A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 40 : Preparation for the Incoming Conflict



Namaku adalah Slon Elepanthi.


Aku adalah seorang Uskup dari kerajaan paling indah dan yang paling sempurna yang pernah ada, Narsist Kingdom.


Meski aku berasal dari gereja, tapi yang aku sembah bukanlah Tuhan palsu seperti yang disembah oleh para orang sesat di luar sana melainkan sang Raja yang maha agung nan cantik tiada tara, Pulchritudo ol Narsist.


Beliau adalah Raja yang turun langsung dari kahyangan.


Kecantikannya tiada terkira hingga para Dewa dan dewi mana pun akan iri saat melihat wujud beliau yang bersinar hingga ke penjuru kerajaan, tidak, dunia!


Sudah sepuluh tahun semenjak aku diberikan kemuliaan untuk melayani yang mulia Raja Pulchritudo. Selama itu pula aku telah mengerahkan setiap tetes darah dan keringat untuk Raja dan Kerajaanku yang tercinta.


Sekarang, sebuah tugas telah diserahkan kepadaku.


Raja kami yang agung telah memberikan titah untuk menghancurkan kerajaan menjijikkan yang dipenuhi oleh makhluk hina yang melihatnya saja sudah membuatku muak.


Beliau dengan gagahnya mengarahkan pasukan terkuatnya untuk membasmi mereka dari depan.


Dengan kekuatan beliau yang bisa menyaingi kahyangan, serta dengan pasukan yang bisa menggentarkan bumi dengan setiap langkah mereka, jelas kemenangan sudah tidak bisa terelakkan lagi.


Akan tetapi, itu semua ada batasnya!


Selain melawan kerajaan hina itu, Sanguine Kingdom! Kami juga harus berurusan dengan kerajaan yang dipenuhi oleh binatang tidak tahu diri, Ferox Kingdom!


Karena harus melawan dua kerajaan sekaligus, pasukan kami jelas akan kewalahan. Kami tidak akan kalah! Hanya saja itu sangat menyusahkan!


Yang paling buruk, Drakon Kingdom.


Kerajaan Manusia yang seharusnya bekerja sama dengan kerajaan kami yang agung malah dengan hinanya mereka menerima para makhluk biadab itu dengan tangan terbuka.


Saat perang besar telah pecah, jelas kerajaan bodoh ini akan menolong musuh kami.


Tidak peduli seberapa gagah dan perkasanya pasukan kami, kami jelas tidak akan sanggup menerima serangan dari tiga Kerajaan besar sekaligus!


Oleh karena itu, demi mencegah Drakon Kingdom untuk berpartisipasi dalam perang, aku ditugaskan untuk menutup satu-satunya akses mereka. Hutan Barriere.


Karena seluruh pasukan yang paling kuat tengah menuju medan perang, menyisakan 100 kesatria yang menjadi pengawalku dalam misi agung kali ini.


Jelas aku tidak berpikir untuk menutup akses utama mereka untuk keluar dari kerajaan hanya dengan bermodal 100 kesatria.


Oleh karena itu, aku akan menggunakan item yang telah dipercayakan kepadaku!


\ (Weakened) ★★★★★


«Mobs Control : Maximum»


Sebuah mahkota yang dulunya dikenakan oleh Demon yang menyerang dunia ini.


Ini awalnya adalah item terkutuk, namun telah dimurnikan oleh kekuatan ilahi. Meski begitu, kekuatan sejatinya telah sangat melemah dan hanya bisa dibangkitkan jika seorang dengan darah Demon mengenakannya.


Siapa pun yang mengenakan mahkota ini akan diberikan kuasa untuk memerintah para Mobs sesuka hati mereka.


Mahkota ini adalah harta kerajaan yang di dapatkan saat perang suci beberapa ratus tahun yang lalu. Awalnya mahkota ini memiliki wujud yang sangat jelek dan mengerikan. Tidak hanya itu, awalnya juga adalah item terkutuk yang memakan akal sehat si penggunanya.


