A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 75 : The Outcasts



Dengan panduan dari para bocah remaja, kami akhirnya tiba di kota tempat bagi mereka yang terbuang.


Undercity.


Itulah bagaimana mereka memanggil tempat ini.


Hal pertama yang menyambut kami adalah sebuah pintu gerbang yang di buat menggunakan gabungan dari pelat besi yang tampaknya mereka pungut dari tempat sampah. Walau begitu, gerbang yang mereka buat sangatlah tebal. Aku perkirakan gerbang itu setebal 1 meter yang sepenuhnya terbuat dari pelat besi yang digabungkan satu sama lain.


Total aku menghitung ada 10 orang yang menjaga gerbang tersebut.


Sama seperti para bocah, para penjaga gerbang hanya mengenakan Armor bekas yang sudah tidak layak pakai namun mereka perbaiki hingga ke tahap siap pakai.


Walau aku tahu kalau dunia ini sejatinya adalah dunia fantasi, tapi pemandangan yang ada di hadapanku sekarang mengingatkanku akan dunia Steampunk.


Setelah berbicara dengan para bocah, para penjaga pun menginzinkan kami untuk masuk ke dalam kota.


Melewati gerbang yang terbuka, kami di sambut oleh pemandangan kebun buah dan sayuran yang tidak pernah aku sangka akan terlihat di bawah tanah seperti ini.


Tidak hanya kebun, aku juga melihat adanya hewan ternak seperti ayam, sapi dan domba yang sedang merumput dari rumput dan lumut yang tumbuh menyembul dari balik lantai beton yang penuh dengan retakan.


Tampak orang-orang berpakaian seperti petani seketika menghentikan pekerjaan mereka ketika menyadari keberadan kami.


Mereka memberikan tatapan penuh akan rasa penasaran dan waspada akan orang asing yang baru saja memasuki kota mereka.


Melewati area perkebunan, kami tiba di sebuah kota yang rapat dan padat.


Hampir tidak ada jarak sama sekali antar setiap rumah dan bahkan apa yang seharusnya adalah jalan raya memiliki lebar yang kurang lebih sama dari jalan setapak sebuah gang sempit.


Rumah-rumah yang berdiri pun tidak bisa dikatakan sebagai rumah yang layak.


Walau sebagian besar terbuat dari bahan batu yang kokoh, tapi tidak sedikit rumah yang memiliki dinding terbuat dari tripleks atau bahkan seng berkarat yang memberikan kesan kumuh pada kota ini.


Karena jarak antar rumah yang sangat padat, membuatku tidak bisa memperhitungkan seberapa luasnya kota ini yang sebenarnya. Namun dari jumlah penduduk yang aku lihat di jalanan, kota ini pastinya penuh sesak oleh penduduk karena lahan yang terbatas.


Masih di bimbing oleh para bocah remaja, kami bermanuver di jalanan yang sempit dan membingungkan karena setiap bangunan yang ada terlihat sama semua.


Di tengah perjalanan, aku mendapati kalau ternyata penduduk kota ini tidak hanya terdiri dari Manusia saja. Ada ras lain selain Manusia yang juga menghuni kota kumuh ini.


"Arachne dan Lamia?"


Arachne, mereka adalah ras dengan tubuh bagian atas berupa gadis Manusia dan tubuh bagian bawah berupa tubuh seekor laba-laba. Dari buku yang aku baca, Arachne di dunia ini sepenuhnya adalah wanita. Tidak ada satupun lelaki di dalam ras mereka.


Demi bisa berkembang biak, Arachne terkenal suka menculik lelaki yang mereka temukan di dalam hutan dan memaksa mereka untuk berhubungan badan sebelum akhirnya lelaki tersebut akan di makan.


Hal yang sama juga terjadi pada ras Lamia.


Mereka adalah satu lagi ras yang sepenuhnya terdiri dari wanita. Kalau Arachne memiliki tubuh bagian bawah berupa laba-laba, Lamia memiliki tubuh bagian bawah menyerupai tubuh ular yang bersisik.


Walau tubuh bagian atas mereka juga menyerupai gadis Manusia, tapi dapat terlihat kalau sebagian besar tubuh mereka ditutupi oleh sisik yang berkilau dan terdapat membran seperti selaput pada kaki katak di antara jari-jemari tangan mereka.


