
Di dalam Union...
Namaku adalah Laila. Aku bekerja sebagai seorang resepsionis di Union cabang kota Gata.
Alasan kenapa aku memilih Occupation ini, aku tidak memilihnya. Aku dipaksa oleh kedua orangtuaku untuk bekerja.
Jika aku boleh memilih, aku lebih suka untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dan hidup dari nafkah suamiku.
Jika aku punya.
Meski terpaksa, mau tidak mau aku tetap menjalani pekerjaan ini. Mungkin saja ada pemuda tampan dan berani yang mau meminang ku.
Empat tahun sudah berlalu dan tidak ada perkembangan sama sekali.
Berkat itu semangatku untuk bekerja makin hari kian memudar. Sampai aku kedapatan bermalas-malasan dan dihukum untuk selalu menjalani shift malam.
Ya, pintu Union selalu buka selama 24 jam penuh.
"Hahaha... Tambah segelas lagi!"
"Hei itu makananku!"
"... Hicks"
Ah, kenapa aku harus menjaga para pemabuk ini...
"Nona Laila, apakah ada masalah?"
Yang menyapaku adalah seorang pria yang sedikit lebih tua dariku. Meski begitu, dia memiliki wajah yang terkesan kekanak-kanakan dengan rambut coklatnya yang dipotong pendek tampak berantakan seperti tidak pernah disisir.
Tubuhnya diselimuti oleh armor yang terbuat dari kulit Mobs tingkat kedua, Stone Lizard yang tinggal jauh di timur.
Namanya adalah Turbo. Dia adalah seorang Petualang dan juga Headmaster dari sebuah Guild yang bernama Iron Sword. Sebuah Guild yang berisikan para Otherworlder.
Namanya memang terdengar aneh. Tapi jika kau membandingkannya dengan Otherworlder lainnya, namanya terbilang cukup normal.
"Seperti biasa, meratapi nasib"
"Haha, kalau kau terus seperti itu maka pria kian menjauh tau"
"Bahkan jika aku tersenyum sekalipun yang akan melihatnya hanyalah para pemabuk ini!"
Otherworlder, mereka adalah para pendatang dari dunia lain.
Berkat berkah dari Kahyangan, pintu antar dunia terbuka dan mereka dikirim ke dunia untuk membantu dunia ini untuk tumbuh menjadi lebih baik dan aman.
Pada saat mereka pertama kali datang kemari... Ahhh! Kepalaku sakit.
"Setidaknya kau akan punya banyak waktu di siang hari untuk berburu mangsa"
"Bagaimana aku bisa kalau sepanjang siang aku tidur! Jadi, apakah ada perkembangan?"
"Masih nihil, selain tingkah para Mobs yang mengganas, tidak ada berita baru"
"Jadi masih tidak ada kabar baru yah"
""Headmaster!""
Pria yang ikut dalam pembicaraan kami adalah Headmaster dari Union di kota ini, Alfred.
Beliau dulunya adalah seorang Petualang tingkat S yang pensiun dan beralih sebagai seorang Headmaster di kota ini.
"Tumben Headmaster turun kesini. Apakah ada masalah?"
"Itu, aku merasakan hawa yang tidak enak"
"Oh, cuman masuk angin toh"
"Haha... Ada yang gajinya ingin di potong yah"
"Maaf becanda!"
Tepat disaat kami sedang bersenda gurau, tiba-tiba saja ada yang memasuki Union.
Sosoknya memakai jubah hitam yang bagian bawahnya kotor bukti kalau dia baru saja datang dari luar kota. Ditangannya terdapat sebuah Staff kayu yang sedikit lebih tinggi dari dirinya. Dan dikepalanya terdapat sebuah topi kerucut... Penyihir!
Tunggu dulu, mungkin saja dia hanyalah Otherworlder lainnya yang berpakaian seperti Penyihir.
Atau itulah yang ingin aku harapkan.
Bahkan aku yang tidak punya kemampuan bertarung sedikitpun bisa merasakan kalau pria disampingku, Headmaster Alfred sedang dalam mode waspada penuh.
Petualang lainnya pun merasakan keanehan ini dan menghentikan apa yang sebelumnya mereka lakukan.
Melihat hal ini, si Penyihir(?) Itu hanya tersenyum dan berkata...
"Heh, tidak perlu tegang seperti itu. Aku hanya ingin menjual sesuatu dan pergi"
Setelah mengatakan itu, Penyihir itu pun berjalan dengan anggunnya ke arah tempat penukaran material.
Saat jarak kami cukup dekat, aku bisa melihat rupanya dengan jelas.