Namun, berkat usaha dari para Orang Suci (Saint) di Narsist Kingdom, mahkota ini akhirnya bertransformasi menjadi mahakarya yang indah seperti sekarang ini.


Meskipun kini tidak memberikan tambahan pada stats apa pun, tapi kemampuannya untuk memperbudak para Mobs yang tidak berotak sangatlah luar biasa!


Dengan kekuatan yang aku dapatkan ini, aku telah berhasil memperbudak lebih dari 100.000 Mobs yang merangkak di Narsist Kingdom. Ditambah dengan yang aku dapat di jalan dan di dalam hutan ini, jumlah mereka telah bertambah hingga sekarang telah mencapai lebih dari 500.000!


Terima kasih berkat kerja keras dari para Pembaca Mantra (Caster) yang ahli dalam memanipulasi ilusi, aku jadi mampu membawa para Mobs tidak berotak itu dari Narsist Kingdom menuju ke sini dan menyembunyikan mereka


hingga tidak ada yang akan tahu apa yang menanti mereka.


Hahahaha... Dengan ini, jangankan menutup perbatasan! Aku bahkan bisa saja menghancurkan seluruh kerajaan jika aku mau!


"Jika aku berhasil, Yang Mulia pasti akan memujiku!!!"


Ahh... Aku tidak sabar lagi untuk bisa menatap wajah beliau lagi!


"Lapor!"


Seorang kesatria dengan Armor kebanggaan Narsist Kingdom datang bersujud di hadapanku. Biasanya orang yang berani mengganggu waktu bahagiaku akan dikenakan hukuman yang berat.


Namun, setelah melihat postur hormatnya yang tanpa cela. Serta mengingat sedang dalam situasi apa aku saat ini, aku maafkan.


"Ada apa?!"


"Sebuah benteng telah tercipta di perbatasan"


"Apa kau bilang! Benteng!!!"


Tidak mungkin!


Seingatku tidak ada yang namanya benteng di berbatasan ini! Terlebih dia bilang kalau benteng ini muncul begitu saja! Mustahil!


Akan tetapi, setelah mendengar lebih jauh mengenai benteng ini, perasaan tidak enak tumbuh semakin besar.


Benteng yang terbuat dari tembok berduri, pasukan Golem yang berjaga di depannya, hingga berita yang paling mengejutkan hingga membuatku naik pitam!


"DASAR PENYIHIR SIIIIAAAALAAAANNNN!!!!!!"


Dasar nenek-nenek bau tanah!


Bagaimana bisa Sol Ciel bisa berada di Drakon Kingdom? Terlebih ini adalah Cardinal! Tokoh terkuat sekaligus pemimpin Sol Ciel saat ini!!!


Tidak bisa dipercaya! Sungguh tidak bisa dipercaya!


Kenapa dia harus berada di sini? Bahkan dengan semua Mobs yang aku miliki sekarang, aku masih tidak percaya diri untuk bisa menahannya cukup lama sebelum dia membantai habis semuanya.


Berbeda jauh dari penampilannya yang kekanak-kanakan, nenek lampir itu memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk bertarung melawan satu kerajaan kecil sendirian dan tanpa terluka sedikit pun!


"Argghhh... Sungguh tidak bisa dipercaya!"


Sialan, kalau begini aku harus menyusun kembali strategiku.


20 hari, aku hanya harus menahannya selama 20 hari dan kemenangan bisa kami raih!


Jika itu masih tidak berhasil, bahkan jika ini berarti kematianku, aku akan membangkitkan makhluk itu.


...


Beberapa hari telah berlalu.


Berdiri di atas benteng kokoh yang terbuat dari tanaman berduri, aku masih tidak bisa mempercayai kalau benteng ini hanya dibuat dengan menggunakan sebuah skill meski aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.


Menyandarkan kedua tanganku di tepian, aku memandang ke arah lautan hutan yang lebat sambil membayangkan lawanku yang berada di dalamnya.


Perkataan dari Lavender pada malam itu masih teringat jelas di ingatanku.


Yang menjadi lawan kami kali ini bukanlah Wave. Melainkan Narsist Kingdom.