Yang membuatku penasaran adalah bagaimana mereka bisa sampai di tempat ini.


Bukan hanya Kerajaan ini sangat membenci ras selain Manusia, tapi habitat tempat tinggal mereka juga seharusnya jauh dari sini.


Kalau Lamia masih bisa aku wajarkan karena habitat asli mereka berada di area rawa-rawa yang penuh dengan air. Melihat mereka berada di dalam selokan seperti ini masih bisa terbilang wajar.


Sebaliknya, Arachne seharusnya tidak ada di sini.


Mereka seharusnya tinggal di dalam hutan yang lebat jauh dari pemukiman Manusia atau bahkan ras lainnya. Terlebih mereka terkenal sebagai ras antisosial yang hanya mau berhubungan dengan bangsa mereka sendiri.


Melihat mereka tinggal bersama dengan Manusia dan Lamia di bawah tanah seperti ini jelas adalah sesuatu hal yang janggal dan tidak biasa.


Tidak lama kemudian kami akhirnya tiba di tempat tujuan kami.


Alasan kenapa aku bisa menyadarinya adalah karena bangunan di hadapanku sekarang adalah bangunan terbesar yang pernah aku lihat semenjak aku berada di kota ini.


Berdasarkan struktur luarnya, bangunan ini dulunya mungkin saja adalah gedung pemerintah atau bahkan rumah dari Walikota yang berkuasa atas kota ini.


"Tolong tunggu di sini"


Si bocah tertua yang tampak seperti pemimpinnya lalu masuk ke dalam bangunan sambil ditemani oleh dua rekannya yang lain.


Sementara itu kami mesti berdiri di sini sembari menjadi objek tontonan para penduduk yang penasaran akan orang asing yang baru mereka temui untuk pertama kali.


Walau aku merasa tidak senang akan hal ini, tapi aku berusaha untuk menahan diri untuk tidak mengeluh dan akhirnya malah menyinggung perasaan mereka yang rapuh.


Melihat ke samping, Luna yang gugup karena menjadi objek perhatian mulai melilitkan ekornya pada pahanya. Jika saja aku tidak menyentuh pundaknya, Luna bisa saja sudah membuat dirinya menghilang demi terhindar dari menjadi objek perhatian.


Di saat bosan menunggu, aku menyadari sesuatu yang seketika membuatku bertanya-tanya.


Setiap perempuan yang aku lihat, baik itu tua ataupun muda, semuanya memiliki bekas luka di wajah mereka.


Bekas luka tersebut tidak tampak seperti luka bekas pertarungan, melainkan itu adalah luka yang sengaja mereka torehkan pada wajah mereka sendiri.


Seorang gadis tidak akan melukai wajahnya sendiri tanpa adanya sebuah alasan yang kuat. Yang menjadi masalah sekarang alasan apa yang cukup kuat hingga membuat setiap gadis yang ada di kota ini sengaja mencoreng wajah


mereka sendiri dengan luka?


Setelah menunggu untuk waktu yang terbilang cukup lama, si bocah pemimpin akhirnya kembali dan berkata kalau Ketua mereka sudah menunggu di dalam.


Masuk ke dalam, terlihat kalau bahkan di dalam gedung ini juga penuh sesak.


Sekat-sekat yang terbuat dari kain atau bahkan tripleks di dirikan hingga menciptakan kesan seperti sebuah tempat penampungan sementara.


Dari dalam sekat tersebut terlihat sebuah keluarga yang sedang bersantai serta penduduk lainnya yang sedang melakukan aktifitas selayaknya berada di dalam rumahnya sendiri.


"Bahkan Ketua kalian tidak punya rumah pribadi yah"


"Mau bagaimana lagi, tempat yang bisa di huni di bawah sini sangatlah terbatas. Jika tidak berbagi maka banyak orang yang tidak akan punya tempat untuk berbaring pada malam hari"


Heh, jadi di bawah sini yang namanya kepemilikan pribadi itu sama saja dengan tidak ada yah.


Naik ke lantai kedua menggunakan tangga yang penuh akan jemuran yang masih basah, aku mendapati bahwa kondisi di lantai kedua sama saja dengan yang ada di lantai pertama. Aku bahkan mendapati ada satu keluarga yang sedang makan siang di dalam salah satu sekat yang ada.