Dia adalah seorang gadis yang lebih muda dariku. Dia memiliki rambut berwarna ungu gelap yang tergerai hingga mencapai pinggulnya. Dibawah topi kerucutnya terdapat wajah seorang gadis cantik jelita yang sebanding dengan gadis bangsawan.
Meski hanya sedikit, aku bisa melihat kulitnya yang mulus namun pucat seperti lama tidak terkena sinar matahari.
Disaat yang lain terpana melihatnya, Headmaster menggumamkan sesuatu yang memecah keheningan ini.
"Forest Dwellers"
Tepat disaat aku hendak menanyakan apa maksudnya, gadis itu yang awalnya sedang sibuk menyerahkan material yang ingin dia jual, menghadap kemari dengan senyuman merekah diwajahnya.
"Oh, apakah kau pernah melihat salah satu kaumku sebelumnya?"
"Sekali saat aku masihlah seorang Petualang... Aku membunuhnya"
Tunggu sebentar! Headmaster, apa maksudmu? Jadi selama ini kau adalah seorang pembunuh?! Sial, aku harus segera berhenti dari pekerjaan ini.
Tidak hanya aku, bahkan Turbo dan Petualang lainnya pun terkejut dengan pernyataan yang dibuat oleh Headmaster.
Namun sebaliknya, gadis itu hanya tersenyum sambil berkata.
"Menarik. Lalu, berapa banyak kawanmu yang mati?"
"Dari dua belas orang, hanya tiga yang selamat termasuk diriku"
A-apa maksudnya ini! Sembilan orang mati hanya untuk menghadapi satu kerabatnya, siapa sebenarnya gadis ini!
"Yah, tidak seperti aku kenal dengan gadis malang itu, jadi kau bisa tenang. Lalu, kau, tanganmu berhenti bergerak!"
"Ma-maaf"
Rekanku yang bertugas untuk menghitung material yang gadis itu bawa segera kembali bekerja dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Tapi serius, apa yang sebenarnya sedang terjadi!
Selama beberapa detik, tidak ada satupun orang yang berbicara. Untung saja Headmaster kembali mengambil inisiatif untuk memecah keheningan.
"Melihat tidak ada dendam diantara kita, kurasa sudah sewajarnya bagi diriku untuk memperkenalkan diri. Aku adalah Headmaster dari Union di kota ini. Alfred. Kalau boleh tahu, siapakah gerangan anda ini?"
Ini...! Aku tidak pernah melihat Headmaster berbicara sesopan ini! Dia bahkan tidak akan sesopan ini dihadapan Walikota sekalipun!
"Baiklah, perkenalkan... Aku adalah Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender"
Dia benar-benar seorang Penyihir! Terlebih, dia bilang dia dari hutan Ibis!
Sontak seluruh orang yang mendengarnya menjadi terkejut seolah tidak percaya akan apa yang dia katakan.
"Jadi begitu, apakah keanehan di hutan Ibis sejak lima hari lalu adalah hasil dari tindakan anda?"
"Lima hari? Juga, keanehan apa yang kau maksud?"
Setelah itu Headmaster pun menjelaskan keanehan yang terjadi pada hutan Ibis.
Lima hari lalu, bertepatan dengan hadirnya para Otherworlder yang dikatakan berasal darigelombang ketiga. Terjadi fenomena yang tidak biasa terjadi di hutan Ibis.
Pohon-pohon tiba-tiba saja bergoyang seolah-olah sedang menari dengan angin. Semua Mobs yang ada di dalamnya seketika berteriak, melolong, dan berlarian tidak terkendali.
Sehari setelah kejadian itu, kondisi hutan tiba-tiba saja berubah.
Para Mobs yang awalnya pasif sekarang menjadi agresif. Bahkan Mobs yang seharusnya berada di bagian terdalam hutan berhamburan keluar dan berkeliaran di bagian luar hutan yang biasanya dipakai oleh para pemula untuk berburu.
Berkat itu, tim penyelidik telah dikirim untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Salah satunya adalah Guild yang dipimpin oleh Turbo.
Setelah mendengar penjelasan dari Headmaster, Penyihir itu tersenyum seolah-olah dia baru saja mendapatkan sebuah pencerahan.
"Ahh... Jadi sudah lima hari yah!"
Apa ini?! Apakah dia payah soal waktu?
"Ternyata benar. Jadi, apakah ini ada hubungannya dengan anda?"
"Kalau soal itu kau tidak usah khawatir. Si Ibis itu hanya sedang mencari perhatian. Setelah aku selesai dengannya dia pasti akan tenang sendiri"
Karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan, aku pun menarik Turbo yang sedari tadi diam mendengarkan dan berbisik padanya.
"Hei, apakah kau paham apa yang mereka bicarakan?"