Awalnya aku berpikir kalau terdapat Wave saat terjadi peperangan memanglah cukup aneh. Setelah mendengar kalau Narsist Kingdom adalah dalang di balik Wave, dugaanku selama ini akhirnya terbukti.


Event ketiga. Perang!


Aku telah cukup lama bertarung demi kerajaan ini. Tidak peduli apakah itu ancaman dari Mobs atau bahkan bencana alam sekalipun, aku tidak akan gentar menghadapinya.


Namun, ini akan menjadi pertama kalinya bagi diriku atau anggota Partyku yang lain untuk melawan satu kerajaan.


Aku memang pernah menghadapi bandit sebelumnya, dan aku bahkan telah menghabisi beberapa dari mereka dengan tanganku sendiri.


Aku tahu kalau secara teknis ini hanyalah sebuah game.


Tapi dunia ini terasa nyata bagiku.


Cukup nyata hingga aku hampir tidak bisa membedakan mana dunia asli dan mana dunia game.


Hal itu menyebabkan terdapat perlawanan di dalam diriku saat aku mencoba menghabisi orang lain meski mereka hanyalah Locals (NPC).


Meski begitu, jika ini demi melindungi kerajaan ini serta orang-orang yang ada di dalamnya, aku tidak akan bimbang.


"Sudah selesai mengumpulkan tekadmu?"


"Hm?.... Oh, Feline"


Feline, teman satu kampus serta anggota Partyku.


Dia adalah seorang gadis dengan rambut hitam dan memilih ras Beastman berdarah campuran dengan tipe kucing.


Mengepakkan telinga kucingnya, dia dengan santainya ikut bersandar di sampingku dengan jarak yang sangat dekat hingga bahu kami saling bersentuhan.


Tatapan matanya saat memandangiku tampak bercahaya hingga membuatku sempat terpesona saat melihatnya.


"Kau tahu kalau aku sudah punya Winzi kan?"


"Dan kau tahu kalau di dunia ini atau bahkan dunia kita itu memperbolehkan seorang pria untuk mempunyai lebih dari satu istri kan?"


Memang benar. Baik di sini maupun di sana, selama kau mampu maka kau boleh saja mempersunting dua mempelai atau bahkan lebih.


Meski begitu, aku berniat untuk setia hanya kepada Winzi.


Aku telah lama menyadari perasaannya kepadaku. Tapi aku masih tetap tidak tahu mengapa dia masih mempunyai perasaan terhadapku meski mengetahui dengan jelas kepada siapa aku telah menyerahkan hatiku.


Bahkan aku bisa merasakan kalau perasannya semakin dalam setiap harinya.


"Cukup bercandanya... Bagaimana menurutmu, tentang pertarungan ini?"


"Aku tidak sedang bercanda... Tapi, yah. Melawan Mobs dalam jumlah banyak bukan pertama kalinya bagi kita"


"Bukan itu, maksudku mengenai orang-orang dari Narsist Kingdom itu"


"Ah... Itu. Mereka saat ini sedang berperang dengan Sanguine dan Ferox Kingdom kan? Jika begitu mereka seharusnya sedang sibuk berurusan dengan mereka. Tapi, sebagian kecil pasukan mereka tepat ada di hadapan kita dan berusaha menutup perbatasan. Itu berarti mereka tidak ingin menghadapi tiga kerajaan sekaligus. Makanya mereka ingin memastikan kalau Drakon Kingdom tidak akan masuk ke Medan pertempuran dengan cara


apa pun"


Itu memang masuk akal.


Aku yakin semua orang akan berpikir demikian.


Tapi, itu bukankah jawaban yang aku inginkan.


"Bima..."


Mata Feline memandang langsung ke arahku. Tatapannya terasa menusuk langsung ke arah jiwaku yang terdalam. Fakta kalau dia memanggil nama asliku dan bukan nama karakterku, menandakan kalau dia benar-benar serius.


"Tidak peduli apakah itu di dunia asli atau hanya game, perang adalah perang. Korban jiwa tidak bisa terelakkan"


Aku tidak bisa menyangkalnya.