Aku juga melihat kalau keluarga yang terdiri dari ras yang berbeda itu cukup wajar di sini.


Bahkan aku baru saja melihat ada keluarga yang terdiri dari Ibu seorang Arachne dengan Ayah yang seorang Manusia. Sedangkan anak mereka berdua ada yang merupakan seorang Arachne seperti si Ibu dan ada juga yang


seorang Manusia seperti sang Ayah.


Naik ke lantai ketiga, barulah suasana menjadi lebih lenggang.


Di sini hanya terdapat orang-orang yang menggunakan Armor tampak berperan sebagai penjaga.


Dengan ini aku jadi mengetahui kalau Ketua mereka itu menguasai seluruh lantai ketiga untuk dirinya sendiri.


Heh, apanya yang harus saling berbagi.


"Kemari"


Kami lalu di bawa menuju sebuah ruangan dengan pintu ganda yang terbuat dari baja.


Masuk ke dalam, aku melihat kalau ruangan tersebut penuh dengan orang-orang yang mengenakan Armor yang walau bukan Armor yang sebenarnya, tapi kualitasnya terlihat jauh lebih baik dari semua Armor yang aku lihat


sejauh ini.


Di tengah ruangan terdapat sebuah sofa yang penuh dengan tambalan.


Duduk di atas sofa tersebut adalah seorang pria tua yang mengenakan jubah kumal dan membawa sebuah tongkat berjalan yang terbuat dari kayu dengan ukiran kepala seekor ular pada pegangannya.


Pria tua itu menatap tajam ke arahku yang mana itu langsung memicu [Sixth Sense] milikku.


"Bangsawan, bukan. Anggota Kerajaan!"


Tidak salah lagi, orang tua di hadapanku ini adalah seorang anggota keluarga Kerajaan.


Itu terbukti dari para penjaga yang seketika menghunuskan pedang mereka ketika mendengar ucapanku. Menanggapi ini, para Pelayanku segera berusaha melindungiku dan juga Luna.


"Diam!"


Hanya dengan satu hentakkan dari tongkatnya, pria tua itu sukses membuat semua penjaga menurunkan senjata mereka.


Lalu, pria tua itupun tersenyum.


"Selamat datang, Putri dari Ciel. Perkenalkan, namaku adalah... Aku sudah lama membuang namaku, jadi sebut saja diriku sebagai Dean"


Aku tidak akan terkejut jika dia ternyata merupakan mantan Raja dari Kerajaan ini.


"Senang bertemu dengan Anda, perkenalkan, namaku adalah Lavender La Ciel. Putri dari Orchid La Ciel. Cucu dari Cardinal La Ciel. Orang yang ada di samping Saya adalah murid Saya, Luna"


Setelah saling memperkenalkan diri, kami pun diizinkan untuk duduk.


Tentu saja yang duduk hanya aku dan Luna. Sedangkan Pelayanku yang lain berdiri di belakangku sebagai penjaga.


Kami lalu disuguhkan dengan minuman yang mirip dengan teh namun berwarna kemerahan. Meminumnya, aku merasakan tubuhku terasa hangat dan perasaanku terasa lebih tenang.


"Itu adalah teh yang diseduh dari rumput Albino yang hanya tumbuh di hutan para Arachne. Sungguh susah untuk mendapatkannya, terlebih jika kau harus terus bersembunyi sepanjang waktu"


Mengatakan itu, Dean lalu meminum tehnya dengan gaya minum selayaknya seorang Bangsawan.


Setelah itu tidak ada dari kami yang mengatakan sesuatu. Aku tahu kalau dia berharap untuk basa-basi terlebih dahulu, makanya aku akan segera masuk ke topik pembicaraan.


"Tuan Dean, kedatangan kami kemari adalah untuk mengetahui kondisi internal dari Narsist Kingdom serta menemukan dari mana mereka mendapatkan semua Item aneh yang mereka miliki. Jika Anda mengetahui sesuatu, bisakah Anda memberitahukan informasi itu kepada kami?"


Kembali menenggak tehnya dengan anggun, Dean pun akhirnya bicara.