"Lucu kau bertanya, aku juga ingin menanyakan hal yang sama"
Berbeda dari kami ataupun Petualang lainnya, Headmaster tampaknya paham apa yang dimaksud oleh Penyihir itu.
"...jujur, aku sendiri juga tidak tahu. Tapi kurasa tidak"
"Begitu, terima kasih. Oh, kebetulan sekali. Tampaknya uang anda telah siap. Ah, hanya memastikan, apakah anda memiliki kartu pengenal?"
"Apakah aku terlihat seperti memilikinya?"
"Baiklah kalau begitu, demi menjaga hubungan baik diantara kita, bagaimana kalau kami memberikan anda sebuah kartu pengenal? Tenang saja, ini hanyalah kartu biasa, tidak ada sihir aneh didalamnya"
Setelah itu aku pun diperintahkan untuk membuat kartu pengenal untuk si Penyihir. Seperti janji dari Headmaster, aku diperintahkan untuk menghapus fungsi pelacak dari kartu pengenal.
Setelah menerima uang dan kartu barunya, Penyihir itu pun pamit undur diri... Atau itulah yang aku kira.
"Hei! Tangkap burung itu!"
"HYAHA... Burung goreng segera siap!"
Dua orang Petualang menyerbu masuk kedalam Union sambil mengejar seekor burung hantu yang memiliki bulu cokelat dan tampaknya terdapat sebuah lambang di dadanya... Sial aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Burung hantu tersebut terbang mengitari interior Union sebelum akhirnya hinggap diatas Staff milik si Penyihir... Oh sialan!
"Hei hei, apa ini? Otherworlder lainnya?"
"Nona ini cantik juga, bagaimana kalau ikut sama kami?"
Oh tidak, mereka adalah Daniel dan Danis. Sepasang Petualang yang terkenal akan perilaku buruk mereka. Berkat tingkah laku mereka, mereka dikenal sebagai Dan bersaudara.
Mereka memandangi si Penyihir dengan wajah penuh *****.
Disaat Danis hendak menyentuh pundak si Penyihir, tiba-tiba saja dia berteriak kesakitan. Daniel yang hendak bertanya apa yang terjadi, juga mengalami nasib yang sama.
"A.a.a.a.agagahaggah!!!"
"A... Apa ini, akar!"
Ya, tiba-tiba saja terdapat tanaman merambat yang tumbuh dan merayap menaiki kaki mereka. Tidak sampai disitu, tampaknya tanaman merambat itu juga tumbuh menembus pakaian dan menusuk kulit dan daging mereka.
Lantai Union seketika dibasahi oleh darah segar.
Semua orang yang melihatnya hanya mampu terdiam tanpa melakukan apapun. Turbo yang awalnya hendak maju menolong mereka, dihentikan oleh Headmaster.
"Mereka sudah tamat"
Atas perkataan Headmaster, suara rintihan dari Dan bersaudara kian menjadi.
Mereka yang tidak mampu untuk menahan sakit, terjatuh dan berguling di tanah. Hanya untuk mendapati tanaman yang sama dengan yang menjerat kaki mereka mulai merambat keseluruh tubuh mereka melalui bagian tubuh mereka yang menyentuh lantai kayu.
Perlahan namun pasti, seluruh tubuh mereka ditutupi oleh tanaman merambat yang berwarna merah karena dibasahi oleh darah mereka sendiri.
Setelah sekian lama, rintihan mereka akhirnya berhenti.
Si Penyihir, Lavender. Sedari tadi hanya berdiri diam sambil memandang rendah Dan bersaudara yang merintih kesakitan.
Perlahan, dia memutar kepalanya dan menghadap kemari.
Matanya, mata violetnya yang awalnya indah, sekarang hanya terdapat aura membunuh yang dalam memancar dari kedua matanya.
"Kyaaa!"
Aku yang tidak sanggup memandang matanya hanya mampu untuk berlindung di balik meja resepsionis dan berharap semuanya cepat berakhir.
"Maaf atas perlakuan anggota kami. Dengan ini aku akan pastikan kalau kejadian ini tidak akan pernah terulang kembali"
"Peganglah janjimu itu"
Setelah melangkahi tubuh dua orang yang dulunya adalah seorang Petualang, si Penyihir itupun dengan anggunnya berjalan melewati pintu Union dan menghilang di tengah malam.
Di sebuah toko pakaian...
Aku sudah bekerja sebagai seorang pegawai di toko pakaian selama tiga tahun.
Awalnya biasa saja, sampai pada akhirnya orang-orang yang disebut sebagai Otherworlder datang dan membawa perubahan.
Berkat mereka, aku harus bekerja sampai larut malam.
Untungnya aku bekerja di toko yang khusus menjual pakaian wanita. Jika aku harus melayani pelanggan laki-laki ditengah malam begini... Memikirkannya saja sudah membuatku merinding.
