan paling biadab sekalipun.
Bahkan 'The Witch Hunt' yang sering diceritakan di dunia sana pun juga termasuk ke dalam akal-akalan pihak beragama untuk mengalihkan isu dari bencana yang saat itu melanda mereka dan menyalahkan semuanya ke para
gadis yang sebenarnya tidak bersalah dengan cara menyebut mereka sebagai Penyihir.
Dengan begitu para rakyat bodoh di sana bisa melampiaskan kekesalan mereka karena kehilangan orang yang mereka cintai sedangkan para pihak beragama bisa bersantai di rumah mereka sambil minum anggur.
Dan apa yang Pangeran Argenti ucapkan selanjutnya semakin membenarkan apa yang baru saja aku ucapkan.
"Mungkin kau tidak tahu akan hal ini. Tapi, Paus Senor itu sebenarnya adalah Saudara dari Ibunda kami. Bisa di bilang dia adalah Paman kami sekaligus orang yang sama yang memulai menjadikan Ayahanda kami sebagai Tuhan dan meminta para rakyat Kerajaan ini untuk menyembahnya"
"Serius? Eh, jadi begitu... Haha... Aku paham sekarang"
Jadi, akar dari segala masalah yang ada di Kerajaan ini semua adalah ulah dari dua orang kakak-beradik, Ratu Impar dan Paus Senor.
Menggunakan akal bulus mereka, mereka berhasil menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan. Dengan kekuasaan yang telah mereka dapatkan, mereka merayu dan mengakali Raja Pulchritudo yang kemungkinan besar pada saat itu
masihlah polos dan bodoh agar menganggap dirinya sebagai sesosok Tuhan yang pantas untuk di sembah.
Dengan suaminya yang sudah terbodohi, Ratu Impar dapat dengan leluasa menggerakkan seluruh Kerajaan agar mau menuruti semua kemauannya. Sedangkan Paus Senor, yah. Kemungkinan besar dia juga melakukan hal yang
sama dengan yang adiknya lakukan.
"Penyihir Lavender, dan juga... Selene. Sebenarnya diriku ini sudah memiliki seorang Tunangan. Dan Tunanganku itu adalah seorang Biarawati pilihan dari Paus Senor sendiri..."
Hmn... Dilihat dari raut mukanya, Pangeran Argenti sebenarnya tidak suka dengan pertunangan ini. Bukan karena gadis yang menjadi tunangannya itu jelek atau apa. Tapi karena tunangannya itu adalah orang suruhan dari Pamannya yang mana itu berarti ada maksud dan rencana tersembunyi dari pertunangan ini.
Dan aku yakin kalau Luna juga sadar akan hal ini...
"Begitu, apakah ada sesuatu yang Pamanmu itu inginkan darimu atau dia hanya sekedar tidak mempercayaimu dan berniat untuk mengirimkan bawahannya untuk mengawasi sekaligus mengekang segala tindakanmu?"
"Itu benar sekali. Paus Senor juga terkenal akan gerakan 'Supremasi Manusia' yang sudah gencar dia suarakan bahkan jauh sebelum dia menjadi seorang Paus"
"Ah... Dan kau terkenal akan fetish Non-Manusiamu itu... Aku paham sekarang"
"Tolong, jangan sebut itu sebagai Fetish"
Sekarang aku paham.
Seorang keturunan Raja yang suka tidur bersama dengan gadis dari ras selain Manusia pasti akan terlihat tidak pantas di mata seseorang yang sangat membenci ras selain Manusia.
Karena itu Paus Senor memilihkan gadis pilihannya untuk menikahi Pangeran Argenti yang nantinya bertugas untuk menghentikan segala aktifitas Pangeran Argenti yang di anggap sebagai tidak pantas di mata Gereja.
"Jadi, apakah alasan kau memberitahukan hal ini adalah sebagai bukti kalau kau tidak ingin menyimpan rahasia apa pun dari Selene, atau kau sebenarnya ingin kami untuk mengurus 'tunanganmu' itu?"
"Kalau bisa, keduanya..."
Ah, jadi begitu.
Entah ini karena Pangeran Argenti yang memang benar-benar ingin memulai hubungan yang serius dengan Luna hingga dia berniat untuk berhenti main-main dengan gadis lain. Atau mungkin karena 'tunangannya' ini memiliki paras... Kurasa bukan itu masalahnya... mungkin saja gadis yang menjadi 'tunangannya' itu memiliki kepribadian atau hal lainnya yang tidak disukai oleh Pangeran Argenti.
"Umm... Memangnya orang seperti apa tunanganmu itu?"
"Oh, apa ini? Apakah ada orang yang cemburu?"
"...hanya penasaran"
Oh, Luna... Tidakkah kau sadar betapa jelasnya ekspresi yang kau buat itu?
Aku yakin kalau Pangeran Argenti juga menyadari hal yang sama karena sungguh sebuah senyum kebahagiaan yang dia buat sekarang.
Pangeran Argenti pun mulai menjelaskan.
Gadis itu, Dara Blanco. Adalah seorang Biarawati dari Gereja Narsist (Yup, itu nama Gereja sekaligus agama mereka) adalah seorang gadis yang baik hati, suka menolong tanpa pamrih, ramah kepada 'semua' orang, dan masih banyak 'pujian' lainnya yang mengindikasikan kalau gadis bernama Dara ini adalah sesosok gadis impian dambaan semua Ibu-Ibu untuk dijadikan sebagai menantu.