Sudah lama semenjak perang terjadi di negara asal kami. Meski saat itu aku masih belum lahir ke dunia, tapi kakek nenekku yang pernah mencicipi perang pada masa muda mereka tiada hentinya menceritakan pengalaman mereka saat itu.


Setiap kali mereka bercerita, pandangan mata mereka tampak jauh seolah-olah melihat kembali kejadian yang terjadi di masa lampau.


Mereka terkadang terlihat sedih, marah, bahkan ketakutan.


Dari cerita mereka saja, aku bisa membayangkan betapa keras dan berbahayanya perang itu.


"Oleh karena itu... Yang bisa kita lakukan sebagai seseorang yang berdiri di barisan depan adalah untuk memastikan kalau pihak lawanlah yang akan menerima lebih banyak korban jiwa"


"Kata-kata keras itu tampak tidak cocok dikatakan olehmu"


"Aku akan menganggap itu sebagai pujian"


Aku diam sebentar sebelum akhirnya menanyakan pertanyaan yang paling ingin aku tanyakan.


"Heh, aku tidak tahu apakah ini karena ras yang aku pilih atau sejak awal aku memang seperti ini. Tapi, bagiku, mencabut nyawa orang lain bukanlah masalah besar. Bahkan aku merasa itu adalah hal yang paling natural di


dunia ini"


"Begitu..."


Natural yah, sebuah hal yang tidak terbayangkan di ucapkan oleh seseorang yang dibesarkan di lingkungan yang aman dan serba berkecukupan.


Hal ini kembali mengingatkanku.


Entah bagaimana caranya, game ini mampu mempengaruhi kondisi psikologis pemainnya. Hal itu sangat berkaitan erat dengan ras apa yang kau pilih.


Aku yang memilih sebagai Manusia pada umumnya tidak mengalami perubahan yang mencolok. Sedangkan Winzi dan Feline memiliki gejala yang jelas.


Winzi yang setahuku tidak begitu menyukai minuman beralkohol. Semenjak dia menjadi seorang Dwarf, dia selalu memastikan kalau kami memiliki persediaan minuman di rumah. Bahkan Winzi mampu menghabiskan satu gentong penuh dalam sekali tegukan.


Yang paling parah adalah Feline.


Semakin hari sikapnya semakin liar. Bukan berarti dia menjadi berandalan, tapi lebih kepada liar selayaknya seekor binatang.


Dia mulai tidur di sembarang tempat. Baik itu sofa, lantai, atau bahkan genteng rumah sekalipun. Feline juga mulai jarang menyentuh air selain air yang dia minum. Makanan yang dia makan pun mulai didominasi oleh daging atau hidangan laut.


Bahkan sekarang, aku bisa merasakan ekornya melilit di pergelangan kakiku.


Jika aku tidak salah dengar, ini adalah perilaku umum dari Beastman yang hanya dilakukan terhadap orang yang mereka sukai.


Aku menjadi semakin tidak tahu apa yang harus aku lakukan mulai sekarang.


Setelah itu kami tidak berbicara lagi. Kami hanya diam sambil memandangi hutan lebat yang nantinya akan menjadi medan perang.


...


Namaku adalah Weise. Tentu itu bukanlah nama asliku. Itu adalah nama dari karakter yang aku mainkan di game Freedom II.


Freedom adalah sebuah game yang penuh akan rasa nostalgia bagiku.


Saat masih sekolah dulu aku sering bolos dengan cara berpura-pura sakit hanya demi memainkan game ini.


Sekarang, saat aku telah menjadi dosen di sebuah universitas ternama, seri kedua dari game ini dirilis.


Tanpa perlu dikatakan lagi, jelas aku langsung membeli dan memainkannya.


Terlebih Freedom II adalah sebuah game VR. Memainkan game masa kecilmu dengan tubuhmu sendiri terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.


Seperti di game pertama, disini aku kembali bermain sebagai seorang Ahli Sihir (Mage).


Awalnya aku bermain secara solo sampai akhirnya aku ketahuan oleh anak didikku sendiri dan sejak saat itu aku terus bermain bersama mereka.