Cling!
Ah, ada pelanggan.
"Halo, selamat dat..."
Wahai para Dewa dari Kahyangan, dosa apa yang telah aku perbuat hingga aku harus mendapatkan Pelanggan seperti ini.
Jubah hitam dan topi kerucut. Yup, dia adalah seorang Penyihir.
Tidak seperti para Otherworlder yang suka berpakaian menyerupai Penyihir, yang satu ini adalah yang asli. Aku yakin seratus persen untuk itu.
Bagaimana aku tahu? Maka gantikan lah posisiku disini sekarang juga!
Meski dia berwujud seperti gadis manusia, tapi tatapan matanya seperti seekor iblis. Hanya memandang matanya saja sudah cukup untuk membuat siapapun yang melihatnya diam bagaikan patung.
Seperti diriku sekarang.
Penyihir itu berjalan dengan santainya didalam toko sambil terus mengambil beberapa helai baju yang dipajang.
Setelah beberapa putaran, Penyihir itu pun berhenti tepat di hadapanku sambil membawa satu gumpalan kain di salah satu tangannya.
Matanya, mata violetnya, memandang lurus kearah ku!
"Berapa yang harus aku bayar?"
Ah, aku mati....
Keesokan harinya aku dibangunkan oleh si pemilik toko. Katanya aku pingsan di lantai toko dengan tiga koin emas tergeletak di sampingku.
Disaat si pemilik toko menanyakan apa yang terjadi, aku hanya menjawab.
"Nyonya, aku ingin berhenti"
Di sebuah toko buku...
Seiring berjalannya waktu, tenaga yang bisa kau kerahkan kian melemah. Oleh sebab itu, aku yang awalnya seorang Petualang tingkat B memilih untuk pensiun dan mengelola sebuah toko buku yang aku dirikan sendiri.
Tiga puluh tahun telah berlalu.
Dari yang awalnya buku-buku pembelajaran sederhana, sekarang aku juga sudah menjual buku pengetahuan umum, novel terkenal, hingga buku yang mengajarkan sihir.
Ditambah dengan buku-buku cerita yang diperkenalkan oleh para Otherworlder yang datang ke dunia ini sejak dua tahun yang lalu, buku-buku yang ada di tokoku menjadi kian beragam.
Cling!
Oh, tumben ada Pelanggan tengah malam begini.
Disaat aku menengok kearah pintu masuk, aku kehilangan semua kemauanku untuk bergerak!
Apa yang melewati pintu itu bukanlah manusia, dia hanyalah seekor monster dengan kulit manusia!
Berkat pekerjaan yang aku jalani sekarang, aku menjadi banyak membaca. Hal itu termasuk cerita rakyat dan cerita fantasi yang dibawa oleh Otherworlder. Disertai dengan pengalamanku sebagai mantan Petualang, aku dapat dengan mudah mengenali monster apa yang telah memasuki tokoku.
Penyihir!
Tidak seperti tiruan murahan yang dilakukan oleh para Otherworlder, yang satu ini adalah yang asli!
Monster berkulit manusia itu pun berjalan mengelilingi setiap rak buku yang ada. Disaat dia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya, dia segera mengambil buku tersebut dan lanjut berkeliling.
Tidak terasa sepuluh menit telah berlalu, sepuluh menit paling panjang yang pernah aku rasakan seumur hidupku.
Thud!
Sebuah gunung yang terbuat dari buku diletakkan tepat di hadapanku.
"Berapa yang harus aku bayar?"
Tidak pernah sekalipun dalam hidupku aku mengutuk diriku sendiri yang telah menyediakan buku sebanyak ini di tokoku.
Dengan usaha keras aku berusaha untuk menggerakkan tanganku yang terasa membeku ini.
Sambil berdoa kepada para Dewa yang ada di Kahyangan, aku melihat buku itu satu persatu.
Basis Alchemy, mengenal tanaman obat, macam-macam Potion, cara membuat Magic Item, mengenal Magic Formation. Yah dia Penyihir jadi wajar saja.
Sejarah, cerita rakyat, fantasi dari Otherworlder. Dia pasti juga tertarik dengan hal seperti ini.
Hmm...?
Cerita pengantar tidur, buku bergambar, cara membaca dan menulis?!
Ini, apa yang Penyihir ini rencanakan! Apakah dia menculik anak kecil untuk dijadikan budak atau apa?!
Karena aku takut untuk bertanya, aku hanya menyerahkan buku-buku itu dan segera menyelesaikan proses jual-beli ini.
Setelah Penyihir itu berjalan keluar menuju gelapnya malam, aku segera menutup toko dan pergi tidur.
Ahh... Kurasa aku akan bermimpi buruk malam ini.