
Jenderal dari Dataran Selatan, Auster El Austellus.
Pada usianya yang ke 20 tahun dia sudah berhasil menguasai sihir tingkat ketiga, [Terra Magic]. Yang mana itu langsung menghantarkannya ke posisinya sebagai salah satu dari empat Jenderal besar di Narsist Kingdom.
Mengenakan Full Armor berwarna cokelat yang berhiaskan emas dan permata, Auster menggenggam erat Battle Axe miliknya sembari memandangi hutan lebat yang ada di hadapannya.
Dengan total 100.000 prajurit yang diberikan oleh yang Mulia Raja kepadanya, Auster harus bisa menembus pertahanan dari Sanguine Kingdom dan membukakan jalan bagi pasukan utama untuk menginvasi Kerajaan yang
selama ini telah menjadi penghalang bagi cita-cita Narsist Kingdom.
Walau dirinya sudah dijanjikan gunung emas dan permata serta satu ruangan penuh akan gadis cantik yang masih perawan sebagai hadiah keberhasilannya, Auster tahu kalau tugasnya kali ini tidaklah mudah.
Perbatasan dari Sanguine Kingdom sudah terkenal akan kemampuannya untuk menyesatkan siapa saja yang memiliki niatan buruk. Walau tidak terdapat dinding kokoh atau benteng yang penuh akan penjaga yang bisa
menghalanginya, tapi sebuah hutan lebat yang penuh akan ilusi jelas bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng bahkan bagi dirinya.
Terlebih orang yang membuat perbatasan Sanguine Kingdom menjadi memiliki kemampuan ini tidak lain dan tidak bukan adalah sang Ratu para Roh (Spirit) yang Mulia Ratu Cascade sendiri.
Kekuatan sihirnya di gadang-gadang sangatlah luar biasa sehingga jika di adu dengan seluruh Penyihir (Witch) dari Sol Ciel, Ratu Cascade dijamin akan keluar sebagai pemenang tanpa ada debu yang menempel pada kulit mulusnya.
Bahkan jika dirinya dan pasukannya telah dibekali dengan artefak dari reruntuhan kuno sekalipun, masih belum tentu pasukannya bisa menang melawan pasukan dari Sanguine Kingdom yang telah hidup selama ratusan tahun dan terus menerus mengasah kekuatan tempur mereka.
Meski telah tahu semua itu, Auster harus tetap menjalankan tugasnya dan kembali dengan kemenangan.
"Semua pasukan! Bersiaaap!"
Mengangkat Battle Axe miliknya tinggi ke udara, teriakannya dengan kencang dan jelas mengumandang ke seluruh penjuru.
Setiap prajurit yang mendengar perintah sang Jenderal pun segera berdiri tegak dan berbaris dengan rapi.
"Pasukan pertama, Maju! Jalaaan!!!"
Memisahkan diri dari pasukan utama, total 10.000 prajurit berbaris maju menuju Sanguine Kingdom.
Dengan di pimpin oleh seorang Kapten yang telah dipilih langsung oleh Auster, pasukan pertama berbaris dalam formasi rapi dan tanpa ragu melangkahkan kaki mereka ke medan tempur.
Suara langkah kaki menggema di atas pasir panas yang kini mulai berubah menjadi tanah yang kering dan gersang. Dengan hutan hijau sudah di depan mata, hanya tinggal beberapa ratus meter lagi sebelum akhirnya mereka menyentuh tanah Sanguine Kingdom.
Jenderal Auster sangat percaya diri akan kemampuan pasukannya yang telah dilatih dengan disiplin dan kerja keras.
Walau pasukan pertama di kirim maju sendiri semata-mata hanya sebagai umpan untuk melihat reaksi dari pihak musuh, dirinya percaya kalau setidaknya pasukan pertama mampu memberikan kerusakan yang cukup parah pada pasukan lawan.
Meski begitu, entah mengapa Auster mendapatkan firasat kalau pertempuran kali ini tidak akan menjadi pertempuran yang mudah.
Dan firasatnya itu langsung terjawab.
"SERAAAAANGG!!!!"
Dari dalam hutan, hujan panah dan sihir beterbangan tepat ke arah pasukan Narsist Kingdom yang sudah berada tepat di pinggiran hutan.
Menanggapi ini, pasukan pertama yang di pimpin oleh Kapten mereka tidaklah gentar dan segera mengangkat tinggi perisai mereka demi menyambut serangan yang datang.