Sekarang... Setelah melewati jalan yang panjang.


Perang sudah di hadapan mata.


Di game sebelumnya, perang adalah event end-game yang memakan waktu 5 tahun penuh untuk diselesaikan.


Jelas event ini tercatat di buku rekor dunia sebagai event game online yang paling panjang yang pernah ada dalam sejarah.


Aku masih ingat suka dan duka yang harus aku dan para Pemain lainnya lewati pada saat itu.


Pada akhirnya, pihakku berhasil memenangkan perang. Tidak lama setelah itu, Freedom pun berhenti beroperasi.


Aku sedih, membayangkan kalau game ini juga akan berakhir setelah perang ini selesai sangat memberatkan hatiku.


Akan tetapi, jauh di dalam diriku aku merasakan kalau perang ini bukanlah proses menuju akhir. Melainkan sesuatu yang lebih besar akan terjadi tepat setelah perang ini berakhir.


Untuk itu, aku harus berusaha sekuat tenaga demi memenangkan perang ini.


Langkah pertama yang aku ambil adalah meningkatkan kemampuanku sendiri. Bukan hanya dalam soal level, tapi juga pengetahuan.


Oleh karena itu, aku harus memperhatikan Penyihir yang ada di hadapanku ini!


Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel.


Sejak game pertama, Sol Ciel adalah organisasi khusus Penyihir (Witch) yang paling kuat serta paling bisa diandalkan sebagai sekutu.


Tidak terhitung berapa kali mereka membantu Pemain dalam event besar yang mampu mempengaruhi sejarah game.


Melihat kembali anggota mereka beraksi di hadapanku membuatku kembali bersemangat seperti saat masa mudaku dulu.


Saat ini Lavender sedang sibuk menggambar semacam lingkaran sihir yang sangat rumit di atas tanah dengan menggunakan Staffnya.


Ini adalah lingkaran sihir yang paling rumit yang pernah aku lihat. Bahkan lingkaran sihir yang aku buat selama ini tidak ada bandingannya dengan apa yang ada di hadapanku sekarang.


"Pak Weise, saatnya makan"


"Oh, Winzi... Terima kasih"


Mengambil roti isi yang dibawakan oleh anak didikku, aku memasukkannya ke dalam mulutku sambil terus memperhatikan Lavender yang masih terus menggambar.


"Apa yang sedang dia lakukan?"


"Membuat lingkaran sihir. Aku tidak tahu ritual apa yang ingin dia lakukan. Tapi, dari apa yang bisa aku baca, kurasa ini ada hubungannya dengan dominasi?"


"Oh, mata yang tajam"


Tanpa aku sadari, Penyihir Cardinal telah berdiri di sampingku.


"Dominasi? Apa yang ingin dia dominasi?"


"Apakah kau lupa? Anak ini telah berhasil mengambil alih seluruh hutan Ibis di bawah kendalinya. Hanya dengan itu kau pasti mengerti apa maksudku kan?"


"Mengambil alih hutan... Jangan bilang!"


Sialan, dia hendak mengambil alih seluruh Hutan Barriere!


Sungguh tidak bisa dipercaya!


"Ini pertama kalinya aku melihat pak Weise membuat ekspresi seperti ini"


"Wajar saja, semua Ahli Sihir mana pun pasti akan membuat ekspresi yang sama setelah mendengar apa yang cucuku hendak lakukan"


Tidak memedulikan pembicaraan dari dua wanita yang tampak seperti anak kecil di belakangnya, mata Weise semakin tajam dan menolak untuk mengalihkan pandangannya dari lingkaran sihir yang sedang di buat di hadapannya.


...


Tenangkan dirimu...


Konsentrasi...


Fokuskan pikiranmu untuk menggambar lingkaran sihir yang rumitnya bukan main ini...


Anggap saja tua bangka yang sedari dari menonton hanyalah rumput bergoyang. Yah, rumput layu yang bergoyang.