Kalau itu saja sih maka seharusnya tidak ada masalah. Malahan Dara mungkin saja bisa menjadi pasangan yang paling sempurna bagi banyak orang.
Yah, banyak orang selain Pangeran Argenti.
"Sebagai seseorang yang ingin membuat Narsist Kingdom menjadi Kerajaan yang bisa menerima keberagaman ras sebagaimana Kerajaan lainnya. Ajaran dari Agama Narsist adalah halangan terbesar bagi ambisiku ini"
Dan gadis bernama Dara ini adalah seorang pengikut paling setia atau bahkan tidak berlebihan rasanya jika menyebutnya sebagai seorang fanatik.
Tidak peduli seberapa baik si Dara ini, kalau dia melihat ada yang melanggar ajaran dari Gereja, maka dia tidak akan segan untuk 'membenarkannya'. Dan sebagai sebuah Agama yang rasis, maka gaya hidup Pangeran Argenti
yang gemar bermain bersama gadis dari ras lain jelas tidak akan pernah bisa dia terima.
"Untungnya Dara itu payah dalam hal Sihir. Bahkan tidak ada satupun dari Skill yang dia miliki yang melebihi Level 10. Hanya saja sekali terbuka, mulutnya tidak akan pernah berhenti..."
"Ah, itu benar. Pernah sekali saat gadis sialan itu tahu kalau aku bukan bagian dari agama tidak jelas itu, dia langsung membacakan isi dari kitab sucinya kepadaku selama seharian penuh"
Oh, ya ampun.
Bahkan sampai menyadarkan Putri Margarita dari dunianya sendiri. Aku jadi penasaran sekaligus tidak ingin bertemu dengan si Dara ini.
"Benar sekali. Bahkan pernah sekali saat dia berkunjung ke Mansion milikku. Dia tanpa henti mencemooh semua Pelayanku hingga tidak ada seorang pun di Mansion yang ingin berurusan dengannya lagi. Bahkan Aranea, ah, dia
itu salah satu Pelayanku. Aranea yang terkenal karena ramah kepada semua orang pun bahkan sampai ingin memakannya hidup-hidup saking kesalnya"
Wow, semua Pelayan yang ada di Mansionnya itu semua terdiri dari ras selain Manusia kan? Sungguh, aku sampai tidak ingin membayangkan apa yang telah mereka lewati ketika harus di suruh untuk melayani orang yang jelas-jelas merendahkan diri mereka.
Di saat aku sedang bingung harus melakukan apa terhadap masalah ini, Luna pun kembali angkat bicara.
"Pangeran Argenti, apakah kami bebas untuk melakukan apa pun terhadap gadis ini?"
"Hmm? Oh, iya. Terserah saja. Asalkan dia bisa keluar dari kehidupanku maka aku tidak akan peduli akan apa nasibnya kedepannya"
"Terserah yah"
Apa ini? Kenapa Luna bertingkah seperti ini? Apakah gadis yang sedang di makan api cemburu memang bisa menjadi seperti ini?
"Katakan, memangnya apa yang ingin kau perbuat kepada gadis itu?"
"Bukan hal yang aneh. Aku hanya ingin menyerahkannya kepada Milim"
Milim? Ah... Aku paham sekarang!
"Hahaha...Pintar sekali! Kau benar, gadis semacam itu memang pantas jika mendapatkan satu atau dua ajaran dari Milim"
Walau tampak bingung akan apa yang kami rencanakan, Pangeran Argenti tidak bertanya lebih jauh dan hanya mempercayakan semuanya kepada kami.
Setelah itu kami berhenti membicarakan topik yang rumit dan hanya mengobrol santai sambil menikmati camilan yang disediakan.
Sebelum lupa, perihal lamaran dari Pangeran Argenti kepada Luna. Sudah diputuskan kalau jawaban Luna akan di tunda sampai kami selesai mengurus 'Tunangan' dari Pangeran Argenti. Tentu saja Pangeran Argenti terlihat sedih saat mendengar ini. Tapi dia bersabar dan mau menunggu jawaban dari Luna.
Tanpa terasa hari sudah sore dan matahari pun sudah mulai tenggelam.
Ditemani oleh cahaya langit sore, kami pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan pada hari ini.
"Ini adalah sebuah pertemuan yang sangat bermanfaat. Akan susah sekiranya untuk memikirkan hadiah apa yang bisa kami berikan kepada kalian ketika semua masalah di Kerajaan ini berakhir"
"Jika kalian ingin memberikan kami hadiah, kenapa tidak sekarang saja? Kebetulan ada sesuatu yang diriku sangat inginkan di Kerajaan ini"
"Benarkah? Kalau begitu tolong sebutkan, selama itu masih berada dalam kuasa kami. Maka dengan senang hati kami akan mengabulkannya"
Kalian dengar itu kan? Katanya semua permintaan akan dikabulkan asal itu masih ada dalam batas wajar.
Yah, untungnya permintaanku ini masih dalam batas wajar.
"Apa yang diriku inginkan adalah sebuah wilayah"