"Setelah jatuhnya kota Ayu, itu adalah benteng yang bisa berjalan yang kalian hancurkan beberapa waktu yang lalu, kondisi di dalam Narsist Kingdom tidaklah begitu bagus. Banyak Keluarga yang kehilangan tidak hanya


Kepala Keluarga namun juga pewaris mereka. Untuk sementara waktu, para keluarga Bangsawan yang kehilangan Kepala Keluarga mereka sedang sibuk untuk saling memperebutkan posisi yang sekarang tengah kosong.


Sedangkan bagi Keluarga Bangsawan yang sama sekali tidak terpengaruh oleh jatuhnya kota tersebut, mereka sekarang sedang membangun kekuatan demi mengamankan posisi mereka di mata sang Raja"


Aku sudah mengetahui informasi yang ini. Namun apa yang selanjutnya Dean katakan membuatku terkejut.


"Raja Narsist Kingdom saat ini, Pulchritudo ol Narsist. Dia dulunya adalah anak yang periang dan juga cerdas. Tidak hanya itu, sejak kecil dia sudah di anugerahi dengan paras yang sangat rupawan hingga membuat semua


orang terkesima dan iri saat melihatnya.


Berkat itu dia selalu dibanjiri pujian yang mengatakan kalau parasnya mampu membuat bahkan para Dewa dan Dewi Kahyangan iri.


Karena selalu di puji seperti itu sejak masih kecil, membuat Pulchritudo muda tumbuh menjadi seorang narsistik yang sangat parah. Hingga beberapa detik setelah Mahkota Kerjaan ini diwariskan kepadanya, dia langsung


mendeklarasikan dirinya sebagai Dewa yang patut untuk disembah oleh semua orang"


Aku tahu kalau nama Kerajaan ini itu memang Narsist. Tapi kalau Rajanya sampai seperti ini, membuatku tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Tuan Dean, apakah Anda yakin kalau perubahan pada sang Raja itu terjadi murni karena dia terlalu banyak di puji, atau apakah ada pengaruh dari luar yang selalu membisiki telinganya hingga dia mulai menganggap


dirinya sebagai seorang Dewa?"


Atas pertanyaanku, Dean tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka mulutnya.


"Kalau pengaruh dari luar, satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah Pelacur yang dia nikahi. Ah, benar juga... Penyihir Lavender, apakah Anda menyadari kalau setiap perempuan yang ada di kota ini memiliki luka di wajah mereka?"


Akhirnya dia menyinggung topik itu sendiri. Padahal sedari tadi aku berusaha untuk mencari celah untuk menanyakan masalah ini.


Baiklah, dia menyinggung masalah ini tepat setelah menyebut si Pelacur yang kemungkinan besar adalah si Ratu dari Narsist Kingdom.


Jika penyebab kenapa semua gadis di kota ini sampai mau melukai wajah mereka sendiri adalah karena mereka takut kepada sang Ratu, itu berarti si Ratu ini sangatlah narsistik dan juga memiliki masalah inferiority complex yang parah hingga dia tidak akan memaafkan jika ada gadis yang lebih cantik dari dirinya.


Sungguh, orang seperti ini adalah orang yang paling menyusahkan yang pernah ada.


Maksudku, jika kau merasa lebih rendah dari orang lain, maka kau seharusnya berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Atau setidaknya jadilah penyendiri dan menjauh dari masyarakat sehingga tidak ada lagi yang bisa kau sandingkan dengan dirimu sendiri.


Aku lebih suka orang seperti itu ketimbang mereka yang tidak akan berpikir dua kali untuk menghancurkan orang lain agar tidak ada lagi yang lebih baik dari diri mereka.


"Tentu aku menyadarinya. Sungguh, apakah Ratu Kerajaan ini begitu tergila-gila akan kecantikan namun tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup hingga dirinya harus memaksa wanita lain untuk menjadi jelek hanya agar


dirinya tetap terlihat yang paling cantik?"


"Sungguh sebuah deduksi yang tepat sasaran. Itu benar, Pelacur itu tidak akan segan membakar wajah perempuan yang lebih cantik dari dirinya. Hah... Segalanya bertambah buruk ketika Pelacur itu berhasil mendapatkan tangannya pada cermin ajaib itu"


Tunggu, cermin ajaib?