Dengan perisai yang terbuat dari logam terbaik dan ditempa oleh Blacksmith ternama di Narsist Kingdom, pasukan pertama dengan mudahnya menahan gempuran serangan dari pasukan aliansi yang bersembunyi di dalam hutan.
Melihat kalau serangan mereka tidaklah efektif, pasukan aliansi yang datang menyerang segera mengambil langkah mundur menuju benteng pertahanan mereka.
Merasa tidak ada lagi serangan yang datang, Kapten dari pasukan pertama memerintahkan pasukannya untuk kembali bergerak maju masuk ke dalam hutan.
Auster yang melihat kalau serangan awal tadi hanya sekedar gertakan, tahu benar kalau sebenarnya pihak Sanguine Kingdom hanya mencoba untuk mencari tahu seberapa kuat pasukannya sama seperti dirinya yang mengirim pasukan pertama untuk mengetahui kemampuan lawannya.
Melihat kalau mereka langsung mundur setelah melontarkan satu serangan, sebuah kecurigaan tumbuh di dalam hati Auster.
"Apakah mereka memiliki rencana?"
Auster tahu benar kalau serangan lemah itu jelas bukanlah kemampuan terbaik dari Sanguine Kingdom. Dengan pasukan musuh yang segera mundur setelah satu kali menyerang sangatlah mencurigakan hingga membuatnya berniat untuk segera menyelidikinya.
Namun, sebagai seorang Jenderal serta pemimpin utama dari 100.000 pasukan, Auster tidak bisa sembarang dalam mengambil tindakan. Merasa tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang, dirinya hanya bisa diam sambil berharap kalau Kapten dan pasukan pertama mampu kembali dan membawa kemenangan.
Hingga sampai keesokan harinya, pasukan pertama masih belum kunjung kembali. Karena sama sekali tidak ada kabar dari mereka, pasukan pertama pun kini telah dinyatakan musnah.
...
Berdiri di atas gerbang benteng adalah Kepala Suku Bearnard, Pangeran Draco, dan Ratu Titania.
Mereka bertiga berdiri di sana sambil memandangi pemandangan yang ada di bawah mereka.
Tepat di depan gerbang benteng adalah tumpukan tubuh dari apa yang dulunya adalah pasukan yang dikirim oleh Narsist Kingdom. Dari yang awalnya 10.000 pasukan terlatih, kini tidak ada lagi yang tersisa dari mereka.
Tubuh mereka kini sedang dikumpulkan menjadi satu tumpukkan besar sebelum akhirnya di kuburkan secara massal. Tentu saja semua Equipment dan Item yang mereka miliki telah disita dan sedang di selidiki takutnya terdapat item terkutuk yang berbahaya jika disimpan begitu saja.
Dan Bearnard akan berpura-pura untuk tidak melihat tingkah anak buahnya yang mengambil beberapa tubuh untuk nantinya di 'pajang' di pintu masuk hutan sebagai sebuah hiasan.
"Meski ketahanan mereka terhadap sihir sangatlah menyusahkan, tapi kemampuan personal mereka tidaklah begitu menakjubkan"
"Kau mengatakan itu, Pangeran Draco. Jika bukan karena strategi yang kau sarankan maka aku yakin kalau pertempuran sebelumnya tidak akan menjadi semudah ini"
"Diriku setuju dengan Kepala Suku Bearnard. Pertempuran sebelumnya bisa berjalan dengan lancar itu semua berkat dirimu"
"Oh, kalian berdua terlalu memuji"
Melihat banyaknya goresan pada permukaan benteng serta tanah di depan benteng yang sudah tidak lagi rata, mengatakan betapa sengitnya pertempuran yang baru saja terjadi.
Akan tetapi, kerusakan yang ditimbulkan masih terhitung minimal dengan hanya menimbulkan korban luka dari pihak aliansi sedangkan seluruh pasukan musuh telah sirna tanpa tersisa.
Semua ini bisa terjadi adalah berkat strategi yang disarankan oleh Pangeran Draco.
Strategi berawal dengan mengirim kelompok Otherworlder untuk memberikan serangan pembuka. Selain sebagai sebuah deklarasi perang, serangan pembuka itu juga bertujuan untuk mencari tahu seberapa kuat lawan yang akan mereka hadapi.
Selesai memberikan serangan pembuka, mereka pun segera mundur jauh ke dalam hutan sembari memancing agar pasukan dari Narsist Kingdom untuk mengikuti mereka.