Alasan utama kenapa aku rela repot-repot seperti ini adalah karena perasaan tidak enak yang aku rasakan setelah melihat mahkota berduri yang ada di kepala pria dari Narsist Kingdom kemarin.


Entah kenapa, aku merasa kalau mahkota itu sangatlah berbahaya.


Secara bersamaan, aku merasa harus mendapatkannya bagaimanapun caranya.


Juga, sebagai seseorang yang sangat dekat dengan hutan, aku bisa merasakan keberadaan yang sangat berbahaya bersembunyi jauh di dalam hutan.


Meski aku tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa merasakannya dengan sangat jelas.


Musuh kali ini jelas tidak sesederhana daripada yang terlihat.


Oleh sebab itu, aku butuh kartu AS!


Walau aku yakin kalau nenek pasti akan turun tangan dalam menghadapi keberadaan yang berbahaya itu, fakta kalau terdapat banyak musuh yang harus disingkirkan masih belum berubah.


Walaupun aku memiliki banyak sekali jenis sihir, tapi aku tidak memiliki banyak sihir yang efektif terhadap kerumunan. Alias, aku tidak punya banyak sihir AOE (Kalau sampai nanya aku hajar kalian!).


Hal ini tambah buruk karena satu-satunya sihir yang aku kembangkan akhir-akhir ini hanyalah [Forest Magic].


Tidak punya pilihan lain, aku harus membuat sihir baru berdasarkan [Forest Magic] yang memiliki efek AOE.


Akhirnya aku sampai pada satu keputusan.


Mari ambil alih hutan lagi!


Jika aku bisa melakukannya sekali, maka aku pasti bisa melakukan untuk yang kedua kalinya.


Terlebih dengan medan pertempuran kali ini yang berada di hutan. Jika aku berhasil, maka kemenangan pasti sudah terjamin.


Hanya saja, ada satu masalah.


Butuh Mana yang sangat banyak dan waktu lama untuk mengambil alih seluruh hutan.


Terakhir kali aku berhasil adalah karena cadangan Mana di hutan Ibis yang melimpah serta bantuan dari sebagai katalisnya. Sayangnya hutan Barriere tidak sama seperti hutan Ibis dan aku tidak sedang membawa lebih tepatnya aku tidak bisa.


Dengan begitu aku memerlukan bantuan katalis lain untuk bisa menaklukkan hutan ini dalam waktu singkat.


Oleh karena itu... Konsentrasi!


Name : Lavender La Ciel


Race : Half-Demon, Female (36)


Occupation : Witch


SP: 39


Skill Active :


[Black Magic 20] [Darkness Magic 12] [Light Magic 20] [Luminous Magic 1] [Fire Magic 20]


[Flame Magic 3] [Water Magic 20] [Stream Magic 10] [Wind Magic 20] [Aero Magic 10]


[Soil Magic 20] [Stone Magic 20] [Wood Magic 30] [Forest Magic 10] [Ice Magic 5] [Metal Magic 1]


[Lightning Magic 1] [Space Magic 1] [Summoning Magic 20] [Slave Magic 5] [Alchemy 18]


[Appraisal 20] [Identify 1] [Psychokinesis 10] [Inscription 2]


Skill Passive :


[Staff 20] [Two-Handed Staff 10] [Meditation 4] [Mana Presence 20] [Mana Control 25]


[Magic Knowledge 20] [Magic Researcher 25] [Mana Sight 5] [Plant Knowledge 20]


[Plant Reception 20] [Body Strengthening 20] [Power Boost 1] [Mana Enchant 20]


[Greater Mana Enchant 5] [Mana Recovery 20] [Greater Mana Recovery 5] [Gathering 10]


[Footwork 15] [Farming 3] [Night Vision 13] [Intuition 15] [Dance 8] [Merciless 13]


[Death Stares 13] [Linguistic 20] [Ancient Linguistic 4] [Poison Resistance 10] [Sleep Resistance 12]


[Charm Resistance 5] [Mental Resistance 1]


Racial Skill :


[Evil Eyes : Fear 1] [Demonic Charm 1] [Magical Garment 5]


Title : Witch of Ibis Forest, Dungeon Master