Ratu narsis, cermin ajaib, gadis tercantik.


Jika ini sama seperti cerita si Putri Salju maka aku akan marah besar.


"Maaf, Tuan Dean. Jika boleh bertanya, apakah sang Ratu sering bertanya "Siapakah wanita tercantik di dunia ini?" kepada cermin ajaib tersebut?"


Atas pertanyaanku, Dean hanya mengangguk.


Tanpa ragu lagi aku segera membuat kuku tanganku menjadi cakar yang tajam dan tanpa banyak basa-basi langsung mencakar wajahku sendiri.


"MASTER!"


"Guru!?"


Tanpa memedulikan mereka yang mencemaskanku, aku sudah sibuk menahan rasa sakit seolah terbakar pada wajahku sembari menyembuhkannya namun tetap membiarkan lukanya tetap berbekas.


Setelah rasa sakitnya mulai mereda, aku lalu menaruh perhatianku kepada Luna.


"Erm... Guru? ...Guru!!!"


"Diamlah dan jangan banyak bergerak"


Menahan wajahnya dengan tangan kiriku, dengan cepat aku lalu mencakar wajahnya hingga terciptalah sebuah bekas cakaran di wajahnya yang mulus.


"Argh!"


"Tahanlah, aku akan segera menyembuhkanmu"


Menggunakan (Light Heal) aku lalu menyembuhkan luka di wajah Luna sebagaimana aku menyembuhkan luka di wajahku sendiri.


Setelah yakin kalau wajah Luna sudah tidak lagi berdarah, aku lalu menoleh ke arah para Pelayanku.


"Lukai wajah kalian sendiri, sekarang!"


Menuruti perintahku, Percy dan Zweite tanpa ragu mulai menyayat wajah mereka sendiri. Sedangkan Victoria dan Glory sempat ragu untuk menjalankan perintahku, tapi segel budak di leher mereka segera menyala dan membuat


tubuh mereka bergerak sendiri.


"Sungguh sebuah keputusan yang bijak. Pelacur itu selalu bertanya kepada cermin ajaib setiap pagi setelah dia bangun tidur dan pada malam hari sebelum dirinya tertidur"


Sudah aku duga.


Kami datang pada siang hari dan sekarang kemungkinan besar masih sore hari. Kecil kemungkinan kalau keberadaan kami masih belum diketahui.


Meski begitu, aku bersumpah untuk menguliti wajah Pelacur itu setelah semua ini selesai.


"Selain cermin ajaib itu, apakah masih ada item lain yang harus kami waspadai?"


Dean lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku kurang tahu, terlalu banyak item aneh yang mereka temukan dari dalam reruntuhan kuno"


"Reruntuhan kuno? Kalau boleh tahu, di manakah lokasi dari reruntuhan yang Anda maksud?"


Memberikan arahan kepada orang di sampingnya, sebuah peta pun di letakkan di atas meja yang menampilkan seluruh wilayah dari Narsist Kingdom.


Mengambil potongan kayu yang berwarna merah, Dean mulai meletakkan potongan kayu tersebut di atas peta.


"Semua tempat yang telah di tandai adalah lokasi semua reruntuhan yang berhasil kami ketahui. Informasi ini baru diperbaharui seminggu yang lalu"


"Banyak sekali"


Total ada lebih dari 20 tanda yang diletakkan di atas peta. Itu berarti ada lebih dari 20 lokasi reruntuhan yang tersebar di seluruh wilayah Narsist Kingdom.


"Tolong jangan bilang kalau penggalian masih terjadi di semua lokasi?"


"Sayang sekali, memang itulah faktanya"


Sialan. Padahal aku berencana untuk menghancurkan reruntuhan itu kalau bisa. Tapi itu hanya jika hanya terdapat satu atau dua reruntuhan. Menghancurkan semua reruntuhan yang ada jelas merupakan tugas yang sulit atau bahkan mustahil.


"Tuan Dean, kalau boleh tahu, apakah ada pasukan khusus atau individu yang harus kami waspadai di Kerajaan ini?"


Berpikir sejenak, Dean lalu mulai memberitahukan semua informasi yang dia ketahui.