Pasukan Narsist Kingdom yang baru saja diserang tentu saja tidak akan diam begitu saja dan mulai mengejar kelompok Otherworlder masuk ke dalam hutan.
Di saat mereka sibuk mengejar, sudah terlambat ketika mengetahui kalau selama ini mereka telah masuk ke dalam jebakan.
Tidak menyangkal kalau itu adalah sebuah kejadian komedi ketika pasukan Narsist Kingdom yang awalnya melaju dengan gagahnya terpaksa untuk berhenti ketika wajah mereka menghantam sebuah dinding tak terlihat dengan sangat keras.
Di saat para Spirit menurunkan tabir ilusi mereka, barulah terlihat sebuah dinding kayu yang tinggi menjulang tepat di hadapan mereka.
Para pasukan Narsist Kingdom yang tidak mengetahui kalau ternyata terdapat sebuah benteng di dalam hutan jelas menjadi tercengang karena benteng tersebut seolah-olah muncul begitu saja di hadapan mereka.
Kapten dari pasukan Narsist Kingdom dengan cekatan segera mengirim seseorang untuk mundur dan memberitahukan penemuan ini kepada pasukan Utama. Hanya untuk mendapati kalau jalan mereka untuk mundur telah di tutup oleh pasukan Otherworlder yang sedari tadi telah menunggu sambil bersembunyi di balik rimbunnya hutan.
Sebuah benteng kokoh di hadapan mereka dan pasukan abadi di belakang mereka.
Mendapati kalau mereka telah di kepung, pasukan dari Narsist Kingdom pun tidak punya pilihan lain selain untuk bertarung habis-habisan sembari mencari celah untuk bisa mundur dan melaporkan ini kepada Jenderal Auster.
Sayang, walau mereka telah dibekali dengan Equipment terbaik yang bisa diberikan oleh pihak Kerajaan, pasukan pertama dari Narsist Kingdom mau tidak mau harus menemui ajal mereka.
Melihat anak buahnya tumbang secara satu-persatu, Kapten pasukan pertama yang melihat kalau tidak ada lagi harapan segera meraih sebuah item dari sakunya dan mengaktifkannya.
Seketika tubuhnya mengeluarkan aura kemerahan yang mengintimidasi dan memberikan kesan jahat. Sedetik kemudian dia mengeluarkan sebuah teriakan kesakitan ketika Armor yang dia kenakan mulai menyatu dengan tubuhnya.
Jika dibiarkan, maka Kapten pasukan pertama akan berubah menjadi seekor monster raksasa dengan permukaan kulit yang terbuat dari Armor kuat yang melebihi bahkan Mithril sekalipun.
Itu jika dia dibiarkan untuk berubah hingga selesai.
Para Otherworlder yang sudah familiar dengan penjahat yang memiliki fase kedua seperti ini jelas tidak akan diam saja sambil melihat musuh mereka selesai berubah. Secara serempak mereka mulai memfokuskan serangan
sihir dan panah mereka ke arah Kapten pasukan pertama.
Mendapati perubahannya terganggu, Kapten pasukan pertama menjadi lebih tersiksa ketika rasa sakit yang dia derita harus bertambah berkali-kali lipat.
Sebagai penutup, Petualang terkuat dari pihak Otherworlder. Ketua dari Party The Guardian, Doragon. Maju dengan gagahnya dan sukses memenggal kepala si Kapten pasukan pertama yang masih belum selesai berubah.
Sisa Pasukan yang melihat Kapten mereka yang tanpa kepala dan tubuhnya yang seketika mencair begitu saja jelas tidak lagi memiliki semangat untuk bertarung.
"Katakan, apa yang harus kita perbuat untuk menangani para tahanan?"
"Hmn... Dari sekitar 10.000 pasukan kini hanya tinggal kurang dari 400 orang. Walau jumlah mereka kecil dan semua Equipment mereka telah dilucuti, tetap saja terlalu berbahaya untuk membiarkan mereka tetap berada di
tanah ini"
Saran dari Kepala Suku Bearnard pun dengan mudah disetujui. Pada esok hari para tahanan dari Narsist Kingdom akan segera di bawa menuju Ferox Kingdom sebelum akhirnya mereka akan dijual sebagai budak.
"Tetap saja, apakah di sini tidak ada peraturan di mana jika kau sudah kehilangan 30% dari pasukanmu maka itu sama saja dengan kalah?"
Mendengar pertanyaan dari Kepala Suku Bearnard, Ratu Titania dan Pangeran Draco sama-sama terkejut.
"Oh, apakah Otherworlder memiliki kebiasaan itu?"
"Menarik, dengan itu jumlah korban jiwa bisa dikurangi..."
Meski fakta ini sangat menarik bagi mereka berdua, tapi secara bersamaan mereka juga tahu kalau hal ini mustahil diimplementasikan di dunia mereka.
"Tampaknya moral di dunia kalian sangat di junjung tinggi. Tapi sayang, hal yang sama tidak bisa dikatakan terhadap dunia ini"
"Begitu, aku tidak akan memaksa kalau begitu"
Melihat kalau kegiatan pembersihan sudah selesai, mereka bertiga pun segera kembali ke ruangan masing-masing untuk beristirahat sembari bersiap untuk pertempuran selanjutnya.
...
Bertengger di atas dahan pohon adalah Feline yang mengenakan pakaian serba hitam yang membantunya dalam berbaur dengan gelapnya malam.
Dengan mata kucingnya dia mengintai kondisi pasukan Narsist Kingdom yang masih bersiaga di area gurun. Bahkan setelah seharian tidak menerima kabar dari pasukan yang mereka kirim ke dalam hutan, masih tidak terlihat adanya pergerakan berarti dari pihak Narsist Kingdom.
Terlihat tenda-tenda sudah di dirikan sebagai tempat bagi pasukan untuk beristirahat. Terlihat juga sebuah tenda yang paling besar dan yang paling mewah berdiri di tengah-tengah area perkemahan. Tidak perlu dikatakan lagi kalau itu adalah tenda utama tempat Komandan mereka berada.
Sayang mereka berada di area gurun kosong tanpa ada sesuatu yang bisa digunakan sebagai tempat sembunyi. Belum lagi pengawasan di sekitar area perkemahan sangatlah ketat yang membuat Feline susah untuk menyusup demi mendapatkan informasi atau langsung membunuh Komandan mereka.
Telinga Feline berkedut ketika mendengar suara gemerisik dedaunan dari arah belakangnya.
Menoleh kebelakang dengan tangannya yang sudah hampir menyentuh Dagger hitam yang dia sembunyikan, Feline merasa lega ketika mengetahui kalau itu adalah seekor Beastman dari suku Leopard yang adalah sekutunya.
"Bagaimana situasinya?"
"Masih tidak ada pergerakan"
"Begitu, kau bisa kembali sekarang. Aku akan menggantikanmu berjaga di sini"
"Terima kasih"
Berganti posisi dengan Leopard tersebut, Feline pun kembali ke benteng dengan cara melompat dari pohon ke pohon bagaikan seorang Ninja.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk tiba kembali ke benteng yang belum lama ini baru saja mengalami pertempuran pertamanya. Tidak terlihat adanya kerusakan berarti pada permukaan benteng itu. Membuat Feline heran apakah benteng ini benar-benar terbuat dari bahan kayu.
Melewati penjaga, mudah bagi Feline untuk diizinkan masuk karena dirinya yang adalah seorang Beastman tidak mungkin berada di pihak musuh.
Setelah melaporkan hasil pengawasannya kepada atasannya, Feline kini bebas dari tugasnya untuk hari ini dan diperbolehkan untuk melakukan aktifitas apa pun asalkan itu masih berada di dalam area benteng.
Menemukan dirinya menganggur, Feline bisa saja menyusup ke kamar Doragon untuk meminta kasih sayang. Tapi ada satu hal lagi yang harus dia lakukan sebelum dia akhirnya bisa bebas bercanda ria dengan Doragon.
Melewati para prajurit yang masih berjaga meski malam sudah larut, Feline akhirnya tiba di sebuah sudut benteng yang telah disulap sebagai sebuah bengkel.
Di bengkel inilah tempat mereka memarkirkan Tank yang akan menjadi kejutan utama dalam perang kali ini. Feline mendengar kalau sebenarnya total ada tiga Tank yang telah diproduksi. Tapi hanya satu yang berada di benteng ini
sementara dua lainnya akan datang bersama dengan bala bantuan yang baru akan tiba kurang lebih sebulan lagi.
"Ugh... Aku masih heran dari mana mereka bisa punya oli di dunia ini"
Menutup hidungnya yang sensitif, Feline berjalan masuk ke dalam bengkel yang sepi karena semua penghuninya entah sedang tertidur atau sedang Log Out.
Semua penghuni kecuali dua.
Di sudut bengkel terdapat sebuah ruangan khusus dengan sekat kain yang memisahkannya dengan area tempat Tank diparkirkan. Terlihat lampu masih menyala dari balik sekat kain itu yang menampakkan dua buah bayangan.
Melewati Tank yang di tutup dengan kain, Feline berhenti tepat di depan sekat kain.
"Siapa di sana?"
Terdengar suara seorang gadis yang merdu dari balik kain. Menanggapinya, Feline menegakkan tubuhnya dan memperkenalkan dirinya.
"Namaku adalah Feline dari The Guardian. Meminta izin untuk bertemu"
"Silahkan masuk"
Menyingkap kain di hadapannya, Feline masuk ke dalam dan di sambut oleh dua orang perempuan.
Yang pertama adalah Penyihir Cahaya Suci, Rosemary La Ciel. Dan yang satunya lagi adalah muridnya, Clara.
Penyihir Rosemary sedang duduk di balik meja dengan berbagai macam blueprint dan ilustrasi tersebar di hadapannya. Sementara itu muridnya Clara dengan setia berdiri di sampingnya.
Melihat wajah Rosemary yang memang sangatlah mirip dengan Penyihir Lavender, membuat Feline akhirnya yakin kalau mereka berdua benar-benar memiliki hubungan darah.
"Baiklah, Feline dari The Guardian. Sungguh sebuah keputusan yang tepat bagi ketuamu untuk segera menghabisi lawan sebelum mereka berubah sepenuhnya"
"Anda terlalu memuji. Yang kami lakukan hanyalah mengikuti ajaran para pendahulu kami"
"Oh, jadi kalian telah di didik seperti itu. Bagus. Jadi, ada apakah gerangan sampai engkau mengunjungi diriku malam-malam begini?"
Feline diam sebentar sebelum akhirnya mengambil posisi hormat seperti yang telah dia latih belum lama ini.
"Sekali lagi, perkenalkan. Yasmin Feline, pelayan dari Tuan Besar Oleander. Diriku di sini atas suruhan Nona Lavender perihal perjanjian yang telah Anda buat dengan para Mechanic"
Mendengar ini Rosemary pun sontak terkejut. Dia yang awalnya duduk agak santai kini mulai menegakkan punggungnya dan memberikan tatapan yang tajam. Melihat Gurunya yang mengambil posisi serius, Clara pun ikut-ikutan berdiri tegak dengan mata yang mengarah kedepan.
"Pelayan dari Paman Oleander yah. Diriku tidak menyangka kalau Paman sudah mengirim bawahannya kemari. Yah, mengingat Kakak Lavender berada di sini, maka kurasa itu wajar saja... Jadi, apa yang sebenarnya Kakak
Lavender ingin ketahui?"
"Nona Lavender ingin mengetahui dari mana sebenarnya Nona Rosemary pertama kali mengetahui tentang Tank dan persenjataan modern lainnya"
"Jadi hanya itu... Mudah saja, Paman Oleander lah yang mengajariku tentang itu"
Kali ini giliran Feline yang dibuat terkejut.
Melihat ekspresi Feline, Penyihir Rosemary pun tersenyum.
"Hehe, Tidak perlu heran, bahkan Nenekku pun tidak tahu akan hal ini"
Sambil mengatakan itu, Penyihir Rosemary mengeluarkan sebuah majalah usang dari miliknya.
Meski sampulnya sudah lusuh dan mulai sulit untuk di baca, tapi gambar yang ditunjukkan di sana masih bisa terlihat dengan jelas.
"Majalah militer?"
"Benar, sebuah suvenir dari Paman Oleander ketika diriku mengunjungi rumah Kakak Lavender"
Dengan ini terjawab sudah semua pertanyaan yang ada di kepala Feline. Bahkan ini juga sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan sikap Rosemary yang sangat bersemangat ketika melihat Tank untuk pertama kalinya.
"Sang Kakak tergila-gila akan sihir sedangkan sang Adik tergila-gila akan senjata api?"
"Hehe, cukup ironis kan?"
Dengan tujuannya yang sudah terpenuhi, Feline pun pamit undur diri.
Setelah melihat Feline pergi, Clara pun memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Guru, siapa sebenarnya Oleander yang kalian bicarakan?"
"Oh, bukankah kau seharusnya sudah bisa menebaknya? Dia itu Ayah dari Kakak Lavender. Seorang Iblis (Demon) sejati yang bahkan Nenek sekalipun tidak sanggup untuk mengalahkannya"